Friday, 29 April 2016

[Review] Tentang Pertemuan dan Pelajaran Hidup


Judul               : 17:17
Penulis             : Sheva
Editor              : Septi Ws
Ilustrasi Isi      : Cynthia
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : pertama, Maret 2016
Halaman          : vi + 184
ISBN               : 978-602-375-377-2

“Ini benar-benar menjadi hari yang melelahkan. Namun,  sulit untuk tidak memikirkan tentang pertemuan hari ini.” (hal. 176)

Hari esok memang tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita bertemu dan kejutan apa yang menanti. Apakah itu kabar gembira atau malah kabar buruk.  Tapi siapa sangka dari pertemuan itu malah bisa memahami tentang perjalanan hidup.

Novel ini menceritakan tentang dua orang asing yang semula tidak pernah saling kenal yang kemudian bertemu pada waktu dan cuaca yang tidak tepat. Raka dan Sara sebenarnya hari itu, mereka tengah mengikuti tes wawancara sebagai business development executive.

Dari rumah Raka sebenarnya sudah tidak terlalu tertarik dengan wawancara itu.  Dia gugup dan sediki merasa mual. Hanya saja dia berusaha berpikir positif mungkin ini adalah kesempatannya bisa mendapat pekerjaan setelah empat bulan menganggur.

Sama halnya dengan Sara. Dia bertanya pada ibunya bagaimana jika nanti dia gagal. Namun sang ibu dengan bijak memberikan kekuatan positif pada anaknya. “Ya, bangkit lagi, dong. Jangan cepat putus asa, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut pancai panas.” 
(hal. 7)
Rasa  pesimis Sara semakin terasa ketika sampai di tempat wawancara. Di mana para peserta tenyata bukan hanya dirinya dan lagi dia harus melakukan tes psikotes. Hal yang sangat tidak sukainya, dan menurutnya psikotes hanya tipuan luar biasa yang membuatnya gagal berulang-ulang dalam wawancara pekerjaan. (hal. 15) Itulah alasan yang kemudian membuat Sara lebih memilih meninggalkan wawancara begitu saja ketika tahu ada psikotes. Dia memilih  makan di McDonald’s yang kemudian terjebak hujan deras.

Saat itulah Raka datang dengan tubuh yang sudak basah kuyup karena menerjang hujan. Dan entah kenapa dari sekian banyak ruang kosong, Raka memilih duduk di meja di samping Sara dan menyapa.  (hal. 25)

Sara tidak ada pilihan hujan, membuatnya terjebak di sana. Meski dia menyimpan banyak kecurigaan, dia tetap memilih di dalam.  Lagipula di sana adalah tempat paling aman untuk berteduh. Kalau pun dia memutuskan pulang, juga masih sulit.

Dua orang yang tidak saling kenal, terjebak pada satu tempat. Namun siapa sangka, pertemua itu membuat mereka mendapat pelajaran hidup yang cukup bermakna. Dari obrolan ringan, canda tawa bahkan pertengkaran. Lalu mendengarkan musik juga memutuskan menuju stasiun bersama.

Uniknya mereka memutuskan kepergian itu tepat pukul 17:17, waktu yang terasa ganjil. Hanya saja waktu itu kemudian memiliki kejutan yang tidak terduga. Menimbulkan sebuah pertanyaan besar apakah bisa mereka bisa kembali dipertemukan di waktu yang sama?

Sebuah novel yang cukup unik dengan gaya bahasa yang dipakai. Sempat mengernyitkan dahi, tapi perlahan gaya bahasa yang dipilih membuatku benar-benar tertarik untuk menyelesaikan kisah ini—penasaran sekali dengan apa yang akan terjadi selanjutnya natara Raka dan Sara. Banyak kejutan yang sungguh membuaku berdecak kagum. Bagaimana penulis bisa menceritakan kisah ini dengan sangat runtut.

Bermula dari pertemuan tak terduga hingga mereka harus berpisah dengan perasaan yang sama-sama tidak menentu. Hari yang sebelumnya dirasakan ingin cepat diakhir, malah membuat mereka ingin memperpanjang lagi waktu agar bisa saling bercakap. Padahal mereka sudah diingatkan alarm untuk pulang.

Memakai gaya alur maju mundur membuat kisah ini semakin membuatku terjebak pada labirin, karena harus menebak-nebak apa yang dulu telah terjadi? Ada juga ilustrasi Raka dan Sara yang semakin membuat novel ini unik. Hanya saja masih ada beberapa typo dan kesalahan tanda baca di sana. Juga ada ketidakkonsiten dalam penggunan pov pada bagian Sara. (hal. 123)

Tapi lepas dari itu, novel ini sungguh menarik untuk dibaca. Bagaimana seseorang memadang kehidupan dan mengatasi berbagai permasalahan yang harus dihadapi. Percakapan yang terjadi antara Raka dan Sara, meski sederhana sungguh sangat sarat makna dan saling mengingatkan mereka tentang kehidupan.

Beberapa quote yang menyentil  adalah

~Kesulitan itulah yang membuat diri kita semakin dewasa setiap harinya. (hal. 75)

~Sejelek-jelek perkataan, gue lebih memilih kata-kata yang jujur. (hal. 91)

~Dapat pekerjaan itu memang masalah kesempatan. (hal. 111)

~Fiksi adalah salah satu bentuk kenikmatan untuk menenangkan diri. (hal. 119)

~Hidup orang juga sama kompleksnya dengan hidup kita. Punya kesalahan dan punya hal-hal yang mengejutkan. (hal. 125)

Secara keseluruhan novel ini mengajarkan agar kita menjalani hidup dengan baik. Jangan mudah berputus asa. Ambil sisi positifnya saja. Bahwa dalam setiap kehidupan itu selalu ada sisi baik dan buruk.  Dan kadang kehidupan yang kita rasa rumit itu bisa menjadi lebih mudah jika kita bisa berpikir secara sederhana. Hanya saja kita kadang mengabaikannya.

Srobyong,  29 April 2016 

Tuesday, 26 April 2016

[Review] Tentang Sebuah Kepercayaan dan Cinta

Judul               : Love In Adelaide
Penulis             : Arumi E
Editor              : Donna Widjajanto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : vi + 230 hal
ISBN               : 978-602-03-2545-3

“Nggak ada yang nggak mungkin jika Allah berkehendak.” (hal. 176)

Tidak ada yang tahu masa depan itu akan seperti apa. Begitulah yang dipercayai Aleska. Cinta memang tidak tahu kapan akan datang dan pada siapa cinta itu akan tertambat.  Dan manusia hanya bisa berencana untuk ketentuan hanya Tuhan yang bisa menetapkan.

Novel ini menceritakan tentang sebuah kehidupan yang penuh kejutan dan kadang memang tidak bisa diprekdisikan oleh manusia.  Seperti halnya dengan kehidupan yang tengah dialami Aleska. Siapa yang menyangka di usia 45 tahun, ibunya—Marinata  memutuskan menikah lagi.  Lebih mengejutkan lagi sang ibu tidak memilih seorang pribumi saja, tapi seorang bule Ausralia—Pak Abe.

“Jodoh itu memang nggak bisa ditebak.” (hal. 8)  Aleska akhirnya sepakat dengan pendapat ibunya.  Hal inilah yang kemudian membuat dia harus rela meningglakan Bandung dan tinggal di  Adelaide. Bagaimana pun dia memang sangat sayang dengan ibunya.

Di tempat yang baru itu, Aleska menyadari untuk harus mempraktikkan pepatah, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” (hal. 20) Yang terpenting tidak melanggar ketentuan agama.  

Kepindahannya ke Adelaide membuatnya mengenal Zach Mayers—anak Pak Abe—yang berarti saudara tirinya yang dalam pandangan Aleska cukup menyebalkan karena terlalu protektif.  Lalu ada juga Sarah yang lebih membuatnya tidak nyaman karena tidak pernah bersikap manis.

Selama di Adelaide Aleska memutuskan bekerja dan kebetulan diterima  di sebuah restoran bernama Asian Taste. Di sanalah dia mengenal sosok Neil. Seorang lelaki yang entah kenapa membuat Aleska merasa nyaman. Neil sangat baik dan tidak segan menolong siapa pun.

Sayangnya kedekatan Aleska dan Neil dinilai buruk oleh Zach. Lelaki itu  merasa tidak sepantasnya Aleska bergaul dengan Neil. “Kamu itu muslimah, tentunya tahu batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Apalagi kamu berhijab. Kamu harus menjaga nama baik muslimah.”(hal. 90)

“Berteman boleh, tapi jangan lebih dari itu. Ingat ya, jangan melakukan hal yang bisa membuat menimbulkan fitnah.” (hal. 93)

Tapi Aleska tidak pernah mengindahkan sikap Zach yang dianggapnya terlalu protektif itu.  Siapa yang peduli. Dia yang berteman dengan Neil, kenapa Zach yang harus repot? Harusnya Zach lebih peduli pada Sarah, adik kandungnya sendiri. Begitulah yang Aleska katakan pada Zach.  Aleska pun tetap menjalin hubungan dengan Neil—Lelaki berdarah Ingris—Aborigin.  Tapi benarkan sebuah kedekatan antara lelaki dan wanita dewasa itu murni sebuah jalinan pertemanan?

Sayangnya tidak. Baik Neil dan Aleska menyadari ada sesuatu yang berbeda yang membuat mereka selalu ingin bersama. Meski mereka tahu ada jurang dalam yang harus mereka lalui. Tentang kepercayaan dan cinta.  Belum lagi Sarah yang tiba-tiba ikut masuk mericuh dalam hubungan mereka. Lalu Aleska memutuskan pulang dan entah kenapa  Zach malah datang ke Bandung.

Novel ini selain mengangkat teman percintaan dengan berbagai perbedaan. Dari budaya, hingga kepercayaan, juga mengakat teman keluarga. Tentang bagaimana nasib anak dari korban broken home seperti yang dialami Sarah.

Selain itu ada juga selipan-selipan budaya kental bersangkutan dengan setting novel ini.  Misalnya tentang diskriminasi pada kaum Aborigin dari beberapa kulit putih yang berpandangan sempit. Mereka yang pendatang merampas hak-hak kaum Aborigin di tanah mereka sendiri.  (hal. 60) Disinggung juga tentang didgeridoo yang merupakan alaat musik asli dari Aborigin, yang disinyalir sebagai alat musik tertua di dunia. (hal. 83)

Diceritakan dengan gaya bahasa yang mengalir dan lembut, sehingga asyik untuk diikuti. Dan banyak kejutan yang membuat semakin pensaran dengan jalannya cerita ini. Dan bakal ada kejutan di akhir cerita.

Novel ini juga kental dengan suasana religi. Hanya saja, agak tidak terlalu suka dengan sikap Aleska, dilihat dari sisi Islam dan hijabnya. Sebagaimana yang dikhawatirkan Zach, tentang batas-batas pergaulan lelaki dan perempuan, tapi Aleska tetap melanggarnya. Dia tetap pergi berduaan dengan Neil.  Padahal seharusnya dia tahu lelaki dan perempuan tidak boleh berduaan saja, kan sama saja khalwat. Di sini sering terjadi mereka suka bepergian bareng.

Lepas dari itu  kisah ini tetap asyik buat dibaca. Karena banyak pesan yang bisa diambil dari novel ini. Semisal tentang keharusan untuk saling menghormati antar suku. Lalu pendidikan yang baik itu bukan dilakukan dengan kekerasan saja, tapi juga perlu dengan kasih sayang. Dan pastinya menjaga pergulan yang baik antara lelaki dan perempuan. Sebuah bacaan segar yang recomended.

Dan satu lagi bertebaran quote yang keren dalam novel ini. Di antaranya :

Tiap orang itu unik. Satu manusia pasti berbeda dengan manusia lainnya. (hal. 21)

Pacaran itu nggak baik. (hal.  35)

Jangan meremahkan imaji. Terkadang  tanpa kita sadari apa yang kita khayalkan bisa menjadi doa yang suatu saat nanti bisa terkabul.  (hal. 51)

Hanya Allah yang berhak menentukan kamu berdosa atau tidak, kamu diampuni atau tidak. Selama kamu masih diberi hidup, itu artinya kamu diberi kesempatan menembus kesalahanmu dan berubah perlahan menjadi lebih baik.  (hal. 193)

[Review] Unexpected Love, Cinta di Tengah Permasalahan Rumah Tangga


Judul               : Unexpected Love
Penulis             : Nurillah Iryani
Editor              : Weka Swasti
Penerbit           : Stiletto Book
Cetakan           : 1, November 2015
Halaman          :  175 hlm
ISBN               : 978-602-7572-43-0

“Karena pernikahan  itu penuh cobaan. Saat itu terjadi, yang dibutuhkan  adalah pengertian.” (hal. 110)
           
Membaca novel karya Nurillah Iryani mengingatkan, bahwa mengarungi bahtera rumah tangga itu tidak selamanya berjalan mulus.  Karena kadang ada kalanya pernikahan itu penuh percobaan. Kesetiaan diuji dan pengertian satu sama lain sangat diperlukan. Hanya saja mampukan seseorang menurukan ego yang dimiliki demi sebuah ikatan?

Novel ini menceritakan tentang Anya.  Perempuan urban yang memang lebih mementingkan karir daripada cinta. Yang memiliki pandangan single itu jauh lebih baik daripada berada dalam relationship yang membuat tidak bahagia. (hal. 7)

Lalu Radit yang tengah bermasalah dengan pernikahan yang sudah dijalaninya selama 10 tahun terakhir bersama Gina. Awalnya pernikahan mereka nampak baik-baik saja. sampai kemudian kenyataan Gina yang tidak bisa memiliki anak, membuat perempuan itu teramat sedih dan kemudian memilih sibuk dengan pekerjaannya sebagai penggacara kondang. Hal ini membuat Radit merasa kosong. Dia memiliki istri tapi seperti menjadi lelaki lajang.

Di tengah keadaanya yang tengah tidak stabil itu, dia bertemu Anya. Sikap Anya yang polos dan menyenangkan membuat kekosongan yang selama ini Radit rasakan perlahan mencair. Bersama Anya dia seperti mendapat udara baru yang menyegarkan.

Bagi sebagian orang yang sudah menikah sering mengatakan ini, “It’s good tobe alone sometimes.” Tapi tidak dengan Radit. Dia malah sebaliknya. “I’m sure good to be together sometimes.” (hal. 48)
Kesibukan Gina membuat Radit benar-benar merasa kesepian. Dia selalu ingin memperbaiki hubungan itu. Dia ingin mempertahankan pernikahan yang sudah dibangun. Radit bahkan tidak marah dengan kekurangan Gina yang tidak bisa memiliki anak. Tapi ternyata hal itu tidak semudah perkiraannya karena Gina tetap memilih berjibaku dengan pekerjaanya dan selalu sensitif jika menyinggung masalah anak.

Anya sangat tahu, bahwa Radit adalah lelaki yang sudah beristri. Tapi apa salanya berteman dengan lelaki yang memiliki istri. Apakah berteman itu dosa? Itulah pemikiran Anya pada awalnya. Meski pemiriran itu ditolak mentah-mentah oleh Muti, sahabatnya.

Hanya saja apakah benar kedekatan antara laki-laki dan perempuan bisa hanya sebatas teman? Itulah yang menjadi permasalahannya sekarang. Mengingat berbagai kejadian yang selama ini mereka alami, baik Radit dan Anya merasa menyadari ada segaris perasaan aneh yang harus ditepis.  Entah bagaimana kisah mereka. Apakah Anya akan menyerah dengan perasaanya? Dan siapa yang nanti akan dipilih Radit mengingat rumah tanggnya memang sudah kacau balau.

Novel ini asyik. Gaya bahasanya ringan dan enjoy untuk dinikmati. selipan-selipan komedi yang ada cukup membuat senyum mengembang. Memakai sudut pandangan orang pertama dari masing-masing tokoh, membuat seolah bisa menyelami karakter masing-masing. Hanya saja kadang masih terasa ada persamaan dari tutur bahasa dari Radit dan Anya. Untungnya memang ada kebiasaan yang menjadi ciri khas keduanya yang bisa langsung mengingatkan bahwa ini adalah Radit—yang suka mengatakan ketek dan Anya—dengan kutu-nya. Tapi entah kenapa porsi antara Anya dan Radit malah lebih banyak Radit, ya? Tapi lepas dari itu novel ini patut dibaca. Karena akan membuka mindset lain tentang celah sebuah perselingkuhan.

Kisah ini mengingatkan bahwa dalam membina pernikahan hal yang terpenting adalah saling keterbukaan dan pengertian.  Pernikahan tidak akan berjalan jika hanya satu pihak yang selalu berusaha mengalah.

Setiap permasalahan yang ada dalam rumah tangga itu harus diselesaikan berdua. Seberapa berat keadaan seseoang harusnya berusaha move on bukan malah menyalahkan diri sendiri terus hingga membuat orang lain ikut tertekan.

Quote yang aku sukai dari novel ini adalah :

You know, making someone happy will always make you happy too. (Hal.  76)

Ternyata kehilangan satu sahabat itu lebih berat daripada kehilangan emas sekarung.  Emas sekarung bisa dicari lagi meskipun mungkin ngumpulinnya harus sampai jompo. Sedangkan sahabatkan, enggak ada yang jual. (Hal. 95)

Srobyong, 25 April 2016

Monday, 25 April 2016

Giveaway Dadakan







Kabar gembira bagi para penyuka Giveaway.  Yuk langsung  merapat ke sini. ^_^


Kak Biondy Alfian sedang ngadain dua GA super kece. Tidak percaya? Langsung cek sendiri saja deh :D





Giveaway ini tak berlangung lama, lansung secepat kilat catet tanggalnya 25 April 2016-28 April 2016

Syarat buat ikutan pun mudah pake banget :


  1. Peserta berdomisili di wilayah Indonesia
  2. Mengisi Kolom Rafflecopter yang disedikan di blog Kak Biondy Alfian
  3. Giveaway berlangsung hanya tiga hari; 25-28 April 2016
  4. Keputusan pemenang tidak bisa diganggung gugat
  5. Bila dalam 48 jam tidak ada respon dari pemenang, maka akan dipilih seorang  pemennag baru.

Nah mudah pake banget kan ketentuannya. Yuk langsung ke TKP

Sunday, 24 April 2016

[Review] Dari Mitos Yunani, Masa Lalu dan Cinta

Judul               : Summer Triangle
Penulis             : Hara Hope
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Ketiga, Januari 2016
Halaman          : 176 hlm
ISBN               : 978-602-03-2322-0

Summer Triangle  merupakan  Juara 2 dari Lomba Novel Teelit Gramedia Pustaka Utama 2005. Sebuah novel yang mengambil tema perbintangan dipadukan dengan mitos yunani yang menjadi warna dalam kisah ini.  Tentang cinta, persahabatan juga keluarga.
Menceritakan tentang sosok Vega. Dia gadis yang duduk dibangku kelas XI IPA 3 SMA Arcadia Jakarta. Dia setuju melakukan tantangan yang diajukan bokapnya untuk memotret bintang jatuh  karena diiming-imingi hadiah.  Padahal dia tahu melakukan hal itu adalah hal mustahil.
Tapi bukan Vega kalau tidak mau mencoba dan cepat menyerah. Dia bahkan nekat bolos sekolah demi memotret  bintang jatuh.  Dia mendapat kabar kalau di Pantai  Parangtritis  langitnya tampak luas dan indah, jadi mungkin itu tempat yang pas dijadikan untuk perburuannya.  Bersama Wiwi sahabatnya, mereka duduk manis menunggu bintang duduk di pasir Parangtritis beralasakan tikar. (hal. 23)
Namun saat berkosentrasi menanti bintang jatuh segerombolan  lelaki yang terlihat mabuk mendekati mereka. Sontak saja Vega dan Wiwi ketakutan. Untungnya sebelum kejadian buruk terjadi seseorang datang menolong mereka—Nina. Teman mereka satu sekolah. Cuma beda kelas.  Sejak kejadian itu mereka pun menjadi dekat.
Vega, Wiwi dan Nina, dalam pandangan Rio mereka adalah summer triangle. “Lo mirip Lyra, Wiwi mirip Cygnus dan Nina mirip Aquila. Kalian dari latar belakang yang berbeda tapi klop banget. Pertemuan kalian bertiga sejak awal pasti bukan karena kebetulan, tapi sudah digariskan dengan tujuan tertentu.” (hal. 67) Rio meyakini mereka adalah reinkarnasi dari summer triangle.
Tentu saja Vega tidak bisa percaya begitu saja. Atas dasar apa Rio yang notebane selama ini adalah musuh bebuyutannya mengatakan semua itu? Apalagi ditambah cowok itu mengaku Orefeus, pemilik Lyra—yang artinya harpa dan berarti Vega itu sendiri.
Belum kelar keanehan yang Vega rasakan, keanehan lain muncul dari sikap Nina yang menadak sewot ketika Vega menceritakan tentang  Rio yang sempat mengajaknya ke puncak untuk melihat summer triangle.  Apa hubungan antara Nina dan Rio sebenarnya?
Dan perasaan Vega semakin tidak karuan ketika Nina menceritakan sesuatu tentang Rio. Kisah yang selama ini tidak pernah Vega dengar. Dia sangat bingung haruskah dia mempercayai cerita Nina atau tidak. Kebingungannya semakin menjadi ketika tiba-tiba Rio tidak masuk kelas. Memang selama ini mereka lebih sering bertengkar, tapi tetap saja sebagai manusia biasa ketika mengetahui temannya tidak berkabar, Vega tetap khawatir.  Cowok itu masuk rumah sakit.
Entah  apa yang sebenarnya terjadi dengan Rio. Dan kenapa pula dia sangat mempercayai mitos tentang summer triangle dan terlihat tidak suka dengan keberadaan Nina. Vega sungguh bingung.  Ada kisah apa di balik summer triangle?
Novel ini dipaparkan dengan bahasa yang sangat renyah—khas remaja hingga asyik ketika membacanya.  Banyak kejutan yang membuat kisah ini semakin menarik untuk diikuti. Dari novel ini juga akan membuat kita mengenal lebih jauh tentang astronomi—khususnya tentang bintang.  Penulis sangat piawai menjelaskan dengan detail tentang  bintang dan mitos yunani.
Tentang beberapa kesalahan tulis dan pada beberapa bagian yang menurutku masih agak loncat-loncat, tetap tidak mengurangi kesyikan membaca kisah ini.  Keseluruhannya novel ini asyik buat dibaca. Karena tema yang diangkat memang terlihat berbeda dari kebanyakan teenlit lainnya. Recomended.
Novel ini mengajarkan kita untuk bersikap terbuka, baik itu pada teman juga keluarga. Serta mengajarkan untuk tidak terjebak pada masa lalu.  Kita harus move on dan tidak membuat diri sendiri menderita dengan terus menerus menyiksa diri. Kita harus percaya bahwa setiap musibah pasti ada hikmahnya.
Beberapa quote yang aku suka dari novel ini adalah
Bintang itu ciptaan Tuhan. Kita juga ciptaan Tuhan. Masa sih ciptaan Tuhan menentukan nasib ciptaan Tuhan lainnya? (hal. 69)   Mengingatkan kita bahwa hanya Tuhan-lah yang Maha Kuasa atas takdir makhluknya, bukan benda-benda langit atau sesuatu ciptaan Tuhan.

Memangnya jadi mama harus melahirkan? Kalau  melahirkan tapi nggak sayang sama kita? Yang namanya mama itu  orang yang sayang pada kita, yang mau dengerin keluh kesah kita, yang mau nemenin  kita pas sakit, yang mau marahin kita. (hal.119) Kita tidak boleh menilai orang dari covernya saja. Memang banyak dari ibu tiri yang terlihat jahat, tapi tidak semua ibu tiri itu jahat. Jadi kita harus selalu berpikir positif. 
Srobyong, 24 April 2016 

[Review] Mengenalkan Kekuasan Allah pada Anak Melalui Cerita


Judul               : Jejak-Jejak Misterius
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Editor              : Hariyadi
Ilustrator         : Sisca Anggreany
Penerbit           : Tiga Adanda, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           :Pertama Februari, 2016
Halaman          : 112 hlm

Mengenalkan Kekuasaan Allah pada anak termasuk pendidikan ketauhidan yang memang sudah diharuskan dikenalkan sejak dini. Agar nantinya anak-anak mengetahui kebesaran Allah dengan baik dan sudah mengakar.

Salah satu cara mudah yang bisa dilakukan untuk mengenalkan kekuasaan Allah pada anak adalah melalui buku cerita. Karena  selain tidak berat, anak tetap bisa bermain sambil belajar. Buku ini sangat cocok dijadikan referensi. Selain mengenalkan kisah-kisah yang menyimpan pengetahuan tentang kekuasan Allah juga memiliki pesan akhlakul karimah yang patut diteladani. Buku ini terdiri dari enam belas cerita yang sangat sarat makna.

Ada kisah Windy Si Pengantar Hujan. (hal. 19)  Menceritakan tentang Livy, yaitu sebatang pohon nangka.  Daun-daunnya menunduk ke bumi karena tidak tahan dengan sengatan sinar matahari. Daunnya juga berguguran di tanah. Hal itu membuat Livy sangat sedih.

Kesedihan Livy diketahui oleh Grassy, si rumput liar. Keadaannya sebenarnya juga tidak kalah menyedihkan dari Livy. Badannya mulai menguning dan sebagian kecokelatan. Grassy tidak kuat berdiri karena kekuarangan makan dan minuman. Tapi Grassy selalu berprasangka baik dan percaya Allah menyayangi mereka. Sangat berbeda dengan Livy yang malah marah. Dia benci kenapa harus ada musim kemarau yang membuat dirinya lemah.  

Cerita ini menjelaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk mengirim angin dan menggerakkan awan. Dan memiliki kekuasaan untuk menurunkan hujan. Selain itu mengingatkan agar selalu berbaik sangka pada Allah dan bersyukur dengan pemberian Allah. Bahwa setiap hal diciptakan itu memiliki manfaat masing-masing.

Ada juga cerita berjudul Teka-Teki Dzubab. (hal. 25) Mengisahkan tentang Kayla. Dia kaget ketika Roby, kakaknya meminum susu yang di dalamnya ada lalatnya. Tentu saja hal itu membuat Kayla kaget. Selama ini dia meyakini kalau lalat itu binatang yang menyebarkan penaykit.  Tapi Kakaknya malah mengatakan yang sebaliknya. Kakaknya bilang Lalat itu binatang istimewa dan tanda kebesaran.  Lalu memberikan teka-teki agar Kayla bisa menemukan kenapa Lalat disebut binatang istimewa.

Kayla disuruh mencari kata Dzubab dalam Al-Quran. Dengan pentunjuk tujuh kali putaran yang dilakukan sekali dalam satu tahun.  Kira-kira apakah Kayla bisa memecahkan teka-teki itu dan menemukan maksud kakaknya?

Dalam kisah ini menjelaskan bahwa  tidak ada yang bisa menciptakan sesuatu seperti apa yang diciptakan Allah,  meski bersatu dengan yang lain. Karena Allah adalah Maha Adidaya. Serta menjelaskan bahwa setiap apa yang diciptakan Allah itu pasti memiliki sisi baik dan buruk.

Tidak kalah seru adalah cerita Penyesalan Charlie Turtle. (hal. 46) Diceritakan kedamaian di tepi Florance lake akhir-akhir ini teranggu karena sikap  Charlie Turtle.  Charlie sekarang dikenal nakal dan sombong. Dia menyombongkan dirinya karena bisa berada di dua dunia. Darat dan laut.

Para warga sangat resah dengan sikap Charlie, padahal mereka sejatinya sangat sayang dengan Charlie. Lalu muncul Marco, burung pelican. Dia menawarkan diri untuk menyadarkan Charlie. Dia sudah memikirkan cara yang tepat agar Charlie tidak lagi sombong. Kira-kira cara apa yang akan dilakukan Marco?

Kisah ini menjelaskan bahwa Allah itu bisa memberikan petunjuk pada siapapun yang dikehendaki. Menerima hidayah atau menyemitkan dadanya. Karena Allah memang Maha Kuasa. Selain itu juga mengingatkan agar tidak memiliki sikap sombong pada makhluk lain.

Cerita-cerita dalam buku ini memang sarat makna. Selain tiga kisah itu masih banyak lagi cerita yang tidak kalah seru dan pastinya penuh pesan akhlakul karimah yang bisa dijadikan pelajaran.  Seperti Jejak-Jejak Misterius, Berjumpa dengan Peri Naklah dan banyak lagi.


Srobyong, 24 April 2016.

[Review] Edukasi Anak Melalui Dongeng

Hasil gambar untuk Dongeng dan Mantra Pembangun Karakter Mulia

Judul               :  Dongeng dan Mantra Pembangun Karakter Mulia
Penulis             : Durroh Fuadin Kurniati
Ilustrasi           : Syarifah Adlina
Ediiting           : Yurinda Dini
Penerbit           : Cikal Aksara, Imprint Agromedia
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : vi + 54 hlm
ISBN               : 978-602-1267-33-2

Edukasi anak sudah selayaknya dilakukan sejak dini. Salah satunya mulai mengenalkan buku-buku bacaan seperti buku dongeng ini .  Hal ini penting dilakukan para orangtua, karena selain melestarikan budaya membaca anak juga mengenalkan banyak sekali edukasi yang bisa diambil dari membaca.

Dalam  buku dongeng dan mantra ini terdiri dari sepuluh kisah yang banyak memuat edukasi anak. 
Sebut saja kisah Si Beo dan Cicak. (hal. 6) kisah ini mengajarkan anak untuk beprasangka baik dan saling menyayangi.

Menceritakan tentang Si Beo adalah burung yang sangat pandai berkicau dan pintar menirukan berbagai macam suara. Cicak yang melihat itu merasa iri pada Beo. Karena setiap hari Beo selalu terlihat gembira. Suatu hari Beo menyapa Cicak  yang sedang berbicara dengan semut, tapi Cicak itu malah mengatakan kalau dia tidak suka dengan Beo yang menurutnya malas dan tidak mandiri, hanya bisa bernyanyi.

Hal itu tentu saja membuat Beo sedih. Dia menjadi murung dan tidak mau lagi berkicau.  Pak Gatot pemilik Beo tentu saja bingung dan memutuskan membawa Beo ke  dokter hewan untuk diperiksa. Di sana Beo bertemu Kelinci, dia bercerita bahwa sebenarnya dia tidak sakit, dia hanya sedih. Kelinci lalu menasihati Beo. Kira-kira apa yang dinasihatkan Kelinci dan bagaimana dengan nasib Cicak dengan sikap iri yang dimiliki?

Ada pula kisah Air Mata Buaya. (hal. 11) Mengajarkan agar tidak suka berbohong dan besikap nakal. Karena hal itu akan membuat orang tidak percaya. Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan dan saling kasih sayang.

Menceritakan tentang sebuah keluarga buaya. Ibu buaya memiliki enam anak tapi semuanya terseret ombak dan tinggal satu anak yang bernama Bia. Ibu buaya sangat senang dan berjanji untuk akan menyanyangi anaknya dan tidak akan memarahinya.

Bia itu ternyata sangat nakal. Dia selalu memerintah ayah dan ibunya ini itu.  Juga selalu usil dengan teman-temannya. Seperti katak, ularm kura-kura dan trenggiling. Jika teman-temannya mengadukan kenakalannya, Bia, si anak buaya akan pura-pura menangis dan meminta maaaf.   Namun di kemudian hari dia terus melakukan kenakalannya.

Lalu sautu hari Bia berenang sendirian dan tidak sadar sudah terlalu jauh. Dia tersesat. Dia bingung dan menangis. Berkali-kali dia minta tolong, tapi tidak seekorpun binatang yang mau menolong. Bagaimana kira-kira nasib Bia, si anak buaya, ya?

Atau ada pula kisah Monyet yang Sombong. (hal. 25)  Mengajarkan agar  tidak berperilaku sombong.
Menceritakan tentang Monyet  yang selalu sombong dan suka memamerkan kepintaraannya.  Tentu saja hal itu membuat warga hutan tidak suka dengan sikap Monyet.

Suatu hari Monyet bertemu dengan Angsa. Monyet mengolok-olok Angsa yang suka makan cacing karena dia merasa pisang makannya lebih enak dan banyak mengandung vitamin.

Kemudian Angsa mendapat ide, dia harus memberi pelajaran pada Monyet agar tidak sombong lagi. Angsa pun mengatakan kalau sebenarnya dia sempat bosa makan cacing, dia ingin makan daging biar bisa lebih kuat. Makanya,  tadi ketika dia bertemu Singa, dia sedikit mencicipi daging itu. Tapi ternyata rasa cacing lebih enak jadi dia meninggalkan sisa daging singa sendirian.

Monyet kaget dan tidak percaya. Lalu Angsa menyuruhnya ke sungai. Dan benar saja ternyata di sana ada Singa yang kakinya terlihat berdarah. Monyet yang tidak ingin dikalahkan Angsa segera mendekati Singa. Dia ingin mencabut sehelai bulu Singa dan dipamerkan pada binatang lainnya.  Tapi saat akan mengambil Singa yang tadinya tidur malah terbangun.  Bagaimana nasib Monyet itu?

Selain ketiga  itu masih banyak lagi kisah-kisah lain yang tidak kalah mendidik. Ada Kisah Lima Butir Telur, yang mengingatkan agar menjadi anak pemberani. Atau ada pula  Ikan Mas dan Induk Burung, yang mengajak selalu berbaik hati. Si Jago yang Tamak, Besemangatlah Moki, Wolly dan Sahabat-Sahabat Kecilnya dan Miko yang Tak Patuh.  Setiap ceritanya menyimpan banyak pendidikan moral.  Buku ini sangat patut dibaca untuk anak-anak agar bisa membangun karakter mulia.   


Srobyong, 24 April 2016 

Saturday, 23 April 2016

[Review] Meneladani Dongeng Pancuran Pangeran



Judul               : Pancuran Pangeran
Penulis             : Lilis Hu
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Editor              : Dewi Widiyastuti
Redesain         : Yanyan Wijaya
Halaman          : 55 halaman
Cetakan           : Pertama, 2016
ISBN               : 978-602-394-097-4

Dongeng ini menceritakan tentang Pancuran Pangeran. Kenapa disebut Pancuran pangeran?

Dulu di sebuah kerajaan yang terletak di antara Bogor dan Jakarta, ada seorang Raja yang memiliki 3 putra.  Raja tidak ingin ketiga putranya saling berebut menjadi putra mahkota, ketika dia nanti turun tahta. Karena itu sang raja melakukan sebuah sayembara untuk mengetahui siapa yang nantinya pantas menggantikan dirinya.

Para Pangeran diharuskan mengembara. Dan barangsiapa yang pertama sampai di istana dengan membawa tongkat sakti, maka dialah pemenangnya. (hal. 10)

Ketiga pangeran itu pun berangkat. Meski perjalanan yang harus dilalui itu sangat meleahkan dan harus melewati jalan tanjakan. Saat siang semakin panas, mereka sampai di sebuah pancuran. Mereka pun sangat senang  dan ingin mandi di sana.

Dua pangeran, yaitu Pangaran Suta dan Gerinda segera melompat. Mereka lupa meminta izin pada kakek penunggu danau. Dan seketika tubuh mereka berubah menjadi kaku. Pangeran Jaya sungguh sedih melihat keadaan kedua adiknya. Dia pun meminta kepada kakek penunggu untuk memaafkan sikap kedua adiknya.
sumber google

Kakek itu bisa saja melakukannya tapi ada syarat yang harus dilakukan Pangeran Suta. Sapakah Pangeran Suta bisa melakukan syarat itu? Dan siapa di antara ketiga pangeran yang nantinya bisa mendapat tongkat sakti?

Buku dongeng ini sangat bagus untuk dijadikan bacaan yang menyehatkan. Karena selain banyak pesan moral yang bisa diambil pelajara, buku ini terdiri dari dua bahasa. Jadi anak-anak juga sekalian bisa belajar bahasa Inggris.

Beberapa pesan yang bisa diambil dari kisah Pancura Pangeran adalah, bahwa seorang ayah harus arif bijaksana dan tidak pilih kasih, lalu dalam persaudaraan harus saling menyayangi. Ada pula pesan yang mengingatkan untuk tidak melanggar aturan dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk berjuang mewujudkana harapan serta tidak sialu dengan harta. 


Srobyong 23 April 2016

[Review] Belajar dari Kisah Kin Kuin dan Walet


Judul               :  Si Walet yang Malang
Penulis             : Herlina K
Penyunting      : Dewi Widiastuti
Ilustrasi           : Bocil Studio
Cetakan           : Pertama, 2015
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
ISBN               :  978-602-0885-70-4

Kin Kiun  adalah anak rajin yang selalu membantu kakeknya memancing di sungai, agar bisa dijual ibunya ke pasar. Suatu hari Kakeknya sakit sehingga dia harus memancing sendiri.  Saat akan pulang dia melihat beberapa anak yang bermain ketapel untuk menangkap seekor walet.

Kin Kuin yang melihat itu, merasa kasihan dengan burung itu.  Kenapa mereka tega menggangu hewan yang lemah itu? Kin Kuin bertanya dalam hati. Lalu dia pun  mencari akal agar bisa menyelamatkan burung itu.  (hal. 10)

Akhirnya taktik yang dilakukan Kin Kuin berhasil menyelamatkan burung itu dan dibawanya pulang. Kin Kuin merawat burung itu baik-baik hingga sembuh. Sayangnya ibu Kin Kuin malah tidak suka dengan burung itu. Karena sang ibu khawatir Kin Kuin tidak berkonsentrasi dengan belajarnya. (hal. 20)
Apalagi ditambah burung itu mulai membuat sarang di langit-langit rumah hingga membuat rumah menjado kotor dan menganggu kesehatan sang kakek.  Ibu  Kin Kuin bermaksud membuangnya namun dengan cepat dicegah oleh Kin Kuin. Dia berjanji akan melepas burung itu jika memang sudah sembuh.

Namun sebelum Kin Kuin melepasnya , ternyata burung malah sudah menghilang. Kin Kuin sangat sedih, tapi dia mencoba mengerti mungkin apa yang dikatakan ibunya benar. Burung itu sudah menemukan hidupnya sendiri.   Tapi siapa sangka ternyata burung itu pergi dengan meninggalkan sesuatu yang sangat berguna untuk Kin Kuin dan keluarganya. Kira-kira apa yang ditinggalkan walet itu?  Dan sebenarnya apa ide Kin Kuin hingga bisa menyelamatkan burung walet dari anak-anak nakal?

Dongeng ini cocok dibaca untuk  anak-anak. Ilustrasinya unik dan  banyak pesan moral yang bisa diambil pelajaran. Seperti anjuran untuk menjadi anak yang baik, suka menolong, rajin membantu orangtua, rajin belajar dan  menyayangi binatang.  Serta ada pesan lagi yang bisa diteledani dari sikap walet yang tahu berterima kasih pada orang yang menolongnya.

Srobyong, 23 April 2016