Tuesday, 29 September 2015

[Resensi] Menguak Rahasia Tragedi Tambora




Judul               : Tambora : Ketika Bumi Meledak 1815
Penulis             : Agus Sumbogo
Penerbit           : Exchange
Cetakan           : Cetakan 1 Juli 2015
Tebal               :  347 halaman
Harga              : Rp. 65.000
ISBN               : 978-602-72024-8-1

Tambora ..., sebagian orang pasti tidak asing dengan kata ini. Sebuah nama gunung yang terletak di Nusa Tenggara Barat. Dimana Tambora memiliki sejara panjang yang selalu diingat dengan kedasyatannya. Karena efek fenomena alam itu tidak hanya mempengaruhi Negara Indonesia tapi penjuru dunia. melenyapkan tiga Kesultanan yaitu Kesultana Tambora, Kesultanan Sanggar dan kesultanan Pekat. Bahkan Pasukan kavaleri Napoleon dari Prancis pun menjadi takluk atas Inggris dan Prusia. Musim dunia berubah. Di Amerika Utara banyak petani yang ingin bunuh diri karena gagal panen. Sebagian penduduk dunia mengalamai krisis sosial dan paceklik panjang. Dan di Eropa musim salju berlangsung berkepanjangan sehingga mereka menyebut masa itu the year without summer.

Novel ini berkisah tentang penemuan Lesly, seorang mahasiswa arkelog dari Universitas Rhode Island—Amerika, yang akan membawa mereka ke Indonesia. Semua bermula dari rasa penasaran yang dimiliki Lesly pada kesibukan ayahnya, Profesor Thomas yang selalu mengurung diri di  museum pribadinya. Setiap ayahnya di sana Lesly melihat keanehan yang terjadi.  Lesly pun diam-diam menyusup dan seperti dugaannya di sana dia menemukan benda yang sangat hebat. Benda yang mungkin memilki nilai jual tinggi juga nilah sejarah yang tidak ada tandingannya. Benda itu adalah kopiah emas dan tenggkorak kepala manusia.

Ajaibnya benda itu ketika dia memasangkan kopiah emas pada tengkorang kepala manusia, ternyata menimbukkan efek yang luar biasa. Sebuah cahaya putih kekuning-kuningan, berputar-putra dan membesar.  Dan dalam pusaran cahaya itu muncul samar-sama sosok wajah misterius yang menatao Lesly  dan berbicara, “Kembalikan barang itu kepada yang berhak! Kembalikan!” (halaman 18) “Nanti kamu akan mendapat imbalan. Sebuah rahasia nanti akan kamu ketahui. Rahasia di balik meletusnya Tambora yang sudah terpendam selama hampir dua ratus tahun lamanya.” (halaman 27)

Tahun 2004 Lesly tahu ayahnya  pernah ikut ekspedisi penggalian tiga kesultanan yang terkubur oleh abu dan Lahar Tambora. Namun, proyek itu berhenti di tengah jalan. Siapa sangka dari ekspedisi itu ayahnya menyimpan benda langka. Lesly yakin, tengkorang kepala manusia dan kopiah emas itu ada hubungannya  dengan letusan Tambora 1815 silam. Bersama seorang teman yang bernama Jeff, Lesly pun meminta izin pada profesor Thomas untuk mengembalikan peninggalan itu.  Yang ternyata bertepatan dengan peringata dua abad meletusnya Tambora tanggal 10 dan 11 April 2015.

Perjalanan pun dimulai. Pada langkah awal mereka pergi ke Bali untuk bertemu Pak Made, sahabat Profesor Thomas. Di sana Lesly dan Jeff selain bisa menikmati keindahan Bali juga bertemu dengan dengan Wayan dan Uma yang akan mendampingi mereka untuk menyelesaikan misi pengembalian peninggalan itu.  Atau bisa dibilang sebagai misi penggalian misteri begitulah yang dikatakan Lesly. (halaman 55)

Setelah istirahat beberapa hari di Bali, Lesly, Jeff, Uma dan wayan pun memulai perjalanan mereka. Tapi siapa sangka dalam perjalanan dari Bali, mobil yang mereka naiki mogok, cuaca mendadak gelap dan hujan deras muncul. Mereka pun terjebak tidak bisa melanjutkan jalan. (halaman 83)

Namun sebuah cahaya dan suara dari oraang sakti yang sering Lesly dengar menuntun mereka pada sebuah pintu gerbang besar berwarna putih tanpa dinding. (halaman 85) orang sakti itu menyuruh mereka masuk. Dimulai dari sana letusaan Tambora akan terkuak. Mereka berempat terlempar ke zaman silam yang akan memperlihatkan tentang sejarah masa lalu yang tidak terduga. Tentang penderitaan rakyat Sumbawa,  kekejaman Belanda, dan perang saudara yang terlihat nyata. Belanda melakukan siasat adu domba untuk memecah kekerabatan Kesultana Sanggar, Kesultaan Tambora dan Kesultanan Pekat.  Ada juga proses penyebaran Islam dengan adanya seorang Syekh yang dihormati.

Uma, Lesly, Jeff dan Wayan hanya bisa merasa kasihan dan sedih melihat keadaan itu. namun, sayangnya mereka tidak bisa menolong. Mereka hanya bisa melihat kilasan masa lalu sebab terjadinya ledakan Tambora. Perjalanan masih panjang, mereka terus menyusri setiap  potongan-potongan kejadian untuk menemukan sejarah paling spketakuler. Keberhasilan perjalanan mereka  dalam menguak semua sejarah penting masa lalu di Tambora ..., selengkapnya bisa dibaca di sini.
Novel ini selain berisikan sejarah yang luar biasa, juga banyak memberikan banyak  sekali ilmu. Baik ilmu jiwa juga pengetahuan lainnya. Sebagiamana dipetik melalui sikap tokoh di novel ini. Seperti yang diucapkan Wayan, “Di saat kita mengalami kesulitan dan sudah tidak bisa berharap pada pertolongan manusia, saat itulah kita memerlukan Tuhan.  Kita mohon pertunjuk dengan berdoa sesuaai dengan keyakinan kita masing-masing. Kalau Tuhan berkenan, saat itu-lah kita akan ditolong-Nya. ....” ucapan ini mengajarkan untuk saling menghargai antara umat beragama. Juga rasaa pasrah pada Allah.  (halaman 99) Atau tentang sikap peduli dan tenggang rasa.

Ada juga kutipan ucapan Uma yang bisa dijadikan teladan. Bahwa ilmu sangatlah penting untuk dipelajari di mana pun dan sampai kapanpun. Tapi aku harus terus mencari sebab waktu adalah guru dan alam adalah ilmu, sedang aku adalaah murid (halaman 153)  juga sebuah kata yang disebut orang sakti “ Alam Ayat Allah” yang perlu dikaji. Recomenden untuk dibaca untuk membuka wawasan sejarah, ilmu spiritual. Selain sejarah novel ini dibumbui kisah romantis dan pemandangan indah di Indoneisa.  Selamat membaca.

Srobyong, 22 September 2015.

[Ratnani Latifah, Jepara] 

 [Dimuat di Radar Sampit, Edisi; Minggu, 27 September 2015]

                                






Sunday, 27 September 2015

Pelangi di Masa Kecil

Sumber : Google



Masa kecil itu seperti warna pada pelangi. Bermacam-macam dan memiliki kesan mendalam. Masa kecil identik dengan sikap nakal dan suka bermain. Ah, pokoknya begitulah. Dan aku pun mengalaminya. Menjadi anak-anak yang suka melakukan banyak hal sesuka hati.

Foto masa kecil waktu Tk. Dah hampir punah. 


Asal tahu saja .... Sejak kecil aku sudah memiliki dunia sendiri. Dunia imaji yang kuciptakan sendiri. Ah, aku sering tersenyum jika mengingatnya. Tapi sebentar ..., itu aku simpan dulu, ya. Sebelum kuceritakan semua.

Pertama aku ingin membahas hobi bermainku yang super duper tidak ketulungan. Hehh. Habis semua permainan selalu aku coba. Dimulai dari main dakon, ular naga, main rinso—itu lho lompat tali yang dimulai dari tumit hingga kepala. dan juga deng—ini masih dalam area lompat tali. Aku tunjukin gambarnya saja deh. Susah jelasinnya. Dan pada permainan ini aku termasu jagonya. Kenapa? Karena aku tinggi dan bertubuh kecil jadi paling ringan kalau disuruh lompat sana lompat sini.



Selain mencoba permainan itu aku juga gemar main petak umpet, dan kasti. Nah pada permainan kasti ini lho, kaca rumah hampir pecah gara-gara ulahku dan teman-teman. Duh, jeongmal miane—sungguh kami minta maaf. Itu tidak disengaja. ^^ [Pasang senyum tanpa dosa]

Masih ingat jegglong? Nah itu juga sering aku mainkan.  Main wong-wongan dan main kartu [plek] juga jadi hobi. Aku jago banget. Koleksiku sampai satu tas karena selalu menang. Hehhh.


Selain permainan yang memang bisa dimaikan anak laki-laki dan perempuan, aku juga sering ikut permainan yang biasanya hanya dimainkan anak laki-lagi. Misal berdil-bedilan. Atau main ketapel aku kerap memainkannya. Lalu suka memanjat pohon dan  genteng (kalau ini sepertinya kadang masih aku lakukan sampai sekarang) hehhh. Ngaku.

Aku biasanya suka naik pohon jambu air di rumah nenek sama rambutan. Asyik deh bisa bergelantungan sambil menikmati buah di pohonnya langsung. Aku memang tidak bisa diam hingga karena keaktivan itu aku jatuh dan sempat patah tulang. Tapi tentu tidak kapok. Hehh.

Kenapa aku bisa tomboy? Mungkin karena aku lebih sering bermain sama anak laki-laki .Maklum aku tumbuh bersama dengan tiga sepupu kesemuanya laki-laki. Hanya aku yang perempuan. Tapi peduli apa yang penting senang. Kalau pas hanya aku perempuan tentu aku mengikuti permaian sepupuku itu. Tapi jika ada anak perempuan dari tetangga yang ikut main baru deh main yang asyik untuk dinikmati bersama.

Lepas dari permainan yang dilakukan bersama-sama, kadang aku suka main sendiri. Berbicara sendiri seolah aku adalah tokoh utama dari sebuah cerita. Dan tadi sempat aku singgung di atas. Aku punya imaji yang mana jika aku ditanya kembali apa itu maksud 'benayang?' Dan siapa 'Mak De Rapiah Awalini?' Aku hanya bisa mengulum senyum. Bingung jawabnya. Ye ..., itukan cuma imajinasiku yang liar. Hehhh.

Dan kebiasaan suka berimaji tenyata masih tumbuh hingga sekarang. Aku gemar banget mengkhayal untuk menulis cerpen. hheh. Nah ini numpang narisi aku yang sekarang. ^^



Sudah tidak tomboy, sih. Tapi masih suka cuek. Heheh.  

Pelangi cerita masa kecil ini selamanya akan terukir dalam kenangan. Membuat tersenyum dan geleng-geleng kepala jika mengingatnya. 






Pentingnya Sebuah Pulsa



Sumber: Google.


Membiacarakan pulsa  itu ..., seperti membicarakan manusia tanpa nasi. Lho, kok bisa? Ya iya-lah kalau tidak ada nasi manusia akan menjadi lemas. Ingat ketika sedang puasa, kan? Pun dengan pulsa. Kalau pulsa tidak ada, handphone bisa sekarat; gawat. Mati deh. Tidakbisa dibuat apa-apa. Kalaupun bisa hanya untuk mendengarkan musik saja. Padahal setiap hari rasanya selalu butuh untuk internetan. Kalau pulsa tidak ada bagaimana bisa untuk sms?  Sepertinya harus gigit jari. 

Dulu sebelum  pulsa elektrik, bertebaran di mana-mana, aku kalau kehabisan pulsa harus ke  konter. Maklum saat itu belum banyak teman yang jualan. Nah ketika sudah ada, maka tinggal sms minta pulsa. Uangnya bisa besoknya kalau ketemu. Hehh. Praktis, tinggal sms pulsa masuk. Tidak perlu ke sana-ke marin mencari konter. Apalagi kalau sudah tengah malam. Aih ... bisa-bisa ketemunya malah kuburan. Hehh. [Abaikan.]

Tapi semakin majunya komunikasi  penipuan pun semakin banyak terjadi. Dan semua itu hanya karena kehabisan pulsa. Duh ..., duh sebegitu pentingnya pulsa? Sungguh miris dan gregetan saja kalau melihat yang seperti itu. Seperti kejadian ini. Jadi lebih sering aku abaikan. Kan bapakku baik-baik saja di rumah, eh mendadak dapat sms seperti ini siapa yang percaya? ^^

Sumber: Google



Tapi pulsa memang penting. Kalau tidak ada pulsa bagaimana untuk internetan, sms, dan bbm-an—[eh bbm pake kuota, sih. Tapi bagaimanaa bisa isi kuota kalau tidak ada pulsa?] Nah, ketahuan pulsa memang dibutuhkan di mana-mana. Sangat penting malah. Hhhh.  Iya. Makanya hanya gara-gara pulsa pun menjadi pemicu kejahatan.

Tapi karena pulsa pula ada yang jadi rajin nulis lho? Kok bisa? Sebentar-sebentar. Aku ambil napas dulu buat cerita. Hehh

Saat ini banyak event menulis baik di blog atau facebook sebut saja. Setiap orang yang hobi menulis biasanya masuk komunitas menulis. Sama yang nulis juga hehh. [tunjuk wajah] Nah, di sana biasanya akan ada kuis kecil-kecilan untuk mengasah kemampuan para penulis. Dan eng ... ing ... eng ... hadiahnya pulsa (kadang buku juga, deng) Dan perlu semuanya tahu ..., para penulis sangat semangat untuk ikutan. [Aku juga lho]. Kan pulsa memang penting. Kalau dapat bisa buat intenetan lagi, kan? Hehh. Jadi memang penting, dong. Betulkan, iya kan? Maksa. Hehh. Yang tidak bilang pulsa penting  penting biasanya yang tidak punya handphone. Eh. Hehh (maaf becanda) ^^ Tapi zaman sekarang sepertinya semua pasti punya (kecuali orang tua zaman dulu, lho, ya) walau tidak memungkiri sekarang orangtua juga sudah canggih.

Sebegitu pentingnya pulsa, pastinya membuatku ingin mendapat pelayanan yang ekstra mudah buat menjangkaunya. Dan alhamdulillah ketemu deh sama Pojok Pulsa.

Pasti banyak yang bertanya-tanya. Pojok Pulsa itu apa, ya?

Sst! Tenang aku akan coba jelasin, biar semua ikut paham.

Pojok Pulsa adalah salah satu dari sekian banyak server pulsa elekrtik , yang katanya menyediakan Pulsa Murah Jakarta dan Pulsa Elektrik Jakarta. Tapi masak hanya pulsa murah di Jakarta? Iseng-iseng mencoba deh menyelidiki ternyata Pulsa Murah, bisa didapat di seluruh Indonesia.  Mereka telah melayani pelanggan selama 6 Tahun. Memiliki   pengalaman menangani puluhan juta transaksi pengisian voucher elektrik dan voucher fisik hingga saat ini.

Fitur apa saja yang dimiliki pojok pulsa adalah :


  1. Mudah dan tidak ribet
  2. Deposit bebas berdasakan kebutuhan
  3. Daftarnya gratis
  4. Melayani selama 24 jam non stop
  5. Dapat melakukan transaksi kapanpun dan dimanapun
  6. Sms to End user
  7. Bisa melakukan transaksi melalui  YM, Gtalk dan Facebook
  8. Disupport dengan Token PLN
  9. Banyak bonus undian yang diberikan
  10. Dan banyak lagi fitur-fitur yang bisa dinikmati. 


Nah tunggu apalagi? Segera gabung di Pojok Pulsa untuk memudahkan aksesnya. ^_^

Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis blog di Pojok Pulsa.


[Cerpen] Senyum Buat Sri

[Dimuat di Minggu Pagi KR, Edisi; Jumat, 25 September 2015]

Di sini ditulisnya pake nama asli Ratnani Latifah*bukan nama pena Kazuhana El Ratna Mida  ^^ Ya udah deh nggak apa-apa. Mungkin redaksi punya kebijakan sendiri. Langsung ke inti cerita aja deh. Hheh. Abaikan curhat yang di atas. Ini naskah aslinya :) 
Sejak dulu Sri selalu menunggu. Mendapat seulas senyum tulus yang berasa sangat mahal untuk dimiliki. Yah, untuk mendapatkan itu sepertinya Sri harus berusah kuat bahkan banting tulang. Atau ..., mungkin hanya bisa terwujud ketika adanya sebuah keajaiban? Entahlah, kenapa begitu sulit senyum tulus itu tersungging untuk Sri. Padahal dia sama seperti makhluk hidup lainnya. Tapi entah kenapa dia diperlakukan berbeda.
Sri menghela napas, menatap nanar para staf yang bekerja di rumah sakit. Sejak dulu, Sri selalu berharap akan mendapat perlakuan yang sama di sini.  Mendapat sapaan ramah dari para resepsionis ketika datang berobat atau pada para staf dalam loket pembayaran yang bekerja di sini. Namun, sulit baginya untuk mendapat sambutan ramah itu. Mereka lebih sering menatapnya dengan tatapan tidak terlalu suka dan tidak peduli. Entah salah apa dia dulu pada mereka, hingga diperlakukan seperti itu.
Sri berusaha sabar dan tetap mencoba bertahan. Mau bagaimana lagi hanya di sini rumah sakit terdekat di desanya. Di sini dia bisa sering merawat ibu di sela kerja paruh waktu yang ditekuni. Meski harus makan hati, dia rela asal ibu bisa di rawat di sini.

Ibu Sri memang sudah sering ke rumah sakit karena gagal ginjal yang dideritanya. Dulu, mereka hanya berobat jalan saja. Tapi bertambahnya usia membuat Ibu Sri harus dirawat inap di sini. Semua cara sudah Sri tempuh untuk kesembuhan ibunya. Tapi apa daya kuasa Tuhan tidak dapat ditentangnya. Ibuku yang malang,  jangan khawatir aku akan selalu ada menemani, ucap Sri dalam hati.

Rumah sakit masih lenggang, Sri pergi ke tempat pembayaran untuk mengurusi administrasi pengobatan ibunya.

“Maaf Mbak, biaya cuci darah dan obat untuk Bu Indah kamar nomor 3 ruang bugenvile berapa?” Sri bertanya dengan ramah.

“Mau dilunasi ya, Mbak?” dia bertanya balik pada Sri.

“Maaf—,” Sri menggantung ucapannya, “saya hanya ingin membayar sedikit dulu, nanti sisa kekurangannya akan segera aku lunasi,” jawab Sri agak malu. Ya, maklumlah dia bukan dari keluarga berada yang dengan mudah menyetak uang. Sri harus kerja keras membanting tulang dulu. Untungnya dia hanya membayar biaya cuci darah serta obat ibunya, karena untuk masalah rawat inap, dia memakai kartu bantuan sebagai warga tidak mampu.  Yah, itu sedikit meringankan bebannya. Tapi beban hati tetaplah paling berat karena perbedaan pelayanan karena berbeda derajat. Sri menghela napas panjang, setiap kali mengingat kenyataan itu.

“Ini sudah seminggu sejak Ibu Indah di rawat di sini, kenapa tidak segera dilunasi, Mbak? Kami sudah memberi dispensasi lho, ini bukan tempat hutang Mbak,” ucapannya menohok hati Sri.

Astagfirullah hal adzim. Sri berucap lirih. Mencoba menata hati yang selalu di caci. Sungguh menjadi seorang yang tidak berada itu menyakitakan jika di hina seperti ini.

“Iya, insya Allah besok setelah gajian akan segera saya lunasi, jadi totalnya berapa, Mbak? 

Sri berjalan gontai, entahlah mengatahui total kekurangan yang masih harus dia tanggung. Tapi tidak ada waktu untuk meratapi diri, dia harus  segera pergi. Dia  harus kembali bekerja untuk mendapatkan biaya itu.

Sri melangkah meninggalkan rumah sakit yang semakin ramai dengan pengunjung yang datang. Bersama langkah kaki, dia mencoba melupakan pahit rasa yang menggelayuti. Inilah nasib seorang miskin yang selalu dianggap remeh oleh sebagian orang. Tidak seperti mereka para orang berada yang ketika datang disambut ramah, diberikan ruang paling mewah.

~*~

Di toko kecil ini, Sri bekerja. Mengabdikan diri untuk mendapat sesuap nasi, dan biaya hidup dan perawatan ibunya. Sejak ayahnya meninggal dan ibunya sering sakit, Sri mulai bekerja. Uang  pensiun ayahnya sudah dia pergunakan untuk pengobatan ibunya.

“Sri, kenapa wajahmu murung begitu?” Siska menggoda Sri dengan menjawil hidungnya. Sri hanya diam dan menggeleng.

“Memikirkan perawatan ibumu?”  Siska bertanya lagi.

“Iya Sis, banyak yang harus aku lakukan untuk perawatan ibu,” Sri akhirnya membuka suara.

“Semangat kamu pasti bisa, kamu seorang anak yang berbakti aku salut padamu.” Siska mengacungkan ibu jarinya. Sri hanya tersenyum.

Setelah selesai bekerja, segera Sri kembali ke rumah sakit untuk menami ibunya. Sebelum ke kamar  di mana ibu di rawat, Sri kembali ke loket pembayaran untuk mengurus biaya perawatan sang ibu dan pergi ke apotek. Syukur Alhamdulillah, tadi Siska dan bosnya memberi sedikit bantuan untuk dirinya. Sehingga dia bisa melunasi kekurangan biaya yang mesti ditanggung. Sebenarnya dua hari lalu, dia mencoba menghubungi pamannya—adik dari ibunya yang tinggal di luar kota. Satu-satunya saudara ibunya. Sri ingin meminta tolong tentang masalah biaya perawatan tapi karena tidak bisa dihubungi, Sri akhirnya hanya bisa mengirim pesan yang belum ada kabar hingga sekarang.

“Ada apa lagi, Mbak?” pertanyaannya yang diajukan sungguh menusuk hati Sri. Dia menilai Sri sebagai seorang yang bermasalah. Namun, Sri tetap mencoba bersabar.

“Ini Mbak, mau melunasi kekurangan administrasi.” Sri mengeluarkan uang yang sedari dia simpan. Dengan begini, ibunya akan segera mendapat perawatan, batin Sri.

Mbak  yang bernama Nila itu terdiam, dan langsung mengambil uang yang baru saja Sri sodorkan. Sekarang tinggal ke apotek untuk menebus obat buat ibunya. Sri berjalan ringan, sudah melupakan kekesalan karena selalu diremehkan. Saat ini yang terpenting adalah obat untuk ibunya yang sudah bisa dia beli.

“Bagaimana keadaan Ibu?” Sri sudah duduk di samping ranjangnya.

“Sri, ibu baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana? Jaga kesehatan kamu, Nduk.” Ibu menatap Sri penuh perhatian.

“Iya, insya Allah Bu, Sri baik kok, eh ini buat Ibu, pas bukan obat Ibu sudah habis.” Sri tersenyum riang. Sang ibu langsung memeluk putrinya dengan haru.

“Oh, iya, Sri, kamu sudah bertemu pamanmu? Tadi dia mengunjungi ibu. Katanya kamu mengirim pesan padanya.”  Sri menggeleng.

“Tadi katanya dia ingin bertemu dengan kamu, Sri.” Ibu Sri memberitahu.

~*~

Pagi sudah menjelang. Sri memutuskan jalan-jalan sebentar sebelum menemani ibunya untuk cuci darah yang akan dilakukan hari ini. Sri sengaja pamit kerja sehari ini. Karena rutinitas cuci darah yang harus dilakukan ibunya. Yah, itu dilakukan setiap bulan sekali, maka Sri berusaha keras untuk melunasi tunggakan agar ibunya bisa segera cuci darah. Jadi dia harus terus menabung mempersiapkan semua biaya yang dibutuhkan. Peyakit ibu ini memang sudah kronis dan belum ada jalan keluar. Mungkin satu-satunya adalah transplantasi ginjal dan itu makan banyak biaya.

Sri  duduk santai di kursi depan dekat tempat resepsionis berada. Mencoba berpikir solusi apa yang harus dia lakukan. Tapi,  di sana Sri  malah  melihat dengan jelas, sikap dari para staf rumah sakit yang selalu membeda-bedakan calon pasiennya. Seperti yang mereka lakukan padanya.  Sri menatap miris.

Pun dengan pemandangan yang dia lihat pagi ini. Wanita setengah baya itu diperlakukan sama dengan dirinya. Di pandang sebelah mata, karena berasal dari keluarga kurang mampu yang menggunakan kartu bantuan. Duh Gusti, inikah tempat yang katanya untuk kesejahteraan kesehatan rakyat? Lalu kenapa mereka banyak ketimpangan yang harus dirasakan warga? Apakah kesehatan hanya penting orang yang berada? Dan kami hanya duduk diam menunggu ajal datang? Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati Sri.

Sri sungguh tidak habis pikir. Padahal mereka hanya perlu tersenyum ramah, tanpa harus menyakiti dengan ucapannya yang menusuk hati.  Apakah  rasa empati mereka telah mati? Hingga dengan sewenang hati menghakimi kami? Semoga tidak semua rumah sakit seperti ini. Dan kuharap suatu  saat pegawai itu sadar diri dan menjadi lebih baik hati. Doa Sri masih dalam hati.

Sri menghela napas dan bangkit dari duduknya. Mungkin satu bulan lagi dia akan bertemu dengan mbak-mbak yang akan bersikap sinis, memasang wajah tidak suka padanya.

Sri meninggalkan ruang itu dan menelusuri koridor rumah sakit untuk bertemu ibunya, untuk menemani sang ibu cuci darah. Semoga ibunya cepat sembuh. Biarlah harapan ini dia simpan dalam kalbu, menunggu keajaiban menyapa dunia baru. Tentang sebuah senyuman yang dia tunggu.

“Sri!” sebuah panggilan membuat menghentikan langkah. Dia menoleh menatap pamannya yang tengah berbicara dengan beberapa staf rumah sakit. Pamannya melambai menuruh Sri mendekat.

“Kenapa kamu tidak segera menelepon paman kalau keadaan ibumu seperti ini? Kamu mau membuat adiknya ini menjadi durhaka dengan tidak memberikan pertolongan pada kakaknya? Padahal karena ibumu, pamanmu ini bisa menjadi dokter, Sri.” Paman Sri geleng-geleng kepala.

Sri hanya menunduk, dia tak ingin merepotkan pamannya yang sibuk dengan persiapan menyambut bayi pertamanya. Itu juga akan memakan biaya bukan? Namun, karena pamannya, hari itu Sri mendapat senyuman dari staf resepsionis juga Mbak Nila yang tak sengaja berada di sana dan  mendengar percakapan mereka.

Sebuah senyuman yang Sri tahu dengan pasti maknanya. Ketika mereka baru mengetahui bahwa Dokter Ahmad adalah pamannya Sri. Seorang dokter yang dulu pernah bekerja di sini, sebelum pindah ke kota.


Srobyong, 16 September 2015.

Ratnani Latifah, jalan Pasar Mlonggo Kompleks Musala Al-Falah Srobyong RT 04 RW 02 Mlonggo Jepara 59452

Atau bisa membaca versi Koran Minggu Pagi di, http://id.klipingsastra.com/2015/09/senyum-buat-sri.html