Monday, 27 June 2016

[Cernak] Rahasia Kertas Salinan Nana

[Dimuat di Koran Joglosemar, Minggu  26 Juni 2016]


Cerita anak ini pernah dimuat di Koran Joglosemar, edisi Minggu 26 Juni 2016.  

Namun naskah ini akhirnya sengaja saya hapus, karena setelah diikutkan dalam  sebuah "Lomba Cerita Anak" yang diadakan oleh Unsa Pres, naskah ini terpilih sebagai salah satu kontributor. 


Jadi, untuk menikmati kisah ini, bisa dipesan dalam buku antologi "Kata Bapak, di Sungai Ad Buaya" terbitan Unsa Press.  Harga dan cover buku menyusul :) 
  




Tuesday, 21 June 2016

[Resensi] Mendidik Lewat Cerita Misteri

Judul               : Misteri Sosok Wangi
Penulis             : Erlita Pratiwi
Penyunting      : Yessy Sinabulan
Ilustrator         : Indra Bayu
Penerbit           : Kiddo
Cetakan           : Pertama, Maret 2016
ISBN               : 978-602-6208-04-0
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyuka literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengenalkan buku bacaan yang bermanfaat—bisa menghibur dan memberi banyak pengetahuan untuk anak memang merupakan salah satu tugas dari para guru dan atau orangtua yang peduli dengan pendidikan.

Salah satunya, Misteri Sosok Wangi, merupakan novel Seri Misteri Favorit  13 yang diterbitkan di Penerbit Kiddo. Dari  seri misteri yang sudah diterbitkan sebelumnya, selain mengajak anak berpetualangan dengan cerita yang seru, juga mengemas pendidikan budaya yang sangat baik dikenalkan pada anak. Mengingat anak-anak  pada saaatnya nanti akan menjadi penerus bangsa dan merupakan cikal bakal yang akan mewarisi budaya di Indonesia. Dengan mengenalkan budaya sejak dini, maka hal itu bisa menumbuhkan sikap  nasionalisme pada anak.

Dalam novel anak ini, penulis mencoba mengenalkan lebih jauh  tentang Pulau Madura,   meliputi; kebiasaan adat yang dimiliki, apa saja wisata menarik beserta penjelasan lengkapnya, dan  makanan khas yang berasal dari sana.   Ada juga bagaimana sejarah pembangunan Jembatan Suramadu. Selain itu penulis juga mengenalkan anak-anak tentang Batik Gentong, sebuah batik khas Tanjung Bumi, Bangkalan dengan cukup detail (hal. 15)  Serta sejarah Mercusuar Sembilangan. (hal. 49)

Cerita dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami anak dan tidak membosankan. Novel ini dilengkapi ilustrasi kejadian yang akan menarik minat baca anak.  Mengisahkan bagaimana perjuangan Andara dan Ica dalam memecahkan sosok wangi yang mencuri Batik Gentong yang dimiliki Mbah Nek.  Mereka mencurigai tiga anak buah Mbah Nek  yang kebetulan memiliki parfum sama dan memang terlihat sangat mencurigakan. Tapi tentu saja Andara dan Ica tidak bisa gegabah.

Kenapa mengangkat tema misteri? Karena tema misteri seolah mengajak anak untuk belajar peka pada kejadian yang terjadi di sekeliling mereka, selalu waspada dan melatih anak menjadi seorang analisis  handal dan kritis. Juga mengajarkan agar anak mandiri,  terbiasa berusaha mencari penyelesaian ketika mendapat masalah.  Sikap-sikap seperti ini patut dimiliki para cikal bakal penerus bangsa.

Selain memuat pendidikan budaya, buku ini juga memuat pesan moral tentang bagiamana bersikap sopan pada orang yang lebih tua,  larangan beburuk sangka, memiliki sikap pemaaf.
Sebuah bacaan yang sangat baik untuk dikenalkan dan dibaca  anak. Buku ini bisa dijadikan sarana belajar dengan cara yang berbeda namun tetap menyenangkan. Sekaligus mengajak anak-anak bangsa semakin gemar membaca. Karena memang belajar bisa melalui media apa saja.


Srobyong, 14 Mei 2016 

Ini adalah naskah asli ketika mengirim resensi di Kedaulatan Rakyat. Tapi dari pihak redaksi ada revisi juga judulnya di persempit. Tapi alhamdulillah bisa berkesempatan dimuat lagi di Kedaulatan Rakyat untuk ketiga kalinya,  :)  karena sempat tak kira ini tak dimuat soalnya masa tunggunya lebih lama dari dua naskah sebelumnya.  Untuk resensi pertama bisa dilihat di sini dan yang kedua di sini

Nah untuk versi koran bisa dilihat di sini 

Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 18 Juni 2016



Monday, 20 June 2016

[Resensi] Kisah Tentang Impian yang Ingin Dibuktikan

Judul               : Garnish
Penulis             : Mashdar Zainal
Penerbit           : de TEENS
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 220 hlm
ISBN               : 978-602-391-126-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. *

Bisa mewujudkan mimpi adalah harapan semua orang. Namun bagaimana jika mimpi itu ditentang oleh orangtua sendiri? Padahal kebahagiaan yang paling diinginkan anak adalah mimpi yang dingin dicapai itu akan didukung oleh orangtuanya.

Novel ini mengisahkan tentang Buni yang ingin menjadi koki dan Anin yang  selalu ingin menjadi pelukis. Mereka sangat ingin mewujudkan mimpi itu. Sayangnya, impian itu  malah tidak mendapat dukungan dari keluarga yang notabene adalah orang terdekat mereka yang seharusnya memahami keinginan anak.

Bagi Buni  dapur adalah sebuah tempat di mana cinta dan kedamaian bermula. Setiap kali menginjakkan kaki di dapur, Buni seperti menemukan sebuah dunia di mana hidup dan mati dipertaruhkan. (hal. 5) Sayangnya apa yang disukai Buni mendapat tantangan dari keduaorangtuanya—khususnya sang ibu. Bagi ibunya, seorang laki-laki tidak seharusnya berurusan dengan dapur.  Dan Buni dituntut untuk mengikuti jejak ayahnya agar bisa menjadi ekonom yang baik.

Buni selalu dituntut ibunya untuk melamar pekerjaan setelah menjadi sarjana ekonomi. Dan tentu saja Buni melakukan, tapi tak satupun lamaran itu tembus. Hal yang kemudian membuat ibunya kembali memarahi Buni. Apalagi melihat putranya ternyata masih  lebih menyukai segala hal yang berhubungan dengan dapur.

Anin—dia seorang penghayal. Dia memiliki harapan untuk menjadi pelukis. Hanya saja ayahnya tidak suka jika anak perempuannya bermain cat-cat yang kemudian membuat dirinya dan rumah menjadi kotor.  Dan yang lebih tidak disukai Anin pada ayahnya yang seorang pejabat adalah, dia merasa diperlakukans seperti boneka yang tidak bisa bebas bergerak.

Anin dan Buni kemudian bertemu pada suatu waktu yang tidak terduga. Anin kabur dari rumah dengan badan penuh cat air aneka warna pada dirinya-seperti lukisan abstrak. Sedang Buni kabur dari rumah setelah melumuri dirinya dengan suas dan kecap hingga mirip pasta basi. Kepergian mereka sebagai wujud rasa protes dengan sikap orangtua masing-masing. Namun dalam pelarian mereka, Bli Sutha—kenalan Anin—agar kembali ke rumah dan menyelesakan masalah baik-baik. “Bagaimanapun, kabur dari rumah tidak akan menyelesaikan masalah. Kalian hanya butuh bicara dari hati ke hati.” (hal. 46)

Jika Anin berhasil meluluhkan hati sang ayah,  maka tidak dengan Buni. Ibunya semakin mencela dan menghakiminya.  Bahkan melarang Buni memakai dapur milik ibunya. Itulah alasan kenapa akhinya Buni memilih meninggalkan rumah lagi. Dia bertekad membuktikan pada ibunya, bahwa memasak bukanlah suatu pekerjaan yang tercela bagi laki-laki.

Bermula dari ide Anin, akhirnya dibuka-lah ‘Garnish’—sebuah kafe dan galeri.  Di sana mereka akan menjual  makanan, minuman dan  keindahan-keindahan dari lukisan yang dipajang. Dan jika ada yang mau membeli lukisan tersebut juga boleh.  Buni sebagai chef-nya dan Anin pelukis.

Mereka bekerja dengan tekun, sabar dan ulet. Sehingga usaha kecil mereka semakin lama semakin berjalan dengan baik. Banyak pembeli datang karena tertarik dengan kenunikan kafe tersebut. Namun ibu Buni belum juga muncul menghargai kerja keras Buni. Dia menjadi sangat sedih. Dan kesedihannya semain bertambah ketika dia mendapat kabar ibunya terjangkit stroke.(hal. 173) Berselang kemudian Anin mengalami kecelakan yang kemungkinan membuat dirinya tak lagi bisa melukis.

Membaca novel ini, kita akan belajar bahwa dalam meraih impian itu diperlukan kemauan yang kuat, kesabaran dan keuletan serta tanggung jawab. Selain itu penulis juga memaparkan bagaimana menjalin hubungan yang baik antara anak dan orangtua.  Bahwa dalam keluarga sangat diperlukan adanya komunikasi yang baik antara anak dan orangtua. Serta mau saling menghormati pilihan yang dimiliki.

Sebuah novel yang dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan menyenangkan. Juga pemilihan ending yang tidak terduga. Selain membahas tentang perjuangan untuk meraih mimpi, kisah ini juga dilengkapi dengan perasaan suka dan sayang dari masing-masing tokoh yang diramu dengan api.  Jadi ketika membaca pasti tidak akan bosan. Beberapa kesalahan tulis tidak mengurangi keasyikan dalam membaca.


Srobyong, 5 Juni 2016 

*Penyuka buku dan pecinta linterasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Dimuat di Kabar Madura, Senin 13 Juni 2016 


Sunday, 19 June 2016

[Resensi] Ketika Hati Diperbudak Dendam

Judul               : Cinta dan Dendam yang tak Akan Membawamu ke Mana-Mana
Penulis             : Redy Kuswanto
Penyunting      : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Trust Media Publishing
Cetakan           : 1, Maret 2016
Halaman          : vi + 254 hal
ISBN               :978-602-73678-6-9
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi, alumni Unsinu Jepara.

“Kalau kamu ingin bahagia, cobalah terlebih dahulu membersihkan hati dan pikiran, hilangkan segala prasangka buruk, kebencian, amarah, dan segala hal buruk lainnya. Lalu dekatkanlah diri pada Allah. Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki.” (hal. 230)

Dendam memang tidak pernah akan memberi manfaat. Dia hanya akan menimbulkan percikan api kebencian yang terus berkobar dan tidak akan pernah selesai. Ketika hati diperbudak dendam, maka  dengan sendirinya hati mengajak pikiran untuk terus melakukan keburukan tanpa pernah merasa puas.

Novel merupakan lanjutan dari jilbab (love) story yang sudah terbit 2015, karya Redy Kuswanto—juara satu lomba menulis novel yang diadakan Penerbit Tiga Serangkai dengan tema “Seberapa Indonesiakah Dirimu?’

Menceritakan tentang Keyzia yang harus kembali menelan kepahitan dalam usahanya menekuni karir musik yang sangat diimpikannya.  Setelah masa kontraknya dengan manajemen The Singers berakhir, dia nyaris tak lagi memiliki job menyanyi. (hal. 7) Yang ada malah pembatalan-pembatana job yang diterima dan  digantikan Melody.  Tentu saja hal itu sangat membuatnya marah.

Lagi-lagi dia kalah pamor dengan Melody, gadis yang selalu dianggapnya cupu dan tidak pantas mendapat kesuksesan. Gadis itu semakin meroket dengan karirnya dan sudah memiliki dua album yang sangat diminati remaja. Sedang dia, single pertama tidak memiliki respon yang baik. Tentu saja hal itu, membuat Keyzia  semakin benci dan tidak terima. Dia merasa, kegalan yang diterimanya adalah karena ulah Melody. Dia  harus melakukan sesuatu agar Melody tidak lagi menganggu jalan karirnya.

Saat itulah, tanpa sengaja, Keyzia mendengar berita tentang cincin pengasih yang dikenakan Melody. Katanya  cincin itu dianggap sebagai keberuntungan yang menjadi kunci kesuksesan gadis itu. Keyzia pun bertekad untuk menghancurkan karir Melody. Mengungkap kebenaran cincin  bertua itu dan mengambil cincin itu jika perlu.

Dari pihak Melody ketika diminta konfirmasi tentang  gosip miring yang tengah hangat, gadis berjilbab itu hanya memilih diam. Dia yakin semua ini adalah ujian Allah dan dia akan sabar menjalani semua itu. lagipula sudah hukum alam, semakin tinggi pohon, semakin kencang  angin yang meniupnya. (hal. 76)

Obesesi Keyzia yang sangat ingin menghancurkan Melody, membuatnya bertemu dengan Ragiel. Cowok yang telah membuatnya terpesona hingga menyingirkan nama Inu yang selama ini menjadi incarannya. Meski kedekatannya dengan Ragiel ditentang teman-temannya, dia tidak peduli. Keyzia memang sangat keras kepala. Apa yang dia mau harus bisa diwujudkannya. Seperti menjatuhkan Melody, agar gadis itu sedih.  Dan dia memang berhasil mengambil cincin itu. berkat seseorang yang selama ini dibayarnya.

Keyzi sangat yakin setelah ini kesuksesan yang dulu dimiliki Melody pasti akan jadi miliknya. Tapi siapa sangka, apa yang diharapan Keyzia tidaklah sesuai dengan penantiannya selama ini. Bukan kesuksesan yang diterima, dia malah mengetahui masalalu ibunya. Tabir yang selama ini tidak pernah dia ketahui akhirnya terkuak. Sebuah rahasia yang menyakitkan dan mengguncang jiwanya.

Syok dan tidak terima itulah yang dirasakan Keyzia. Dia tidak lagi merasa bahagia meski sudah berhasil memiliki cincin bertuah milik Melody. Pikirannya kacau apalagi setelah mengetahui kebenaran di balik masa lalu ibunya.  Dia ingin bunuh diri. (hal. 219)

Sebuah novel yang dipaparkan dengan bahas renyah dan asyik dinikmati serta tidak menggurui. Penjabaran setting terasa nyata hingga terlarut dalam cerita.  Tokoh-tokohnya pun memiliki karakter yang kuat.  Novel dengan tema sederhana ini juga sangat sarat makna. Mengajarkan tentang arti kebahagiaan melalui syukur, berpikir positif dan menghilangkan dendam.

Kekurangan dari novel ini adalah masih ditemukan beberapa kesalahan kepenulisan di beberapa kalimat. Namun  lepas dari semua itu, buku ini sangat recomended untuk dibaca dan diambil pesan-pesannya yang tersirat.  Dari dua quote ini; “Cobalah belajar selalu berprasangka dan berbuat baik pada sesama.” (hal. 135) “Kunci bahagia itu sebenarnya gampang. Salah satunya  adalah dengan bersyukur. Sesungguhnya kalau  kita mau bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada kita.” (hal. 214)


Srobyong, 23 Maret 2016 

Resensi ini juga pernah tersiar di Pesantren Penulis  bisa di cek di sini Pesantren Penulis

Saturday, 18 June 2016

[Review] Mengungkap Perjalanan Kisah Cinta yang Terpendam

Judul             : Cinta dalam Diam yang Ingin Diceritakan
Penulis      : Dedul Faithful, Eni NN, Dedek Fidelis Sinabutar, Iken Vidya
Penerbit          : Unsa Press
Cetakan          : Pertama, Februari 2016
Halaman         : iv + 220 hlm
ISBN              : 978-602-71176-9-3

Di sebuah ruang tamu yang cukup luas, tujuh perempuan duduk di kursi yang telah disusun membentuk sebuah lingkaran. Dan di kursi paling tengah dari lingkaran, Vina Aulia duduk sambil menegakkan badannya, berdeham kecil, memastikan suara, tubuh, dan hatinya cukup kuat untuk menceritakan kisah masa lalu yang telah lama dikuburnya dengan label: cinta dalam diam.

Mereka bertujuh menamai perkumpulan kecil itu: klub penyimpan cinta dalam hati. Tempat di mana para perempuan yang pernah memiliki cinta-cinta dalam diam, cinta-cinta yang tidak pernah terucapkan, cinta-cinta yang sedih, berkumpul, lalu menjadi rahasia dan kesedihan mereka bersama. 

Bukankah setiap orang memang memiliki hati yang tidak mampu menampung semua hal yang tidak terucapkan dan terpendam sekaligus dalam waktu terlampau lama untuk dirinya sendiri?

~*~
Buku ini dikatakan sebuah kumpulan cerpan. Namun saya pribadi lebih merasa membaca sebuah novel dengan potongan kisah yang saling terkait dengan benang merah yang kental.  Apalagi tokoh dalam novel ini sama. Dan dari satu bagian memiliki kaitan.

Menceritakan tentang kisah cinta Vina Aulia. Dimulai dengan pertamuannya dengan Adreas—tetangga barunya.  Mereka berkenalan dengan cara lucu dan  kemudian menjadi dekat, karena keduanya sama-sama suka membca ‘The History of Love’. (hal. 13)  Namun, ketika Adreas lulus SMA, Andreas harus pergi. Dia mendapat beasiswa ke Australia. Hal ini tentu saja membuat Vina sedih. Sebelum dia mengungkapkan perasaan sukanya, laki-laki itu telah pergi.

Kehidupan Vina pun berlanjut. Menjalani hari-hari dengan menyimpan kenangan tentang Adreas.  Tapi tentu saja, kenangan hanyalah sebuah potret yang tidak bisa dijamah. Kenangan hanya bisa Vina simpan dalam sudut hati terdalam. Tentang Adreas dan kisah mereka yang dulu sempat ada.

Pada masa SMA, sepeninggalnya Andreas, Vina didekati Niko—sang kakak kelas.  Tapi siapa sangka, ada udang di balik batu di balik semua kedekatan itu. (hal. 37)  Dan waktu terus berjalan, yang kemudian mempertemukan Vina dengan Fidel. Namun sosok itu tiba-tiba menghilang ketika mereka sudah mengikat janji untuk saling menjadi kekasih. Sampai kemudian sebuah jawaban yang akhirnnya Vina temukan, membuat gadis itu tidak percaya.

Selain dengan Niko dan Fidel, Vina bertemu dengan berbagai macam laki-laki yang kemudian mengisi hari-harinya.   Ada Alit—si Jaket Biru. Sosok yang sangat ini Vina rengkuh untuk menapai hidup bersama. Namun perbedaan yang begitu mencolok dan larangan dari orangtua membuat mereka tak mampu membantah.

Ada pula Ihsan, lelaki religius yang sempat membuat Vina merasakan deburan jantungnya melompat-lompat. Sayangnya, cara pandang berbeda yang dimiliki Ihsan, membuat cinta itu kembali kandas.  Tentu saja semua itu membuat Vina bersedih. Kenapa setiap lelaki yang berada di sisinya, satu persatu pergi.

Padahal sebagai wanita pada  umumnya, dia pun mendamakan kekasih yang benar-benar bisa mengikrarkan janji setia dalam ikatan pernihakan.  Tapi semua itu terasa masih sangat jauh darinya. Bahkan ketika dia menerima sebuah perjodohan yang diatur kedua orangtuanya, ending yang tidak terduga kembali membuat Vina merasa nelangsa.  Lalu bagaimana kisah Vina selanjutkan? Pada siapa akhirnya hati itu akan berlabuh?

Kisah ini diturukan dengan gaya bahasa ringan sehingga mudah dicerna. Kejutan-kejutan yang ada di setiap bagian bab membuat rasa penasaran yang cukup tinggi untuk melanjutkan untuk membaca.  Dan akan ada pula kejutan di endingnya kisah.

Hanya saja saya merasa saat membaca kisah ini, belum menemukan kisah yang benar-benar membahas tentang  cinta dalam diam yang sesungguhnya. Karena  tokoh dalam kisah ini, selalu memiliki kisah berganti-ganti dengan pasangan.  Dugaan awal saya ketika melihat judulnya adalah tentang cinta dalam diam yang sangat terjaga dan bergenre religi. Ternyata saya salah. Lepas dari itu. Buku ini cukup menghibur  untuk dibaca saat bersantai.


Srobyong, 18 Juni 2016 

[Review] The Lady in Red : Sebuah Pengabdian, Cinta dan Ketulusan


Judul               : The Lady in Red
Penulis             : Arleen A
Editor              : Dini Novita Sari
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 360 hlm
ISBN               : 978-602-03-2712-9

Tema cinta memang selalu laris untuk diangkat dan akan terus menjadi tema yang menarik untuk dieksekusi.  Sebagaimana novel ‘The Lady in Red’ yang mencoba menawarkan kisah serupa. Tentang cinta dua anak manusia yang berbeda kasta dengan berbagai macam intrik yang menarik.  Itulah kenunikanya,  meski mengambil tema sama, novel ini  dikemas dengan cara berbeda.  Apalagi dengan latar yang jarang dipakai. Membuat novel ini patut untuk dinikmati.

Kisah ini terbagi dari dua bagian. Pada bagian pertama terjadi 1920-1955. Mengisahkan tentang Betty Liu. Dia tahu dirinya memang berbeda karena terlahir dengan membawa darah Tionghoa. Tapi dia selalu yakin, dirinya adalah orang Amerika. Karena dia terlahir di sana.  Setelah lulus kelas 9 dari Fort Bragg Public School, Betty mendapat beasiswa untuk bersekolah di  SMA  swasta terbaik di Fort Bragg—Rewood High School, berkat seorang gurunya yang menyadari kepandain Betty yang di atas rata-rata.  (hal. 14)

Robert Wotton adalah anak pemilik Wotton Dairy Farm—peternakan  sapi yang memproduksi sapi dan menjualnya susu kedua tersebar di Fort Bragg.  Karena sejak kecil kedua orangtuanya bersekolah di Rewood, maka dia harus mengikuti jejak mereka, meski dia sebenarnya tidak tertarik.  Robert lebih ingin sekolah negeri. Tapi tentu saja gagasannya ditolak mentah-mentah oleh kedua orangtuanya dan hanya bisa pasrah dengan mengikuti keinginan orangtuanya.

Sampai kemudian Robert melihat siswi dengan rambut yang sangat indah  dan selalu memakai pakaian berwarna merah—itulah Betty. Pertemuan yang kemudian membuat mereka akhirnya sering menghabiskan waktu bersama dan saling jatuh cinta.  Selain Robert dan Betty, ada juga Jerry dan Wanda yang menjadi pewaris  Stephens Farm—peternakan terbesar setelah Wotton Dairy Farm. Kisah mereka pada akhirnya akan menjadi benang merah kuat dalam kisah kehidupan keluarga Betty.

Kisah kemudian dilanjutkan pada bagian dua. Dimulai dari 2003-2012. Menceritakan tentang kisah Rhonda.  dia sangat tahu dirinya gemuk. Tapi peduli ada dengan kegemukannya. Kenapa orang-orang harus repot mengomentari?  Lagipula dia juga tidak pernah menyusahkan orang lain dengan kegemukannya.  Hanya tida orang yang tidak pernah mengatainya gemuk; papanya, nenek buyutnya—Betty dan Gregory Drew.  (hal. 105) Gregory Drew, dia adalah teman bagi Ronda, tapi juga sebagai pekerja di  Wotton Dairy Farm. Mengingat sudah sejak dulu, keluarganya turun temurun mengabdi di sana.  

Sejak kecil Rhonda dan Greg tumbuh bersama. Mereka sering menghabiskan waktu berdua. Kadang bertiga dengan Henry, kakak Rhonda yang setiap akhir minggu pulang ke Wotton Farm.  Tapi sejak Rhonda mulai sekolah dan mulai memiliki teman lain, mereka sudah tidak lagi terlalu akrab.  Rhonda sudah tidak mengajak Greg dalam rencana-rencana yang dilakukan. Dan Greg tak lagi tahu gambar apa yang dibuat Rhonda.  (hal. 125)

Kedekatan mereka semakin jauh ketika Rhonda memutuskan melanjutkan sekolah di Boston Arts Academy.  Sebenarnya Greg tidak ingin Rhonda pergi. Dia ingin selalu bersama gadis itu. Tapi dia sadar, dia bukanlah siapa-siapa selain pelayan di peternakan itu.  Belum lagi ketika gadis itu kembali dengan mengenalkan Brandon yang membuat Greg semakin merasa tersisih.  

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana kisah Betty dan Robert? Juga bagaimana kisah Rhonda, Greg dan Brandon? Belum lagi tiba-tiba Henry ditemukan mati.  Selain empat pertanyaan itu masih banyak lagi pertanyaan lain  yang membuat penasaran untuk membaca novel ini.

Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang menarik dan renyah. Seolah tengah membaca novel terjemahan. Novel  romance ini   asli membuat tertegun dan gemes.

Mengambil alur maju dengan dua bagian cerita. Inilah yang terus menjadi pertanyaan ketika membaca novel ini. Kenapa penulis membagi dua bagian dalam kisahnya, belum lagi ada interlude yang menyinggung tentang kisah ‘Si Topi Merah’.  Tapi perlahan setelah mengikuti semua kisah, pertanyaan itu akhirnya terjawab sudah. Penulis  sangat lihai dalam membuat kepingan puzzle dari kisah yang diuraikan dengan benang merah yang kuat.  Kejutan-kejutan yang tidak terduga dalam pergantian bab, membuat enggan untuk berhenti sebelum menyelesaikan novel ini sampai tuntas.

Tokoh-tokohnya juga terasa hidup dan membuat ikut gemas. Tentang Nana Betty yang tahu segalanya tapi memilih menunggu. Lalu sikap Rhonda yang asli, menyebalkan dan terlihat suka ragu dan plin-plan.  Rhonda masih suka labil. Sikap Greg sendiri yang terlalu hati-hati, dan keberadaan  Barndon yang malah membuat semuanya menjadi semakin rumit.

Dan lebih menariknya lagi adalah tentang pemilihan setting-nya. Peternakan sapi? Setting yang jarang diambil oleh penulis. Dan hebatnya, setting dipaparkan dengan baik dan tidak terasa tempelan. Tapi benar-benar hidup dan serasa ikut hadir dalam Wotton Dairy Farm. Salut dengan Mbak Arleen.
Jujur, saya sangat menikmati ketika membaca novel ini. Karena memang dari gaya bahasa dan aspek-aspek lainnya sangat berbeda dengan kebanyakan novel yang saya baca. Unik dan menarik.  

Dan pesan yang bisa saya simpulkan setelah membaca novel ini adalah, keserakahan dan memelihara dendam hanya akan merugikan sendiri. Dan mengajari tentang arti, cinta dan ketulusan.  Recomended banget untuk dibaca.

~*~

Saya sungguh tidak menyangka, ketika melihat pengumuman ini. Bagaimana tidak ketika mencoba mengintip resensi dari peserta lain, semua bagus-bagus. Jadi sedikit minder dong. Hanya bisa pasrah. Ikut pun juga nekat sih. Tapi ternyata hasilnya di luar dugaan. Alhamdulillah. 


Srobyong, 17 Juni 2016 



Wednesday, 15 June 2016

[Cerpen] Macan Putih di Depan Rumah

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 12 Juni 2016

Kazuhana El Ratna Mida


            Entah bermula dari mana cerita itu. Saat ini warga di desa Kantil  tengah sibuk membicarakan tentang munculnya macan putih. Katanya ada beberapa warga yang pernah melihatnya. Macan itu duduk perkasa di atas lincak. Matanya nyalang memandang dengan tajam. Tentu saja warga yang melihat lari tunggang-langgang. Mereka ketakutan. Bukan tidak berarti macan itu malah akan menerkam jika mereka mendekat? Mereka masih waras untuk tidak cari perkara dengan mencoba mencari tahu makhluk apa sebenarnya macan itu? Karena kedatangannya itu hanya ketika malam mulai larut. Bukankah itu mencurigakan?

Kasak-kasuk itu dari hari ke hari pun semakin santer terdengar. Warga mengatakan bahwa macan putih sering muncul tidak terduga. Namun yang paling sering ketika malam Jumat Kliwon. Begitulah gosip yang beredar. Kemunculannya itu sering membuat  warga kaget dan ketakutan. 

Kata warga lagi, macan itu hanya muncul di depan rumahku. Aku sungguh terperangah. Jadi itukah alasan beberapa warga yang beronda mulai takut ketika  menyambangi rumahku?

~*~

Aku duduk tidak nyaman di atas kasur. Cerita yang aku dengar sungguh membuat bingung. Benarkan apa yang dikatakan oleh  warga? Mungkinkah ada hal semacam itu? Jika iya kenapa aku yang di rumah tidak pernah melihat macan putih itu? Kelebat pertanyaan terus menghiasi kepala. Penasaran. Kenapa ada macan putih? Dan kenapa harus di depan rumahku? Apakah sosok macan putih itu sebuah pertanda?  Aku menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Aku berseloroh dalam hati.

Memikirkan tentang macan putih, sukses membuatku bergadang. Malam itu kelebatan pikiran mulai menjajah. Otakku merajut sendiri cerita yang tengah terjadi. Mungkin macan putih itu jelmaan siluman. Yah, mungkin saja. Orang-orang pada zaman dulu sering melakukan tapabrata untuk mendapat kekuatan. Katanya agar bisa hidup kekal atau malah dapat kekuatan luar biasa. Seperti menjelma jadi pacan putih mungkin. Aku mengedikkan bahu.

Atau bisa jadi itu pertanda ketidakberuntungan. Ah, jangan sampai itu terjadi. Atau mungkinkah .... Aku menggigit bibir sendiri. “Tidak mungkin.” Aku kembali menggeleng sambail meracau. Bapak atau ibu tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Bapak selalu rajin beribadah juga sedekah. Begitu pun ibu. Sejak kecil aku dididik dengan nilai-nilai luhur Islam. Bapak mengajari aku membaca Al-Quran beserta tajwid dan gharibnya. Bapak ingin aku menjadi wanita shalihah yang berpegang teguh pada agama. Bagamaiana mungkin pikiran jelek itu hinggap dan memakan otak warasku? Menuduh bapak melakukan pesugihan? Erat kupeluk bantal. Malam semakin larut. Dan aku tetap terjaga tanpa melihat ada macan putih seperti yang dikatakan warga.

Kesokan harinya, pembicaraan tentang macan putih masih terdengar. Teman-teman di sekolah merecoki dan bertanya macam-macam. Dan tentu saja aku tidak tahu. Melihat saja tidak pernah. Bisa jadi itu hanya bualan warga untuk menjelekkan bapak dan ibu.

“Ini memang beneran, Mar. Ibuku melihatnya pada suatu malam.” Laksmi berkata dengan sungguh-sungguh. Dia tetanggaku—rumahnya tepat di depan rumah.

“Awalnya ibu mendengar ada suara tangis dari rumahmu, jadi ibu berbegas menengoknya karena penasaran. Tapi ketika ibu membuka pintu belakang dan memincingkan mata mengintip di pelantaran rumahmu ..., ibu malah melihat macan putih yang duduk di atas lincak. Menatap dengan mata yang menyala.”

“Tapi kenapa aku tidak pernah melihat macan itu? Aku sering bergadang semalam. Menyelesaikan coretan-coretan naskah yang ingin kukirim ke majalah, atau hanya sekedar nonton drama Korea dan juga kadang untuk mengerjakan tugas sekolah.”

“Entahlah ..., itu aku juga tidak tahu.”  Mereka mengedikkan bahu. Dan aku semakin penasaran kenapa macan itu muncul di depan orang lain dan bukan pada aku atau keluarga.

Dan yang melihat macan putih ternyata bukan hanya ibunya Laksmi. Katanya, Haris—anak yang memiliki tulang kuning—yang menurut orang-orang bisa melihat hal-hal kasat mata juga pernah melihatnya. Saat itu dia akan pulang dari rumah pamannya. Tiba-tiba ada makhluk putih besinar tertangkap penglihatannya. Yah, macan putih itu yang dilihat di depan rumahku.  Ketika keesokan harinya dia bertanya pada sang paman, ternyata pamannya itu—yang kebetulan juga guru ngajiku—Pak Muhsin membenarkan bahwa memang ada macan putih yang berjaga di rumahku. Hanya saja alasan kenapa binatang itu di sana sampai sekarang aku tidak tahu. Hanya selentingan-selentingan aneh yang malah semakin mengusik ketenanganku. Berita paling senter mengatakan bahwa bisa jadi  bapak melakukan pesugihan. Kabar kedua mengatakan kemungkinan ada keluarga bapak atau ibu yang menikah dengan jin yang kadang penampakannya terlihat seperti macan putih. Aku bergedik ketika mendengar berita itu.

Sudah seminggu masalah macan putih menjadi berbincangan warga Kantil. Gosip tentang munculnya binatang itu di rumah membuat panas telinga. Tapi bapak dan ibu hanya diam saja, tanpa menjelaskan apapun, ketika aku bertanya. Mereka tidak menanggapi juga tidak menyalahkan. Hanya berpesan agar aku tidak menghiraukan semua berita miring itu dan suatu saat bapak akan menceritakan semua. Tapi kapan?

Kepalaku terus berdenyut memikirkan semua ini. Pesugihan? Menikah? Dengan jin? Ah, sungguh keterlaluan gosip itu.  Tidak mungkinkan bapak melakukan pesugihan. Bapak tahu betul larangan perbuatan hina itu.  Dan ... menikah lagi? Apalagi dengan jin. Ini gila. Apalagi ibu. Memang ada sebagian warga jin yang memeluk Islam. Seperti yang aku dengar pada zaman Nabi Sulaiman dulu.  Bapak pernah bercerita kadang orang-orang pada zaman dulu menikah dengan jin dan membuat perjanjian. Tentang pernikahan antara jin dan manusia, memang sejak dulu menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan makruh—sebagaimana pendapat Imam Malik dan Ibnu Taimiah,  haram—menurut Imam Ahmad, dan ada juga yang membolehkan—ini pendapat sebagian ulama Madzhab Syafi’i. Tapi meskipun demikan, hal yang sekiranya tidak sesuai dengan ajaran Islam—atau disebut bid’ah lebih baik dihindari saja. Toh masih banyak manusia di dunia ini.  Sebagaimana yang temaktub dalam surat Ar-Rum ayat 21—yang menyatakan bahwa Allah  menciptakan isteri dari jenismu sendiri.  Aku menutup mulut. “Oh mungkinkah?”

~*~

Laki-laki bertumbuh tinggi dan bermata lebar itu terlihat asyik menikmati kopi yang baru saja disuguhkan ibu. Bapak menghirup kepulan aroma kopi baru mulai  menyesapnya secara perlahan. Biasanya aku akan datang dengan riang dan menghampiri bapak. Mencium tangannya yang mulai keriput dan kemudian duduk si sampingnya. Meminta bapak bercerita tentang kisah-kisah zaman dulu. Yah, sejak kecil aku suka sekali mendengar dongeng dari bapak. Bahkan hingga kini aku beranjak dewasa. Tapi saat ini pikiranku sungguh kacau. Banyak praduga yang menjajah kepala. ada setitik ketakutan jika kenyataan yang aku duga itu benar.  Bagaimana jika itu benar? Kenapa harus bapak? Aku bergidik ngeri.

“Lho, Mar, kok tidak uluk salam dulu.” Ibu membuatku kaget. “Kamu kenapa, to? Kenapa tadi menatap bapak seperti itu.” Aku menelan ludah. Ternyata ibu memerhatikanku.

“Bu. Aku mau masuk kamar dulu. Lelah. Mau istirahat.” Bergegas aku meninggalkan bapak dan ibu. Aku membenamkan kepala di bawah bantal setelah shalat Ashar dan terbangun ketika sayup kudengar suara adzan Magrib.

Malam ini ..., rasanya aku malas ke mana-mana. Aku akan bolos mengaji di tempatnya Pak Muhsin. Lelah aku mendengar gunjingan warga dan teman-teman tentang keluargaku. Yah, sejak macan putih menampakkan diri di depan rumah, hidupku merasa tidak tenang.  Diamnya bapak dan ibu membuatku benci. Ketika mereka bilang akan menceritakan semua ..., hingga detik ini nyatanya aku tidak juga tahu apa-apa.  

~*~

Aku masih duduk bersila di depan laptop-ku, mencerna setiap kejadian yang tengah terjadi. Tiba-tiba ibu datang dan mengatakan bapak akan menceritakan sesuatu.

“Ayo, keluar bapak dan ibu mau bicara.” Ibu mengusap lembut punggungku. Dengan malas aku menuruti keinginan ibu. Walau tidak kutangkis aku juga penasaran dengan penjelasan bapak. Dadaku bergetar takut bahwa kecurigaanku benar. Aku menggigit bibir dan meramas tangan yang mulai berkeringat.

Bapak menatapku tajam. Menghela napas berkali-kali baru kemudian menyebut namaku dengan suara seraknya.

“Mar ...,” Aku menelan ludah siap mendengarkan semua cerita dari bapak dan ibu.  “Sudah bapak bilang, omongan warga itu tidak benar. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Kesalahpahaman kadang sering terjadi. Kamu jangan terlalu memedulikan perkataan orang lain. Mereka hanya menerka tanpa tahu kebenarannya. Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu.”

“Tapi Marni juga ingin tahu kebenarannya. Kenapa ada macan putih di rumah kita, Pak? Apa Marni salah jika ingin tahu juga?”

“Lagipula Marni tidak suka mereka membicarakan kejelakan bapak dan ibu.” Aku memberengut. “Berita itu tidak benar kan, Pak?”

Bapak terdiam. Laki-laki yang sudah semakin dimakan usia kembali menarik napas. Mulai menceritakan semuanya. Dan ketika semua telah bapak ceritakan dengan gamblang aku hanya bisa memasang wajah pias  dan menunduk penuh sesal.

~*~

Kau tahu apa yang bapak ceritakan padaku? Bapak mengatakan beliau tidak pernah melakukan pesugihan. Meski harus hidup miskin beliau tidak mau memberikan makanan haram pada keluarganya. Aku sungguh lega mendengar itu.

“Lalu tentang pernikahan dengan jin?” Aku mengejar.


Kulihat bapak menatapku semakin lekat dan berkata, “Kakek buyutmu dulu memang pernah menikah dengan seorang jin yang cantik—beragam Islam. Kamu tahu, kan pada zaman dulu, banyak hal-hal yang terjadi dan tidak bisa kita pahami secara rasional? Tapi itulah kenyataannya. Kekek buyutmu menikah dengan jin dan soal macan putih, itu adalah peliharaan istri kakekmu.  Sejak dulu bapak sudah menceritakan semua pada warga, tapi mereka tidak percaya. Macan putih di depan rumah itu tidak mengganggu. Dia hanya ingin menjaga keturunan dari suaminya. Jika memang macan putih adalah makhluk jahat, bukankah harusnya di sudah memangsa warga yang katanya sudah sering melihatnya? Yang selalu menggunjingkannya?”