Friday, 30 September 2016

[Resensi] Belajar Arti Persahabatan Lewat Novel


Judul buku      : Promises
Penulis             : Kristi Jo
Desain cover   : Orkha Creative
Penerbit           :  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, September 2015
Tebal buku      : 232 halaman
ISBN               : 978-602-03-2000-7

Orang boleh berubah, waktu boleh bertambah, tapi ikatan persahabatan nggak harus putus. (hal. 93)

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Joshua, Lana dan Alex yang sudah dibina sejak kecil. Mereka bisa dibilang seperti permen karet yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Tapi, setiap pertemuan sudah pasti ada perpisahan. Lana harus meneruskan pendidikannya ke Melbourne, menyusul kakaknya.  Joshua sendiri pindah ke Surabaya. Hanya Alex tetap tinggal di Jakarta.

Hal ini-lah yang kemudian harus mereka terima karena sudah pasti mereka tidak bisa bersama lagi. Karena akan berpisah, Lana mengusulkan untuk membuat sebuah kesepatakan. Menulis sebuah harapan yang nantinya akan dibuka bersama-sama setelah lima tahun. (hal. 11) Meski pada awalnya Joshua dan Alex tidak terlalu setuju, mereka pada akhirnya tetap melakukannya.

Namun setelah lima tahun, ketika mereka kembali bertemu, semua sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Lana berubah menjadi pendiam dan terkesan menjaga jarak dengan Joshua. Alex tidak bisa dihubungi dan juga sulit diketahui keberadaannya. Bahkan ketika akhirnya Alex ditemukan, cowok itu sudah tidak seperti Alex yang dulu. Joshua bingung, tapi dia tidak mau persahabatan mereka putus begitu saja. Karena itu dia mulai menyelidiki kenapa kedua sahabatnya telah berubah. 

Dan siapa sangka potongan puzzle yang berusaha Joshua susun, menempatkannya pada posisi yang tidak pernah duga. Dia baru tahu kalau persahabatan mereka telah berubah menjadi lingkaran cinta segitiga.  Alex mencinta Lana tapi Lana menyukai dirinya. Tidak hanya itu Joshua juga mendapati kenyataan kalau Alex telah menjadi pecandu narkoba dan mengidap AIDS. Sedang Lana sempat mengalami pelecehan seksual hingga membuat  gadis itu trauma.

Dan dia pun bertanya-tanya mungkinkah persahabatanya bisa kembali utuh setelah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi?

Sebuah novel yang mengajaran arti sebuah persahabatan dengan segala intrik dan konflik yang harus diselesaikan. Bahwa setiap orang memang memiliki masalah dan rahasia sendiri-sendiri. Namun memiliki masalah bukan akhir dari kehidupan, karena begitula hidup, bahwa orang tidak akan lepas dari masalah.“Nggak selamanya hidup cuma diisi dengan hal-hal yang baik dan membuat bahagia. Pasti akan ada masalah. Dan sudah seharusnya harus diingat, kalau di ada hal yang baik dalam hidup di balik adanya sebuah masalah. Kalau punya masalah, face it! Cari solusi. Kalau mampu bertahan menghadapi kesulitan apa pun, yakin saja bahwa hidup akan kembali pada titik yang baik lagi.” (hal. 161)

Selain itu novel ini juga mengajarkan untuk saling mendukung dan menguatkan,  mengajak agar hidup tidak diisi dengan terjebak pada masa lalu. “Gue nggak bisa memutar ulang waktu dan berada di sana supaya lo nggak mengalaminya. Tapi gue di sini sekarang buat lo. Yang kita jalanin adalah masa depan, Lan. bukan masa lalu.” (hal. 164) “Boleh, kok kita ngelihat ke belakang, sekadar mengintip. Tapi jangan sampai lo menoleh ke belakang. Apalagi sampai berputar dan kembali ke sana.” (hal. 177) Sahabat akan selalu ada dalam suka dan duka. Novel ini mengajarkan semua itu.

Ditulis dengan gaya santai dan mudah dicerna. Covernya pun menarik.  Hanya ada beberapa kesalahan seperti sempat ditemukan ada campuran sebuah pov, lalu ketidakkonsistenannya dalam panggilan nama dan di akhir bagian novel ini terasa lambat.  Namun, lepas dari semua itu novel ini recomended untuk dibaca. 

Dimuat di Koran Singgalang, Minggu 14 Agustus 2016 

Telat banget tahunya kalau naskah resensi ini dimuat di Singgalang. ^_^


Monday, 26 September 2016

[Resensi] Menjaga Cinta dengan Jalan Hijrah


Judul               : Ku Cinta Kau dan Dia
Penulis             : @DuniaJilbab & Ririn Astutiningrum
Penyunting      : Rarindra Rahman
Penerbit           : Wahyu Qalbu
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : 204 hlm
ISBN               : 978-602-74138-9-4
Peresensi         : Ratnani Latifah,penikmat buku dan penyuka literasai alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Membahas cinta memang tidak akan ada habisnya. Karena cinta bagi manusia itu memang sebuah fitrah. Allah menciptakan manusia dengan menanamkan sikap cinta—welas asih. Hanya saja yang menjadi pertanyaan bagaimana menjaga cinta agar berbuah surga? Karena sejatinya cinta itu tidak mudah dipelihara.  Ada adab dan batas-batas yang harus dipatuhi ketika cinta itu datang.  Dan cinta yang paling hakiki adalah cinta pada-Nya. Menyandarkan segala cinta pada Sang Pencipta.

Berdasarkan itu, penulis mencoba mengurai cara menjaga cinta agar berbuah jalan menuju jannah—surga.  Lazim diketahui cinta itu tentang kecondongan hati yang membuat seseorang selalu ingin dekat dan bertemu orang yang dicintai.  Namun hal itu tidak bisa dilakukan jika kunci halal bernama pernikahan belum disahkan.  Di sini adalah tantangan bagi kita dalam menjaga cinta.

Dan agar cinta itu bisa berbuah surga, maka yang perlu dilakukan adalah hijrah. Dalam artian meninggalkan cinta yang belum halal itu dengan berserah pada Allah. Karena hijrah berarti   meninggalkan kekasih hati yang selama ini mengisi, mencintai, menyayangi, melengkapi dan memenuhi ruang hati dan kehidupan kita.  (hal. 27)

Dengan berhijrah kita bisa menjaga hati agar cinta yang kita miliki tidak membawa pada jalan yang salah jika memang belum disahkan—menikah. Memang berhijrah membutuhkan pengorbanan. Itu pasti. Pengorbanan yang harus kita lakukan demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni cinta-Nya yang kelak mengantarkan kita memasuki janah al-ma’wa.  (hal. 31)  Selain itu buku ini mengingatkan bahwa jodoh itu misteri—hanya Allah yang tahu. Sebelum jodoh datang alangkah baiknya sambil menunggu adalah selalu memperbaiki diri. Karena jodoh adalah cerminan diri sendiri.  (hal. 49)

Membaca buku ini mengajarkan arti kesabaran dan keikhlas. Bahwa dalam setiap rencana Allah adalah jalan terbaik yang diberikan. Kita diajarkan untuk tidak mudah putus asa dan menjaga diri agar terhindar dari zina. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, tidak berkesan menggurui menambah poin keunggulan buku ini. Selain itu dalam buku ini juga dilengkapi dengan tips  dalam istiqomah dalam hijrah pada Allah. Ada  pula kisah-kisah isnpiratif para sahabat yang berjuang dalam hijrah dan menjaga diri dari

Srobyong, 24 Agustus 2016 

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 September 2016



Sunday, 25 September 2016

[Resensi] Inspirasi para Tokoh dari Berbagai Penjuru Dunia

Judul               : Faces & Places
Penulis             : Desi Anwar
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Agustus 2016
Tebal               :  ix + 382 hlm
ISBN               :  978-602-03-2489-0
Buku ini memuat 35 tokoh dan 50 tempat yang menginspirasi. Salah satunya dari Karen Amstrong tentang Tuhan. Menurut Amstrong, sikap welas asih lebih penting dalam menjalani hidup, apa pun agama seseorang, termasuk kalau dia tidak beragama. Dasar segala agama adalah cinta kasih, walau sering terkubur di bawah dogma serta rasa saling takut dan curiga antaragama (hal 63).
Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama menegaskan, orang  tak perlu beragama untuk bisa mempraktikkan welas asih. Setiap manusia seharusnya hidup dengan mengikuti kaidah emas Konghucu, “Jangan melakukan kepada orang lain apa yang engkau tidak ingin orang lain lakukan untukmu.”
Ada  tentang kisah  Chanee, Gibbon Guy yang peduli owa, spesies kera yang menuntun warga Prancis bernama asli Aurelien Brule ini berusaha mendapat kewarganegaraan Indonesia agar bisa melindungi primate yang hampir punah. Dia menelepon kementerian kehutanan setiap hari selama setahun hingga akhirnya pemerintah Indonesia memberikan izin untuk mendirikan yayasan owa. Dia membangun kamp di kawasan pelestarian dan suaka owa di Taman Nasional Pararawen di Barito Utara, Kalimantan Tengah (hal 88-89).
Tidak kalah menarik cerita  suku Komoro di Papua.  Seorang warga Hongaria Kal Muller begitu berdedikasi  terhadap orang Papua. Dia  membantu suku Komoro yang memiliki budaya memahat untuk mengasah keahlian membuat ukiran (hal 210).
Sedang mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandala  mengajarkan bahwa hati yang terbuka  lebih penting daripada kekuasaan. Keberanian terletak pada pengampunan, bukan mengumbar amarah. Setiap manusia apa pun ras, warna kulit, serta agamanya adalah setara (hal 248-249).
Di Yangon (Rangoon), Myanmar, warga setempat masih suka mengenakan pakaian tradisional seperti sarung dan sandal hitam untuk berbusana sehari-hari. Di tengah modernitas, Yangon tetap bisa melestarikan banyak arsitektur kolonial indah peninggalan Inggris dan taman kota rindang dengan danau cantik (hal 245).
Dari dalam negeri ada pengalaman di desa dekat Kota Batu. Di ketinggian di atas 1.800 meter, udaranya masih bersih dari pencemaran dataran rendah. Cuacanya sejuk dan tanahnya subur. Berbagai hasil bumi tumbuh subur untuk kebutuhan sehari-hari.  Alam selalu memberi semua kebutuhan (hal 267).
Masih banyak tokoh dan tempat lain yang menyebarkan pola pikir baru dan sangat menginspirasi. Di antaranya,  pertemuan dengan Bill Gates, Zidane, Joop Ave, Presiden Ramos, Guru Chin Kung. Juga cerita perjalanan di Tokyo, Paris, Shanghai, dan seterusnya. 
Diresensi Ratnani Latifah, lulusan  Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, Jateng

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat 23 September 2016 

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat 23 September 2016 


Saturday, 24 September 2016

[Cerpen] Sebuah Mandat

Dimuat di Tabloid Banger edisi 2 (April-Agustus 2016)

Kazuhana El Ratna Mida

Bumi tengah marah. Atau malah Tuhan?—Pemilik langit—tepatnya jagad raya. Yah, mungkin salah satunya. Atau malah keduanya. Aku mengangkat bahu. Tidak tahu. Antara yakin dan tidak yakin. Lagipula aku juga tidak bisa bertanya pada bumi atau pun langit.  Apalagi Tuhan. Aku hanya bisa melihat kenyataan saat ini. Kenyataan yang membuat miris. Sungguh di luar logika untuk dipikirkan. Dan kenyataan yang ada ..., ketika mandat sudah ditetapkan memang apa yang bisa aku lakukan selain pasrah? Begitulah.

~*~

Huft! Aku menghela napas, mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Tidak ada yang terselamatkan. Mungkin ini peringatan? Aku bertanya dalam hati. Lalu mulai mengitari tempat yang sudah tidak karuan itu. Mayat yang tergeletak di mana-mana, serta rumah-rumah yang roboh. Oh, sungguh kasihan mereka! Aku bergidik. 

Lalu sapuan pandanganku kini teralih pada korban selamat. Miris. Mereka tidak lebih baik dari korban yang meninggal. Ah, sungguh malang nian nasib mereka. Ikut menanggung azab yang mungkin hanya karena ulah satu di antara penduduk kota. Benar begitu bukan? Macam kisah Nabi Nuh dulu atau pada zaman Nabi Lut. Satu yang melakukan kedzaliman, seluruh warga menjadi korban.

Aku kembali mendesah. Prihatin tentu saja, tapi toh  tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihat dengan hati teriris. Mengerang dalam ketidak berdayaan. Hanya bergumam, andai mereka menjaga bumi. Menempati bumi dengan sikap  tawadu’. Tuhan dari bumi pasti tak akan murka.

Yah, ingatanku tiba-tiba melayang pada kejadian lalu. Sebelum tanah ini luluh lantak tidak berbentuk. Ketika aku melihat dengan jelas tindakan-tindakan yang tidak sesuai aturan. Ada orang yang melemparkan granat utuk menangkap ikan. Katanya praktis dan mudah. Tapi tidak tahukah mereka itu adalah kejahatan pemusnaan habitat suatau ekosistem? Menebang hutan secara liar, katanya untuk kesejahteraan kehidupan. Tapi tidak tahukan mereka itu akan menimbulkan bencana karena gundulnya pohon membuat banjir? Lalu tentang sebuah kisah lainnya. Aku sungguh malu jika mengingatnya. Ah .... Bagaimana aku menceritakannya. Karena saat itu aku juga ikut menikmati. Kemaksiatan yang sudah tidak tabu lagi. Aku melihat dengan mata lebar. Tapi aku tidak mengingatkan. Hanya diam dan menatap lamat-lamat. Mungkin, aku juga berdosa. Karena tak mau bersyiar. Tentang semua yang aku lihat. Karena kebetulan tempat-tempat itu masih dalam jangkauan mata.

Padahal seperti yang sering aku dengar ..., ceramah melalui speker masjid yang tidak jauh dari tempatku. Ulama itu selalu menerangkan segala macam hadis dan ayat-ayat Al-Quran agar sesama umat harus saling mengingatkan. Bahkan aku sampai hafal hadis yang sering dikatakannya. Tapi, aku memilih bungkam.  Membiarkan kenistaan itu terus berjalan.

Aku menghela napas lagi. Kudengar rintihan para warga yang selamat dari amukan bumi itu. Lamunanku pun buyar, dan beralih menatap mereka yang tengah saling berpelukan dengan keluarga. Tangis mereka menyayat hati. Keadaan mereka membuatku membatu. Sayang ..., lagi-lagi aku hanya bisa diam dan hanya memerhatikan. Cukup lama aku memerhatikan hingga mereka hilang setelah memasuki tenda-tenda yang dibangun unttuk penampungan sementara.

Aku lalu menengadah, menatap langit yang sudah kembali cerah, setelah puas memuntahkaan segala amarah dengan hujan badai yang tiada tara. Lalu pandanganku beralih pada gelombang yang tadi menggila, melibas semua  warga juga mendadak tenang. Seperti sebuah tanda kepuasan, karena berhasil menghukum biang masalah yang merusak jagad ini juga akhlakul karimah. Tapi ..., apakah tidak apa jika tidak peduli dengan warga yaang sejatinya tidak tahu menahu pokok masalah? Kenapa harus semua orang terkena adzab ini? Membingungkan! Pikiranku buntu.

Kelebat bayangaan itu kembali mengusikku. Tumpang tindih hingga ingin menggigil. Tentang perempuan yang sejatinya aku kagumi dulu. Aku menajamkan penglihatan. Lekuk tubuh yang sempurna yang telah Tuhan ciptakan itu tengah dipampang. Tanpa malu, tanpa merasa risih dan bersalah. Di sampingnya ada seseorang yang merangkul pundaknya. Mesra. Hingga mungkin akan membuat siapa saja yang melihat akan iri. Mungkin aku juga. Karena aku mengaguminya. Dulu. Ah ..., andai mereka memang suami istri pasti tidak apa. Walau aku masih menyayangkan cara pakaian yang dikenakannya itu. Membentuk tubuh hingga benjolannya terlihat. Ranum dan mengundang banyak mata untuk memerhatikan dengan penuh nafsu. Aku menelaan ludah. Dan sayangnya lagi, aku tahu mereka bukan suami istri.

Kepalaku mendadak pening. Aku menatap Kemala. Perempuan yang kuceritakan tadi, yang bersama pria itu. Kemala adalah perempuan paling cantik dan selalu dicari oleh para tamu. Baik pendatang atau warga asli dukuh. Dan yang selalu aku rindukan. Dulu dia senang bermain bersamaku. Memainkan kecipak air lalu tertawa lebar. Tapi akan selalu pulang ketika azan berkumandang. Dia juga rajin mengaji. Tentunya itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Dia berubah dengan iming-iming rupiah demi mengubah hidup. Aku mendesah.

Kembali aku menatap mereka yang bergelung mesra. Tapi mereka seolah tidak peduli dengan keberadaanku yang terus memerhatikan dengan saksama. Malah mereka terlihat semakin mesra. Ah, pemandangan yang mereka tontonkan semakin memebuat merinding. Antara malu dan tidak menyangka. Sungguh tidak habis pikir bagaimana mereka begitu santainya dalam keadaan itu. Malah Kemala tersenyum nakal dan terus menggoda hingga .... Ah, aku tidak bisa menceritakannya lagi.  Yang terakhir aku lihat mereka memutuskan pergi setelah saling berbisik mesra  dan menuju sudut tempat curam yang saat ini memang selalu menjadi tujuan kebanyakan orang. Kataanya untuk menghilangkan stress dan alasan lainnya. Mereka tidak memedulikan  deru azan yang mengajak mereka untuk segera menghadap Tuhan. Akidah telah dilupakan. “Mereka sungguh keterlaluan.” Aku bergumam dalaam hati. “Dan kau Kemala ..., aku sungguh kecewa.”

~*~

“Mayat Bunga Kemala ditemukan!” Teriakan Tim SAR membuatku tersentak. Sedari tadi pun aku mencarinya. Kini aku terkesiap melihat jasad itu. Mendesah dan menatapnya dengan pilu. Perempuan yang paling cantik dan selalu eksotis. Yang dulu baik dan berubah memiliki tatapan nakal tapi selalu menjadi primadona hingga membuat pria terjajah. Lupa istri bahkan Tuhan.  Mungkinkah karena semua kejadian itu bumi marah? Murka? Mungkin juga Tuhan? Aku bertanya-tanya. Atau ini sebuah peringatan?

Aku kembali menatap Kemala. Perempuan yang aku kagumi dulu. Yah, dulu sebelum dia menjadi seperti ini. Sayangnya, aku tidak bisa menolong atau mencegah. Aku tidak punya kekuatan. Memangnya aku siapa? Punya kekuatan apa? Aku tidak punya harta untuk menyenangkannya. Padahal itu yang sejak dulu diidamkannya. Aku sangat miskin dan lemah sama dengan yang lainnya. Tidak berdaya. Hanya bisa pasrah ketika garis takdir itu ditentukan. Tidak bisa memilih, jalan mana yang harus kutempuh. Semua ada yang mengaturnya. Begitupun skenario Kemala. Ternyata dia perempuan cepat putus asa akan rahmat Tuhan dan memilih jalan pintas. Mungkin karena itu ... dia berubah. Tunduk dengan keadaan.

Sama halnya seperti Kemala yang pasrah karena keadaan, hingga menjual akidah. Aku juga pasrah, tapi itu karena perintah Tuhan. Yah, aku ingat kenapa semua ini bisa terjadi. Kekacauan yang mengakibatkan banyak korban yang mati. Sebuah perintah yang tidak bisa aku bantah ketika mandat telah diterima. Tidak bisa memilih siapa saja yang bisa ditolong ketika bencana datang. Meski aku ingin. Ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk menjalan perintah  agar selalu di sisi-Nya. Hingga kejadian maha dasyat itu tidak bisa dicegah. Hujan deras dan angin puyuh. Lalu aku  ikut berkontribusi, menggulung duku dengan bah, dalam sekali gilas.  Tidak memedulikan mana warga yang salah dan benar, semua  aku libas. 

Dan ternyata cerpen ini juga dimuat di Koran Pantura Senin 19 September 2016, masih satu wadah soalnya. Seperti halnya cerpen "Beras Subsidi" . Mungkin ada seleksi untuk dimuat di Jurnal Banger. 

Koran Pantura, Senin 19 September 2016



Wednesday, 21 September 2016

[Cernak] Liburan ke Museum

Hasil gambar untuk museum danar hadi solo
Sumber Google.

*Kazuhana El Ratna Mida

Nana memonyongkan bibirnya lima senti. Gadis berkuncir dua itu tidak suka dengan permintaan sepupunya, Lili.

“Kenapa harus museum, sih Li? Di Solo banyak tempat wisata yang lebih bagus dari museum.” Nana memprotes pada Lili yang minta ditemani ke Museum di solo.

“Museum juga bagus, Nana.” Lili tersenyum lebar.

“Kenapa sih kamu jadi suka museum gini, dulu kayaknya tidak deh. Kamu selalu menolak kalau diajak ke museum.”  Dulu Lili memang tidak suka kalau diajak ibunya mengunjungi musem, tapi sekarang sudah berbeda. Dia malah selalu penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak tentang museum di seluruh Indonesia.

“Kan itu dulu, Na. Sekarang sudah beda. Kamu mau, ya. Mumpung aku liburan di Solo. Nanti kalau kamu ke Jogja, aku ajakin ke tempat-tempat yang seru.” Lili masih memohon dengan sungguh-sungguh.

“Nanti aku juga akan cerita deh, kenapa aku jadi suka museum.”

Nana bingung, menurutnya mengunjungi museum itu sudah pasti akan sangat membosankan. Teman-teman Nana di sekolah juga berkata seperti itu setelah mengunjungi Museum.   Tapi Nana juga tidak enak meminta permintaan saudara sepupunya itu. Dia juga penasaran kenapa sepupunya jadi berubah sangat tertarik dengan museum. Akhirnya dengan agak terpaksa dia pun mengangguk.

Museum Bati Danar Hadi menjadi pilihan  pertama, untuk urutan museum yang akan mereka kunjungi. Selain mereka, ada juga Mbak Intan, kakak Sulung Nana yang bertugas mengantar dan mengawasi dua gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas 4 di  sekolah dasar itu.

Di sana, Nana dan Lili melihat berbagai koleksi batik yang ada bersama pemandu museum. Mereka dikenalkan dengan  Batik Belanda di mana warna dan pola Batik Belanda itu didominasi oleh bunga-bungaan, dedauan, bintang bahkan ada yang di antaranya ada yang mengambil tema dongeng. Seperti Snow White dan Sleeping Beauty.

Hasil gambar untuk museum danar hadi solo
Sumber Google. 

Selain Batik Belanda, ada pula Batik  China, Batik Djawa Hokokai, Batik Nitik, Batik Sembagi dan Batik Polikat, Batik Madura, Batik Jambi, Batik Banyumas, Batik Cirebon dan masih banyak lagi.

Tidak ketinggalan pula ada jenss baik keraton, seperti Batik Keraton Surakarta, Batik Keraton Yogyakarta, Batik Puro Pakualam dan Batik Puro Mangkunegaran.

“Setiap jenis dan motif batik keraton ini memiliki makna dan fungsi masing-masing, Dik.” Kak Sita, pemandu museum itu memberi tahu.

Lili mendengarkan dengan saksama. Begitupun Nana yang semula nampak tidak tertarik. Kini dia juga penasaran. Dari penjelasan Kak Sita, mereka tahu, jika mereka bisa mengetahui kedudukan seseorang di keraton hanya dengan jenis kain yang dipakainya.

Setelah puas melihat koleksi batik di Danar Hadi, Nana dan Lili menyempatkan membeli beberapa suvenir batik berupa boneka. Mereka terlihat senang sekali.

“Jadi bagaimana? Asyik kan, Na mengunjungi museum?” tanya Lili di sela-sela menjilati eskrim yang baru dibelikan Mbak Intan setelah mereka dalam perjalanan pulang.

Nana mengangguk mantap. “Iya, banyak sekali koleksi batik di sana. Dan semuanya bagus-bagus. Ternyata seru juga.”

“Eh, tadi ada berapa kata Kak Sita koleksi batik di sana?” Nana balik bertanya.

“10.000 koleksi batik, Nana,” jawab Lili cepat masih dengan es krim di tangannya.

Hasil gambar untuk museum danar hadi solo
Sumber Google.

“50 di antaranya jenis batik kuno,” imbuh Mbak Intan yang sedari tadi diam memerhatikan Nana dan Lala yang nampak begitu bahagia.

“Wah, Mbak Intan denger juga, ya?”

“Ya, dong, masa nggak denger, Mbak kan ada di sana jadi pengawal kalian.”  Nana dan Lala langsung tertawa lebar mendengar guraun Mbak Intan. 

“Apa aku bilang, Na? Mengunjungi museum, membuat kita banyak pengetahuan, Na. Makanya aku jadi suka sekali kalau diajak ke museum,” cerita Lili.

“Khususnya tentang sejarah di Indonesia,” lanjut Lili.

“Memang sih, dulu aku benci banget kalau diajak ibu ke museum. Masa setiap hari diajak liburan ke museum. Tapi lama-lama ternyata asyik juga. Apalagi banyak pengetahuan sejarah yang aku dapat. Jadi, sekarang aku malah yang terus mengajak ibu untuk mengantarku, mengelilingi museum di Yogyakarta.”

“Aku malah bercita-cita ingin mengunjungi semua museum di Indonesia. Pasti asyik sekali.” Mata Lili terlihat bersinar. 

Nana diam menyimak cerita sepupunya. Dia membenarkan semua ucapan Lili. Memang jika di awal-awal museum itu terlihat tempat yang membosankan. Tapi ternyata di dalamnya banyak pengetahuan yang bisa diambil pelajaran. 

“Nanti kalau pergi jangan lupa ajak-ajak, aku ya?” Nana berucap dengan yakin.

“Eh, serius?” Lili senang mendengar Nana yang tidak lagi membenci museum.

Nana mengangguk. “Dan ingat, kamu hutang menemaniku mengunjungi museum kalau nanti aku liburan ke Yogyakarta.”  Nana tersenyum manis diikuti Lili dan Mbak Intan. Sekarang mereka melanjutkan perjalanan ke museum berikutnya untuk dikunjungi.

Srobyong, 21 Juli 2016

Keterangan

*Informasi tentang Museum Batik Danar Hadi, diambil dari buku “3 Emak Gaul Keliling 3 Kota” karya, Fenny Ferawati, Ika Koentjoro, Muna Sungkar, terbitan Bhuana Ilmu Populer, 2015. 

*Kazuhana El Ratna Mida, penulis bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura. Atau mengunjungi blog http://tulisanelratnakazuhana.blogspot.co.id/

Dimuat di Joglosemar, Minggu 18 Agustus 2016


Thursday, 15 September 2016

[Resensi] Kumpulan Cerita tentang Musik, Film dan Parfum


Judul               :  Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya
Penulis             : Lugina W.G. dkk.
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          :  256 hlm
ISBN               : 978-602-391-147-9
Peresensi           : Ratnani Latifah, Penyuka buku dan penikmat literasi. Alumni Univesitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Kumpulan cerpen Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya merupakan hasil dari  event kepenulisan  bertema musik,  film dan parfum yang diadakan Diva Press.  Memang dalam membuat cerpen musik, film dan parfum sering sekali menjadi sumber ide yang memarik. Karena dalam kehidupan sehari-hari ketiga hal tersebut selalu menjadi teman yang menyenangkan. Dan dari tema ini 13  penulis yang naskah cerpennya terpilih mengungkapkan kejadian sehari-hari dengan cara unik yang tidak biasa.

Dibuka dengan cerpen berjudul “Wajah-Wajah dalam  Kaset Pita” karya Gin Teguh.  Mengisahkan pertemuan tokoh aku dengan Nima.  Kesukaan pada grup musik dan penyanyi  yang sama—Semesta di Bawah Bulan yang dinyayikan grup Selaras Tiga membuat mereka dekat. Bahkan pergantian hari, mereka selalu mengatur pertemuan untuk saling berbincang. Namun suatu hari tokoh aku merasa ketakutan mungkin Nima sudah tidak lagi mengenalinya. (hal. 33)

Kisah lainnya adalah “Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan” karya Evi Sri Rezeki. Membaca judulnya sudah tergambar keunikan dari cerpen ini. Cukup panjang tapi memikat. Berkisah tentang lelaki yang memiliki aroma harum kayu gaharu. Memiliki wajah yang cukup tampan membuatnya banyak disukai kaum hawa. Namun bagi lelaki itu hanya ada nama Tiffany yang selalu dipuja. Apapun yang diinginkan gadis itu, segala upaya akan dilakukan agar Tiffany merasa bahagia.

 “Aku akan menjadi bayanganmu. Menciptakan karya untkmu. Bersamamu selamanya.” Begitulah yang kira-kira pernah lelaki yang memiliki aroma harum kayu gaharu.  Dan sesuai janjinya, ketika Tiffany pada akhirnya menikah dengan laki-laki lain, lelaki beraroma kayu gaharu menjadi bayanganan. Memeluk Tiffany hingga membuat gadis itu penuh sesak.  Lalu ruang pesta yang awalya  dipenuhi wangi parfum merek Tiffany, mendadak aroma seluruh ruangan berubah menjadi aroma kayu gaharu.

Takut itulah yang dirasakan Tiffany, hingga akhirnya dia membersihkan diri agar bau tubuhnya tak lagi seperti aroma kayu gaharu. Namun ketika sudah berada di bathtub, aroma itu makin  menyengat hidung. Yang pada akhirnya membuat dirinya memotong hidung agar tak lagi mencium bau itu. Hal serupa ternyata terjadi pada para undangan yang menghadiri pernikahan Tiffany. Entah apa yang sebenarnya terjadi di sana. (hal. 75)

Ada pula cerpen berjudul “Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya karya Lugina W.G. Menceritakan tentang  Celia yang sangat menyukai film ‘Alice in Wonderland’ Alice memiliki kucing bernama Dinah dan Alice memiliki kucing bernama Puffin. Bahkan saking sukanya Alice berkali-kali mencoba memakaikan mahkota dari kelopak mawar pada Puffin meniru mahkota bungan daisy milik Dinah.

Namun tiba-tiba, Celia berubah, di kepala kini dipenuhi gelas-gelas pecah. Dan dia mengira Puffin adalah biang masalah tersebut. Celia benci melihat pecahan gelas berhamburan akibat ulah Puffin. Saking marahnya, Celia sekarang malah kerap menyiksa Puffin. Hal ini tentu saja membuat Maria—ibunya khawatir dan mengganti Puffin dengan boneka.

Terlalu sering mendengar gelas pecah di kepalanya, lambat lain membuat Celia depresi. Dia marah dan menyalahkan Puffin. Padahala sejatinya itu  suara-suara itu berasal dari kenyatan lain yang tidak ingin Celia akui. (hal. 103)

Cerpen-cerpen yang termaktub dalam buku ini menyajikan cerita-cerita yang sejatinya kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun diramu dengan sudut pandang lain hingga terkesan berbeda.  Keunggulan dalam buku ini adalah, tentang bagaimana para penulis yang mampu membuat judul dan mebukaan cerpen yang memikat. Sehingga pembaca tidak ingin lepas sebelum menamatkan. Kepiawaian dalam mengeksekusi cerita juga menjadi tambahan poin pada buku ini.  Pun dengan kejutan pada ending cerita. 

Membaca cerpen-cerpen pilihan ini, pada salah satu cerpen mengingatkan bahwa hubungan orangtua itu bisa mempengaruhi psikologi anak. Apakah membuat anak menjadi pribadi yang baik atau sebaliknya. Sebuah buku yang patut dibaca bagi penikmat cerpen dan ingin belajar membuat cerpen dengan baik. Beberapa bagian monotn dalam beberapa kisah, tidak mengurangi keasyikan dalam membaca.


Srobyong, 29 Juni 2016 

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 8 September 2016