Tuesday, 29 December 2015

[Resensi] Liburan Asyik Penuh Pengalaman di Buntok



Judul buku                  : Misteri Tambang Mengerung
Penulis                         : Erlita Pratiwi
Penerbit                       : Kiddo
Cetakan                       : 1, Agustus 2015
Halaman                      : 146 hlm
ISBN                           : 978-979-91-0914-9


Dyffa sedang berlibur di Buntok, Kalimantan. Alasan Dyffa liburan sebenarnya adalah untuk mengunjungi ayahnya yang bekerja di  pertambangan batu bara. Tapi  karena suatu hal liburannya berubah menjadi petualangan seru yang mendebarkan.

Pertama tentang pesan Om Danu, “Jangan main-main di sekitar tambang kapur. Tempat itu seram dan sering mengeluarkan suara menegerung.” (hal. 11) Lalu pertemuannya dengan Dian dan Jenta. Di mana ketika dia bertemu Dian, tanpa sengaja mereka mendengar percakapan seseorang tentang rencana penyelundupan kucing hutan. (hal. 21) Hal ini jadi mengingatkan Dyffa tentang cerita dari Kay, sahabatnya yang ada di Jakarta.  Dan ajakan Jenta yang membawa mereka memasuki tungku pembakaran batu kapur dan merasakan keangkeran tempat itu.

Dari kejadian itu Dyffa pun mulai menduga, bahwa ada sesuatu yang aneh dengan tambang mengerung. Bermodal dari hasil jepretan yang tidak sengaja dia ambil, saat memergoki pembicaraan orang yang tengah menangkap kucing hutan itu ..., Dyffa, Dian dan Jenta mulai menyelidiki misteri yang ada.

Namun, siapa sangka ciri-ciri topi dari orang yang pernah Dyffa lihat,  ternyata milik dari teman Om Danu. Tingkah mereka sangat mencurigakan karena berbicara dengan bisik-bisik sambil menyebut nama Pak Malis. Jangan-jangan Om Danu adalah salah satu komplotannya. Dyffa menduga-duga. Tapi bukti yang dimiliki belum cukup untuk membuktikan dugaan yang telah disimpulkan. Mereka pun terus menyelidiki. Saat menyelidiki misteri itu, siapa sangka Dyffa dan Dian malah diteror oleh Panglima Burung (sosok gaib dari suku Dayak). Bahkan mereka juga dijebak dalam perangkap. Tentang bagaimana nasib Dyffa, Dian dan  Kucing Hutan ..., serta di balik suara mengerung, selengkapnya bisa dibaca dalam novel ini.


Buku dengan tema unik dan asyik diikuti. Bahasanya mudah dipahami. Selain itu  juga memuat banyak ilmu pengetahuan. Karena dalam setiap bab penulis menyuguhkan pengetahuan tentang daerah Kalimantan yang diserai gambar, sehingga mudah untuk membayangkan keadaan yang dijelaskan. Pengetahuan yang dimuat antara lain;  menjelaskan tentang daerah Buntok, kucing hutan, air hitam, suku Dayak Ngaju, juhu singkah dan masih banyak lagi. Novel ini juga memiliki banyak pesan. Salah satunya, bahwa sebagai manusia itu harus melindungi hewan langkah, bukan memanfaatkannya demi kepentingan sendiri. Serta anjuran untuk tidak berburuk sangka pada orang lain. Beberapa kesalahan kepenulisan yang ada tidak  mengurangi keasyikan membaca novel ini.

[Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi. Berdomisili di Jepara, Jawa Tengah.]

 [ Dimuat di Radar Sampit, Edisi, Minggu 27 Desember 2015]

Monday, 28 December 2015

[Review] Menambah Pengetahuan dengan Membaca Komik Hasna



Judul               :  Hasna: Mengaji Itu Menepati Janji
Penulis             : Linda Satibi
Penerbit           : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan           : 1, November 2015
Halaman          : 160 halaman
ISBN               : 978-602-02-7389-1

Pengatahuan itu bisa didapat dari mana saja. Misalnya memalui pengalaman langsung atau lewat buku. Bahkan bisa juga melalui komik, cerita bergambar. Seperti Komik Hasna, di mana komik ini banyak menyimpan pengetahuan yang patut diketahui anak-anak sejak dini. Dalam komik ini nanti akan dijumpai 44 cerita tentang Hasna bersama keluarga dan teman-temannya. Selain tokoh Hasna yang menonjol ada juga tokoh Salman, adik Hasna yang tidak kalah lucu dan pintar, Salman.  Komik ini memang dikemas ringan dan akan membuat tersenyum jika membacanya.

Salah satu cerita yang menarik adalah sebuah cerita yang berjudul “Datang Keundangan”. Diceritakan Ibu Hasna akan menghadiri undangan. Ibu Hasna lalu mengajak Hasna dan Salman. Awalnya mereka menolak karena malas namun tiba-tiba mereka memutuskan ingin ikut. Entah ada alasan apa yang membuat Hasna dan Salman berubah pikiran. (hal. 5) yang pasti cerita ini akan membuat tersenyum.

Ada juga cerita yang berjudul “Jangan Pipis Sembarangan” (hal. 17). Cerita ini tidak kalah lucu dengan yang lain. Menceritakan tentang keinginan ayah Hasna yang ingin ikut kerja bakti untuk membersihkan lorong yang jadi jalan tembus dari blok rumah Hasan ke blok rumah Arik. Lalu Hasna dan Salma ikut berkomentar tentang bau lorong yang sangat menganggu dengan celoteh-celoteh lucu mengenai orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan pipis sembarangan. Kira-kira celoteh apa sih yang diucapkan Salman, ya?

Linda Satibi, sang penulis pandai sekali menyampaikan pesan lewat cerita-cerita sederhana namun sangat mengena di hati.  Lalu sebuah cerita lain, “ Makan Banyak, Nggak Kenyang?” (hal.  42) Bagimana hal itu bisa terjadi? Padahal biasanya kalau setelah makan, itu kan pasti kenyang. Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam Komik Hasna ini.

Atau ada pula cerita “Shalat Juga Harus Rapi” Ada sindiran halus dalam cerita ini  sebagaimana diucapkan Salman “Itu tempat makan kita saja, kalau selesai harus disusun yang rapi, masa’ kita yang shalat nggak rapi ... Betul nggak?” (hal. 61)

Cerita selanjutnya, kita akan diajak untuk menyayangi binatang, langsung saja baca ceritanya yang berjudul “Hewan Juga Punya Perasaan” (hal. 63) Lalu ada pula aturan bagaimana cara memberi salam yang baik (hal.117)

Dan masih banyak lagi cerita-cerita tentang Hasna yang tidak kalah menarik. Cerita dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Meskipun banyak komik yang hampir serupa, Komik Hasna memiliki keunggulan tersendiri dari komik yang lain. Yaitu dalam setiap akhir cerita penulis menambahinya dengan hadis-hadis serta kesimpulan dari cerita tersebut. Misalnya tentang sebuah hadis yang mengajarkan kebersihan “Islam itu agama yang bersih, maka hendaknya kamu menjadi orang yang bersih, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih.” (hal. 27)

Hanya saja kadang dalam komik ini ditemukan percakapan yang agak membingungkan, salah penempatan pada tokoh seperti pada  cerita "Sayangi Sesama" kalimat yang harusnya diucapkan Salman malah dikatakan temannya. Dan ada juga Tokoh pada judul dengan tokoh cerita tidak sama. Seperti dalam cerita "Ringga Sayang Nenek" dalam cerita ini tokohnya bernama Opang, bukan Ringga. Atau mungkin ini nama panggilan? 

Lepas dari kekurangannya itu, komik  ini memuat banyak sekali pengetahuan seperti : anjuran untuk makan bersama agar bisa berkah, keutamaan memenuhi undangan, selalu menjaga kebersihan, keutamaan menghafal Al-Quran, mengaji bersama, jangan menunda waktu shalat, merapikan barisan shalat, menyayangi binatang, anjuran dan tata cara mengucapkan salam dan masih banyak lagi pengetahuan yang bisa didapat. Sangat cocok untuk dibaca anak-anak. Karena selain menghibur juga memiliki banyak manfaat dan menambah banyak pengetahuan. 

Monday, 21 December 2015

[Resensi] Nila-nilai Luhur Warisan Ki Hajar Dewantara




Judul               : Sang Guru; Novel Biografi Ki Hajar Dewantara
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Penerbit Imania
Cetakan           : 1, November 2015
Halaman          : 420 hlm
ISBN               :978-602-7926-24-0



Pendidikan merupakan sarana paling utama untuk membebaskan masyarakat negeri dari kebodohan. Pendidikan adalah media untuk menyiapkan generasi yang kuat jasmani dan rohani.
Dulu karena para penduduk Indonesia yang kurang berpendidikan maka membuat negara ini dengan mudah dijajah. Karena itulah demi mengusir penjajah, Raden Mas Seowardi atau yang dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, berjuang keras untuk masalah pendidikan untuk anak-anak Inlander.

Mulanya Ki Hajar Dewantara memang terjun pada perjuangan politik. Di mana dia dan teman seperjuangannya; Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker mendirikan sebuah partai bernama IP (Indische Partij). Selain itu mereka juga terjun dalam dunia jurnalistik. Menerbitkan  banyak artikel yang mengecam ketidakadilan Governemen Hindia Belanda.

Pada 1921, Ki Hajar Dewantara memutuskan keluar dari NIP (National Indische Partij) yang pada awalnya adalah pemekaran dari IP. Dan sejak itu pula Ki Hajar Dewantara memutuskan berjuang dengan cara mengembangkan pendidikan. (hal. 241). Langkah awalnya dia membantu perjuangan kakak sulungnya, Kangmas Soerjopranoto menjadi guru di sekolah Boemi Putra. Namun berjalannya waktu, Ki Hajar Dewantara akhirnya memutuskan untuk membuat sekolah sendiri yang kemudian disebut Tamansiswa yang  diririkan pada tanggal 3 Juli 1922. (hal. 266)

Sistem pendidikan yang diterapkan Ki Hajar Dewantara adalah sistem yang pendidikan yang menekankan pada kebudayaan dan karakter bangsa Indonesia yang tidak mengenal paksaan. Pendidikan akan mudah berkembang jika dididik dengan nilai-nilai tradisional yang berangkat dari kehalusan, kasih sayang, kejujuran dan sopan santun.

Bahwa dalam pendidikan, perserta didik itu sebagai subjek, bukan objek pendidikan yang bisa dipaksa seenaknya dengan aturan dan perintah-perintah. (hal. 287-288).

Tamansiswa memiliki semboyan : Ing Ngarso Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberikan teladan yang baik pada anak didiknya, Ing Madya Mangun Karsa,  artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah anak muridnya, memberi semangat untuk berkarya dan Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus menerus menuntun, memberi dorongan semangat dan menunjukkan arah yang benar untuk anak didiknya. (Hal. 288) 

Sebuah novel biografi yang sangat inspiratif dan sarat makna. Patut untuk dibaca oleh para guru saat ini. Memakai bahasa yang mudah dipahami. Meski ditemukan beberapa kesalahan penulisan, namun tetap tidak mengurangi kenikmatan membaca novel ini.

[Ratnani Latifah, Penikmat Buku Berdomisili di Jepara, Jawa Tengah] 



[Dimuat di Harian Nasional, Edisi, Sabtu-Minggu,  19-20 Desember 2015]

Thursday, 17 December 2015

[Cerpen] The Stalking

[Dimuat di Majalah Online Panchake. Edisi ke-2, 10 Oktober 2015]


Oleh Ratna Hana Matsura [Kazuhana El Ratna Mida]

Jantungku berdegup keras. Kakiku menegang. Aku menggigit bibir bawahku. Kuremas jemari yang basah oleh keringat. Sementara teriak dalam hati tidak aku pedulikan. Aku menarik napas panjang, lalu membuka mata perlahan. Ketika aku sadar bisikan itu lenyap. Kemudian berganti tepukan pelan di pundakku, yang membuatku sedikit terkejut.

“Kau baik-baik saja?”

Tatapanku tertuju pada sosok Mira yang melihatku bingung. Lantas aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang.” Dia meraih tangan kananku. Menariknya agar aku berjalan dengan cepat.

Aku tersenyum tipis. Menuruti Mira. Namun dalam waktu singkat sesuatu yang luar biasa terjadi. Senyumku pudar dan sebuah perasaan aneh membuatku begidik ngeri. Hidungku mencium bau anyir, sementara tanganku terasa lengket oleh sesuatu yang begitu kental. Aku menatap Mira. Seketika aku membekap mulut menggunakan tangan kiriku. Aku melihat sesosok hitam besar menatapku dan semuanya mendadak gelap dengan cepat.

~*~

Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin mengalir di tiap lekuk tubuhku. Mataku mengerjap beberapa kali.

“Dia tidak mungkin mengikutiku,” ucapku lirih. “Bagaimana ini?” Aku memegang kepala yang tiba-tiba terasa pening.

Aku mencoba mengontrol napas untuk berpikir jernih. Dia tidak mungkin mengejarku lagi. Dia sudah mati. Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Penguntit itu ... dia sudah mati. Aku meyakinkan diri sendiri.

Tap ... tap ... tap!

Aku menelan ludah. Ini sudah tengah malam. Langkah siapa itu? Aku tinggal sendirian di apartemen ini. Aku memegang unjung seprei dengan wajah pias. Bayangan penguntit kembali berkelebat di kepala.

“Tenang .... Aku harus tenang.” Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh panik.

“Penguntit itu sudah mati sehari yang lalu.”

Aku mengingat dengan jelas kejadian itu. Saat itu tanpa sengaja aku yang sedang jalan-jalan dengan Mira dan kecelakaan itu terjadi. Dia terpental saat menyeberang jalan.

Tap ... tap ...tap!

Suara langkah itu kembali terdengar. Aku menelan ludah. Menyentuh tengkuk yang semakin merinding. Aku menatap sekeliling ruangan. Kosong, tak ada apa pun. Lalu kenapa aku merasa ada yang tengah mengintaiku?

Tenang, ini pasti hanya imajinasiku saja, aku membuat persepsi sendiri dalam membatin. Mataku kembali mengerjap ketika sosok tinggi besar membuatku terkejut. Jantungku serasa mau copot.

“Kya ...!” aku berteriak. Memundurkan langkah secara spontanitas. Napasku naik turun tidak beraturan.

“Apa itu barusan? Si penguntit, ‘kah? Tapi—” Aku menggigit bibir. Ketakutanku semakin membesar.

“Kenapa kau menguntitku? Apa salahku?” Aku ingin menangis. Aku mengeratkan tangan pada baju yang kukenakan. Terus memundurkan langkah karena kusadari pasti sosok itu tengah semakin mendekat bahkan aku bisa merasakan napasnya. Napasku tercekat. Aku menutup mata. Aku baru membuka mata secara perlahan ketika kurasakan langkahnya tak lagi terdengar.

~*~

Aku menarik napas panjang. Menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk dalam dada. Sampai sekarang, yang masih tidak aku pahami adalah alasan orang itu menerorku. Orang atu ... ah entahlah! Siapa dia? Dan apa maunya? Lagi pula setahuku dia mengalami kecelakaan kemarin.

Aku mendesah. Pikiranku kusut tidak mampu mencerna apa-apa. Aku bersandar di kursi, namun jantungku sontak kembali jumpalitan ketika melihat bayangannya muncul dari balik kaca jendela. Aku menjerit keras dan langsung bangkit. Aku harus pergi dari sini. Segera! Itulah yang ada dipikiranku. Tidak memedulikan jam berapa saat ini. Aku mengambil kunci mobil.

Dalam perjalanan ingatanku terbang pada pertemuanku dengan seorang teman kantor beberapa hari lalu. Kami bertengkar karena beda pendapat. Tapi tidak mungkin bila temanku adalah si penerorku. Aku menggelengkan kepala. Lalu menggigit bibir sendiri. Mungkinkah karena kesalahan itu? Aku menerka mengingat satu rahasia yang sampai saat ini menjadi rahasiaku sendiri. Aib yang pernah aku buat. Tentang aku yang pernah membunuh seseorang.

Mobil kupacu dengan kecepatan tinggi. Ketika menyadari sosok itu telah duduk di bangku belakang dengan tatapan tajamnya yang kudapati dari kaca spion tengah, tiba-tiba saja tubuhku serasa mati. Kaku.

Oh, God, makhluk apa ini? Napasku naik turun. Perlahan aku menghentikan mobil dan buru-buru ke luar meninggalkan sosok itu. Aku berlari sekencang mungkin. Tapi lagi-lagi sosok itu bisa mengejarku.

Aku terjerembab. Dia semakin dekat. Aku menelan ludah yang terasa kering.

“A-apa mau-mu?” tanyaku terbata.

Dia tak menjawab pertanyaanku, tapi dia terus menatapku lekat. Membuatku bergidik ngeri dan ingin segera melarikan diri. Tapi ... entah kenapa tubuh ini beku tak bisa diajak kompromi.

“Ya, kata-kan se-su-at-u!” Aku sungguh ketakutan ketika sosok itu semakin mendekat. “A-pa alasanmu ... mem-per-la-ku-kan ... a-ku seper-ti in-i?”

Grap!

Dia tetap tak menjawab, malah kini dia mencekal kuat pergelangan tanganku. Aku mengeliat berusaha menjauh. Tapi semakin aku bergerak entah kenapa pegangan itu makin kuat membuatku tak bisa banyak bergerak. Aku memohon untuk dilepaskan. Tapi dia tak mendengarkan aku. Dia malah menyeretku, membawaku pada tempat yang membuatku ternganga.

Tempat dengan bau anyir yang membuatku ingin muntah. Lalu pemandangan yang kulihat membuatku ingin memejamkan mata. Sungguh buruk dan menyesakkan dada. Aku tidak ingin melihat ini.

“Kumohon ... biarkan aku pergi pada keluargaku.” Aku menarik napas. “Jangan menggangguku.” Aku berlari menjauh ketika dia mengendurkan cekalanku. Menyusuri jalan yang kuyakini itu menuju rumah orang tuaku. Aku harus minta tolong agar mereka membantuku.

Aku tersenyum senang ketika melihat Mira keluar dari rumah. Aku memanggilnya, tapi dia tak menyahut dan pergi berlalu begitu saja. Kulihat matanya sembap. Aku jadi khawatir padanya. Ingin aku mengejarnya tapi kuurungkan karena kulihat Ibu yang juga tengah menangis sesegukkan.

Bukan hanya Ibu tapi ternyata semua keluarga besarku. Mereka nampak berduka karena sesuatu. Tapi karena apa? Kenapa hanya aku yang tak tahu? Kulangkahkan kaki pada kerumunan orang yang ada di ruang tengah. Dan aku hampir tak bisa bernapas ketika melihat siapa yang tengah terbaring di sana.

Aku menatap sosok yang berdiri tak jauh dariku. Aku ingin kabur tapi dia segera mencekalku. Mengantarkan pada satu tempat yang sungguh kusesali. Seharusnya aku tidak bunuh diri, menabrakkan diri pada mobil di jalan itu.

[Cerpen] Sang Penunggu

[Dimuat di Metro Riau, Edisi; Minggu, 13 Desember 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida
            Waktu telah memakan hari-harimu hingga kering kerontang begitupun dengan aku. Kamu terlihat lemas tak berdaya karena masih saja setia menunggu kekasihmu yang tak kunjung datang. Kamu semakin pucat dan kurus tak secantik dulu yang banyak menjadi primadona kota.
            Yah, betapa aku lelah mengingatkanmu untuk pergi saja meninggalkan kekasihmu yang tak setia—menghilang. Namun, kamu tak mau. Kamu bilang kekasihmu pasti kembali lalu menyemai mimpi bersama seperti janji kalian dulu.
            “Ah, lupakan saja dia. Kau harus merawat diri!” marahku padamu.
         “Han, kau itu sangat cantik. Janganlah menyiksa diri,” lanjutku. Namun kamu tetap bersikukuh.  Kamu menggenggam tanganku, meyakinkan aku bahwa kekasihmu tak mungkin mengkhianatimu. Apalagi meninggalkanmu. “Percayalah.” Senyummu terukir indah membuat dadaku sesak. Entah sudah berama lama aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti itu. Namun sayang senyum itu bukan buatku, tapi untuk kekasihmu yang tak tahu ada di mana saat ini. Kekasihmu bagai hilang ditelan bumi.
~*~
            Tak tahukah kamu Han, aku juga tengah menunggumu seperti dulu. Melihatmu yang selalu tersenyum dan bahagia. Melihatmu memakai sutra panjang melihat dirimu yang bak putri raja—bahkan mirip bidadari dari surga. Kamu itu sempurna, namun karena dia kini kamu berubah.
            Huft!
            Aku diam-diam menatapmu dengan menghela napas.
            Sedih dan marah itulah yang aku rasa. Aku di sini hanya bisa menatapmu menjadi sahabat yang setia menemani. Kadang kala aku ingin memberontak, ingin  menjamah dan memaksamu untuk tunduk akan ego yang tak bisa kureda.
            “Kau melamun?” suaramu membuatku kaget bukan kepalang.
            Aku menatapmu lalu menggeleng pelan.
            “Sebentar lagi, dia datang,” ucapmu dengan senyum mengembang. Kamu melirik arloji yang setia kamu kenakan. Katamu itu adalah hadiah dari Pram—orang yang kamu cinta—kekasihmu. Sosok yang selalu kamu agungkan di mana saja. Kamu selalu bilang kalau kekasihmu itu adalah yang terhebat dari banyaknya pria di dunia. Kamu bilang, kekasihmu memliki wajah tampan layaknya arjuna. Kekasihmu memiliki wajah yang bersih seperti dirimu. Tubuh kekasihmu tinggi besar seperti para pendekar. Aku yakin itulah daya tarik yang menyeretmu untuk jatuh kepelukan kekasihmu.
            “Terima kasih telah menemaniku,” ucapmu sekali lagi.
            “Itulah gunanya teman,” ingin aku mengucapkan itu tapi bibirku beku. Aku hanya berusaha tersenyum dengan tulus seperti biasa. Padahal jiwaku teriris karena cintaku tak pernah sampai padamu hanya mampu menjadi bayangan di antara kamu dan kekasihmu. Lagipula aku pun sadar kasta yang kumiliki. Kamu terlalu jauh tidak mungkin bisa aku rengkuh.
            Dan di sinilah aku dan  kamu. Menunggu  di  tempat rahasia pertemuan kamu dan kekasihmu dulu. Selama itu kamu tak pernah meninggalkan aku dan selalu mengizinkan ada di anatar kamu dan kekasihmu. Dan kekasihmu pun sama, tak apa jika aku ikut serta dalam kisah kalian. Tapi tak tahukah kamu? Bahwa menjadi yang ketiga itu sungguh menyakitkan.
~*~
            Kisah cintamu dan kekasimu—Pram sudah tersebar di seluruh negeri. Kamu dan kekasihmu adalah pasangan  fenomenal yang paling menjadi sorotan dan  obrolan hangat setiap orang.  Semua orang ingin tahu tentang kisah cintamu. Pasangan yang menjadi sorotan namun juga yang membuat banyak orang marah dan tak habis pikir akan pikiranmu dan kekasihmu. Bagaimana bisa? Gila sungguh itu hal pertama yang ada di kepala warga. Tapi, itulah cinta. Kamu dan kekasihmu tetap berjalan meski jalan terjal menghalangi langkah.
            Awalnya tentu aku tak tahu kalau kamu dan kekasihmu adalah pasangan. Karena kamu-lah yang sering datang lebih dulu ke sini dan bertemu denganku. Kamu dan aku mengobrol ke sana ke mari dengan ceria. Kamu dan aku langsung akrab—menjadi sahabat. Aku mengenal kamu sebagai seorang wanita yang anggun dan memesona. Tubuhmu jenjang dengan rambut terurai panjang. Bibirmu kecil, namun sensual, memiliki hidung mancung dan sinar mata yang teduh. Kulitmu kuning langsat. Gaun panjang yang kamu kenakan semakin membuatmu terlihat luar biasa.
            Dan siapa sangka, kebersamaanku denganmu  telah menimbulkan rasa yang lainnya. Tapi, aku bisa apa. Apalagi saat kamu mengatakan dengan wajah ceria kalau kamu telah menemukan tambatan hati, aku hanya bisa mengerang. Ah, padahal selama ini kamu lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Tapi kenapa kamu harus menyukai orang lain?
            Setiap  menceritakan kekasihmu,  wajahmu terlihat berseri-seri. Dan jujur aku muak. Bahkan kekasihmu itu jarang sekali pulang. Hanya janji palsu yang diberikan padamu.
            “Namanya Pram. Dia sangat tampan. Besok aku akan ajak dia ke sini.”
            “Aku ingin kalian saling kenal. Karena kau adalah teman baikku,” ucapmu sambil bersandar di bahuku.
            “Kalian, pasti akan cepat akrab. Aku yakin.”
            “Benarkah?” Aku menatapmu tajam.
            Kamu mengangguk pasti.
            Keesokan harinya, kamu benar-benar datang bersama pria yang kamu  sebut bernama Pram. Aku cukup terperangah ketika kamu dan kekasihmu mendekat dan menyapaku. Kekasihmu tak seperti yang kamu katakan. Namanya Pramira. Aku merasa tertipu.
            Mungkin inilah alasan dari selentingan warga yang pernah kudengar ketika kamu dan kekasihmu mampir ke tempatku. Percintaan dua insan yang dilaknat. Cinta dua jenis kelamin yang menyalahi aturan adat maupun agama. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu mengagungkanmu hingga tak bisa menyalahkan akan pilihanmu  itu. Pilihan yang membuatku sengsara.
            Setiap detik setiap menit, aku harus merasakan sakit ketika melihat kamu dan kekasihmu berdua bermesraan di depan mataku. Sedang aku hanya bisa menonton dengan bisu memendam segala sakit di dalam rongga jantungku. Andai aku bisa ingin rasanya aku berteriak menghentikan kegilaanmu dan kekasihmu yang tengah dimabuk cinta itu.
            Ingin aku bilang. “Hentikan. Pergi dari hadapanku.” Namun, bibir ini kelu. Aku tak sanggup melakukannya dan terus membiarkanmu tetap di sana. Meski aku terus mendesah. Perih.
            Hingga pada suatu massa, kamu datang dengan terisak. Menceritakan dengan terpatah-patah akan kepergian kekasihmu yang begitu tiba-tiba.
            “Tapi dia akan kembali,” ucapmu melepasan diri dari pelukanku.
            “Kau percaya? Lalu kenapa kau menangis tadi?” tanyaku tak mengerti.
            “Ya, tentu aku percaya padanya.” kamu menatapku.
            “Lalu kenapa tadi menangis?” tanyaku lagi.
            “Tentu saja karena aku sedih. Aku akan lama tak bertemu dengannya.”
            “Jadi begitu?”
            “Em. Karena itu aku akan menunggunya hingga pulang. Maukah kau menunggu bersamaku?” pintamu  dengan sungguh-sungguh.
            Hal yang paling gila aku lakukan adalah mengangguk karena permintaamu. Yah, hal itu membuatku harus tetap di sini hingga sekarang ini tanpa tahu kabar yang pasti akan kepulangan kekasihmu. Terpaku di bumi hingga retak kering tak terurus lagi.
            Kamu dan aku terus menunggu. Meski waktu terus berjalan hingga melumat dan membunuh kamu dan aku yang dilanda lelah dan rindu.  Bersama dari waktu ke waktu. Dari musim hujan hingga kemarau kembali datang.
            Kutatap kamu yang tengah menggigit bibir, menunggu sang kekasih yang tak kunjung menginjakkan kaki di bumi, membuatmu resah. Sedang aku selalu menunggumu  untuk menatapku barang sebentar merasakan kasih yang telah kutanam sejak dulu. Namun, bagimu hanya nama Pram—kekasihmu yang terukir indah dalam memorimu. Aku menarik napas. Entah sampai kapan aku dan kamu akan seperti ini. Menjadi sang penunggu. Kamu semakin kurus kering dan aku pun sama, mungkin sebentar lagi aku tak lagi bisa menunggu bersamamu. Daunku sudah mulai berguruguran dan mengering.  Harusnya kamu sadar. Karena baik aku dan kamu tahu bahwa kekasihmu tak mungkin kembali. Kekasihmu telah dieksekusi ayahmu bertahun-tahun lalu. Saat hubungan sejenis kalian diketahui khalayak umum. Saat kamu pertama kali datang menangis padaku bahwa kekasihmu pergi. Menangis di bawah rindangku yang kini telah luruh
.
*Kazuhana El Ratna Mida, nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi bersama. Antara lain  Ramadhan in Love, Ngeborong Pahala, Yuk!—Indiva, kumpulan puisi Luka-Luka Bangsa—PMU, Lot & Purple Hole—Elex Media Kompuntindo. Cerpennya pernah dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu Pagi dan resensinya pernah dimuat di Radar Sampit. Menghabiskan masa belajar di yayasan Hasyim Asy’ari Bangsri  sejak Mts hingga MA. Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura.