Wednesday, 20 September 2017

[Resensi] Berguru dari Kisah Bulu Tengon

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu  17 September 2017 


Judul               : Kisah Bulu Tengon
Penulis             : Dian K
Ilustrator         : R. Herningtyas
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               :978-602-394-691-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara.

Indonesia kerap kali disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi—yang mana menggambarkan sebagai negara yang memiliki kekayaan alam. Namun ternyata selain kaya akan alam, Indonesia juga negara yang kaya akan adat dan budaya. Mengingat di Indonesia memang terdiri dari berbagai suku yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Namun begitu, sebagaimana semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika—meskipun berbeda-beda tetap kita satu jua.

Inilah keunikan Indonesia. Dan sebagai warga yang  baik, sepantasnya kita menghargai berbagai kekayaan yang ada di tanah air ini. Salah satunya dengan mengenal cerita- rakyat di Indonesia. Karena sadar atau tidak sadar, dari kisah-kisah rakyaat di Indonesia, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah tersebut.  Salah satunya adalah “Kisah Bulu Tengon” sebuah kisah rakyat yang berasal dari Kalimantan Utara. Kisah ini patut dijadikan guru dalam berperilaku.

Mengisahkan tentang Ku Anyi yang hidup bahagaia dengan istrinya. Ku Anyi merupakan kepala suku Dayak yang sangat disayangi dan dihormati oleh penduduk. Mengingat Ku Anyi ini memang sangat ramah dan tidak segan membantu. Ku Anyi kerap membagikan hasil buruanya kepada penduduk (hal 4). Hanya satu hal yang kerap membuat Ku Anyi dan istrinya sedih.  Mereka belum juga dianugerai anak oleh Yang Maha Kuasa. Namun begitu, mereka tetap bersabar dan berdoa kepada Allah. “Sabar. Dan teruslah berdoa. Suatu saat Tuhan akan mengabulkan doa kita.” (hal 7). 

Selain bersabar dan berdoa, mereka juga terus berbuat kebaikan. Mereka percaya Kebaikan akan berbuah kebaikan (hal 8).  Hingga pada suatu hari, Ku Anyi bekerja seperti biasa, dia pergi berburu ditemani anjing setianya.  Anehnya, anjing itu tiba-tiba menyalak. Pada awalnya Ku Anyi menduga kalau anjingnya melihat rusa atau kelinci. Tapi ternyata dia salah. Saat itu mereka berada di antara  bambu betung. Dan entah kenapa ada bisikan-bisikan aneh yang membuat Ku Anyi mendekatinya.

Di sana dia menemukan sebuah telur besar, yang akhirnya dia bawa pulang. Mungkin terlur itu bisa dimasak dan dijadikan lauknya.  Selain membawa telur, Ku Anyi juga membawa bambu betung yang juga bisa dijadikan sayur. Sayangnya, ketika Ku Anyi meminta istrinya untuk memask telur dan sayur itu, sang istri menolak, karena mereka sudah memiliki lauk yang lebih cukup. Akhirnya Ku Anyi pun setuju dan berencana memasak telur itu untuk esok hari. Hanya saja ketika pagi tiba, mereka dikejutkan dengan keberadaan dua bayi yang sangat menggemaskan.  Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sebuah kisah yang menarik dan dipaparkan dengan asyik juga. Dilengkapi ilustrasi yang cantik, semakin membuat kisah ini enak untuk dibaca. Membaca kisah ini kita bisa belajar bahwa orang yang suka berbuat kebaikan akan mendapat balasan kebaikan juga.  Dan kita juga belajar, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.  Selain itu dalam buku ini kita juga bisa belajar tentang sejarah tentang cikal bakal Kesultanan Bulungan.

Menarik bukan? Rasanya sayang jika tidak mengoleksinya. Membaca buku ini selain mendapat pelajaran moral, kita juga belajar sejarah mengenai keunikan-keunikan kisah rakyat di setiap daerah.  Tidak ketinggalan, mengingat buku ini bilingual book, maka kita juga bisa belajar bahasa Inggris lewat buku ini.

Srobyong, 10 Agustus 2017

Saturday, 16 September 2017

[Resensi] Mengenal Berbagai Penyakit yang Kerap Menyerang Lansia

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 8 September 2017


Judul               : Tetap Sehat Saat Lansia
Penulis             :  Erlita Pratiwi & dr. Yekti Mumpuni
Penerbit           : Rapha Publishing, Imprint of Penerbit Andi
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : x + 170 halaman
ISBN               : 978-979-29-6046-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Buku ini memaparkan  berbagai uraian penyakit yang kerap menyerang pada kaum lanjut usia atau lansia, disertai gejala, juga bagaiman cara pencegahan dan penanganannya. Perlu diketahui, tubuh orang lanjut usia rentan mengalami serangan berbagai penyakit karena daya tahan tubuh mulai menurun.  Di antara  gangguan penyakit yang menyerang adalah gagal jantung, gagal ginjal kronis, katarak, dan hepatitis.

Gagal jantung adalah keadaan di mana jumlah darah yang dipompa oleh jantung tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan. Menurut penelitian, jumlah penderita gagal jantung menanjak tajam pada usia 75–84 tahun.  Alasan yang membuat lansia rentan mengalami gagal jantung adalah, dinding pembuluh darah kaku, terjadi kekakuan pada jantung sehingga daya kerja jantung berkurang akibat banyaknya sel mati, serta adanya perubahan metabolisme sel pada usia lanjut (hal 3–4 ).

Faktor yang memicu terjadinya penyakit ini adalah, kelebihan natrium, tidak patuh minum obat dan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.  Gejala yang terjadi yaitu; merasa lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik, terjadi pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut dan mengalami sesak napas yang hebat.  Cara pencegahan gagal jantung dengan  melaksanakan pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan makan dengan gizi seimbang (hal 6).

Gagal ginjal dapat diartikan sebagai hilangnya fungsi ginjal yang mungkin terjadi secara cepat atau bisa juga terjadi secara perlahan.  Gagal ginjal akan menyebabkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh terganggu. Tanda-tanda penyakit ini adalah gatal-gatal secara terus menerus di bagian tubuh,  terjadi penumpukan kotoran di dalam tubuh, nafsu makan turun, terjadi pembengkakan pada beberapa area tubuh—kaki dan betis. Selain itu menurunnya hemoglobin dan tekanan darah meningkat (hal 77).

Cara mengobati gagal ginjal kronis yaitu melakukan cuci darah atau hemodialisis—yaitu tindakan membuang racun sisa metabolisme dari dalam tubuh karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya dengan baik.  Bisa juga dengan transplantasi ginjal—biasanya ini terjadi jika ginjal sudah benar-benar tidak bisa berfungsi lagi.  Yang harus diperhatikan bagi para penderita gagal ginjal kronis itu harus memperhatikan asupan cairan minimal 0,6 liter per hari, jika tidak hal ini bisa menimbulkan keram pada kaki dan penurunan tekanan darah.

Katarak  adalah kerusakan mata di mana lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat menembusnya. Pada usia lanjut, katarak diawali dengan terjadinya keburaman pada lensa, kemudian pembengkakan dan pada akhirnya kehilangan transparasi seluruhnya.  Gejala katarak adalah pandangan mulai menjadi kabur dan buram—seperti ada bayangan awan atau asap, sulit melihat pada malam hari, sensitif terhadap cahaya, terdapat lingkaran cahaya pada mata saat memandang sinar, membutuhkan cahaya terang untuk membaca dan saat melihat sebuah obyek, warna obyek akan memudar atau menguning (hal 99).

Cara mencegah katarak dapat dilakukan beberapa cara sebagai berikut; menghindari makanan cepat saji atau makanan yang mengandung lemah jenuh, membiasakan minum teh hijau setiap pagi, minum segelas jus wortel setelah makan siang dan mengkonsumsi sayuran terutama bayam dan rumput laut.
Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati. Penyebabnya antara lain infeksi virus dan karena mengonsumsi obat-obatan tertentu. Gejala yang sering terjadi ketika mengidap hepatitis adalah merasa tidak enak badan—mirip dengan meriang, mudah lelah, hilang nafsu makan, mual dan muntah, sakit kepala, sara sakit di perut bagian bawah, bagian mata yang berwarna putih berubah menjadi kuning dan urin berwarna gelap (hal 135).

Cara pencegagannya adalah menghindari minuman beralkohol, menghindari obat-obat yang dapat merusak hati, menjalankan diet sehat dan seimbang, olahraga teratur dan cukup istirahat. Buku ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kesehatan tubuh agar tetap sehat meski sudah mencapai masa lanjut usia. Sebuah buku yang patut  dibaca untuk semua kalangan, agar lebih peduli kepada kesehatan.

Srobyong, 26 Juni 2017

Tuesday, 12 September 2017

[Resensi] Menjaga Kesehatan Sampai Lansia

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 10 September 2017 


Judul               : Tetap Sehat Saat Lansia
Penulis             :  Erlita Pratiwi & dr. Yekti Mumpuni
Penerbit           : Rapha Publishing, Imprint of Penerbit Andi
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : x + 170 halaman
ISBN               : 978-979-29-6046-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Setiap orang sudah pasti ingin selalu dalam keadaan sehat dan bugar. Baik di usia muda atau tua. Namun perlu disadari setiap makhluk hidup itu memiliki siklus kehidupan. Yaitu dimulai dari  pembuahan. Lalu janin menjadi bayi yang mana akan melalui proses kelahiran. Setelah itu bayi akan mengalami masa pertumbuhan. Dimulai dari anak, remaja, dewasa,  tua dan meninggal.

Pada masa pertumbuhan  itu tentu saja daya tahan tubuh kita akan  lebih fit. Namun  semakin bertambah usia—memasuki masa senja atau lansia, daya tahan tubuh akan semakin lemah. Dalam artian tentu tenaga dan kegesitan yang dimiliki akan mulai menurun. Pada masa itu disinyalir rentan sekali terkena berbagai penyakit.  Kira-kira apa saja penyakit itu dan bagaimana menghadapinya?

Dalam buku ini penulis mencoba memaparkan 45 penyakit yang sering hinggap diusia lansia dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Selain mengenalkan berbagai penyakit, penulis tidak lupa menjabarkan bagaimana cara pencegahan dan penangannya.

Di antara penyakit yang menyerang adalah masalah pada jantung. Sebagiamana diketahui jatung memiliki tugas sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh. Sistem peredaran darah dari dan menuju jantung disebut sistem kardiovaskuler. Bila fungsi dan kerja organ jantung terganggu, maka akan berpengaruh terhadap fungsi dan kerja organ vital lain (hal 2).

Di antara gangguan yang terjadi akibat gangguan kardiovaskuler adalah gagal jantung, penyakit jatung koroner,  kelainan katup, dan hipertensi.  Kenapa bisa terkena gagal jantung? Di sini dipaparkan beberapa hal yang memicunya. Di antaranya adalah kelebihan natrium dalam makanan. Dan cara untuk menceganya adalah melakukan pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan makan dengan gizi seimbang (hal 6).

Sedangkan penyebab penyakit jantung koroner adalah berubahnya pola hidup, terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis, kurang melakukan aktivitas, polusi lingkungan parah dan hipertensi. Untuk pencegahannya dapat dilakukan melakukan pola hidup sehat; seimbang gizi, enyahkan rokok, hindari stres, awasi tekanan darah secara teratur dan teratur dalam olahraga.

Ada pula gangguang paru-paru.  Sebagaimana kita ketahui, paru-paru merupakan alat pernapasa utama manisia. Jumlahnya ada dua—terletak disebelah kanan dan kiri rongga dada, dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besar dan struktur lainnya. Seperti juga organ lainnya, paru-paru pada lansia ini rentak untuk mengalami gangguan. Beberapa gangguang paru-paru yang terjadi pada lansia, antara lain adalah  Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Tuberkulosis Paru, dan Karsinoma Paru.

PPOK ini terdiri tas bronkitis kronis—kelainan saluran napas yang ditandai batuk kronis berdahak, emfisime—kelainan anatomi paru di mana terjadi pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal dan kerusakan dinding alveoli. Terakhir Gabungan bronkitis kronis dan emfisema (hal 31). Disinyalir penyebab PPOK adalah kebiasaan merokok,  adanya paparan  asap rokok dan riawayat infeksi saluran napas bawang berulang.   Penyakit ini sendiri nenempati urutan ke-3 (8,3%) sebagai kematian lansia berusia >65 tahun (hal 32).

Selanjutnya Tuberkulosis Paru, merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis yang masuk ke dalam saluran napas. Disinyalir penyakit ini menempati urutan ke-4 (7,4%) sebagai penyebab kematian bagi para lansia.

Selain apa yang sudah dipaparkan masih banyak lagi dibahas tentang penyakit-penyakit yang harus diwaspadai. Seperti gangguan pada paru-paru, gangguan pencernaan, ginjal, mata dan banyak lagi. Semua dipaparkan dengan lengkap dimulai dari alasan bagaimana bisa terkena penyakit, ciri-ciri, pencegahan dan penanganannya. Oleh karena itu selagi dini, sebaiknya kita selalu menjaga pola makan dan pola hidup yang baik.  Karena keduanya memiliki pengaruh besar pada dampak kesehatan di usia tua.  Menarik dan membuka wawasan baru untuk lebih memerhatikan kesehatan.

Srobyong 10 Juni 2017

Monday, 11 September 2017

[Resensi] Novel Psikologi Horor yang Mencekam dan Inspirasinya

Dimuat di Jejak Literasi, edisi September 2017


Judul               : A Head Full of Ghosts
Penulis             : Paul Tremblay
Penerjemah      : Reni Indardini
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           :Pertama, Maret 2017
Tebal               :398 halaman
ISBN               : 978-602-385-253-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Mengutip  salah satu pendapat dari pembaca novel ini, Sara Gran—penulis Claire DeWitt and the City of the Dead dan Come Closer—mengungkapkan, “Berbeda dengan novel horor mana pun yang pernaah kau baca, tapi anehnya, terasa sangat familier. Kengeriannya akan menghantuimu.”   

Novel ini merupakan Bram Stoker’s Award Winner tahun 2015—sebuah penghargaan yang diberikan  Horror Writers Association (HWA) untuk “prestasi unggul” dalam penulisan novel horor.   Mengambil tema psikologi hororo, novel ini menceritakan tentang  kehidupan keluarga Barrett, sebuah keluarga yang tinggal di pinggiran  New England.  Pada awalnya mereka menjalani kehidupan normal seperti biasa. Sampai sebuah kejadian membuat kehidupan mereka berubah.

Marjorie, putri pertama mereka, yang berusia empat belas tahun, menunjukkan tanda-tanda memiliki sebuah penyakit yang mengharuskan mereka untuk selalu melakukan konsultasi pada dokter Hamilton. Di mana Marjorie kerap melakukan tindakan-tindakan aneh, seperti mengeluarkan suara aneh dan memiliki banyak luka aneh di tubuhnya.   Hal ini tentu saja membuat orangtua Marjorie khawatir. Belum lagi sikap Marjorie meski sudah diobati sama sekali tidak menunjukkan kepulihan. Yang ada, Marjorie semakin menggila.

Hal ini-lah yang pada akhirnya membuat orangtua Marjorie merasa putus asa. Apalagi sudah satu tahun lebih John, ayah Marjorie tidak bekerja akibat PHK masalah yang dilakukan tempat perusahaan dia bekerja dulu—Barter Brothers—perusahaan pembuat mainan yang berbasis di New England (hal 43). Sedang biaya pengobatan Marjorie tidak sedikit.

Selain Marjorie, ada Merry putri bungsu keluarga Barrett yang memang sangat dekat dengan kakaknya. Sehari-hari dia sering bersama kakaknya. Mendengar sang kakak menceritakan kisah-kisah horor yang seru tapi juga menakutkan.

“Menjelang akhir, yang tertinggal hanyalah dua anak perempuan yang menghuni rumah kecil di punck gunung. Kedua anak itu bernama Marjorie dan Merry. Mereka tinggal bersama ayah mereka. Ibu mereka  menghilang sewaktu berbelanja berminggu-minggu sebelumnya, ketika yang tumbuh mulai menyerang mereka. Dan ayah mereka ternyata tidak beres, Marjorie yang malang juga tidak beres. Tinggal si bungsu Merry yang sehat. Lalu tanpa sengaja Merry menemukan jasad ibunya dan menyadari bahwa sang ayah-lah yang telah meracuni ibu dan kakaknyaa.” (hal 55-57).

Saat itu Merry tidak paham, kalau kakaknya sedang sakit. Dia hanya tahu ... kakaknya kadang-kadang memang aneh. Bahkan ayahnya mengangap kalau tubuh Marjorie dirasuki oleh iblis. Oleh karena itu, ayahnya bekerja sama dengan Pastor Wanderlay melakukan eksorsisme—pengusiran hantu.    Selain itu ayahnya juga bekerja sama dengan sebuah acara televisi untuk mem-filmkan apa yang terjadi pada keluarga mereka demi mendapat uang. Mereka masuk dalam acara The Possesion.

Dan lima belas tahun kemudian, kebenaran di balik kisah itu terungkap melalui seorang penulis terkenal—Rachel yang tertarik dengan keluarga Barrett dan meminta kesediaan Merry untuk melakukan wawancara. Di mana pada sesi wawancara itu, Merry saksi mata kejadian yang tidak pernah dia duga—kejadian yang menakutkan dan mencekam, mulai memaparkan fakta menarik dan kisah Marjorie yang tidak pernah menua  dalam kurun waktu lima belas tahun ini.  Sebenarnrya apa yang telah terjadi pada Marjorie dan keluarganya?

Sebuah novel yang menarik. Karena penulis memaparkan dengan cara yang tidak biasa.  Mengambil alur maju mundur, membuat kita diajak pelan-pelan memasuki setiap labirin kebenaran yang disimpan penulis. Namun sejujurnya untuk rasa horor, entah kenapa saya belum merasakan feel-nya, serta novel ini terasa agak lambat dalam penceritaan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini mencoba membuka tabir tentang pentingnya sebuah keluarga menjaga keharmonisan.  

Kekurangan novel ini tertutupi dengan kepiawaian penulis dan mengeksekusi cerita, sehingga membuat saya menyelesaikan kisah sampai akhir untuk mengetahui kebenaran dari kisah ini. Sebuah kebenaran yang tidak pernah terduga dan cukup membuat saya terkejut. 

Srobyong, 20 Juli 2017 

[Resensi] Tuntunan Gaya Busana Muslimah

Dimuat di Majalah Aulee, edisi September 2017 


Judul               : 99 Notes for Muslimah
Penulis             : Satria Nova
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, 1 April 2017
Tebal               : 194 halaman
ISBN               : 978-602-418-157-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Muslimah yang baik adalah muslimah yang bisa menjaga diri—menjaga aurat dengan baik agar tidak menimbulkan fitnah apalagi bencana.  Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dijelaskan, “Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama, golongan yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dengan cambuk tersebut mereka mencambuki orang-orang. Kedua, golongan perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang  cenderung (tidak taat kepada Allah) dan mengajarkan orang lain untuk meniru perbuatan mereka.” (hal 66).

Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih, memaparkan tentang nasihat-nasihat untuk muslimah. Salah satunya adalah tentang  bagaimana seharusnya seorang muslimah memakai busana. Sedari kecil kita tentu sudah dijelaskan tentang batas-batas aurat seorang muslimah. Yaitu seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Dan kita pun dianjurkan memakai jilbab. Hanya saat ini tidak semua muslimah tergerak untuk memakainya.  Padahal perintah ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Azhab ayat 59. “Hendaklah mereka menjulurkan  jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (hal 68).

Di antara alasan yang sering dipaparkan para muslimah ketika tidak segera memperbaiki gaya busana—khususnya mengenakan jilbab yaitu,  merasa belum siap dan beranggapan yang terpenting adalah memiliki hati baik. Padahal berjilbab dan  harus memiliki hati baik itu sama-sama perintah Allah yang harus dilaksanakan, kita tidak boleh memilih salah satu.

Kemudian kali kita juga merasa jilbab dan pakaian lebar akan mengangggu aktivitas dan membuat kita kepanasan. Padahal panas di dunia tidak sebanding dengan panas yang akan kita terima di neraka kelak. Selain itu perlu kita ketahui,  jilbab dan pakaian muslimah sama sekali tidak membatasi ruang gerak dan aktivitas kita. Banyak saat ini para muslimah yang tetap bisa bersekolah tinggi, traveling, keliling dunia, bekerja, berbisnis dan melakukan hobi mereka, meski memakai pakai syar’i (hal 70-71).

Kerap kali kita juga berpikir dengan memakai jilbab dan baju tertutup akan membuat diri mereka tidak menarik. Dan pendapat  dengan memakai baju dan jilbab lebar kita akan  kesulitan dalam mendapat jodoh dan pekerjaan. Ini sungguh pemikiran yang bodoh. Masalah jodoh itu ketetapan Allah. dan jika kita tidak diterima dalam sebuah instansi perusahaaan karena jilbab, itu tanda perusahaan tersebut kurang baik, karena tidak menghargai keyakinan karyawannya. Tidak ketinggalan kita sering berasalan bahwa kita belum dapat hidayah untuk berjilbab. Padahal kenyataanya kita sendiri yang kadang menghalangi hidayah itu sendiri.  perlu kita ketahui hidayah itu bukan ditunggu, melaikan diusahakan. Kita harus paksa diri untuk berjilbab dan memakai baju syar’i, maka lama-lama hati kita akan merasa nyaman.

Ada alasan tersendiri kenapa Allah memerintahkan para muslimah untuk berjilbab dan menutup aurat. Di mana ternyata hal itu memiliki banyak manfaat. Di antaranya bisa melindungi diri dari kejahatan seksual yang saat ini marak terjadi, hati menjadi tenang serta menunjukkan jati diri sebagai seorang muslimah itu sendiri.

Perlu diingat dalam menjaga aurat kita tidak sekadar memakai jilbab, tetapi benar-benar memperhatikan apakah pakaian yang dikenakan itu sudah syar’i atau belum. Yang mana ciri-cirinya adalah pakaian muslimah seyogyanya tidak ketat—di mana masih memperlihatkan lekuk tubuh muslimah itu sendiri,   tidak transparan, sehingga bagian tubuh muslimah bisa dilihat dari luar,  tidak menyerupai pakaian laki-laki, tidak memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita kafir, tidak boleh memperlihatkan perhiasan kepada selain mahramnya, tidak bermegah-megahan saat mengenakan pakaian dan jilbab yang dipakai harus menjulur sampai dada. Selain itu cara berpakain itu harus diterapkan di mana saja. Bukan hanya ketika sedang bepergian, namun juga di lingkungan sekitar rumah.

Kita harus selalu menjaga sikap baik dengan tidak berbicara buruk, mencintai kebersihan, berani melakukan perubahan dan mandiri.  Dengan melakukan semua itu, bukankah sama saja kita menghargai diri sendiri? Jangan sampai kita menjadi seorang muslim yang rugi karena bertindak tidak sesuai norma agama dan ujungnya merugikan diri sendiri.

Buku ini sangat patut dibaca bagi para muslimah. Karena selain memaparkan tentang masalah gaya busana, di sini dipaparkan juga tentang pesan-pesan bijak yang harus diketahui para muslimah, dimulai dari pentingnya menuntut ilmu, hingga masalah aktivitas, ibadah juga menjemput jodoh.

Srobyong, 1 Juli 2017 – 16 Agustus 2017 

Saturday, 9 September 2017

[Resensi] Mitos dan Dongeng Gelap Tentang Perempuan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 8 September 2017 


Judul               : Sihir Perempuan
Penulis             : Intan Paramaditha
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               :  viii + 160 halaman
ISBN               : 978-602-03-4630-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Mitos adalah cerita yang disinyalir tentang para dewa dan pahlawan zaman dahulu, tapi memiliki makna yang mendalam tentang asal usul suatu alam, manusia dan bangsa dan bersifat gaib. Sedangkan dongeng adalah kisah-kisah berbentuk khayalan yang menarik dan luar biasa.  Buku ini dengan gaya bercerita yang menarik dan renyah menyatupadukan antara mitos dan dongeng dalam balutan cerita yang memikat. Keunikan lainnya dalam buku ini adalah penulis menjadikan perempuan sebagai tokoh sentral yang dieksplore—di mana perempuan bisa menjadi apa saja; ibu, anak, karyawati yang baik, hingga boneka porselen.  Perempuan  selalu memiliki sisi yang tidak akan pernah habis jika dikupas.

Terdiri dari 11 cerita, buku ini menghadirkan kisah-kisah tidak terduga dan menegangkan. Bagaimana tidak? Karena selain menyatupaduka antara mitos dan dongeng, buku kumpulan cerpen ini memiliki rasa horor yang cukup mencekam. Kita akan dipertemukan dengan sosok-sosok yang kerap menjadi teror, membuat jantung berdebar.  Namun perlu dicatat, selain menawarkan ketakutan, mitos, dongeng gelap dan perempuan, buku ini juga menghadirkan pesan-pesan tersirat yang bisa dijadikan renungan.

Di antaranya adalah kisah berjudul “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” (hal  24).  Bahwa dikisahkan ada seorang janda beranak dua  yang menikahi seorang duda beranak satu. Larat adalah anak dari pihak lelaki.  Dia sangat disayang ayahnya. Namun dibenci oleh ibu dan saudara tirinya. Dia ditempatkan di sebuah lonteng.  Dan sering disuruh-suruh. Tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan Larat.

Suatu hari Gusti Pangeran membuat pesta. Di sana Gusti Pangeran bertemu wanita yang dicintainya yang tak lain tak bukan adalah Larat. Sayangnya Larat tidak ikut persta sampai selesai. Dia pergi dan hanya meninggalkan sepatu kaca. Gusti Pangeran pun segera mencari jejak wanita itu.
Saat itulah terjadi sebuah peristiwa. Dua kakak tiri Larat melakukan tindakan mengejutkan, hingga akhirnya dia dibawa Gusti Pangeran ke istana. Namun baru beberapa lama perjalanan, seekor burung gagak datang dan membongkar kebohongan itu.  Tak hanya itu gagak itu juga membuat dua kakak tiri Larat menjadi buta dan hidup dalam kesengsaraan.

Mengadaptasi dongeng cinderella, cerpen ini dikemas dengan unik dan menarik. Dongeng yang versi aslinya nampak begitu manis, dalam versi Intan Paramaditha menjadi kisah yang gelap dan kelam. Belum lahi permaian ending yang benar-benar mengejutkan semakin menambah keunggulan dari cerpen ini.

Ada pula kisah berjudul “Mobil Jenazah” (hal 36).  Sejak dua minggu lalu Karin harus pulang naik taksi karena mobilnya rusak. Anehnya setiap dia menunggu taksi selalu saja ada mobil jenazah yang menghampirirnya. Seolah-olah mengajak dia untuk ikut mobil itu.  Sungguh hal itu membuat Karin ketakutan. Apalagi jika mengingat film-film horor yang menakutkan tentang mobil jenazah. Sampai pada suatu waktu, Karin akhirnya menyadari sesuatu. Dan semua sudah tidak sebagaimana mestinya.   Mobil jenazah itu memang benar tengah berusaha menjemputnya.

Tidak kalah menarik adalah kisah berjudul “Pintu Merah” (hal 50). Menceritakan tentang Dahlia, si bungsu yang harus merawat ayahnya yang sakit-sakitan. Bersama ayahnya dia tinggal di sebuah rumah dengan mode zaman Belanda. Selain merawat ayahnya, diam-diam Dahlia memiliki kegiatan lain. Dahlian menemukan sebuah pintu merah  dekat gudang di sudut gelap. Dan di sana ada sebuah rahasia besar antara dia dan pintu yang tidak dia bagi dengan ayah ataupun saudaranya.

Selain tiga kisah ini masih banyak cerita-cerita lainnya yang tidak kalah menggelitik. Seperti Sihir Perempuan, Misteri Polaroid, Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah, Jeritan dalam Botol dan banyak lagi. Semua dikemas dengan apik dan memikat. Rasa horornya benar-benar merasuk, membuat merinding. Dan  misteri pekat yang dihadirkan juga sangat mendebarkan.  Saya benar-benar terhibur dan menikmati gaya bercerita penulis.

Belum penulis memiliki ide-ide menarik yang jarang disentuh penulis lainnya. Ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi buku ini.  Meski di sini masih ditemukan beberapa salah tulis, hal itu tidak mengurangi esensi dari buku tersebut. Dari buku ini kita bisa belajar tentang  betapa kuat dan tegar seorang perempuan, meski harus menghadapi berbagai rintangan hidup. Perempuan tetap bangkit dan tidak mudaah menyerah.

Srobyong 24 Agustus 2017 

Tuesday, 5 September 2017

[Resensi] Luka, Masa Lalu dan Kisah yang Mencekam

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 3 September 2017 


Judul               : Metafora Padma
Penulis             : Bernard Batubara
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Tebal               : 168 halaman
ISBN               : 978-602-03-3297-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Bukankah manusia yang baik adalah manusia yang belajar dari sejarah, terutama yang  paling penuh luka?” (hal 16).  

Setiap orang sudah pasti memiliki masa lalu. Baik masa lalu yang menyenangkan bahkan yang penuh dengan luka.  Di sinilah adanya tantangan dalam usaha menghadapi masa lalu. Antara menerima atau terjebak di dalam kubangan masa lalu itu. Kumpulan cerpen karya Bernard Batubara ini pun tidak jauh-jauh dengan kubangan masa lalu dan luka.  Yang mana dari keduanya itu ternyata telah menciptakan sebuah kisah-kisah mencekam dan tidak terduga.

Terdiri dari 14 kisah, kumpulan cerpen ini sangat mengibur dan memikat. Penulis dengan piawai bermain kata dan mengeksekusi cerita. Tidak ketinggalan adalah bagaimana penulis membuat akhir cerita yang selalu mengejutkan dan tidak terduga.  

Seperti kisah yang berjudul “Perkenalan”.  Cerpen ini tentang seorang  perempuan yang sejak kecil telah mengalami pelecehan seksual dari ayahnya sendiri.  Ketika akhirnya di memiliki kekasih, ternyata nasib buruk tidak juga lepas dari kehidupannya. Sang kekasih meninggal dalam keadaaan yang mengenaskan—di mana kepala dan tubuhnya terpisah sejauh lima meter (hal 9). Hal inilah yang kemudian membuat  perempuan itu memutuskan bunuh diri.  Tapi yang sungguh membuat terkejut adalah pemaparan di akhir kisah, yang memperkenalkan siapa sebenarnya dia—perempuan yang tengah bercerita.

Ada juga kisah “Rumah”. Mengisahkan tentang  si tokoh laki-laki yang tidak memahami alasan kenapa ayahnya bersikeras  ingin membeli rumah  yang telah lama ditinggalkan—sudah 18 tahun berlalu. Padahal rumah yang memiliki masa lalu yang mencekam dan menakutkan. Kepala-kepala terpenggal, genanagan darah senyum beringas dan suara-suara tembakan.   Tapi ayahnya tetap mengatakan memiliki alasan sendiri. meski anaknya berusaha menolak, karena tidak ingin membuat ayahnya tinggal sendiri.

“Betapa pun banyak peristiwa tidak menyenangkan terjadi di rumah, ia tetap tempat kita tinggal  dan pulang. Kamu tidak meninggalkan rumahmu hanya karena ia pernah menyimpan kenangan buruk. Kamu akan tetap bersamanya, berdamai dengan kenangan-kenangan buruk itu, dan memperbaikinya sampai jadi tempat yang lebih nyaman ditinggali.” (hal 57). 

Tidak kalah menarik adalah, kisah yang dijadikan judul cover buku, “Metafora Padma”. Berkisah tentang tokoh laki-laki yang sedang berada di sebuah pesta atas undangan temannya yang seorang penulis. Di sana dia bertemu seorang gadis yang entah kenapa mengingatkannya pada  pohon-pohon tinggi di hutan tenpat ayah dan ibunya tinggal. Mereka bercengkrama, membicarakan buka mawar, lotus hingga tentang mimpi.  Bukan mimpi biasa tapi mimpi yang kelam dan mencekam.

Setelah sudah lama mengobrol akhirnya membuat laki-laki itu ingin mengenal gadis itu—yang ternyata bernama Padma—nama lain Lotus. Maka dia pun menanyakan namanya. Tapi keesokan harinya ketika dia bertanya kepada temannya, tentang siapa Padma. Ternyata tidak ada nama Padma dalam daftar tamu. 

Selain tiga kisah ini tentu saja masih banyak kisah-kisah lain yang tidak kalah menarik dan memikat. Seperti Percakapan Kala Hujan, Suatu Sore, Kanibal dan masih banyak lagi.  pemaparan gaya bahasa yang dipakai penulis sangat menarik. Ada keunikan sendiri dalam setiap pov pencerita yang dipilih. Berbeda dan unik. 

Begitu pula dalam pemilihan judul dan alenia pembuka. Penulis memberi hidangan yang membuat pembaca langsung terkesima dan penasaran untuk menyelesaikan kisah hingga tuntas.   Beberapa kekurangan yang termaktub di dalamnya, tidak mempengaruhi kenikmatan dalam membaca kisah-kisah masa lalu yang kelam dan mencekam.

Selain itu membaca  kumpulan cerpen ini, kita juga dihadapkan pada pembelajaran hidup yang sering terjadi di masyarakat, baik secara tersirat atau tersurat. Khusunya tentang bagimana menghadapi luka dan masa lalu.

Dan dari sebagian pesan moral yang tersimpan dalam buku ini, saya paling suka quote ini. “Meski hidup di dunia yang keras dan penuh kekerasan, harusnya manusia tetap tumbuh dalam kesucian. Murni. Menjadi dewasa dalam cinta kasih. Putih seperti kelopka Lotus. Tidak membawa lumpur dalam hatinya. Tidak memandang dunia yang penuh kekerasan dengan kekerasan pula.” (hal 109).

Srobyong, 10 April 2017