Monday, 28 November 2016

[Resensi] Usaha Mencari Pengakuan dan Olimpiade Sains Astronomi

Dimuat di Kabar Madura, Senin 21 November 2016 


Judul               : Starlight
Penulis             : Dya Ragil
Editor              : Abduraafi Andrian
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 264 hlm
ISBN               : 978-602-03-2753-2
Peresensi         : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Setiap anak punya potensi dan tugas orangtua adalah mendukung dan mengarahkannnya. Bukan malah mengendurkan semangat, bahkan membeda-bedakan  kemampuan satu anak dengan anak lainnya. Orangtua itu harus bersikap adil dalam memberikan kasih sayang. Adil memberikan kesempatan pada setiap anak untuk memilih mimpi apa yang harus dikejar.

Novel ini menceritakan tentang Wulan yang merasa kasih sayang ayahnya hanya terpaut pada kembarannya—Lintang. Di mata sang ayah, hanya ada Lintang yang memang lebih pintar dari pada Wulan—selalu saja Lintang yang diutamakan. Tapi meski Wulan merasa tersisih, dia selalu berusaha tegar.

Sampai pada suatu hari, sekolah memberi pengumuman akan melakukan seleksi pemilihan olimpiade sains, yang di mana salah satu pilihannya adalah bidang astronomi. (hal. 49) Wulan yang sejak kecil memang sangat suka dengan bintang dan memang bermimpi menjadi astronom, tentu saja sangat tertarik ingin ikut. Apalagi kali ini cara pemilihannya lebih terbuka bukan melalui nilai rapor yang akan membuat Wulan merasa rendah diri.  Dia berpikir mungkin dengan mengikuti lomba olimpiade, sang ayah akan mengakui kemampuannya.

Tapi ternyata dia salah. Ayahnya tidak begitu peduli dengan keinginannya. Ayahnya mungkin tidak tahu bahwa dia akan ikut seleksi, karena sang ayah hanya fokus mendukung Lintang agar saudaranya itu maju untuk ikut seleski.  “Ayah tahu, kamu punya kemampuan buat tembus tingkat kabupaten, bahkan nasional kalau perlu. Jangan sia-siakan kemampuanmu itu, oke?” (hal. 69)

Lintang pun pada akhirnya ikut, meski dengan setengah hati. Karena Lintang memang tidak terlalu suka Astronomi dan tidak ingin bersaing dengan Wulan. Selain Lintang ada juga Nindi dan Bagas yang akan ikut seleksi olimpiade astromoni. Ketiganya adalah siswa paling berprestasi yang sedikit banyak tentu membuat Wulan pesimis. Tapi dia terus bertekad untuk maju. Dan alhamdulillah di putaran pertama, Wulan bisa lolos. Dia senang namun juga marah karena Lintang tidak sunguh-sunguh dan sengaja mengalah dengan dirinya. (hal. 102)

Namun karena sudah lolos, Wulan pun bertekad untuk belajar lebih rajin bersama Nindi dan Bagas dalam pengawasan Pak Hadi. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan pada sang ayah bahwa dia mampu bukan hanya Lintang. Apalagi mengingat memang sejak kecil, dia mengenal perbintangan dari sang ayah.  Belajar tentang teori Big Bang, mengenalkan Proxima Centauri, bintang yang paling dekat dengan bumi setelah matahari, atau tentang Sirius—bintang kembar dan Pleiades—kumpulan ratusan, mungkin ribuan bintang.

Dan itu terbukti pada seleksi tingkat kabupaten, Wulan bahkan bisa mengalahkan Nindi. Dia lolos bersama Bagas. Impian Wulan semakin dekat. Dia sangat semangat belajar. Bahkan dia mengesampingkan rasa malu dan meminta bantuan Bagas yang selama ini selalu menjadi musuh bebuyutannya. Tapi betapa sedihnya Wulan, ketika sang ayah malah terkesan tidak mendukungnya. “Kalau gagal di olimpiade, jangan merasa terbebani.”  Begitulah kira-kira yang diucapkan ayah Wulan. (hal. 181) Seolah  ucapan itu menunjukkan dia tidak diharapkan ayahnya menang.  Dan pasti akan berbeda jika Lintang yang ikut, ayahnya pasti akan memberi semangat. “Semangat kamu pasti bisa.” Entah bagaimana kelanjutan usaha Wulan. Apakah nantinya dia bisa memperoleh pengakuan dari sang ayah dan lolos dari olimpiade astronomi apa tidak.

Selain membahas tentang usaha Wulan yang ingin mendapat pengakuan sang ayah, olimpiade atronomi, novel ini juga menceritakan tentang arti persahabatan juga cinta. Penulis meramunya dengan sangat baik dan dengan porsi yang pas. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga membuat kisah ini mudah dinikmati. Tidak ketinggalan, pengetahuan tentang ilmu astronomi juga banyak bertebaran dalam buku ini.

Sebuah novel yang sarat makna. Mengingatkan pada orangtua bahwa dalam memberikan kasih sayang pada anak itu tidak boleh dibeda-bedakan. Juga mengajarkan agar tidak mudah menyerah dan terus berusaha. Meski harus berusaha dari nol, ada kemungkinan untuk menjadi luar biasa. Karena setiap manusia diciptakan dengan potensi masing-masing. Sebagaimana yang termaktub dalam teori Big Bang—Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar kemudian lahir materi-materi benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas sekali. (hal. 10-11)

Srobyong, 5 Juli 2016 

Saturday, 19 November 2016

[Resensi] Tembakau di Lereng Gunung Sindoro

Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu 13 November 2016 


Judul               : Genduk
Penulis             : Sundari Mardjuki
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : 232 hlm
ISBN               :  978-602-03-3219-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi alumni Unisnu, Jepara.



Novel karya Sundari Mardjuki ini termasuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, kategori  prosa. Sebuah novel sangat kental dengan lokalitas.  Setting berada pada tahun 1970-an  di lereng Gunung Sindoro. Fiksi ini diceritakan dengan gaya memoar mengambil sudut pandang gadis kecil yang sering dipanggil Genduk. Kisahnya memikat, mengajak pembaca mengenal tentang bagaimana para petani mengolah tembakau dimulai dari penanaman hingga panen.

Genduk tinggal di Desa Ringinsari, yang terletak di lereng Gunung Sindoro bersama ibunya. Sejak kecil Genduk sudah memperlihatkan kecerdasan di atas rata-rata dari teman-teman sebayanya. Dia juga menyukai sastra puisi karena didorong rasa kesepian tidak pernah tahu siapa sebenarnya ayahnya.

Ketika Genduk bertanya perihal ayahnya, sang ibu selalu terlihat tidak senang dan hanya mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal. Hanya dari  Kaji Bawon, Genduk mendengar kisah tentang ayahnya, yang membuat Genduk meyakini kalau ayahnya belum meninggal. Dan dia bertekad untuk menemukannya. 

Namun pencarian itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan Genduk. Belum lagi saat itu dia menyadari ibunya tengah mengalami masalah serius dengan penjualan tanaman tembakau. Genduk tidak bisa menyepelekan hal itu. Mengingat, kelangsungan hidupnya di desa tergantung dengan hasil panen dan penjualan tembakau.

 Pohon-pohon tembakau  seperti magnet yang membuat semua orang tertuju padanya. Tembakau adalah harapan yang dipupuk dengan perjuangan keras. Tidak ada yang lebih penting  daripada bergelut dengan tanaman tembakau. (hal. 59)

Dan akan lebih beruntung lagi jika bisa menghasilkan tembakau srintil. Karena konon katanya tembakau ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Jangan terpedaya dengan rupanya yang tidak menawan.  Hitam pekat, berair,  mengumpal seperti tai kebo. Namun, ketika dijemur, tampak dari kejauhan seperti berkilat hitam kebiru-biruan. Seperti emas hitam yang sesungguhnya. (hal. 214) 
Hal ini menunjukkan tembakau merupakan ladang ekonomi yang harus diolah dengan baik agar bisa melanjutkan kelangsungan hidup.  Penduduk bahkan selalu melakukan Among Tebal jika masa wiwitan datang—awal musim menanam tembakau agar hasil tanaman tembakau bisa tumbuh subur dan mendatangkan paneh yang berlimpah.

Genduk pun mencoba mencari cara agar ibunya bisa menjual hasil tembakau dengan harga yang pantas.  Dan siapa sangka dia harus berhadapan dengan Kaduk, seorang tengkulak yang selama ini dibencinya. Namun demi sang ibu dia bertekad rela berkorban. Membiarkan dirinya dilecehkan.  Tapi betapa kecewanya Genduk ketika tahu Kaduk tidak memenuhi janjinya.

Novel ini semakin seru dengan sajian konflik  berupa masalah politik sekitar tahun 60-an yang menegangkan. Serta masalah agama dan kepercayaan yang masih menjadi perdebatan dan perselisihan.  Tapi karena konflik itu,  Genduk mengetahui sejarah kehidupan ayahnya, serta masa lalu ibunya.

Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat. Hanya saja ada beberapa bagian yang terasa tidak pas jika dilihat dari setting  waktu dengan sikap tokoh utama yang terlihat lebih modern.  Tapi lepas dari kekuranganya, penjabaran setting dan penokohan yang kuat membuat novel ini tetap asyik untuk dinikmati.  

Selain itu novel ini sangat sarat makna. Mengajarkan pada kita untuk tidak mudah menyerah dalam memperjuangan hak dan harapan. Serta mengajarkan untuk selalu mensyukuri pemberian Tuhan. “Syukuri apa yang ada sekarang.” (hal. 101)

Srobyong, 8 November 2016

Monday, 14 November 2016

[Resensi] Menguak Misteri Rumah Hujan

Dimuat di Radar Sampit Minggu, 6 November 2016 


Judul               : Rumah Hujan
Penulis             : Dewi Ria Utari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei  2016
Halaman          : 256 hlm
ISBN               : 978-602-03-2899-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi alumni Unisnu. Jepara

Rumah  hujan merupakan rumah joglo yang  kokoh dan kuat. Dibangun  dengan harapan bisa melindungi jiwa-jiwa yang bernaung di dalamnya. Jiwa-jiwa yang membutuhkan perlindungan dan penghiburan. Bahkan dalam pembangunan rumah ini, pemilik memilih bahan yang terbaik—campuran dua kayu jati bertuang; uger-uger dan pandawa. Ada filosofi tersendiri kenapa rumah hujan di bangun dengan kayu jati uger-uger—yaitu agar penghuninya selalu hidup damai. Dan kenapa memilih kayu jati pandawa agar pemilih rumah selalu berhati tabah dan teguh (hal. 7-8). Namun ternyata Rumah ini menyimpan sebuah misteri yang tidak terduga. Entah ada kisah apa di rumah itu.

Novel ini merupakan pengembangan dari cerpen berjudul sama “Rumah Hujan” yang pernah ditulis penulis dan dimuat di Koran Kompas. Bahkan menjadi salah satu Cerpen Pilihan Kompas tahun 2005-2006—dengan judul buku Ripin.  Penulis memadukan antara targedi, misteri, romantisme dan berbagai kejutan.

Mengisahkan tentang Dayu yang membeli sebuah rumah kayu berbentuk joglo yang sudah lama diidamkannya. Apalagi rumah itu memiliki desain etnis.  Dayu yakin rumah itu pasti akan membantunya untuk mendapatkan ide dalam berkarya. Rencanya rumah itu akan dijadikan ruang studio lukis oleh Dayu. Sekaligus tempat untuk menyepi bersama imajinasi, kenangan, impian, kesedihan, kemarahan serta mengubur kenangan dari masa lalunya—Cakra—sosok yang sangat dicintainya. (hal. 12)

Di rumah itu, Dayu menemukan kotak berisi foto-foto hitam putih dari pemilik sebelumnya. Di balik foto itu ada tulisan Narparti di beranda Rumah Hujan. Anehnya setalah melihat foto itu, Dayu merasa cemas dan melihat bayangan melintas di jendela dapur. Tidak hanya itu, Dayu bahkan bermimpi tentang Narpati—hantu yang bersemanyam di rumah hujan.  Dan mimpi itu datang setiap malam selama seminggu. Dalam seminggu itu pula Dayu merasakan tubuhnya sangat lemas setelah bangun tidur. 

Karena terus diteror mimpi aneh itu, Dayu mencoba menghubungi Kinan—kakak kelasnya yang mengetahui tentang hal-hal mistis.  Dan betapa kagetnya Dayu ketika Kinan mengatakan apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. “Kamu itu sebenarnya kerasukan. Kamu merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang ada di mimpimu.” Itulah yang Kinan katakan. (hal. 41)

Entah bagaimana Dayu bisa memiliki kekuatan semacam itu—merasakan kehadiran sosok dan energi yang tidak kasat mata. Pada awalnya Dayu memang agak terganggu. Namun entah kenapa perlahan dia mulai menikmati keberadaan sosok tidak kasat mata itu. Apalagi karena kekuatan itu, Dayu bisa menguak misteri tentang alasan kenapa ibunya sejak kecil terlihat tidak menginginkan keberadaanya.

Lalu di hari ke 40 Dayu sangat ingin melukis foto-foto Narpati. Tapi siapa sangka dari gambar itu awal mala petaka terjadi. Pertemuannya dengan Narpati membawa Dayu pada kisah-kisah gelap yang tidak pernah Dayu sangka. Belum lagi kisah itu juga memiliki sangkut pautnya dengan sosok yang pernah dicintainya di masa lalu—Cakra. Orang yang sempat memberi warna dalam dunia Dayu, juga memberi luka yang mengaga. Dayu berada pada pesimpangan jalan. Antara memilih mengikuti keinginan Narpati atau menyelamatkan Cakra. (hal. 197)

Novel ini memiliki kekurangan yang cukup fatal. Banyak sekali typo yang bertebaran sehingga membuat kurang nyaman ketika membaca. Belum lagi ada ketidaksinkronan dalam menyebutkan nama tokoh.

Lepas dari itu novel ini memiliki kelebihan dalam gaya penceritaan. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan mengalir. Penulis pandai mengiring pembaca dengan sangat hati-hati sampai menyelesaikan akhir kisah ini. Porsi antara misteri dan romance pun cukup seimbang. Sehingga ketika membaca ini akan hadir rasa manis juga ketegangan dan rasa penasaran untuk menyelesaikan puzzle-puzzle misteri yang ada.

Selain novel ini, penulis juga membubuhkan tambahan beberapa cerpennya yang pernah dipublikasikan di media nasional. Seperti Liang Liu, Pohon Mati dan lain-lain.

Membaca novel ini mengajarkan kita untuk tidak memelihara dendam. Karena dendam hanya akan membawa kita pada jalan yang salah.

Srobyong, 6 Oktober 2016 

Saturday, 12 November 2016

[Resensi] Adat, Cinta, dan Perjodohan

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 November 2016 


Judul               : Jodoh Terakhir
Penulis             : Netty Virgiantini
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Kedua, April 2016
Halaman          : 208 hlm
ISBN               : 978-602-03-2716-7
Peresensi         : Ratnani Latifah

Setiap tempat sudah pasti memiliki adat tersendiri. Memiliki cara pandangan berbeda dalam menilai berbagai masalah yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah tentang pandangan masyarakat pada wanita yang belum berkeluarga di usia yang sudah matang.  Dan saat ini di beberapa daerah masih ada  yang  menganggap hal itu adalah aib kelurga. Karena membiarkan putrinya menjadi perawan tua.

Novel ini mencoba mengulas fenomena yang kebanyakan terjadi di masyarat pedesaan. Di mana para wanita dituntut untuk segera menikah di usia muda, agar tidak mempermalukan keluarga dan diri sendiri.  Padahal masalah jodoh siapa yang tahu kapan ada datang? Mengingat jodoh adalah  rahasia Tuhan.

Menceritakan tentang Neyna yang sudah berusia 40 tahun, tapi masih singgle. Sehari-hari dia bekerja di kios persewaan buku miliknya.  Melihat kenyataan yang terjadi pada Neyna, sudah pasti membuat kedua orangtuanya khawatir.  Sampai kemudian seorang laki-laki datang meminang Neyna. Tanpa pikir panjang, orangtua Neyna pun menyetujui pinangan itu dan memaksa Neyna untuk setuju.  “Tidak ada orangtua yang mau mencelakakan anaknya sendiri. Ibu percaya kamu bakal bahagia hidup bersamanya.” (hal 17)

Di sinilah masalahnya, Neyna merasa tidak terima. Bagaimana mungkin dia harus menerima pinangan dari orang yang belum dia kenal? Tapi ancaman bapaknya membuat Nenya bernyali ciut. Karena bapaknya mengancam jika dia menolak, maka dia harus angkat kaki dari rumah dan tidak dianggap sebagai anak lagi (hal 21-22).  Neyna merasa berdiri di persimpangan jurang yang dalam.

Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa sampai saat ini Neyna belum ingin berkeluarga. Pertama dia belum bisa move on dari mantan pacarnya yang berbeda agama. Kedua dia ingin menikah dengan laki-laki yang mencintai dirinya dan sebaliknya.  Tapi entah kenapa orangtuanya nampak tidak memedulikan alasannya.  Mereka malah selalu menasihati Neyna untuk segera melepas masa lajang agar tidak lagi digunjingkan warga. 

Tapi nasihat yang paling menyentuh hati Neyna itu malah berasal dari Nunik—istri Hamdan—tetangga kisonya yang mengatakan. “Tuhan akan selalu memberikan jodoh yang terbaik untuk kita. Tinggal kita yang mau menerima dengan ikhlas atau tidak. Sering kali apa yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Tuhan.” (hal 94).  

Belum selesai masalah satu, masalah lain datang bertubi-tubi membuat Neyna pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak,  tiba-tiba  dia dituduh menggoda suami orang (hal. 99). Tidak hanya itu  mantan pacarnya—Deni juga mendadak muncul menimbulkan kekacauan. Entah kenapa Deni mulai sering mengunjungi kios persewaan buku miliknya. Deni pun mulai mengatakan hal-hal yang aneh.

Puncaknya adalah Deni  menawarkan cinta lama yang pernah mereka rajut dulu.  Deni meminta Neyna menikah dengannya bahkan bersedian menceraikan istrinya (hal 161). Di sisi lain, akhirnya Neyna tahu siapa yang akan menikahinya.  Kenyataan itu cukup membuat Neyna terguncang. Ada kemarahan dan perasaan tidak terima di hati Neyna. Dia butuh penjelasan.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan, membuat novel ini asyik untuk dinikmati. Menarik dan cukup menghibur. Apalagi novel ini juga ada unsur komedi yang membuat kita tersenyum sendiri ketika membaca.  Covernya pun terlihat anggun dengan kombinasi warna, bunga dan high heels. Meski dalam beberapa bagian masih ditemukan kesalahan tulis.  Tapi lepas dari itu, secara keseluruhan novel ini recomended untuk dibaca.

Selain itu dari novel ini banyak pelajaran yang bisa dipetik.  Di antaranya adalah ajakan agar cepat move on dari masa lalu.  “Jangan terus-terusan memeluk kesedihan di masa lalu. Sering kali orang yang sudah terlalu lama larut dalam kesedihan jadi memiliki semacam ketergantungan. Dia jadi senang menikmati kesedihannya dan justru tidak mau lepas darinya.” (hal 140).

Kita juga harus berani menghadapi masalah. “Masalah itu ada dan diciptakan Tuhan untuk dihadapi. Diselesaikan. Bukannya dihindari atau ditinggal lari.” (hal 181).

Srobyong, 30 Oktober 2016 

Wednesday, 9 November 2016

[Resensi] Petualangan Tiga Sahabat ke Klan Bintang

Dimuat di Singgalang, Minggu 6 November 2016 

Judul               : Matahari
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbit Pertama : Juli, 2016
Cetakan           : Kedua, Agustus 2016
Halaman          : 400 hlm
ISBN               : 978-602-03-3211-6
Peresensi     : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Matahari merupakan buku  ketiga dari serial  “Bumi”. Tidak seperti buku-buku sebelumnya, pada serial Bumi, Tere Liye—penulis asal Sumetara ini mengambil genre science fiction. Sebuah genre tulisan yang bisa dibilang cukup sulit dan menantangan. Karena sudah pasti harus melakukan  riset yang mendalam dalam berbagai hal.  Namun melihat hasilnya, buku ini luar biasa. Memberi warna pada literasi di Indonesia dan menunjukkan kepiawaian penulis dalam menulis dengan berbagai genre.

Selain itu, Tere Liye juga dikenal sebagai penulis yang  produktif  dalam menghasilkan karya.  Pantaslah jika Tere Liye mendapat penghargaan sebagai Writer of The Year 2016 pada  acara Indonesia International Book Fair (IIBF) oleh IKAPI—Ikatan Penerbit Indonesia.

Novel ini sendiri, masih mengisahkan tentang petualangan tiga sahabat—Raib, Ali dan Seli. Jika pada seri pertama dan kedua mereka mengunjungi Klan Bulan dan Klan Matahari, maka pada seri ini mereka akan mengunjungi Klan Bintang.  Namun yang menjadi pembeda pada seri ini adalah, perjalanan mereka kali ini tanpa sepengetahuan Miss Selena dan Av. Sebelum kembali ke Bumi, Av sudah berpesan agar Raib tidak menggunakan ‘buku kehidupan’ untuk membuka portal apa pun,  tanpa sepengetahuanya atau Miss Selena (hal 23).

Raib pada awalnya mengikuti permintaan Av, namun keteguhannya berubah ketika mendapati Ali menciptaan sesuatu yang luar biasa—Kapsul Ily yang diset memiliki kekuatan Klan Bulan dan Matahari.  Dan Ali mengatakan bahwa tanpa buku yang Raib bawa, mereka tetap bisa pergi ke Klan Bintang. Mereka bisa ke klan itu dengan  Ily melalui lorong kuno karena Klan Bintang berada di perut bumi—yang menurut Seli memiliki magma.

Namun dengan kecerdasan yang dimiliki, Ali menjelaskan hipotesisnya, “bahwa tidak masalah bagi teknologi Klan Bintang yang memang paling maju dari klan lain. Lagipula, jika mereka mengeduk kedalaman tiga ribu kilometer misalnya. Itu tetap masih jauh dengan inti bumi, masih tiga ribu kilometer lagi. Menurut perhitunganku, penduduk Klan Bintang awalnya pernah tinggal di permukaan, mungkin pendudukanya campuran dari tiga klan sekaligus. Kemudian entah dengan alasan apa, mereka pindah ke dalam sana, membentuk peradaban baru. Mereka membuat lubang menuju perut bumi.” (hal. 70-71).

Akhirnya pada liburan semester, mereka memulai petualangan baru yang mendebarkan bersama Ily. Mereka melewati pengunungan berselitmut kabut, melintasi sungai besar di dataran tinggi lalu melewati lembah perkebunan luas dengan beberapa perkampungan permai  di tengah-tengahnya. (hal 111). Mereka terlihat menikmati perjalanan seru itu.  

Tentu saja perjalanan itu tidak mulus, ada banyak kejutan yang mereka hadapi untuk sampai di lorong yang menuju Klan Bintang. Namun pada akhirnya mereka mendarat dengan selamat di tempat yang dituju.  Mereka mendapat sambutan hangat dari Faar—salah satu penduduk Klan Bintang yang ternyata keturunan Klan Bulan (hal 172).

Perjalanan yang awalnya mereka kira menyenangkan ternyata berbuah petaka. Siapa sangka sambutan dari  Dewan Kota Zaramaraz  berbeda dengan sambutan dari Faar. Raib, Ali dan Seli dianggap sebagai penganggu dan harus ditangkap. Entah bagaimana petualangan mereka nantinya. Apakah Av dan Miss Selena akan muncul membantu ..., atau ada kejutan lain yang tidak terduga?

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah membuat novel ini nyaman untuk dibaca. Penokohan, serta setting juga digarap dengan baik dan kuat. Mungkin masalah plotnya saja yang sejak awal bisa dibaca, karena memiliki pola yang mirip dengan seri sebelumnya. Namun begitu, novel ini tetap memiliki sisi kejutan di akhir cerita dan itu memberi kepuasan tersendiri setelah membaca. Beberapa kesalahan kecil dalam masalah penulisan, meski tidak banyak tapi masih ditemukan.

Lepas dari kekurangannya, novel ini patut untuk dibaca. Selain menawarkan ilmu pengetahuan yang banyak lewat si jenius Ali, novel ini juga mengajarkan akan arti persahabatan dan semangat juang untuk tidak mudah menyerah. “Selalu ada jalan keluar sepanjang kita terus berpikir positif.” (hal 338).

Srobyong, 1 Oktober 2016 


Resensi ini merupakan resensi versi kedua. Resensi versi pertama bisa dicek di sini (Juara dua dalam lomba resensi Matahari Tere Liye yang diadakan Gramedia Pustaka Utama)

Tuesday, 8 November 2016

[Cerpen] Kisah Pak Parman dan Berita Pagi Ini

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 26 Oktober 2016



Kazuhana El Ratna Mida

            Aku melihat siaran berita pagi ini. Istana Merdeka, Jakarta sudah dipenuhi para demonstrasi. Mereka menangih janji yang katanya akan direalisaikan, namun tiba-tiba janji itu dibatalkan secara sepihak. Mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki anggaran. Sebuah dalih yang terdengar lucu. Tak memiliki anggaran tapi meluncurkan sebuah proyek besar? Sepertinya pemerintah mencoba menjilat ludahnya sendiri. Entahlah. Aku mengidikkan bahu. Mendadak ingatanku terpatri pada Pak Parman,  yang tanpa sengaja  bertemu dua minggu yang lalu.  Apakah mungkin Pak Parman juga ikut di sana? Berdesak-desakan demi mewujudkan cita-citanya? Kesejahteraan rakyat kecil.

            Aku sungguh tidak mengerti dengan pemerintahan negara ini. Ketika mereka berorasi dulu—orasi nan manis selalu digemakan. Memuliakan telinga. Tapi ketika sudah mencapai tujuan, mereka dengan mudah melupakan janji. Mereka yang mengatakan akan amanah, tapi hanya memakan kata itu sesuka hati.
~*~
            Hari itu, Minggu tanggal 24 Januari. Yah, aku ingat betul hari dan tanggalnya. Bahkan cuacanya. Hujan deras tiada henti  dan membuat orang merasa malas ke mana-mana. Tapi tentu tidak denganku. Pekerjaan menuntut untuk bekerja meski hari libur seperti ini,  bahkan kadang kala harus  lembur segala. Yah, mau bagaimana lagi. Demi bisa mengumpulkan uang membantu asap dapur ibu mengepul yang setiap bulan kukirim,  juga demi cita-citaku yang masih ingin menyelesaikan kuliah. Bekerja di market memang seperti itu.

            Tapi hari itu aku tidak lembur. Aku pulang sekitar jam 15.30 WIB. Ketika teman  pergantian jam datang bergegas aku memberesi barang dan menuju halte. Bus Kencana, yah itu bus yang harusnya aku tumpangi hari itu. Tapi langkahku terhenti ketika melihat seorang bapak yang menghentikan dorongan gerobaknya. Bapak itu duduk di bangku tidak jauh dari halte. Berteduh. Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan bapak itu.

            Gegas kulangkahkan kaki. Membuka payung lipat. Meninggalkan halte dan mendekati bapak itu. Kulihatnya bapak itu kelelahan. Karena berkali-kali tangannya itu memijat kedua lutunya. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang duduk di sana. Bapak itu adalah Pak Parman—guru Agama di SMA dulu.

            “Assalamu’alaikum, Pak.” Ramah aku menyapa, menyunggingkan senyum termanis yang  aku punya. Aku duduk di samping guruku itu. Gurat kekagetan nampak di wajah Pak Parman.

            Aku sungguh tidak menyangka bertemu Pak Parman  itu di sini. Rasanya senang sekali. Dulu aku sering dibina dan dinasihati. Juga mengarahkan aku ketika ingin kuliah sambil bekerja.  

Tapi yang tidak habis aku pikir adalah, kenapa Pak Parman sekarang berjualan gorengan keliling seperti ini? Sungguh, menurutku ini sangat aneh dan membuatku mengernyitkan dahi. Apa mungkin Pak Parman sudah tidak mengajar lagi? Tapi kenapa? Setahu Pak Parman itu sangat rajin dan disiplin. Cara mengajarnya juga menyenangkan. Banyak murid-murid yang menyukainya. Termasuk aku tentu saja.

“Maaf ..., apa Bapak sudah tidak mengajar lagi?” hati-hati aku bertanya. Tentu saja aku takut menyinggung perasaan guruku itu. Tapi aku juga penasaran.

Pak Parman tersenyum mendengar pertanyaanku. Lalu menatap dalam pada hujan yang mengguyur kota. Seolah dengan tatapannya hujan itu akan menggantikan beliau bercerita. Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan guru favoritku? Rumah Pak Parman memang lumayan jauh dari daerah tempat tinggal dan sekolahku. Dulu saja aku sekolah di sini juga dengan nge-kost. Pun sekarang. Jadi kalau tidak sekolah maka akan jarang bertemu. Sedang sekarang aku sudah empat tahun lulus SMA. Kecuali hari lebaran, kadang aku masih sering ke sana dengan teman-teman.

            Lalu meluncur-lah cerita kehidupan Pak Parman yang selama ini tidak pernah aku ketahui. Aku sungguh tidak menyangka, bahwa guruku ini memiliki kehidupan yang tidak kalah pelik dari hidupku sendiri.

            “Jadi sudah sejak dulu bapak melakukan ini? Bahkan ketika masih mengajar saya dulu?”

            “Ya, begitulah, Ning. Kalau bapak tidak jualan gorengan di keliling, mau bapak kasih makan apa keluarga bapak.” Pak Parman tersenyum. Wajahnya tetap teduh.

            “Gaji menjadi guru tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.” Lagi-lagi Pak Parman tersenyum.

            “Kenapa begitu, Pak? Saya pikir guru ditanggung kesejahteraan hidupnya. Karena katanya para guru juga mendapat tujangan.”

            “Yah, jika itu guru PNS, Ning. Guru honorer seperti bapak sebulan hanya 500 ribu tanpa tunjangan apa pun. Berbeda dengan guru PNS gaji dan tunjangannya yang diperoleh jika ditotal mungkin berkisar 10 juta perbulan.”

            “Aduh, maaf ya, Ning bapak malah cerita yang macam-macam.” Aku menggeleng. Aku sungguh tidak keberatan mendengar semua ini. Dulu aku yang sering berkeluh kesah pada guruku ini. Setidaknya jika kini dengan menjadi pendengar bisa meringankan bebannya aku ikhlas.

            Aku sungguh tercekat mendengar cerita Pak Parman. Seperti itukah? Timpang sekali. Padahal mereka sama-sama guru yang mencerdaskan bangsa. Padahal jika dilihat cara mereka bekerja pun sama saja.  Bahkan ada guru honorer yang sudah lama mengabdi di sebuah instansi sekolah dari pada guru baru yang langsung diangkat PNS. Mirisnya guru honorer itu  kesejateran hidupnya juga tidak terjamin.  

            Sekarang aku mengerti, kenapa dulu ketika mengajar Pak Parman kadang terlihat kelelahan. Dan gosip yang sempat diceritakan teman-teman memang tidak salah. Hanya saja aku yang tidak percaya. Aku selalu yakin menjadi guru itu sudah pasti mendapat gaji tinggi dan tunjangan dari pemerintah. Ah, betapa piciknya aku. Indonesia ini bukan seperti China atau Amerika yang menghargai jasa guru karena telah mencerdaskan bangsanya.  Ketimpangan masalah pemberian gaji sungguh memprihatikan.

            Kecampuk pertanyaan seketika menghujaniku. Untungnya Pak Parman dengan senang hati menceritakan semuanya. Hari ini aku mendapat pelajaran yang berharga. Betapa hebatnya sosok Pak Parman. Perjuangannya untuk mendidik bangsa juga memenuhi kebutuhan keluarga. Meski itu berarti dia harus berusah payah.  Lalu Pak Parman melanjutkan ceritanya. Bahwa sebenarnya para guru honorer pernah mengajukan gugatan keadilan. Menuntut untuk mendapat gaji yang lebih baik.  Dan hasilnya sempat membuat para guru honorer senang. Mereka dijanjikan untuk diangkat menjadi CPNS secara bertahap. Katanya itu akan dilakukan tanggap 15 September tahun lalu.  Aku ternyuh mendengarnya.

            “Wah selamat, Pak. Saya turut senang mendengarnya. Tapi ...,” aku kembali menatap gerobak yang tak jauh dari kami duduk ditemani gemericik hujan.

            “Tapi ternyata itu hanya isapan jempol,” kata Pak Parman lagi, “bahwa tanggal 20 Januari kemarin, ada berita yang mengatakan pemerintah tidak memiliki dana untuk pengangkatan itu.” Aku kembali terhenyak.

            “Mereka menjilat ludahnya sendiri, Pak?” aku sungguh tidak terima mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin hal itu dicontohkan para pembesar?

            “Yah, karena itu kami ingin mengajukan tuntutan, menangih janji. Doakan semoga perjuangan kami berhasil.”

            Aku mengangguk pasti. Aku pasti akan mendoakan yang terbaik untuh guruku ini.  Aku pun pamit pulang dengan seplasptik gorengan dari Pak Parman. Aku dimarahi ketika menolaknya. Hadiah katanya sudah menjadi pendengar yang baik. Hari ini mungkin Pak Parman memang sedang merasa sangat lelah dengan segala keadaan ini. Ingkarnya pemerintah membuatnya sangat kecewa. Hingga segala kepedihan itu ditumpahkan padaku yang tanpa sengaja ditemuinya. Aku pikir mungkin selama ini Pak Parman sudah berusaha sabar setiap saat.

~*~

            Kutatap kembali berita itu. Para demonstrasi mulai meneriakkan tuntutannya. Meminta hak yang sudah diingkari. Berita yang membuatku ingat dengan kerasnya hidup dan perjuangan Pak Parman. Bagaimana keadaan beliau. Apakah tuntutan kali ini akan berhasil? Seketika darahku berdesir ketika putusan masalah guru honorer yang menuntut keadilan dipaparkan.

Aku menarik napas panjang. “Ning, pagi-pagi bengong, nggak kerja?” Santi teman satu kosku membuat tersentak. Aku kembali ke alam nyata.

“Aku masuk sore, Sar.” Jawabku sekenanya, masih fokus pada televisi.

“Nonton berita apa, sih. Serius amat.”  Santi sudah duduk di sampingku. Mulutnya langsung membulat.

Aku kembali terpaku. Sungguh hasil tuntutan kali ini membuat dadaku sesak. Lagi-lagi ada penundaan. Empat hari mengajukan untuk bertemu presiden, tapi selalu gagal. Dan kini mereka harus pulang dengan membawa janji lagi, bahwa sebulan yang akan datang presiden katanya akan menumui mereka. Apakah kali ini akan berbuah nyata atau hanya isapan jempol? Tiba-tiba dadaku terasa sesak.

            Srobyong, 13 Februari 2016