Sunday, 25 October 2015

[Artikel] Rahasia Manfaat ASI Untuk Anak


ilustrasi (al-jazirahonline.com)
Pemberian ASI (Air Susu Ibu) setelah bayi dilahirkan sampai bayi berusia dua tahun merupakan fondasi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. ASI merupakan makanan terlengkap bagi anak yang memenuhi syarat-syarat keselamatan dan kesehatan. Karena itu, seorang ibu hendaknya menyusui anaknya dari air susunya. Para dokter sepakat, cara yang terbaik dalam memberikan makanan pada bayi usia 0-2 tahun pertama adalah dengan memberikan ASI secara alami.[1]
ASI memiliki manfaat, kelebihan dan keutamaan dibandingkan minuman atau makanan lainnya. Membiasakan memberikan ASI sejak dini pada anak juga menjadi bukti rasa sayang orang tua kepada anak. Bisa dikatakan, memberikan ASI merupakan perkenalan hingga menimbulkan ikatan batin antara ibu dan anak.
Air susu ibu juga memiliki dampak terbaik dalam tumbuh kembang pada jasmani dan ruhani anak. Memberikan potensi, kemampuan spiritual, dan kejiwaan pada anak. Anak yang mendapat ASI pasti merasakan kasih sayang ibunya dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI atau diberikan susu formula.
Dalam Islam, pemberian ASI dijelaskan sebagai jalan menularkan karakter watak ibu pada anak. Malalui menyusui ada kontak batin dan fisik antara ibu dan anak. Secara tidak langsung, hal itu merupakan bimbingan dan pendidikan dari ibu kepada anak. Inilah pentingntya seorang ibu memberikan ASI pada anaknya.
Proses pemberian ASI pada anak dilakukan setelah dilahirkan hingga berusia lengkap dua tahun. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam firman Allah,
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Baqarah [2]: 233)
Ditinjau dari sisi kesehatan, ASI memang memiliki kelebihan. Dr. E. Oswari. DPH, merinci kelebihan ASI antara lain: mengandung zat penangkis beberapa penyakit. Seperti campak, dan bebas hama. Jika langsung diminum secara mentah dan segar mengandung zat Laktoferin yang mengikat unsur besi. Sehingga selama di usus tidak ada zat besi yang hilang.[2]
Jadi, jangan mudah memberikan susu formula yang saat ini marak dijual di mana-mana ketika usia anak masih dini. Walaupun sangat sibuk, sebaiknya seorang ibu harus tetap memberikan ASI langsung. Karena ASI adalah menu utama yang sangat baik untuk tumbuh kembang bayi.
Manfaat lain dalam pemberian ASI sejak usia 0-2 tahun pada bayi adalah:
    • 1. Mencerdaskan anak
Anak yang mendapat asupan ASI lebih cerdas dari anak yang mendapatkan susu formula.
    • 2. Lebih sehat
Ini seperti yang disampaikan Dr. E. Oswari. DPH, air susu ibu bisa menghidarkan banyak penyakit dari anak.
    • 3. Terhindar dari penyakit
Karena air susu ibu mengandung antibodi terhadap penyakit.
    • 4. ASI sebagai nutrisi
ASI adalah makanan terlengkap dengan porsi seimbang untuk bayi yang mengandung zat gizi untuk enam bulan pertama.
  • 5. Membantu perkembangan motorik anak sehingga bisa cepat berjalan
  • 6. Bukti kasih sayang
  • 7. Mencegah alergi
Jadi, apakah masih ada keraguan dalam diri seorang ibu sehingga tidak ingin memberikan ASI? Padahal memberi ASI adalah pilihan terbaik untuk anak. Sesibuk apa pun seorang ibu, harusnya lebih peduli pada anak. Kesibukan bisa disiasati dengan menyimpan susu di lemari es atau menyusi ketika waktu istirahat daripada harus memberikan susu formula. [Kazuhana El Ratna Mida/Bersamadakwah]
Catatan kaki:
[1] Adil Fathi Abdillah, Menjadi Ibu Dambaan Umat, Gema Insani Press, Jakarta, 2002 Hal.23
[2] Dr. E. Oswari DPH, Perawatan Ibu Hamil dan Bayi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1990. Hal.98-99
Editor: Pirman Bahagia
Re-Post Artikel saya yang dimuat di Bersamadakwah. Atau bisa dibaca di http://bersamadakwah.net/rahasia-manfaat-asi-untuk-anak/

Thursday, 22 October 2015

[Cerpen] Muharam


[Dimuat di Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group. Edisi, Minggu 18 Oktober 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida

Mata tajam itu terus menatap. Penuh kesal. Sesekali menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Bocah cilek dikandani wongtuo kok gak nurut. Cerutunya mengepulkan asap.

Pokokke bapak orak setuju. Tatapannya berkilat. Eleng, Mid. Pamali gegawean sasi suro.

Khamid hanya diam bergelut dengan  hatinya. Dia harus mencari cara yang baik untuk menjelaskan perihal mitos dan bidah yang seharusnya tidak diimani itu. Agar tidak menyinggung bapaknya. Muharam itu bulan berkah.

~*~

            Khamid menghela napas. Tidak habis pikir saja. Entah kenapa hal-hal yang berbau mistis dan konyol itu disangkut pautkan dengan bulan Muharam—kalau orang Jawa menyebutnya Suro. Diidentikkan dengan bulan yang penuh bencana, kesialan dan musibah. Sehingga warga harus mengantisipasinya dengan ruwatan—pembersihan. Harus mencuci gaman misalnya. Atau tolak balak. Yah, kalau tolak balak dengan cara sesuai syariat sih tidak masalah. Tapi, kenyataan yang ada ke-bid’ah-an yang lebih meraja. Bahkan mendekati syirik. Ah, apakah itu boleh?

            Belum lagi masalah kesialan tentang acara walimah yang dilarang di bulan Muharam—khususnya daerah Jepara. Pamali katanya. Kalau tetap nekat juga, bisa jadi biduk rumah tangganya tidak akan tentram. Atau ..., salah satu bahkan dua mempelai meninggal dunia. Konyol sekali. Itulah yang ada di kepala Khamid. Kenapa harus menyalahkan bulan Muharam? Bencana atau musibah ada itu ya karena memang sudah ketentuan Allah. Bukan karena waktu apalagi disangkutkan bulan yang membawa kesialan.

            Muharam itu bulan berkah. Itulah yang diyakini Khamid. Sebagaimana yang diterangkan gurunya ketika nyantri.

            “Satu tahun itu ada 12 bulan. Ada empat bulan mulia dalam penanggalan hijriah. Yaitu; Zul Qa’dah, Dzul Hijjan, Muharram dan Rajab. Kita harus mengisi bulan-bulan itu dengan memperbanyak amalan ibadah. Seperti puasa  sedekah dan menyantuni anak yatim.”

            “Sudah, Mid. Anut bapakmu ae. Jangan mencari perkara.” Bu Pingit—ibu Khamid menepuk pundak putra keduanya. Membuyarkan segala lamunan yang sedari tadi menjajah.

            “Tapi, Bu—,” Khamid tidak meneruskan ucapannya. Pandangannya tertubruk raut wajah sang ibu yang begitu cemas.

            “Mid, tunggulah sampai bulan sapar. Bisakan?” Bu Pingit menatap Khamid dengan lekat. “Kamu ini tiba-tiba ingin menikah. Apa kamu—,” Nyi Pingit lidahnya terasa kelu.

            “Astagfirullah hal adzim, Bu. Khamid masih punya iman. Apa gunanya mondok kalau akhlak tetap seperti hewan.”

            “Yo wes, nunggu sampai sapar tidak jadi masalah, kan? Kenapa harus buru-buru ingin menikah di bulan suro ini. Seperti tidak ada bulan yang lain.”

            “Khamid hanya ingin menjalankan sunnah Nabi, Bu. Kalau sudah mampu kenapa harus ditunda-tunda?”

            Brak!

            Meja dipukul dengan keras, membuat Khamid dan Bu Pingit kaget dan menatap asal suara. Pak Karno—bapaknya Khamid menatap bulat-bulat pada putranya itu. sedari tadi dinasihati ternyata tidak mempan juga.

            “Koe iki arep dadi opo to, Mid. Dikandani wongtua kok gak gelem gugu. Gunane kue mondok iku opo?” Pak Karno membetulkan letak kacamatanya. Khamid hanya diam sambil menunduk.

            Khamid memilih mengalah. Meninggalkan bapaknya. Dia butuh ketenangan, begitupun sang bapak. Kalau dia ikut ngotot maka yang ada hanyalah debat kusir yang tidak akan ada jalan keluar. Khamid memegang keningnya beberapa kali. Berpikir. Mencari solusi yang terbaik. Dia harus memberikan pengertian agar bapaknya yang memang masih memegang teguh adat jawa itu tidak tersinggung.

~*~

            Bukan tanpa alasan kenapa tiba-tiba Khamid ingin segera melamar Ningsih—gadis lembut yang dikenalnya ketika mondok dulu.  Dia tidak mau perasaannya itu berbuah fitnah jika tidak segera menghalalkannya dalam ikatan pernikahan. Lagipula, kata Nabi Muhammad kalau memang sudah mampu maka bersegerahlah untuk menjalankan sunnah itu. Apalagi dia pun sudah bisa dibilang mapan untuk masalah keuangan. Profesinya sebagai guru cukuplah untuk biaya pernikahan. Kenapa niat sucinya harus terhalang karena mitos yang tidak sahih itu?

            Khamid tidak habis pikir. Namun pada kenyataan yang ada kuatnya adat jawa yang dipegang sang bapak  memang menjadi ganjalan untuk menuju surga karena Allah. Dan dia harus menjelaskan duduk perkara agar bapaknya mengerti. Bahwa menikah di bulan Muharam bukanlah kesialan atau bencana. Tapi anugerah. Karena bulan itu sejatinya bulan pilihan yang istimewa.

            “Kamu itu sungguh keras kepala, Mid.” Pak Karno mengepulkan asap dari mulut. Menatap Khamid yang sepertinya belum menyerah soal permintaannya untuk melamarkan Ningsih.

            “Kowe ngerti rak ...,” Pak Karno kembali menghisap cerutu itu. Masih menatap lekat.

            Khamid hanya mendengarkan dengan diam. Dia harus sabar. Yah, lagi-lagi cerita dongeng tentang masalah bulan Muharram akan kembali didengar. Kali ini bapaknya menceritakan tentang Isah—tetangga yang akhirnya meninggal ketika  dinikahahkan di bulan Muharram. Lalu sang ibu ikut menceritakan tentang Kang Soleh yang rumah tangganya tidak tentram karena dulu juga tidak mau menuruti nasihat orangtua. Percekcokan sering terdengar dan kabar terakhir katanya Kang Soleh selingkuh dan istrinya meminta cerai.

            “Kamu ingin mengulang kejadian yang sama? Menjadi anak durhaka?”

            “Bukan begitu, Pak, Bu. Kalau menurut Khamid semua itu bukan karena bulan Muharam, tapi memang sudah takdir dari Allah. Kebetulan saja terjadi di bulan itu.” Khamid menjelaskan dengan lembut. Khamid menghela napas. “Bukannya mau mengurui, Pak.” Kini dia menatap ibu dan bapaknya bergantian. “Khamid hanya takut pada Allah dan berserah pada-Nya,” lanjutnya.

            “Kalau dalam kitab-kitab yang dulu Khamid pelajari tidak pernah menyebutkan larangan untuk menikah di bulan Muharam atau keharusan memandikan gaman.” Khamid menarik napas sambil melirik bapaknya yang terlihat berang. “Di Al-Quran juga tidak menjelaskan masalah itu. Nabi pun tidak pernah mencontohkan. Hal ini malah menjadi bi’dah yang tidak baik.”

            “Kepercayaan tinggi dari warga sendirilah yang sejatinya membuat segala kejadian seperti yang diberitakan. Semua hanya sugesti.” Khamid menarik napas. “Selama ini Bapak yang mengajari Khamid belajar mengaji, mengkaji berbagai ilmu. Bukankah dulu Bapak pernah bilang, kita boleh melakukan ritual sebagaimana adat jawa yang ada, tapi jangan sampai mengimaninya dan berbuah syirik.”

            Pak Karno menatap putranya. Lekat. Lalu menarik napas panjang. Putranya ini semakin pintar dalam bermain kata. Memahami berbagai ilmu dan budaya dalam sudut pandang yang berbeda. Dadanya bergemuruh. Matanya berkaca-kaca. Bu Pingit pun merasakan hal sama. Apa yang dikatakaan putranya memang benar. Mereka saya yang terlalu ngotot dengan adat budaya yang sudah menjalar sejak zaman dulu.

            “Yo wes. Kalau itu memang keputusanmu bapak maupun ibu sudah tidak bisa menghalangi niatmu. Bapak manut. Semoga segala urusan dimudahkan oleh Allah.” Khamid bernapas lega tidak lupa mengamini doa bapaknya.

~*~

            Suara adzan Magrib menggema dan panggilan Ningsih membuyarkaan Khamid dari kisah masa lalu. Kejadian satu tahun silam. Kini Muharam  telah menyapa lagi. Dia masih bersama Ningsih ditambah Nilam gadis kecilnya. Hanya Allah-lah yang patut dipercaya, bukan berbagai mitos yang meraja, hingga takut mengambil langkah.


Srobyong, 8 Oktober 2015

*Alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara

[Resensi] Belajar Arti Keluarga, Persahabatan dan Cinta





Judul               : Perfect Scenario
Penulis             : Kezia Evi Wiadji
Penerbit           : Gramedia Pustka Utama
Cetakan           : Pertama
Tahun              :  September, 2015
Tebal               : 280 hlm
Harga              : Rp. 55.000,-
ISBN               : 978-602-03-2088-5 


Jangan menilai sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang pribadi. Cobalah menyelami, menyelidiki terlebih dahulu apakah yang dilakukan itu baik atau buruk, baru memutuskan. Jangan suka menghukumi sesuka hati mengedepakan ego sehingga membuat rencana konyol untuk menghancurkan menggagalkan apa yang tidak disukai.

Novel ini menceritakaan tentang Farel yang tiba-tiba memaksa Finda untuk menjadi pacarnya. Hal yang sangat aneh dilakukan seorang Farel karena semua orang tahu, bahwa Farel dan Finda adalah musuh bebuyutan. Finda tentu saja menolak mentah-mentah usulan Farel sampai, anak laki-laki itu mengungkap rahasia di balik dia memaksa Finda untuk setuju. (halaman 16) Awalnya Finda tentu tidak percaya begitu saja. Tapi ketika melihat ibunya yang sibuk menyiapkan makan malam dan bilang akan menggundang Om Tonny, Finda mulai menyadari Farel tidak berbohong.  Orangtua mereka akan menikah. Scenario itu pun akhirnya Finda setujui.

Untuk mendukung sempurna ide ini, Farel sampai rela memutuskan pacarnya, Novi yang merupakan primadona sekolah. (halaman 30-31) Dan Finda harus rela memendam perasaannya yang sejak awal menyukai Niko, sahabat Farel. Tapi tentu semua tidak akan berjalan semudah itu. Karena Novi tidak ingin diputus dan Niko yang malah mulai gencar mendekati Finda. Belum lagi orangtua Farel dan Finda malah menganggap kedekatan mereka adalah karena akan menjadi saudara.

Farel bingung bagaimana membuat Novi percaya padanya. Finda pun tidak ingin menyianyiakan kesempatan ketika Niko mulai mendekatinya. Jadilah Finda dan Niko berkencan diam-diam. Padahal sejak awal selama mereka(baca Farel dan Finda) pura-pura menjadi pacar, mereka sepakat membuat larangan untuk dekat dengan cowok atau cewek yang lain.

Marah dan merasa dihianati itulah yang Farel rasakan ketika pada suatu waktu mereka tidak sengaja bertemu tanpa sengaja di sebuah bioskop. Apalagi ketika mendengar dengan jantan Niko mengakui memiliki perasaan pada Finda esok harinya di sekolah. (halaman 116). Entah kenapa Farel meresa kesal sekali mendengar pengakuan sahabatnya itu.

Sampai kejadian di Lembang membuat semuanya jungkir balik. Perasaan Farel juga perasaan Finda. Belum lagi ada teror yang membuat Finda ketakutan. Entah apa yang sebenarnya  yang telah terjadi setelah dari Lembang. Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya scenario yang Farel dan Finda lakukan untuk membatalkan pernikahan orangtua mereka, temukan jawabnya dengan membaca sendiri.

Ada beberapa kalimat yang bagus dalam novel ini. Cinta membuat orang buruk menjadi baik juga sebaliknya, membuat orang baik menjadi buruk. Semua tergantung pada tujuan kita mencintai. (halaman 263)  dan juga, Jika kamu berpikir selama ini merasa telah mengenal baik seseorang, namun pada akhirnya kamu tidak benar-benar mengenal orang itu. (halaman 263)

Novel dengan tema yang sederhana, tapi diramu dengan apik. Cerita yang meremaja dan, mengasyikkan. Keluarga, cinta dan persahabatan dengan berbagai konflik. Bahasanya mengalir dan renyah. Mengajarkan tentang arti keluarga. Bahwa orang tua itu tidak bisa memaksakan kehendak. Pun dengan seorang anak tidak bisa menghakimi sendiri. Dalam keluarga memang butuh komunikasi. Ada juga pesan lain yang tersirat. Bahwa jangan suka menuduh seseorang tanpa adanya bukti yang nyata. Jangan berlebihan dalam membenci juga mencintai.  Walau endingnya mudah ditebak, tapi tetap asyik untuk dinikmati. Karena akan ada kejutan yang tidak terduga dalam novel ini. Seperti alasan sebenarnya Farel yang memaksa Finda untuk memanikan scenario pacara bohongan agar orangtua mereka tidak menikah. Recomended untuk dinikmati.

[Kazuhana El Ratna Mida, Penyuka buku dan literasi, Jepara]



 [Dimuat di Radar Sampit. Edisi, Minggu, 18 Oktober 2015]
                                 

Wednesday, 21 October 2015

[Artikel] Kejujuran dan Kesabaran Berbuah Keindahan


ilustrasi Pernikahan @ilanakulakova
Aku pernah mendengarnya—ketika dulu kakekku sering bercerita dalam kuliah Subuh. Kisah yang selalu kusukai, karena begitu menggetarkan hati dan patut diteladani.
Ini tentang kisah seoarang pemuda yang jujur dan selalu mencari kehalalan dalam tiap makanan yang ditelan. Namanya Idris. Suatau waaktu dia tengah berjalan di sekitar sungai. Kala itu, dia merasa haus. Lalu dia pun mengambil air dan meminumnya. Tak lupa berucap syukur pada Allah yang pemiliki segalanya. “Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberi nikmat minum.”
Sebentar kemudian, dia melihat sesuatu yang mengapung di atas air. Idris pun mengambilnya, berpikir itu adalah rezeki yang Allah berikan padanya. Tanpa ragu, Idris memakan buah delima itu. Setelah beberapa kali gigitan—tepatnya setengah buah dia makan, Idris tersadar akan sesuatu.
“Astagfirullahal ‘adhim. Kalau ada buah jatuh di sekitar sungai ini, pastinya ada seseorang yang memiliki. Tidak mungkin buah ini turun sendirinya dari langit,” ucap Idris berspekulasi.
“Ya, aku harus mencari tahu siapa pemiliki pohon buah delima ini. aku harus menghalalkan makanan yang masuk ke perutuku agar tak berubah menjadi api.” Tiba-tiba Idris teringat pesan sang guru agar selalu menjaga apa yang masuk ke perutnya agar senantiasa diisi dengan hal-hal yang halal.
Lalu Idris pun menyusuri sungai sepanjang hari, mencari dari mana buah ini jatuh hingga sampai di aliran sungai. Dan benar saja, setelah menyusuri sungai itu, dia melihat ada sebuah kebun delima yang sangat lebat. Pasti buah itu dari sana.
Idris mengamati dan mencocokkan dengan buah yang tadi ditemukannya.
Idris pun segera melangkah memberanikan diri menuju tempat itu. Dia harus meminta maaf karena telah memakan buah orang itu tanpa izin.
“Maaf, Pak. Saya telah memakan sebagian buah delima bapak tanpa izin. Tolong berilah keikhlasan agar apa yang tadi saya makan berbuah halal.” Idris tanpa ragu langsung mengutarakan maksudnya.
Pemilik kebun melihat Idris dari atas hingga bawah. Bertanya-tanya siapakah pemuda yang begitu aneh ini; datang-datang meminta maaf tanpa si pemilik tahu ke mana arah pembicaraannya.
“Apakah yang membuat kamu meminta maaf pada saya, Nak?” si pemilik kebun pun bertanya setengah penasaran pada Idris.
Idris pun menceritakan semua kejadian yang ada tanpa mengurangi atau menambahi. Si pemiliki kebun merasa takjub dengan akhlak yang dimiliki pemuda di depannya itu.Masya Allah…
Aku tidak pernah melihat pemuda seperti ini. Kalau biasanya, banyak orang yang lebih mudah melupakan tanpa harus susah-susah meminta maaf. Pemuda ini malah sebaliknya.
Idris yang melihat pemilik kebun hanya diam saja, tiba-tiba merasa takut dan khawatir.Apakah perbuatannya akan dimaafkan atau tidak.
Si pemilik kebun menghela napas, makin membuat Idris khawatir dan was-was.
“Begini, anakku. Aku bisa saja memaafkanmu. Namun, kau harus memenuhi terlebih dahulu syarat yang aku ajukan,” ucap si pemilik kebun agak sangar.
“Baiklah, Pak. Saya terima semua syarat yang akan bapak ajukan. Asalkan bapak mengikhlasakan perbuatan yang telah saya lakukan.” Idris yakin.
Si pemilik kebun pun menjelaskan syaratnya. Ia meminta Idris untuk menikahi putrinya yang tuli, bisu, buta dan lumpuh.
Seketika Idris terhenyak. Ya Allah apakah ini memang jalan satu-satunya. Apakah ini adil dengan segala perbuatan yang telah dilakukannya? Idris nampak berpikir keras. Menimbang-nimbang tawaran yang diajukan.
“Nah, itulah syarat dariku, Nak. Bagaimana?” tanya si pemilik kebun setengah memaksa.
“Baiklah, Pak. Saya menerimanya asal apa yang tadi saya lakukan mendapat pemaafan.”
Mendengar penuturan Idris, si pemilik kebun tersenyum dan berkata, “Baiklah, aku ikhlaskan segala perbuatanmu dan kuharap kau pun ikhlas dengan persyaratanku.”
“Saya ikhlas, Pak.” Idris mengulurkan tangan untuk saling berjabatan.
“Baiklah, sebelum kau menikahi putriku, alangkah baiknya kau menemuinya terlebih dahulu,” perintah si pemilik kebun lembut.
Idris berjalan menuju ruang tengah yang tadi diberitahukan si pememilik kebun. Ada perasaan was-was yang sejatinya masih menghinggapi diri Idris. Dia mendorong pintu dengan sedikit kaku sambil menahan detak jantungnya sendiri. “Kira-kira bagaimana calon istrinya yang tuli, buta, lumpuh dan bisu?”
Namun, di sana Idris tak menemukan kriteria yang disampaikan si pemilik kebun. Yang ada hanyalah seorang wanita cantik jelita yang sedang merenda. Idris pun bingung dan kembali kepada si pemilik kebun untuk bertanya. Dia menceritakan bahwa tak ada seseorang yang dikatakan si pemilik kebun.
“Ya, dialah calon istrimu,” terang si pemilik kebun.
“Tapi, bukankah kata bapak calon istriku seorang yang buta, tuli, lumpuh dan bisu?” Idris sedikit bingung.
“Dan yang di sana adalah wanita cantik jelita,” jantung Idris berdetak kencang.
Si pemilik kebun tersenyum, lantas menjawab, “Begini anakku. Dia memang buta; buta akan kemaksiatan. Dia memang tuli; tuli dari segala hal yang menimbulkan murka Allah. Dia memang bisu; bisu karena tak pernah berbicara yang menimbulkan fitnah dan tidak ada gunanya, tidak berghibah atau memaki. Dia memang lumpuh; karena dia tak pernah pergi ke tempat yang tak diridhai Allah. Tak pernah ke tempat maksiat, tempat para setan berada.”
“Itulah yang kumaksud buta, tuli, bisu dan lumpuh. Karena dia tak pernah berkumpul dengan segala maksiat. Dan kupikir, kaulah yang paling pantas dijadikan pasangan untuknya. Karena kau adalah pemuda yang mampu menjaga diri dari segala hal yang yang berkaitan dengan dosa, haram dan kemaksiatan.”
Mereka pun akhirnya dinikahkan. Pernikahan yang begitu indah karena berhasrat akan keridhaan Allah Ta’ala. Maka dari rahim itu—Fathimah al-Azdiyyah—istri Idris bin ‘Abbas, (masih memiliki silsilah sebagai kerabat Rasulullah) lahirlah imam Syafi’i—Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī—seorang ulama besar yang pendiri madzhab Syafi’i. Beliau lahir dari orangtua yang begitu suci.
Itulah buah kesabaran dan kejujuran dari seorang ayah dari ulama besar, dan sang ibu yang selalu menjaga kesucian diri. Hingga segala doa yang diminta, insya Allah dikabulkan Ilahi, yaitu memiliki anak shaleh nan berbakti. [Kazuhana El Ratna Mida/Bersamadakwah.net]
Srobyong, 5 Mei 2015
Editor: Pirman Bahagia
Re-Post dari artikel saya yang pernah dimuat di web bersamadakwah. Atau kunjungi langsung ke http://bersamadakwah.net/kejujuran-dan-kesabaran-berbuah-keindahan/

[Artikel] Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan


www.nytimes.com
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad. Al-Qur’an juga satu-satunya mukjizat yang bertahan hingga sekarang. Selain sebagai sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat, al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak pernah mati. Jika dicermati, kebanyakan ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang, sejatinya telah Allah tuliskan dalam al-Qur’an.
Ayat al-Qur’an yang pertama kali turun menunjukkan dasar ilmu pengetahuan adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1]. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. al-‘Alaq: 1-5)
Dalam ayat ini, kita dianjurkan untuk belajar melalui baca-tulis, mengkaji ilmu yang ada dalam al-Qur’an, meneliti lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang sudah Allah ajarkan dalam al-Qur’an.
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(Qs. Az-Zumar: 9)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mujadalah: 11)
Kedua ayat di atas menunjukkan pentingnya seseorang untuk memiliki ilmu pengetahuan.
Jika kita cermati, dengan membaca al-Qur’an, maka akan kita menemukan banyak ilmu pengetahuan tentang alam semesta yang tak terkira.
Sebuah contoh, dalam surat Yunus ayat 5 yang menjelaskan tentang ilmu falak atau perbintangan.
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan oleh-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[2]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Yunus: 5)
Lalu di dalam surat Yasin,
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[3]. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin: 38-40)
Bukti lain tentang al-Qur’an sebagai dasar ilmu pengetahuan adalah surat an-Nahl ayat 66 tentang ilmu hewan:
“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”(Qs. an-Nahl: 66)
Atau dalam surat ar-Ra’d ayat 4 yang menjelaskan ilmu tumbuhan:

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”
 (Qs. ar-Ra’d: 4)
Lalu tentang ilmu bumi dan ilmu alam,
“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).” (Qs Qaf: 7-8)
Dan surat Saba’ ayat 18,
“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman[4].” (Qs. Saba’: 18)
Jelas bukan, bahwa sejatinya al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengatahuan yang pertama kali. Pada masa berkembangnya Islam dulu, banyak para pakar muslim yang menjadi orang hebat karena selalu berpegang teguh pada al-Qur’an. Misalnya pada masa Islam masuk di Andaluisia (Spanyol) kita mengatahui:
1. Abbas bin Farmas sebagai ahli ilmu kimia dan astronomi. Dia adalah penemu pertama pembuatan kaca dari batu.
2. Ibrahim bin Yahya al-Naqqas terkenal dalam ilmu astronomi. Ilmu yang dapat mengetahui terjadinya gerhana matahari atau bulan dan dapat pula mengetahui lama waktu terjadinya gerhana tersebut. Ibrahim bin Yahya menemukan teropong modern yang dapat mengetahui jarak anatara tata surya dan bintang-bintang lain.
3. Ahmad bin Ibas dari Cardova ahli dalam bidang obat-obatan.
4. Umm al-Hasan binti Abu Ja’far dan al-Hafidz dua orang wanita ahli kedokteran.
5. Ibun Batuthah dari Tangier, Maroko ahli geografi
6. Dan banyak lagi para ilmuan Islam yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Kita mengatahui saat itu kaum Muslimin masih sangat memegang teguh al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan. Kejaayaan Islam dan para pemikir Islam ini tentu mengundang pertanyaan dari para cendiakawan Eropa. Mereka penasaran dan mulai mempelajari bahasa Arab agar bisa menerjemahkan buku-buku karangan umat Islam.
Bahkan para pemuda-pemuda kristen Eropa juga mulai belajar di universitas-uversitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Sevile, Malaga, Granada dan Salamance.
Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku ilmiah karya para sarjana Muslim. Pusat pemerintah berada di Toledo. Setelah pulang ke negaranya masing-masing, mereka mengajarkan ilmu yang didapat kepada pelajar di Eropa.
Mahabesar Allah dengan segala Kebesaran-Nya. Semua penjelasan tentang pengetahuan bisa kita dapat dalam al-Qur’an, andai kita mau memerhatikan dan mencerna lebih dalam atas ayat-ayat yang diturunkan. Bahkan bangsa Eropa sebelum semaju sekarang mengakui kebesaran umat Islam dan al-Qur’an. [Kazuhana El Ratna Mida/Bersamadakwah]
Keterangan :
[1] Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis-baca.
[2] Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
[3] Bulan-bulan itu pada awal bulan kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.
[4] Yang dimaksud dengan negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya ialah negeri yang berada di Syam karena kesuburannya, dan negeri- negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir, dan tanpa mendapat kesulitan.
Berbagai Sumber (Srobyong, 11 Mei 2015)
Editor: Pirman Bahagia
Re-Post dari artikel saya yang pernah dimuat di web bersamadakwah. Atau kunjungi langsung ke http://bersamadakwah.net/al-quran-sebagai-sumber-ilmu-pengetahuan/