Friday, 17 November 2017

[Review Buku] Antara Memilih Mempertahankan Pernikahan atau Melepasnya



Judul               : (im) Perfect Serenade; Love In Verona
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-03-6104-8

“Semua wanita mengharapkan kisah cinta sempurna, pasangan yang tanpa cacat, kehidupan yang happy ever after tanpa perjuangan setitik pun. Mana bisa? Perjalanan hidup kita kan bukan cerita film atau novel. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.” (hal 59).

Memiliki keluarga yang  bahagia pasti menjadi harapan setiap orang. Memiliki suami yang tampan, sukses pengertian dan tidak neko-neko. Namun bagaimana jika suatu hari rumah tangga yang  awalnya begitu indah dalam sekejam mata porak poranda?  Hal itulah yang tengah dialami Serenada Sukma.  Biduk rumah tangga tengah digoncang badai. Dia tidak pernah menyangkan Bansar—suami yang sangat dia percaya berani bermain api di belakangnya. 

Selingkuh dan perang rumah tangga, jelas tidak masuk rancangan pernikahan sempurna yang dia cita-citakan. Apalagi perceraian. Membayangkannya saja membuat Seres nyaris pingsan. Tidak mungkin dia rela status “jande cerai” ditatokan di dahinya dan bertahan di situ seumur hidup (hal 47).

Dibuka dengan quote dan prolog yang menarik, kita akan digiring pada kisah Seren dan Bastar yang menggemaskan.

“Setiap perjalanan pasti butuh kata pulang. Dan pulang bagimu saat ini adalah kepadaku. Kepada rumah kita. Kepada yang kita bangun bersama enam tahun terakhir.” (hal 132).

Bagi Seren sejak dia memergoki affair antara Bansar dan Ayang—sekretarisnya,  kehidupan mereka telah berubah. Oleh karena itu project  Wisata Kota Cinta yang awalnya ditolak Seren, karena muak dengan hal-hal yang berbau cinta, kini dia terima.  Setidaknya perjalanan ke Verona akan membuatnya rileks sejenak dari hubungan aneh dan kaku yang dia rasakan sekarang.  Selain itu dia juga beruntung karena bisa sekalian melakukan riset terhadap novel yang tengah digarapnya.

Selama di sana Seren  menjadi sekretaris di Juliet Club—sebuah tempat yang menerima surat cinta atau surat apa saja dari berbagai negeri. Dan tugas Seren dan teman-temannya—Giovanna dan Saima adalah untuk membalas surat-surat tersebut.  Ternyata benar suana baru sedikit banyak telah membuat Seren lupa dengan masalah di rumahnya. Namun ternyata  hal itu tidak bertahan lama. Sejak kehadiran Aris  Zanetti kehidupan Seren berubah (hal 15).

Lebih mengejutkan adalah profesi Aris yang ternyata sama dengan dirinya. Padahal jika dilihat dari sikapnya, Seren tidak menyangka kalau dia adalah penulis. “Seren, tentang janjiku memperkenalkan penulis lokal, ini dia penulis yang kuceritakan. Yang kenbetulan adikku. Maafkan kelakuannya yang seperti anak umur lima tahun. Tapi dia sudah menerbitkan beberapa buku, dan agennya cukup menyukainya. Sebagai penulis dia cukup lumayan.” (hal 24).

Namun karena memiliki profesi yang sama dan Seren memang butuh penulis lokal untuk diwawancarai dan dimasukkan di website-nya, maka mereka pun perlahan dekat. Bahkan jika memungkinkan penulis Indonesia dan Itali biasa berkolaborasi menghasilkan karya yang menarik.
Sayangnya kedekatan itu ternyata mengundang bahaya yang lebih besar yang tidak pernah Seren duga. Terlalu sering menghabiskan waktu dengan Aris menikmati keindahan Verona dan berbagai kejadian tidak terduga, ternyata membuat sesuatu bergejolak di hati Seren.  Bertepatan dengan itu ... Bansar tiba-tiba muncul di Verona (hal 154).

Membaca novel ini kita akan dibuat penasaran dengan kisahnya sampai akhir. Selain mengungkap tentang kemelut rumah tangga antara Bansar dan Seren, ada pula kisah-kisah tidak terduga tentang beberapa surat yang diterima di Juliet Club. Salah satunya adalah surat yang entah mengapa sangat menyentuh Seren. Karena kisah itu membuatnya teringat dengan dirinya sendiri.

“Setiap orang memiliki perjuangan perangnya sendiri-sendiri. Dan kita semua punya pilihan cara untuk memenangi perang itu.” (hal 116-117).

Kita juga akan dibuat penasaran dengan keindahan Verona yang membius. Lalu tidak kalah menarik adalah  tentang dunia kepenulisan yang disisipkan Mbak Irene, perihal kritik saran bagi penulis dan laris tidaknya penjualan buku. Asli argumen Seren itu jleb banget. Dan saya  sangat setuju.

“Begini ... terlepas dari profesi saya sebagai penulis, saya selalu merawa bahwa tulisan, buku, novel, itu semua adalah semacam karya seni. Tidak bisa mutlak dihakimi bagus-jelek atau benar-salah. Yang ada adalah suka atau kurang suka. Jadi ini masalah selera. Tugas kita sebagai penulis adalah menulis sebaik mungkin, tapi ya tentu saja tidak pernah ada jaminan bahwa semua pembaca akan menyukai hasil karya kita. Yang terpenting adalah terus berlatih dan terus berkarya. Best seller atau tidak, secak ulang atau tidak, semua rahasia Ilahi ...,” (hal 35).

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan tidak jlimet, membuat kita tidak bosan membaca. Saya juga suka dengan alur maju mundur, yang membuat kita menebak-nebak akhir kisah ini. Karena ternyata di bagian-bagian akhir Mbak Irene menyiapkan sebuah kejutan yang tidak terduga. Meski ada beberapa bagian yang aku bisa tebak. (Berasa baca apa sih kok tebak-tebakan? Hhehh).  Untuk penokohan, saya pikir sudah maksimal. Mbak Iren konsisten dengan sikap masing-masing tokoh.  Sayangnya masih ada sedikit typo yang terlewat. Sura-surat lain (hal 112).

Suka dengan gaya bercerita Mbak Iren yang gurih. Pendek tapi bisa bikin ketawa ngakak. Mbak Iren punya khas khusus dalam membangun percakapan yang bikin hidup.Salut. Secara keseluruhan novel ini menarik dan memikat. Saya jadi mengenal tentang sejarah Julia Club dan tempat-tempat menarik lainnya. Selain itu banyak hal pesan moral yang bisa kita jadikan renungan.

Bahwa kita harus kuat dan tidak mudah putus ada. Jadikan kesalahan dan masa lalu sebagai jalan memperbaiki diri.

 “Berhenti menghujat diri sendiri, kamu mesti bangkit  mengatasi masalah, dengan rasa percaya diri.” (hal 98).

Jika kita mau berusaha pasti kita bisa meraih apa yang kita inginkan. “Selalu ada cara untuk mengusahakannya. Kalau sudah tidak ada pilihan yang baik tersedia, dia harus membuatnya. Setiap pilihan punya risiko.” (hal 119).

“Al-Quran selalu punya jawaban untuk setiap perkara. Cuma manusia sering kali lupa itu. Mereka memilih mengadu kepada orang lain, yang  belum tentu bisa memecahkan masalah.” (hal 212).

“Jadi benar, ya, memang tidak ada pria yang sempurna. Bisa jomblo sampai akhir zaman kalau mau menunggu datangnya pria yang tanpa kekurangan. Semua pria yang terlihat dari luar sebagai suami idaman pun, sebetulnya menyimpan cacat. Tinggal pintar-pintarnya kita menyikapi kekurangannya atau kekhilafan pasangan, ya. Yoh, kita sendiri bukan wanita sempurna.” (hal 205-206).

Rumah tangga memang tidak bisa berjalan lurus terus. Akan selalu ada kerikil atau jurang dan jaring yang siap menjadi lawan kita. Tinggal kita mampu menghadapi atau memilih menyerah.


Srobyong, 14 November 2017 

Monday, 13 November 2017

[Review Buku] Kasus Penuh Intrik yang Dihadapi Sherlock Holmes

Judul               : Art in the Blood
Penulis             : Bonnie MacBird
Penertbi           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : 280 hlm
ISBN               : 978-602-03-3198-0

Petualangan Sherlock Holmes  selalu memikat dan menakjubkan. Tokoh fiksi karya Sir Arthur Conan Doyle ini menjadi salah satu detective yang sangat disukai pembaca selain  Hercule Poirot dari gubahan Agatha Christie dengan sikap-sikap mereka yang unik dan eksentrik.

Terinsprasi dari Conan Doyle, Bonnie MacBird mencoba mengurai kisah lain berdasarkan cacatan yang pernah dituliskan oleh Dokter John H. Watson ketika berpetualang dengan Sherlcok Holmes.  Meski penulis menyadari mungkin dalam memaparkan kisah ini masih ada kekurangan, penulis berharap para penikmah Conan Doyle tetap bisa menikmati petualangan seru dari  Sherlcok Holmes.

Kisah dibuka dengan kenyataan Sherlock terjebak  pada kokain yang menjadi candunya setelah menyelidiki kasus The Ripper.  Meski Watson sudah berusaha menenangkan dan mencegah tindakan sahabatanya itu, namun usahanya terancam gagal. Sampai sebuah surat misterius datang dari Paris membuat Sherlcok berubah pikiran.

Surat itu ternyata datang dari Emmeline La Victoire, bintang kabaret Perancis. Di mana surat itu memaki tinta yang bisa menghilang, yang mengabarkan tentang sekilas pertemuaanya dengan  Earl Pellingham—salah satu tokoh terkaya di Ingirs.  Yang pada akhirnya membuat mereka memiliki putra—bernama Emil yang kemduain dirawat sang Earl. Hanya saja Emmeline merasa khawatir dan mencurigai anaknya diculik. Karena janji pertemuan yang biasanya dilakukan setiap tahun ditunda. Bahkan Emmeline sempat dijegat orang dan mengancamnya agar menjauh (hal 21-22).

Menanggapi kasus ini Sherlcok langsung bertindak cepat.  Bukannya menunggu Emmeline datang ke London, dia malah mengajak Watson untuk segera pergi ke Perancis untuk menemui kliennya. Sherclock khawatir hilangnya Emil ada kaitannya dengan hilangnya patung  Winged victory yang dicuri dari Marseilles.  Sehingga dia berasumsi mungkin Emmeline dalam bahaya—karena pencurian itu  bisa jadi ada hubungannya dengan Pellingham yang suka menggunakan cara kotor untuk memperoleh apa yang diinginkan—termasuk perihal koleksi karya seni yang dimiliki.

Namun siapa sangka setelah diselidiki lebih dalam, misteri itu lebih rumit dari yang Sherlock bayangkan.   Kejutan pertama Sherlcok dihadapkan dengan kematian Lady Pellingham yang sangat mencurigakan (hal 160-161).   Dan pada detik berikutknya mereka dicengangkan dengan berita yang  berbunyi “Darah Tumpah di Baker Street! Sherlock Holmes dan Kekasih Gelap diduga Tewas!” (hal 183).  Di mana dalam arti yang sebenarnya mungkin Emmeline dan kekasihnya yang tengah menginap di Baker Street, berada dalam bahaya.

Watson pun kembali untuk memastikan keadaan klien mereka. Sedang Sherlock melanjutkan penyelidikan di Perancis. Di sana  dia menemukan kejutan lain bahwa beberapa anak di Lancashire telah dibunuh.  Dan semua kejahatan itu mengarah pada sebuah nama yang  sangat sulit disentuh oleh hukum.   Sherlock   ditantang untuk menyelesaikan kasus ini, meski itu berarti diaa harus bertaruh nyawa untuk memecahkannya.

Sebuah kisah petualangan yang penuh intrik dan mendebarkan. Banyak kejutan yang akan kita temukan selama membaca novel ini.  Penulis sangat pandai mengiring pembaca agar menyelesaikan bacaan dengan mulus.  Keunggulan lain dalam novel ini  adalah gaya bahasa terjemahannya renyah, sehingga membaca novel sangat mengasyikkan.  Dan pastinya ending tidak terduga yang menambah kepuasan dalam membaca.

Hanya saja dalam novel ini masih ditemukan kesahalan tulis di beberapa bagian. Namun lepas dari kekurangannya novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Belum lagi dari novel ini kita bisa mengenal tentang masalah seni dan kita diingatkan bahwa mencuri tetaplah perbuatan buruk yang tidak boleh dilakukan. Jangan menjadi orang tamak, gila harta. Karena itu  hanya akan membuat kita gelap mata mau menghalalkan berbagai cara.  Dan jangan suka berburuk sangka kepada orang lain tanpa adanya bukti yang jelas.


Srobyong, 17 Januari 2017 

[Review Buku] Petualangan Mengunjungi Rumah untuk Anak-Anak Ajaib


Judul         : Miss Peregrine’s Home For Peculiar Children
Penulis       : Ransom Riggs
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit      : Gramedia
Cetakan      : Pertama, September 2016
Tebal           : 544 hlm
ISBN           : 978-602-03-3388-5


Kita tidak akan pernah tahu, kapan kejadian luar biasa akan hadir, menjadi kisah petualangan seru yang tidak terlupakan. Apalagi kisah itu membuka tabir lain tentang dunia yang tidak pernah kita ketahui, yang menyimpan banyak kenangan juga kebenaran dari orang yang kita sayang.

Jacob Portman tidak menduga, kehidupannya yang selama ini terbilang biasa-biasanya saja, berubah  ketika kakeknya—Abrham Portman meninggal.   Memang sejak kecil Jacob sangat dekat dengan sang kakek. Dari kakeknya, Jacob mendengar kisah-kisah petualangan seru yang membuatnya penasaran. Seperti adanya  burung elang yang bisa menghisap pipa, lalu tentang monster-moster di Polandia yang mengerjanya dan banyak lagi.

Apalagi kakeknya juga menunjukkan foto-foto sebagai penguatan kisah tersebut. Cerita itu konon terjadi saat kakeknya pernah tinggal di panti asuhan. Namun ketika beranjak dewasa, Jacob sudah mulai tidak terlalu percaya. Karena setiap kali dia bercerita ... teman-temannya akan menganggap dia adalah pembohong ulung.

Tapi semua itu berubah ketika tanpa sengaja dia melihat monster ketika pulang kerja, dan bagaimana keadaan sang kakek saat meninggal. Jacob tahu ada yang tidak beres. Belum lagi pesan yang diberikan kakeknya di saat-saat terakhir. “Pergi ke pulau itu,  kau akan aman di sana. Berjanjilah padaku.” (hal 45).  

Sayangnya ketika dia menceritakan apa yang dia lihat, tidak seorang pun percaya padanya. Dia dianggap berhalusinasi. Itulah awal mulanya dia berkonsultasi dengan Dr. Golan, seorang psikiater yang kemudian menyerankan agar Jacob diajak mengunjungi pulau yang pernah diceritakan kakeknya.

Jacob pun akhirnya menemukan rumah yang dimaksud kakeknya. Hanya saja rumah itu sudah hancur. Dia jadi bertanya-tanya apakah para penghuninya masih hidup?  Di sinilah tanpa sengaja dia bertemu Emma (hal 172). Jacob berusaha mengejar Emma yang langsung lari ketika melihatnya, yang pada akhirnya membuat Jacob memasuki portal waktu.

Akhirnya,  dia pun bertemu dengan Miss Peregrine dan anak-anak aneh yang pernah diceritakan kakeknya.  Bagaimana tidak? Orang-orang yang dia temui itu sama sekali tidak menjadi tua. Mereka terlihat masih remaja seperti dirinya. Di antara penghuninya, ada Emma yang bisa mengeluarkan api, Olive dapat mengambang di udara, Horace dapat meramal masa depan, Milladr yang tubuhnya tidak terlihat dan masih banyak lagi.

Dan di sanalah petualangan itu dimulai. Di mana para monster ternyata benar-benar ada dan tengah mengintai  para penghuni panti asuhan. Mereka sangat membutuhkan Jacob yang memiliki kemampuan melihat monster.  Hanya saja apakah Jacob akan membantu? Apakah dia akan tetap di dunia lain atau kembali di dunianya sendiri.

Sebuah novel yang menarik dan unik. Karena novel ini dilengkapi dengan foto-foto aneh yang memang dimiliki penulis sendiri. Foto-foto yang dimasukkan dalam novel ini, seolah semakin mengembangkan imajinasi cerita saat membaca.

Dipaparkan dengan gaya penulisan yang renyah dan alur yang penuh kejutan, novel ini sangat asyik dibaca. Penulis pandai menggiring pembaca menamatkan kisah sampai akhir. Jujur pada awalnya sempat mengira novel ini ada unsur horor, tapi ternyata saya salah. Dari sudut pandang saya, novel ini lebih menjurus pada genre fantasi. Meski tokoh-tokohnya diperankan anak kecil, tapi bisa dibilang novel ini lebih cocok dibaca untuk orang dewasa. Karena melihat pergaulan yang ada di dalamnya.

Hanya saja pada novel ini masih ditemukan beberapa kesalahan tulis. Serta pada pemilihna cover yang bisa dibilang cukup memikat, tapi ternyata juga menjebak. Digambarkan seolah tokoh dalam novel ini adalah anak yang bisa mengambang di udara—Olive, tapi ternyata bukan. Karena porsi Olive pun tidak terlalu banyak di sini.

Namun lepas dan kekuranganya, sebagai debut awal penulis, novel ini cukup mengagumkan. Kisahnya terasa hidup dan sangat menghibur. Bagi yang suka tema fantasi petualangan, novel ini  recomended untuk dibaca. Dan sebagai catatan novel ini pun sudah difilm-kan dan kisahnya meski ada sedikit perubahan, tetap seru untuk ditonton.

Tidak ketinggalan novel ini pun sarat pembelajaran. Khususnya tentang adab dan sopan santun yang harus dilakukan anak-anak.  Juga masalah keteguhan dan sikap tidak mudah menyerah dalam segala situasi.


Srobyong, 20 Februari 2017 

Sunday, 12 November 2017

[Resensi] Jalan Dakwah Sunan Kalijaga di Tanah Jawa

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 5 November 2017 


Judul               : Islam Mencintai Nusantara : Jalan Dakwah Sunan Kalijaga
Penulis             : B. Wiwoho
Penerbit           : Pustaka Iman
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 306 halaman
ISBN               : 978-602- 8648-20-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Para sarjana berbeda pendapat mengenai kedatangan Islam di Indonesia. Kebanyakan sarjana Orientalis berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke -13 Masehi dari Gujarat (bukan dari Arab langsung). Sedangkan kebanyakan sarjana Muslim berpendapat bahwa Islam sudah sampai ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah—sekitar abad ke -7 sampai abad ke -8 Masehi, langsung dari Arab (hal 13).

Akan tetapi ada satu kenyataan yang disepakati bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. Islam, dalam batas-batas tertentu, disebarkan oleh pedagang, bersama atau kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengembara sufi.  Kemudian terjadi perkawinan campuran antara penyebar agama dengan penduduk setempat yang merupakan anak bangsawan Indonesia, sehingga kedudukan sosial mereka meningkat lebih tinggi.

Setelah  para pedagang dan penyebar agama itu memiliki kedudukan yang  cukup kuat, mereka membangun pusat-pusat pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan pesantren. Di Tanah Jawa sendiri kedatangan Islam tidak bisa terpisah dengan sentuhan dari para wali yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga (Wali Sembilan)—sebuah dewan wali yang memiliki otoritas tertinggi dalam keagamaan dan penyebaran agama pada zamannya. Sebagaimana sebutannya Wali Sanga itu terdiri dari sembilan wali. Mereka memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di nusantara.

Dan Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Dalam pendekatan untuk mengenalkan agama Islam, Sunan Kalijaga ini memiliki cara yang unik.  Sunan Kalijaga melihat bahwa masyarakat masih kental dengan tradisi Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lama. Oleh karena itu dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam.   Menurut Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, sedikit demi sedikit. Kepercayaan, ada istiadat, dan kebudayaan lama tidak harus dihapus. Bahkan diisi dengan unsur dan roh keislamaan.

Salah satu pendekatan yang dilakukan Sunan Kalijaga adalah menjadikan wayang kulit sebagai media pendidikan atau dakwah. Di mana dia menampilkan tokoh-tokoh favorit rakyat dalam kisah dialog tentang tasawuf dan akhlakul karimah. Selain itu Sunan Kalijaga juga mengenalkan Islam melalui puisi berbahasa jawa—yang biasanya disebut tembang macapat—yang sampai saat ini masih banyak dipelajari. Salah satunya adalah Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 bait. Keberadaan Suluk Kidung Kawedar ini, membuat masyarakat senang. Karena Sunan Kalijaga tidak mengecam kepercayaan sudah ada dalam masyarakat.

Misalnya saja dalam bait pertama Suluk Kidung Kawedar dipaparkan,  “Ana kidung rumeksa ing wengi/ teguh ayu luputa ing lara/ luputa bilahe kaleh/ jim setan datan purun/ peneluhan tan ana wani/ miwah penggawe ala/ guna ning wong luput, geni temahan tirta/ maling adoh tan wani ngarah ing mami/ tuju duduk pan sarah.”

Bait ini bermakna, “Ada tembang pujian menjaga malam/ membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit/ terbebas dari segala mara bahaya/ jin dan setan tidak berani/ guna-guna (atau teluh) tidak mempan/ juga perbuatan buruk, dari orang-orang jahat/  api menjadi dingin bagaikan air/ pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya/ segala mara bahaya sirna.” (hal 65-66).

Lalu pada bait-bait berikutnya Sunan Kalijaga mengenalkan tentang sejarah para nabi, sahabat dan keluarganya. Ada pula dipaparkan para malaikat yang mendampingi kita, pentingnya zikir, keutamaan surat Al-Ikhlas dan ayat kursi. Tidak ketinggalan dijelaskan juga tentang ulama-ulama  tasawuf  yang memiliki peran dalam mengislamkan jawa,  serta menganti sesajen dengan sedekah.

Namun dalam dakwahnya,  Sunan Kalijaga tidak langsung  mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama yang sudah dianut masyarakat. Yang dilakukan Sunan  Kalijaga adalah menyusupkan nilai-niali baru ke dalam agama, kepercayaan dan tata cara dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Dengan metode dakwah ini, maka Nusantara—khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang  menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia (hal 80).

Buku ini membuktikan bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin dan berwajah ramah. Cara dakwah Sunan Kalijaga menunjukkan kalau tidak ada pertumpahan darah atau paksaan, namun dengan taktik modifiksi budaya yang tidak menyakiti siapapun.

Srobyong, 23 September 2017 

Saturday, 11 November 2017

[Review Buku] Cinta, Masa Lalu dan Perjalanan yang Mengesankan




Judul               : Unforgettable Sunset; Love in Santorini
Penulis             : Indah Hanaco
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602- 03-6105-5

“Bukan soal yakin atau tidak. Aku tidak siap untuk berhubungan lebih jauh dengan seseorang. Aku sudah membuat tiga kebodohan, itu lebih dari cukup.” (hal 217).

Masih mengambil tema cinta dengan masa lalu kelam, yang menjadi latar tokoh, Indah Hanaco hadir kembali dengan kisah menarik yang  dieksekusi dengan apik. Memang benar tema yang diangkat bisa dibilang sudah biasa. Namun jangan khawatir karena cinta masih selalu menarik dan di tangan Mbak Indah dengan sentuhan yang apik, maka novel ini tetap memiliki nilai jual yang pastinya akan sangat asyik dan menghibur buat dibaca.  Belum lagi selain mengangkat masalah cinta, ada juga masalah keluarga, agama yang pastinya akan mengetuk relung hati kita.

Novel ini sendiri menceritakan tentang  dua tokoh—Masha dan Terry yang sama-sama memiliki masa lalu kelam. Keduanya punya alasan masing-masing untuk tidak terikat dalam sebuah hubungan. 

Masha Sedgwick wanita lajang berusia 32 tahun, namun tidak juga berkeinginan  untuk menikah. Bahkan  dalam catatan sejarah hidupnya dia sudah menyakiti tiga pria yang pernah menjadi tunangannya.

“Aku adalah tunangan pertamanya, sebelum dia mencampakkanku. Kau yang ketiga. Selamat datang di Klub Korban Miss Sedgwick.” (hal 11). 

Ada masa lalu kelam yang menjadi latar belakang Masha melakukan hal gila itu. Dia terlalu takut dikhianati  dengan berbagai alasan. Oleh karenanya dia lebih suka berhubungan suka sama suka tanpa harus melintasi batasan yang telah dia buat.

Terry seorang veteran yang berusia 27 tahun. Masih cukup mudah namun, perjalanan hidup menempanya menjadi sosok dewasa. Namun karena pengalaman itu, Terry berubah menjadi playboy kelas kakap yang suka bergonta-ganti pasangan.  Belum lagi bekas luka dari tugasnya di Fallujah, ternyata meninggalkan pesakitan yang cukup membuat Terry menderita.  Dia mengalami cedera otak yang mungkin tidak bisa disembuhkan.

Keduanya seolah sudah sangat yakin dengan pilihan tersebut—melajang dan hanya bermain-main soal cinta.  Namun siapa sangka pertemuan keduanya di Santorini yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan menjadi sesuatu yang mendebarkan. Meski Masha selalu bersikap waspada yang menjaga jarak, kedekatan itu tetap tak bisa dihindari. “Jangan selalu mencurigai niat baik seseorang, Masha.” (hal 58).  

“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya dari apa yang tampak sekilas. Kau akan kaget saat tahu siapa sebenarnya aku, apa yang kualami. Terry Sinclair tak selalu seperti apa yang terlihat. Percayalah!” (hal 89).

Masha pun mulai melunak. Setidaknya dia harus menghormati orang yang pernah menyelamatkannya di Santorini dalam insiden yang mendebarkan. Maka mereka pun berjanji untuk menikmati keindahan Santorini bersama-sama. Sayangnya ketika  keduanya sudah mulai akrab, insiden tidak terduga membuat mereka tidak bertemu dan meninggalkan kesalahpahaman. Baru lima bulan kemudian Terry tiba-tiba muncul dengan sebuah pernyataan yang terduga.  Masha tidak pernah menyadari kehadirannya telah merubah keputusan Terry dalam sekejap.

“Aku harus memastikan kau tidak bersama orang lain. Kau tidak boleh melakukan itu, Miss Masha. Bertunangan dengan lelaki mana pun, dengan alasan apa pun. Aku takkan membiarkan itu terjadi. Mulai saat ini, aku ingin kau cuma memandangku, memikirkanku. Alasan aku berbuah bergitu egois? Aku jatuh cinta padamu. C-I-N-T-A.” (hal 112).

Kisah keduanya sangat menarik dan bikin penasaran. Ada sisi humor juga sesekali bikin gregetan. Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana akhir hubungan mereka? Apakah Masha tetap memilih melajang selamanya? Dan beranikah Terry mengikat hubungan serius dengan Masha setelah beberapa kejadian yang membuat Terry terjungkal? Dan latar masa lalu seperti apa yang sebegitu menghantui Masha dan Terry?

Membaca novel ini sesekali akan membuatku tersenyum setiap kali melihat interaksi Masha dan Terry. Namun ada kalanya juga aku gregetan dengan sikap mereka yang bikin geleng-geleng kepala.
Keunggulan dari novel ini adalah keberanian Mbak Indah dalam mengeskplore tentang seorang veteran yang, bisa dibilang cukup jarang diangkat penulis lain. Karena yang sering saya baca adalah para CEO tampan yang bikin klepek-klepek J Peace dua jari.  Untuk penggarapan tokoh pun sangat konsisten.  Dan pemilihan alur maju mundur, cukup membantu untuk menambah rasa penasaran dengan masalalu kedua tokoh.  Kemudian gaya bahasa yang renyah juga menjadi modal kuat membuat pembaca tidak bosan selama membaca. Dan tidak ketinggalan adalah banyak kosa kata baru yang bisa pelajari dari tulisan Mbak Indah ini.

Secara keseluruhan novel ini memang asyik banget untuk dibaca sebagai teman di akhir pekan. Tapi jangan salahkan penulis, kalau jadi penasaran untuk ikut mendatangi Santorini, yak. Karena memang tempatnya sangat indah. Saya juga jadi termehek-mehek pengen ke sana.

Untuk kekurangannya saya hanya menemukan satu yang bikin mengernyit. Mungkin ini salah tulis, ya? “Dengan Judd? Kali kau benar-benar serius, ya?” (hal 3) Mungkin kata berwarna mereh itu maksudnya kalian atau kali ini?  Selebihnya sepertinya aman-aman saja. Semua mengalir.

Membaca novel ini saya belajar keluarga harus saling terbuka. Orangtua adalah panutan bagi seorang anak, olek karena itu perlu ada keterbukan dan teladan yang baik. Saya juga belajar, bahwa masa lalu boleh saja melukai, tapi kita harus belajar untuk bangkit dan terus memperbaiki diri.

Berikut beberapa quote favorit dari novel ini :

Pengalaman mengajarkan, masalah yang dibiarkan berlarut-larut, meski berawal dari persoalan kecil, bisa meraksasa dan berbahaya (hal 158).



Esensi dari mencintai adalah menerima kelebihan dan kekurangan pasanganmu dengan hati lapang (hal 200). 



Manusia baik atau tidak, bukan ditentukan agama (hal 71). 


Srobyong, 11 November 2017




[Resensi] Kehebatan Hercule Poirot Memecahkan Kasus Misteri


Dimuat di Radar Sampit, Minggu 5 November 2017 




Judul               : The Best of Hercule Poirot
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 599 halaman
ISBN               : 978-602-03-3871-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Bagi penikmat kisah misteri pasti sudah tidak asing dengan nama Hercule Poirot.  Dia merupakan tokoh fiksi karangan Agatha Christie—penulis fiksi kriminal asal Inggris, yang mana karya-karyanya selalu laku dipasaran. Hercule Poirot adalah seorang detektive swasta yang memiliki kecerdasan dan kejelian dalam menganalisis berbagai masalah.  Selain itu dalam memecahkan kasus yang dihadapi Poirot ini memiliki pendekatan yang berbeda dari kebanyakan detektive. Dan hal itu-lah yang membuatnya hampir selalu sukses dalam menguak berbagai kasus misteri.

Membaca jejak petualangan Poirot rasanya seperti memasuki labirin panjang yang tidak ada ujungnya. Namun begitu kita tidak pernah merasa bosan. Kenyataan yang ada, kisah-kisah petualangnnya selalu ditunggu. Untuk mengobati kerinduan penggemar Agata Christie, Gramedia memilih tiga cerita yang paling di favoritkan pembaca untuk dicetak kembali dalam tampilan yang menyegarkan. Inilah buku “The Best of Hercule Poirot”. Di mana kisah-kisah yang terpilih adalah ; The Abc Murders (Pembunuhan ABC), Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), dan Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Memang ketiga cerita ini tidak memiliki kaitan, namun kisah yang dipaparkan sukses memberi ketegangan dan kejuatan menarik dalam penyelesaiakn kasus. Tidak terduga dan menakjubkan.

Pada cerita The Abc Murders (Pembunuhan ABC), secara tiba-tiba Poirot mendapat surat kaleng dari seseorang dengan  inisial ABC.  “Mr. Hercule Poirot—Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kamu yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sluti untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andervon pada tanggak 21 bulan ini.” (hal 16).  

Arthur Hastings, sahabat Poirot menganggap kalau surat itu hanya pekerjaan orang iseng.  Begitu pula  dengan polisi yang juga telah melihat surat tersebut. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan pendapat Poirot.  “Ada sesuatu  mengenai surat ini yang tidak aku sukai .... Bukan karena naluri. Lebih tepatnya adalah pengetahuanku—pengalamanku—yang mengatakan padaku bahwa ada sesuatu yang salah dalam surat ini—“

Dan ternyata dugaan Poirot tidak meleset pada tanggal 21 di Andover dia mendapat laporan bahwa seorang wanita tua bernama Ascher, yang membuka toko kecil serta menjual tembakau dan surat kabar, ditemukan terbunuh (hal 24).  Di sana tidak ada petunjuk apapun kecuali, sebuah buku panduan kereta api dan panduang itu memang ABC.  Bersama Hastngs, Poitor mencoba mengungkapkan fatka di balik pembunuhan itu. Karena ternyata pembunuhan yang terjadi itu tidak sesederhana dari apa yang terlihat. 

Lalu pada kisah kedua Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), di sini Poirot mendapat permintaan dari Carla Lemarchat untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan yang dilakukan ibunya—Caroline Crale enam belas tahun yang lalu. Carla tidak percaya bahwa ibunya telah membunuh ayahnya—Mr. Crale.  Dia suda bertekad bulat, apapun hasilnya dia harus mengetahui kebenaran itu.
Poirot pun mulai mendatangi siapa saja yang memiliki keterkaitan dengan kejadian itu. di sana Poirot mendapat kenyataan bahwa Caroline berada pada pihak yang disudutkan dan memang semua bukti menunjukkan kalau  Caroline adalah  pembunuhnya.

“Kenyataan ini mungkin menyakitkan tetapi saya selalu berprinsip kebenaran harus diutamakan. Kendati tujuan baik, kedustaan akan bahaya. Setiap orang harus berani menghadapi kenyataan. Tanpa keberanian, hidup takkan mempunyai arti.” (hal 362).  

Dan terakhir adalah Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Saya merasa kisah ini yang paling mendebarkan. Karena lokasi kejadian kali ini juga memiliki sejarah  tersendiri bagi Arthur Hastings dan Poirot. Saat itu Poirot tengah menghadapi kelihaian seorang pembunuh yang lebih suka Poirot sebut X. Karena perbuatan si X banyak korban berjatuhan. Hanya saja dalam usahanya menemukan X di sana ada  Judith—putri Hastings yang bisa jadi adalah pelaku.  “Jangan terburu nafus Sobat. Aku mohon kau jangan berbuat kesalahan yang tidaaak mau kubukukan untukmu.” (hal 449).

Ketiga kisah ini benar-benar mendebarkan dan tidak terduga. Diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat kita terasa nikmat saat membaca. Beberapa kesalahan tulis yang ada tidak mengurangi kenikmatan saat membacanya. Dari kisah-kisah ini saya menyadari hal yang paling berbahaya yang bisa menuntun seseorang penjadi pembunuh adalah cinta dan harta.


Srobyong, 24 September 2017