Friday, 19 June 2015

[Re-Post] [Cerpen] Aku, Kamu Dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

quran

Oleh: Kazuhana El Ratna Mida, kazuhanael_ratna@yahoo.co.id

MENATAPMU dalam keadaan seperti ini, jujur buatku ngilu. Tak pernah kusangka ini akan terjadi. Bagaimana bisa? Adakah yang bisa berikanku penjelasan? Kenapa harus aku, kamu dan dia yang terkungkung dalam lingakaran ini.

Tak adakah pilihan lain, hingga aku tak harus berada di antara kalian?

~*~

Masih terekam dalam memoriku, saat kamu masih menampakkan senyum manis wajah ayu. Kamu buat siapa saja menyukaimu. Kau bak seorang peri yang memberi sihir bagi orang-orang yang mengenalmu.
Kamu selalu ramah, menyambut siapapun yang datang ke rumahmu. Tak pernah kamu mencoba kasar, meski itu hanya pengemis jalanan yang ikut menopang di tempatmu. Tapi dengan senang hati kau malah memberi izin untuk bertamu. Tidur sejenak, melepas lelah. Yah, betapa hatimu begitu baik, tak ada duanya.
Kebaikanmu sungguh buatku terkagum-kagum. Hingga diam-diam aku selalu memerhatikanmu. Menikmati indahmu dari sisi nyaman yang kumiliki. Aku sangat menyukaimu. Sungguh.

Namun, ternyata aku tak sendiri. Pernah kulihat dia juga sering memandangmu. Tersenyum penuh arti, kadang buatku cemburu. Setiap hari dia datang mengunjungimu. Duduk bersama saling sapa melepas rindu. Kalian akan berlama-lama, berbagi cerita.

Karena aku selalu mendengar suara merdunya. 
 
“Sepertinya menyenangkan sekali,” liriku sendiri.

Tapi kalian yang terlalu asyik jadi tak memedulikan kehadiranmu. Ah, mungkin karena itu ….
Aku sadar sih, kalian sudah saling kenal sejak dulu. Tepatnya sebelum aku tinggal di sini. Aku hanyalah anak baru yang mungkin belum terlalu mengenalmu. Tapi, sungguh. Aku ingin selalu melindungimu. Lebih dari dia yang kini ada di sisimu.

“Wah, aku harus pulang. Besok aku akan kembali.” Dia bangkit meninggalkanmu sendiri. Dan aku pun harus rela ikut pergi, karena aku adalah bagian dari dia. Tak mungkin aku meninggalkaannya juga. Karena dia aku di sini. Dia yang membawaku membuatku mengenalmu hingga langsung jatuh cinta kala kita bertemu.

“Tak bisakah kita lebih lama lagi, Di?” tanyaku padanya mencoba bernegosiasi.

“Aku harus pergi, Al. Jadi aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Besok saja kita ke sini lagi.”

Aku pun pasrah mengikuti dia dan meninggalkanmu sendiri.

~*~

Itulah potret kejadian di masa lalu. ketika aku, kamu dan dia pernah menikmati kebersamaan meski hanya sebentar. Aku yang jatuh cinta padamu, juga dia yang selalu memujamu. Setiap hari kami membicarakan kebaikanmu.

Tak pernah sedetikpun kami lupa bahwa kau itu sungguh telah terpatri indah dalam dada.

“Ya, aku setuju. Dia memang sangat cantik. Memiliki pesona yang luar biasa. Meski harus dipoles sedikit biar lebih memesona,” ucap Di padaku.

“Karena itu, aku ingin merawatnya. Menjadikannya sebagai yang nomor satu di dunia,” lanjutnya.

“Oke, aku mendukungmu.” Aku kegirangan.

Kami tersenyum bahagia. Akhirnya ada yang bisa kulakukan untukmu. Kami saling bahu membahu untuk mewujudkan mimpi itu.

Tapi, sekarang …, lihatlah apa yang terjadi. Kamu rusak sudah tak berbentuk lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang tega melakukan ini padamu.

Kau selalu baik suka membantu. Tapi kenapa masih ada orang jahat yang menghancurkanmu. Katakan padaku, siapa yang tega melakukan ini? Aku akan menuntut balasa padanya. Aku tidak rela kamu disakiti seperti ini.

Kau harusnya dirawat dan dilindungi. Kau adalah pelita yang menyinari bumi. Masih kuingat dengan jelas kebersamaan yang memang tak cukup banyak kita lalui. Tapi membekas di hati.

Aku tak sanggup lagi menahan isak tangis yang sejak tadi kupendam. Sedih melihat ketidakadilan yang kamu alami, La. Malang nian nasibmu. Andai aku bisa membantu.

Sedang dia malah tersenyum senang. Seolah dia puas telah menjatuhkanmu tanpa rasa kasihan. Apa yang membuatnya berubah, ya? Katanya rindu padamu ingin bertemu, tapi setelah perjalanan panjang kembali dari menuntut ilmu, dia malah merusakmu.

“Kenapa kau tertawa, dia dalam bahaya sekarang,” protesku padanya.

“Itu pantas untuknya.”

“Apa kaubilang? Bukankah kau …,” aku tak menerukan ucapanku, karena dia sudah mencengkeramku.
“Apa yang kau lakukan? Kau sudah mengingkari janji yang kita buat dulu,” marahku padanya.

Pada akhirnya, kamu pun bertengkar. Aku marah karena dia egois, dia juga marah karena aku tak mau mencoba mengerti.

Bayangkan, bagaimana aku bisa mengerti jika dia telah bertindak sesuka hati? Dia menghancurkan yang paling kusikai. Dia bahkan bilang akan berjuang membahagiakan kamu bersamaku, dulu. Tapi dia mengingkari janji. Aku tak suka.

Beberapa minggu kami pun tak saling sapa. Aku tak mau diajak ke mana-mana. Dia pun tak berencana mau mengajakku. Aku sangat kecewa. Kupikir dia berbeda dari kebanyakan warga yang kerap mencelamu. Mengatakan ‘untuk apa menjagamu’.

~*~

“Al, kau masih marah? Sungguh tak mau ikut lagi denganku?” tiba-tiba dia sudah ada di depanku. Menatap dengan sungguh-sungguh. Yah, biasanya kami selalu bersama tapi ….

“Akan kutunjukkan sesuatu untukmu,” dia mengulurkan tangan. Aku pun mengalah, mau ikut dengannya. Tak baik berdiam-diaman lebih dari tiga hari antara saudara.

“Maaf, ya. Aku tak jujur padamu, Al. Aku hanya ingin membuat kejutan untukmu. Lala juga setuju.” Di menunjukmu yang tengah tersenyum padaku.

“Kau bilang ingin melihatnya lebih cantik bukan? Supaya kita semakin betah lalu mengumpulkan banyak anggota lain untuk ikut bergabung. Menjadi penggemar Lala yang semakin memesona,” ucapnya panjang lebar.

Aku hanya mengangguk lemah membenarkan setiap kata yang diucapkannya. Meski aku mencintai Lala, aku tak ingin mendominasinya. Aku ingin orang lain juga merasakan cahaya kebaikan darinya. Merasakan lembut kasih sayangnya, jika mau bersamanya.

Mataku mengerjab, melihat sesuatu yang tek terduga.

Aku hampir tak percaya dengan yang kulihat. Lala berubah semakin menawan. Maafkan aku, Di pernah berprasangka buruk padamu. Lagipula manakutahu otakmu memikirkan itu, sedang aku hanyalah benda mati yang selalu menemanimu. Kau tidak pernah cerita tentang hal itu.

Dia tersenyum pun dengan Lala yang makin bersinar. Inilah rumah baru. Tempat kita kan memulai kisah bersama menghidupkan musala yang sempat mati. Yah, itulah kamu musala yang kami cintai aku—Al-Quran dan dia—Adi yang ingin merintis mengajak umat untuk mengaji menghidupkan kembali kejayaan Islam yang hampir mati. Menyeru untuk kebaikan bagi semua warga di sini. []

Srobyong, 4 April 2015
Atau bisa baca langsung di
 
 
 
 

Antologi 111-112


Judul : Berita dari Langit
Penulis: Yannah Akhras, Dinu Chan, Durroh Fuadin Runi, D'chee, Ajeng Maharani, Ida Fitri, Annisa Azzahra, Riebuan Cahaya, Kazuhana Ratna El Muda, Laila Ila, Anggun Cahyani
Terbitan: LovRinz Publishing; Juni 2015
Harga: Rp. 39.000,- (belum ongkir)








  Judul: Kumpul Bocah; LovRinz and Friends Bercerita
Penulis: LovRinz and Friends
Terbitan: LovRinz Publishing; Juni 2015
ISBN: 978-602-0849-12-6
Harga: Rp. 39.000,- (belum ongkir)





Antologi 105-110

Telah Terbit
Buku dari event Smart Teen
Judul: Remaja dan Kecerdasan Spiritual
ISBN: 978-602-1334-92-8
Harga Umum: 37.500 (Belum Ongkir)
Harga Kontributor: 34.000 9Belum Ongkir)



Cara Pesan:
Ketik sesuai format berikut:
Nama Pemesan_Alamat Lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Kirim ke: No. Hp/WA: 082113883062 atau BBM: 539BD2E5 atau inbox FB Naifa Publisher

Sinopsis:
Remaja adalah tonggak utama yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa, juga perjuangan akan agama yang dianutnya. Namun, dewasa ini remaja kadang telah terkikis iman dan terkontaminasi dengan arus globalisasi. Mudahnya budaya Barat yang masuk membuat budaya ketimuran sedikit demi sedikit terlupakan. Misalnya saja dilihat dari pergaulan remaja yang saat ini sedang marak terjadi. Gaya pakaian yang dipilih lebih suka memakai gaya ala artis-artis yang glamor, ketat dan membuat badan terjepit hebat. Padahal seharusnya remaja Muslimah meniru busana yang dicontohkan adat ketimuran dengan memakai pakain longgar (sewajarnya) dan menutup aurat agar terhindar dari fitnah.
So, let’s tobe a great Muslimah dengan menajamkan spiritual agama yang ada. Jadilah remaja Muslim yang berdedikasi cinta akan agama dan amanah yang diemban untuk ke depannya. Islam yang damai selalu memberi kesempatan berubah bagi yang mau memperbaiki diri. Jadi jangan takut terlambat. Pernah melakukan kesalahan adalah wajar, namun ketika kita tahu itu salah dan segera merombak memperbaiki diri, maka itulah yang disebut luar biasa.
Lalu bagaimana menjadi remaja Muslimah yang memiliki spiritual agama?
Kazuhana El Ratn mida

Kontributor:
Rana Hamidah, Elga Lutfiana Wanti, Foristia Kencana Wensi, Nadee Samudera, Yuliana Pertiwi, Gabriella R. Almadea, Mukhammad Faris Hazim, Puput Andalusi, Kazuhana El Ratna Mida, Arifah Indah Setyorini, Rere Zivago, Maghfira Daini, Dyla Annisa Putri, May Huma, Neila, Ifa Masluhah, Nurul Wahyu Nandifah, Aini Ranesa, Junilawata Resdia, dan Nurus Annisa.
Judul: Sepatu Untuk Kawanku
Penulis: Neti Sudiasih, dkk
Penerbit: Din's
v+294 hal
ukuran 13x19 cm
ISBN: 978-602-336-051-2

Harga Umum: Rp. 55.000
Harga Kontributor:
1 naskah dimuat diskon 20%
2 naskah dimuat diskon 35%
3 naskah dimuat diakon 50%

 Harga :




 Dalam Remang Kumengejar Mimpi
Copyright © 2015 by Nidhom VE, Ririn S, Nahlatul Azhar, dkk

270 hlm; 13 x 19 cm

Editor: Melly Waty
Layout: Lavira Az-Zahra
Design: Lavira Az-Zahra
ISBN: 978-602-0937-69-4

Cetakan pertama, Maret 2015
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.

Penerbit:
Pena House
Jalan KNPI Gg. Cendrawasih,
Bangkle, Blora, Jawa Tengah, 58200.
Phone: 08995718264
Email: azzahra.house834@gmail.com
Website : www.penahouseagency.blogspot.com


Harga:
60rb umum
55rb kontributor

Pemesanan:
REMANG_nama_alamat_jumlah buku yang dipesan.
Kirim ke 082111962738.
Atau akun FB Melly Waty.
 

  Pake nama hantu sampai lupa :)

Harga : Rp. 45.000

Penerbit : Kino Media

Harga kontributor @45.000 dan umum @50.000 dengan akumulasi ongkos kirim disesuaikan dengan biaya Pos dan Giro terbaru.
Hubungi segera:
Dekik Dekik, Dekik Yassir via inbox atau ke wall group Dunia Dekik
WA Dunia Dekik 08816855878
BBM Dunia Dekik PIN 55126DD4
Judul : Cermin Seribu Pulau
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
Penulis : Forum Silaturrahmi Penulis Indonesia
Ukuran: 20 X 14 cm
Tebal : 350 halaman
ISBN : 978-602-7967-62-5
Terbitan : Juni 2015
Harga : Rp.68.000,00
------------------------------------
------------------------------------
Sinopsis:
Seperti Ampera yang mengokohkan keteguhan hati
Dan kerak telor untuk penentu jalan masa depan
Berjuang keras meraih mimpi sang Pendalang
Tak sekadar impian menjadi seorang presiden
Merangkai pertemuan di Tapak Nangamese
Merajut persaudaraan di tepian Danau Anggi Gida
Menyemai cinta di Benteng Kalamata
Menatap jingga di sudut Teluk Mandar
Memutihkan merah memerahkan putih
Merangkai ikatan Bhinneka Tunggal Ika
Dalam sebuah cermin negeri seribu pulau

Cermin Seribu Pulau, berisikan cerita mini yang ditulis oleh 54 penulis dari 34 Provinsi di Indonesia. Beragam cerita disajikan di sini dengan dibubuhi dialog-dialog berbahasa daerah yang dapat menambah wawasan kita akan keberagaman bahasa di Indonesia.
Antologi ini ibarat cermin yang membiaskan wajah Nusantara yang begitu kaya. Sangat rugi kalau kalian melewatkan buku ini. Pastinya, buku ini bukan kumpulan cerita rakyat nusantara lho...
------------------------------------
------------------------------------
Pemesanan buku:
Sms/telepon ke nomor penerbit: 089692745867
Atau invite PIN BBM penerbit: 25BD5F07
Met order, guys! Semoga bermanfaat dan berkah.

Antologi Religi 102-104



Telah Terbit
Buku dari even Religi Hikari Publishing
Judul Buku: Romansa Ukhuwah
Penerbit: Pena Indis
Distributor: Hikari Publising
ISBN: 978-602-0897-03-5
Desain: Fandy Said
Editing: Ratnani Latifah
Harga : 40.000 (Belum Ongkir)


CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085742771803 (Sdri. Ratnani Latifah) atau Inbox ke fb Hikari Publisher

Sinopsis:
Allah adalah sutradara terhebat. Apapun yang ditetapkan adalah hak-Nya. Allah-lah pemutus segalanya, hanya dengan Kun—semua menjadi nyata. Dan kita manusia hanyalah makhluk lemah lagi sering lupa, sepantasnya kita merasa malu pada-Nya. Malu betapa kita ini lebih peduli hal-hal sementara di bumi, dari pada memperbanyak ibadah pada_nya. Padahal Allah selalu ada untuk kita bagaimana pun keadaan kita. Allah tidak menutup mata. Sedang kita kadang lalai dan terperdaya. Astagfirullah hal adzim. Dia-lah Allah dengan segala rahmat, mampu membuat kita tersadar, hanya pada-Nya-lah sepantasnya kita merasa malu dan kerdil.

Kazuhana El Ratna Mida

Kontributor:
Rere Zivago, Delvina Julita, Megawati, Kang Mpie, Melda Yudi Ningsih, Muhammad Saleh, Osella, Dyah Eka Kurniawati, Ujang Wardani, Nenny Makmun, Farah Aliyah Syahidah, Enny Nurmala Sari, Nia Octavia, Kang Doel, Michaelmas, Muhammad Fihansyah, Melia Fitriani, dan Kazuhana El Ratna Mida.



Telah Terbit
Buku dari even Religi Hikari Publishing
Judul Buku: Senja Bersama-Nya
Penerbit: Pena Indis
Distributor: Hikari Publising
ISBN: 978-602-0897-04-2
Desain: Fandy Said
Editing: Ratnani Latifah
Harga: 39.000 (Belum Ongkir)


CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085742771803 (Sdri. Ratnani Latifah) atau Inbox ke fb Hikari Publisher

SINOPSIS:
Di manapun, dan kapanpun Allah selalu melihat. Menyaksikan kebaikan juga keburukan yang dilakukan para umat. Karena Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang ada di bumi. Allah selalu ada untuk umat-Nya. Tidak pernah tidur—menutup mata. Allah selalu mendengar doa hamba-Nya yang tulus ikhlas. Memberi cobaan sesuai kadar kemampuan. Menolong umat yang selalu berserah pada-Nya.
Apa yang Allah rencanakan, pasti itu yang terindah untuh hamba-Nya. Karena Dia-lah sutradara terhebat yang tak pernah bisa dikalahkan di sepanjang zaman.
Tika menangis sesenggukan. Semua mimpi yang sudah disusun sejak dulu, harus dia relakan. Kejadian nahas yang terjadi seminggu yang lalu telah merenggut semuanya. Hidup, dan mimpi.
Kecelakaan itu sungguh memukul keras jiwa dan semangat Tika. Menjungkir balikan rasa, berharap dia mati terjilat api ketika kecelakaan menyapa. Daripada dia hidup tak lagi punya kebanggaan lagi.
“Sabar, ya, Sayang.” Dipeluknya putri semata wayangnya. Hati siapa yang tak teriris melihat keadaan sang putri yang tak berdaya. Dia hidup namun seperti mati. Yah, Tika tidak bisa lagi aktif seperti dulu.
“Kenapa Allah begitu kejam, Bu?” isaknya pada sang ibu. “Apa salah Tika sehingga harus diberi cobaan seperti ini?”
“Stt ..., jangan bicara begitu. Allah pasti punya rencana terindah untuk putri kesayangan ibu.”

Kazuhana El Ratna Mida

Kontributor:
Ricky Syah R, Muhammad Fihansyah, Afri Azzahra, Annisa Febriyati Sari, Atikah Azzahra, Kazuhana El Ratna Mida, Nenny Makmun, Ghoffar Albab Maarif, Rere Zivago, Intan Nisrina Pohan, Wulan Febryani, Yanuari Purnawan, Imroattus Sholichah, Muhammad EL Malka, Umi Hasanah, dan Andika Reksa Hapsoro Wicaksono


Telah Terbit
Buku dari even Religi Hikari Publishing
Judul Buku: Takdir di Langit Cinta
Penerbit: Pena Indis
Distributor: Hikari Publising
ISBN: 978-602-0897-05-9
Desain: Fandy Said
Editing: Ratnani Latifah
Harga: 42.000 (Belum Ongkir)


CARA PESAN:
Kirim pesan dengan format:
Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Ke No. Hp; 085742771803 (Sdri. Ratnani Latifah) atau Inbox ke fb Hikari Publisher

Sinopsis

Cinta itu indah, meletupkan hati membuat jiwa tak tenang. Memberi warna-warni hingga dada terasa sesak, cemas, juga bahagia dalam satuan waktu yang tak pernah kita kira. Namun, indahkah cinta itu jika label halal belum sepenuhnya menjadi miliki kita Maka jagalah muruah, pilihlah cinta dalam diam. Sambil menunggu memperbaiki diri menanti jodoh yang sejatinya cerminan diri sendiri. Jangan khawatir jodoh tak akan ke mana.
Tahukah, kau cinta yang berlandaskan rida Ilahi, itu ... lebih manis tak perlu takut khawatir atau merasa bersalah karena melanggar aturan agama. Manisnya cinta dalam dekapan kekasih yang sudah dihalalkan dalam ijab qabul. Itulah keromantisan yang lebih indah. Setuju?
Kazuhana El Ratna Mida
“Kak Usman kenapa belum punya pacar?”
Laki-laki bertubuh tinggi itu terlihat terkejut, tangannya yang sedang memotong daging terhenti. Dia menatapku, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kemudian dia tertawa. “Pertanyaan apa itu, Bud? Pacar itu apa?”
“Pacar, ya pacar. Itu lho Kak, wanita yang bisa membuat kita lebih semangat hidup. Teman tempat kita curhat apa saja. Yang sayang dan perhatian sama kita.”
“Bu Lastri?” Kak Usman tertawa melihat aku menggelengkan kepala dengan keras. “Kita bisa curhat dan Bu Lastri juga menyayangi dan perhatian sama kita sehingga kita punya semangat hidup.”
“Bu Lastri sudah tua, Kak. Maksudku wanita muda.”
“Iya, Kakak hanya becanda. Jangan lupa juga yang namanya pacar itu bisa membuat orang galau. Coba lihat status orang di media sosial. Banyak yang kata-katanya penuh kegalauan, merayu tanpa malu, tapi kadang-kadang sedih tak jelas, kadang-kadang jengkel sampai marah-marah dan berantem. Dalam waktu pendek saling mengumbar kemesraan dan dalam waktu pendek juga penuh amarah dan kebencian. Bayangkan, kecanggihan teknologi dibuat untuk keburukan di depan publik.”

Rere Zivago

Kontributor:

Yuhanna Laila Aljum’ah, Nama asli Eti Yunaning, Dyah Eka Kurniawati, Intan Nisrina Pohan, Nenny Makmun, Rahmi Intan, Safiatul Fitri, Nur Rahmah, Muhammad Firhansyah, Susmiatiningsih Nuswantari, Melda Yudi Ningsih, Rere Zivago, Kazuhana El Ratna Mida, Intan Nisrina Pohan, Nama:Fatkhul Ribkhah, dan Devi Ismail.

Antologi Luka-Luka Bangsa

Antologi Luka-Luka Bangsa









Antologi: Luka-Luka Bangsa
Penerbit: Pangaro Media Utama
Editor: Sastra Negara
Cetakan I : Mei 2015
ISBN: 978-602-70433-2-9
Harga: 35.000 (belum ongkir)

bisa juga dibeli di toko-toko terdekat di seluruh Indonesia 

sinopsis
carut-marut hidup berhasil diterjemahkan oleh para penyair dalam antologi ini. Mereka menangis, mengiba, meradang, menerjang, menantang, dengan sajak-sajaknya yang tak terduga. imajinasinya menyayat. syahwat cintanya kepada tanah air luar biasa, memantul lewat lesakan berangkai kata mutiara.

Ada juga penyair tamu yang menyumbang dalam Antologi ini. Para penyair yang sudah lebih dulu menghiasi kancah dalam kepiawaian menulis puisi. Sebut saja Mahwa Air Tawar, Ibnu Hajar, dan beberapa penyair lainya

Monday, 8 June 2015

[Re-Post] [Artikel] Meneladani Raden Ajeng Kartini





Meneladani Raden Ajeng Kartini
oleh : Kazuhana El Ratna Mida
Koleksi Tropenmuseum
Potrait RA. Kartini (Colletion Tropenmuseum)
            Siapa yang tidak kenal dengan Raden Ajeng Kartini. Pahlawan wanita dari Jepara. Kiprah beliau yang menjadi panutan wanita untuk mengejar mimpi meraih pendidikan. Beliau pahlawan emansipasi wanita yang selalu dikenang warga.
            Beliau RA Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1897. Putri kelima dari 11 bersaudara putra-putri R.M Sosoroningrat, Adipati Jepara. Beliau ingin menyetarakan hak pria dan wanita dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak gadis di daerah kelahirannya.
            Betapa dulu kita ketahui, pendidikan hanyalah untuk kaum pria  bangsawan. Ibu Kartini sendiri hanya diperbolehkan sekolah sampai usia 12 tahun di ELS (Europese Lagere School) dan setelah itu beliau dipingit hingga waktu hadir untuk pernikahannya.
            Beliau sangat sedih, dan ingin menentang, tapi rasa takut ketika diangap menjadi seorang anak durhaka membuat beliau menerima semua keputusan yang ada. Untuk menghilangkan kesedihannya beliau mengumpulan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya untuk beliau baca di taman rumah. Jika ada kesulitan barulah RA Kartini beranya kepada ayahnya.
            Dari buku-buku, koran dan majalah Eropa itulah Ibu Kartini mulai tertarik dengan kemajuan berpikir dari perempuan Eropa. Itulah alasan kenapa R.A Kartini ingin memanjukan perempuan pribumi yang saat itu masih dalam kastah sosial yang rendah.
            Beliau tidak ingin wanita di Indonesia hanya menjadi pengurus dapur saja tanpa memiliki ilmu. Beliau memulai mengumpulkan para wanita untuk diajari menulis dan membaca. Dengan kesibukanya itu R.A Kartini juga masih aktif belajar dan menulis surat untuk teman-temannya dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang selalu mendukung beliau. R.A Kartini juga menulis surat kepada Mr.J. H. Abendanon untuk memohon beasiswa bersekolah di Belanda. Namun, sayang sebelum beliau bisa memanfaatkan beasiswa itu, beliau harus menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Dan ikut suaminya ke Rembang.
            Namun,siapa sangka ternyata suami RA Kartini mengetahui keinginan beliau, dan memberikan kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupeten Rembang atau sebuah bangunan yang disebut Gedung Pramuka. Walau begitu beliau tetap menghargai orang lain dan tidak pernah sombong kepada orang lain.
            Perjuangan RA Katini dalam emensipasi wanita bisa kita temukan dalam surat-surat beliau yang dikirimkan kepada teman-teman beliau. Bagaimana beliau menuangkan segala perasaan dan pandangannya tentang pendidikan wanita yang sangat kurang di Negaranya.
            Mari kita renungi sebentar surat RA kartini yang dikirimkannya pada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901 untuk pembelajaran.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Betapa RA Kartini sangat peduli dengan pendidikan kaumnya. Memikirkan dengan keras kebutuhan penting dalam menuntut ilmu dan manfaatnya bagi kaum wanita. Wanita sebagai pendidik pertama pada anak-anak mereka. Jika wanita itu bodoh maka, apa yang akan diajarkan pada anaknya?
Tulisan-tululisan RA Kartini juga banyak dimuat di beberapa majalah salah satunya ada di majalah De Hollandsche Lelie, sebuah majalah wanita Belanda. Perhatian RA Kartini ternyata tidak hanya dalam emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum.
            Dalam surat-surat RA Kartini tertuang pemikiran-pemikiran tentang kondisi saat itu, tentang kondisi wanita pribumi. Juga tentang budaya jawa yang dianggap  penghambat dalam kemajuan perempuan. Kartini ingin wanita memiliki kebebasan untuk belajar dan menuntut ilmu.
Pandangan kritis lain yang diungkapkan kartini dalam suratnya adalah mengenai agamanya. Beliau bertanya kenapa Al-Quran harus dihafalkan tanpa kewajiban untuk memahaminya. Padahal sangat penting untuk memahami isi Al-Quran agar bisa mengamalkan apa yang ada di dalamnya.
            RA Kartini dengan segala usaha yang beliau lakukan agar kita bisa bebas bersekolah sekarang ini. Tidak lagi terkungkung dalam budaya yang menghakimi. Memojokkan wanita bahwa mereka nanti hanya akan berakhir dalam dapur rumah tangga.
            Sekarang wanita memiliki hak yang sama untuk memperoleh segala ilmu yang mereka inginkan. Jika laki-laki bisa menjadi guru kenapa wanita tidak? Wanita yang dulunya tidak boleh bekerja hanya bisa berdiam diri di rumah karena pingitan, sekarang wanita bisa bekerja di mana saja.
            Betapa banyak jasa RA Kartini dalam perubahan untuk masa depan wanita. Sehingga harus sangat kita syukuri apa yang sudah beliau raih dan diwasiatkan pada kita. Sebagai wanita, hendaklah kita belajar dengan sunggguh-sungguh mengingat perjuangan keras beliau agar bisa membuat wanita maju.
            Teladanilah keaktifan dan usaha keras keras beliau untuk mewujudkan cita-cita tinggi menjadi wanita berilmu dan berbudi. Tetap berpegang pada agama dalam segala norma kehidupan.
            Sekarang adalah giliran kita untuk berjuang meneruskan mimpi RA Kartini. Belajar dengan giat untuk menjadi wanita berilmu dan sholeha. Tegaklah dalam menuntut ilmu, manfaatkan waktu dengan baik untuk menjaring segala informasi kemajuan dalam pendidikan.
Renungkan surat beliau yang ditulis untuk Nyonya Abendon, 4 September 1901. “Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”.
Kita dipompa untuk terus berusaha tanpa kenal lelah. Tetap bangkit meski ada banyak cobaan yang menghadang. Dengan meneladani keuletan dan kegigihan RA Kartini semoga bisa menuntun kita untuk bisa lebih baik dan semakin mengeri betapa pentingnya ilmu dan bagaimana perjuangan zaman dulu yang masih banyak batasan budaya yang menghalangi.
Mari songsong masa depan dengan tekad membara untuk mewujudkan impian.

Srobyong, 2015.
 

[Re-Post] [Cerpen] Nightmare; Teror Hantu di Ujung Lorong


Kazuhana El Ratna Mida

Dini terkesiap. Matanya membelalak melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Gelisah, ngeri dan ingin lari. Tapi kaki itu tak mau diajak kompromi, membuat dia masih berdiri tegak tak bisa berlari.

Sekujur tubuh Dini dialiri keringat. Tubuhnya menengang, ketika makhluk cantik itu berjalan mendekat. Makhluk itu melayang-layang dengan senyumnya mencekam. Dini memejamkan mata. Entah apa yang akan menerpanya.

“Din! Ngapain kamu menutup mata begitu? Katanya mau ke kamar mandi, trus kembali siaran, kok lama sekali,” gerutu Mona.

Dini membuka mata. Makhluk tadi yang dilihatnya sudah hilang tinggal sosok Mona yang membuatnya lega.
“Sejak kapan kamu ke sini?” tanya Dini bingung.

“Aku kali yang harus tanya, katanya ke kamar mandi kok malah berdiri di lorong ini. Tuh ditunggu buat nerusin siaran,”  Mona menarik tangan Dini tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.

Sesampai di tempat siaran dia langsung mendapat teguran. Dini hanya diam. Mungkinkah mereka akan percaya ketika dia menjelaskan apa yang dilihatnya? Sudahlah!

Dini pun mulai meneruskan siaranya. Meski sebenarnya masih ada ketakutan yang menyelimuti. Semoga tadi itu hanya halusinasi. Namun betapa Dini kaget, ketika dia menatap keluar jendela, wajah itu mucul mendadak. Sontak Dini berdiri dan memundurkan langakah membuat, Mona yang juga ada di sana kaget.

“Kenapa, Din?” 

“Tidak ada, aku cuma kaget,” bohong Dini.

Dia kembali pada posisinya dan menyelesaikan tugasnya. Mungkin dia terlalu lelah dan butuh istirahat segera.
Tepat jam dua belas dini hari, siaran baru selesai. Dini bergegas meraih tas dan berpamitan pulang.  Sedari tadi tengguknya terus merinding tak karuan. Kenapa suasana kantor yang biasanya aman mendadak horor?

“Kamu kenapa sih, Din? Hari ini aneh banget,” celetuk Mona.

“Memang kamu percaya kalau aku bilang di sini ada hantu,” ucap Dini Menatap Mona. Mona langsung terbahak. 

“Jangan aneh kamu, Din. Di zaman modern seperti ini. Masak takut dengan hantu.”

Dini memang tahu Mona, dia tipe seorang yang tidak percaya akan hal mistis seperti ini. Dia lebih suka melihat realita yang ada. Segala film horror yang ada dikiranya hanya fiktif belaka. Karena apa? Ya, karena dia belum sekali pun melihatnya. Dia baru bisa percaya hantu itu ada jika mereka menampakkan diri dihadapnnya.

“Terserah kamu, Mon, kalau tidak percaya. Aku duluan.” Dini meninggalkan Mona  yang masih mematung melihat dia sudah memacu sepeda motor.

Jalan sepi cukup membuat aman Dini untuk memaju motornya dengan kecepatan tinggi. Inilah kenapa. Dia paling malas kalau mendapat jatah siaran malam.

Untunglah sekarang dia sudah sampai di rumah. Paling tidak ini tempat aman yang jauh dari jangkauan hantu. Setelah membersihkan diri, Dini pun merebahkan tubuh lelahnya.

***

“Kenalkan, aku Mutia. Produser baru yang akan menggantikan Surya.” Wanita cantik itu mengulurkan tangan pada Dini. Meski bingung Dini tetap membalas uluran tangan itu dan menyebutkan namanya.
Gadis itu mirip seseorang yang pernah dia lihat tapi di mana? Dini berpikir keras. Tapi usahnya gagal dia tidak ingat. Mungkin hanya dejavu yang dia rasa.

Dini tidak tahu kalau ada produser baru. Apalagi dipasangakan dengan dirinya. Selama ini dia sudah cocok dengan Surya. 

Kenapa harus Mutia yang menggantikan Surya? Wanita ini sungguh aneh dengan segala tingkah lakunya. Dini juga merasa tidak nyaman. Seolah ada bahaya yang mengintainya.

“Ikutlah denganku!” tiba-tiba Mutia menarik tangan Dini dengan kasar.

“Hei! Apa yang kalau lakuakan?” protes Dini.

“Sudah tidak usah banyak bicara. Ikut saja!” bentaknya. Dini akhirnya menurut saja. Seperti dugaannya wanita ini sangat aneh. Sudah begitu sangat kasar, kontras dengan perawakan cantik dan anggun yang dimilikinya.

Dia membawa Dini ke atap gedung kantor Soraya Radio, 91.07 FM.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Dini tidak mengerti.

Bukannya menjawab Mutia malah semakin mempererat gengaman tangannya pada Dini.

“Lepaskan! Kau sudah keterlaluan,” marah Dini.

Dia sudah tidah tahan.

Mutia kini menatap Dini. Sorot mata benci terjelas di sana. Dia memposisikan Dini di pinggir gedung bertingkat lima. Tangan itu siap mendorong Dini dengan segera.

“Jangan harap kamu bisa lepas dariku,” ucap Mutia dengan senyum bringasnya. Dia mendorong tubuh Dina agar jatuh.

“Hai, apa salahku padamu? Bukankah kita baru bertemu, kenapa kau ingin membunuhku?” Dini sungguh bingung.

Mutia mencengkeram lengan Dini kuat. Matanya menyala merah. Seketika Dini ingat siapa cewek itu di depannya. Dia makhluk yang sama yang pernah dia lihat sebelumnya.

“Tidak!” teriak Dini.

****

Jantung Dini berpacu cepat. Keringat dingin menjalar keseluruh tubuh. Mimpi buruk yang baru saja menyapa, membuatnya lemas tak berdaya. Dini menarik napas, mencoba mengatur detak jantung yang masih kembang-kempis. 

“Ya, Allah. Semoga ini bukan pertanda buruk,” doanya.

Dini melangah menuju kamar mandi, membasuh muka. Semoga kesegaran yang tercipta mampu membantunya membuang gelisah yang mendera.

Dini menatap kaca besar di kamar mandi. Sekelebat bayang berbaju merah melintas di belakangnya, yang terpantul dari kaca besar itu. Dia terkesiap. Mungkinkah dia masih di alam mimpi?

Dini mundur beberapa langkah. Mencari sosok dia yang tadi mencoba menampakkan diri. Namun hasilnya nihil. Dia hanya menakut-nakuti ternyata. Dini meninggalkan kamar mandi dengan banyak tanya.

Dia duduk lemas di kasurnya. Siapa wanita itu? Kenapa dia datang dan ingin membuhnya. Wanita yang dia lihat beberapa kali di radio tempat dia bekerja. Di lorong menuju kamar mandi.

Dan sejak itu Dini selalu bermimpi buruk di kejar-kejar hantu, atau dikutuk. Dini merasa tersiksa karena tidak bisa tidur nyeyak. 

Pasalnya baru memejamkan mata, wanita itu mucul menyeringai dan ingin mencbik-cabik dirinya. Belum lagi, ketika dia terdampar di lorong menuju toilet kantor yang membuatnya ingin muntah. Beberapa kali, Dini terbangun dan berada di sana. Aneh. Padahal dia yakin, semalam tidur pulas di rumah.
Ada kejadian apa di sana?

****

Lagi-lagi  dia selalu dapat jatah siaran malam. Ingin menolak tapi, itu tidak professional. Dengan masih menyimpan takut karena mimpi buruk. Dia sebisa mungkin menghindari pergi ke kamar mandi.
Karena di sanalah tempat paling sering dia melihat wanita bergaun merah dengan sorot benci ingin menerkam dirinya. Kenapa hanya dia yang diteror di sini? 

Dini memasuki ruang siaran dan tak menemukan siapa pun di sana. Apa maksud dari semua ini coba? Ke mana para crew dan produdernya. Kalau tahu begini mending dia tidak masuk kerja.

Dini duduk di ruanganya cukup lama. Menimbang-nimbang antara pulang dan tetap bertahan.
“Pulang saja, deh,” putusnya akhirnya.

Namun baru beberapa langkah, kembali dia dikejutkan dengan senyum khas milik wanita berbaju merah. Dini reflex mundur seketika.

Dini berlari menjauh dari sosok itu yang mengaku bernama Mutia. Wanita yang dulu ada dimimpinya yang katanya produser baru pengganti Surya. Kini mimpi itu seolah menjadi nyata. 

Dengan sigap Dini harus segera lari dan menjauh dari hantu  gila itu. Dia tak mau mati konyol gara-gara kesalahan yang tidak dia tahu.

“Kau tidak bisa lari, Dini,” ucapnya sudah berada di hadapan Dini.

Jantung Dini berdetak tak menentu bagaimana dia bisa mengalahkan hantu  ini? Apalagi tenaganya juga sudah letih sedari tadi, berlari tak juga dia temukan pintu keluar. Ah, bagaimana ini? 

Lelah dan resah menggelayuti Dini sekarang ini. Dia terjebak di sini. mata Dini terbelalak ketika membaca pesan singkat bahwa kantor hari ini libur. 

Lalu siapa yang tadi menelepon dia untuk segera ke kantor segera. 

Wanita berbaju merah itu tersenyum penuh kemenangan dia bisa menjebak Dini ke mari. Pantas saja kantor sangat sepi sedari tadi.

Dini menelan ludah. Dia telah terjebak di sini. Rasa letih karena sedari tadi beralari ke sana-ke mari telah menguras semua energi. Dia pasrah ketika kuku panjang miliki wanita berbaju mereh menancapkanya di kaki Dini. Darah mengalir deras dari kakinya. Setelah itu semua gelap.

****

Masih Mona ingat dengan jelas kala dia melihat Dini yang nampak  senang sekali, setelah sekian lama mencari pekerjaan sambilan untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang makin meninggi, akhirnya kini dia diterima bekarja di salah satu radio ternama—radio Soraya 91.07 FM yang dulu sering dia dengarkan.
Siapa sangka Dini bisa diterima di sana, kini dia tak lagi menjadi pendengar seperti biasa. Tapi menjadi penyiar seperti mimpinya dulu di sekolah. Dini bekerja dengan semangat tinggi, menikmati setiap esensi rasanya menjadi penyiar. Di sanalah, dia hidup sekarang, dengan segala rasa berbaur hingga merubah dirinya menjadi sesuatu yang luar biasa.

*****

“91.07 FM, soraya radio. Oke guys bareng aku lagi Dini, di acara nightmare seasion. Kalian bisa reguest lagu kesukaan kalian dan menceritaka tentang pengalaman mimpi buruk yang membuat kalian bergidik ngeri. Sebagai lagu pembuka, aku putarkan lagu My Chemical Romance ‘Welcome to the Black Parade’,” Dini mulai siaranya malam itu Dini menikmati lagu, sambil membaca novel yang tadi dia bawa.

Lumayan sambil menunggu iklan juga. Jadi tidak bosan. Kerja di sini sangat menyenangkan. Teman-temannya baik dan ramah. Dini jadi sangat betah. Dia yang minim pengalaman banyak belajar dari para senior.

“Baca Novel, apaan Din? Sepertinya keren,” Mona yang baru datang langsung nyamperin Dini.  Mereka lumayan dekat di sini. maklum sama-sama anak baru juga.

“Iya, keren banget. Ntar kalau dah kelar aku pinjamin.”

Hari-hari pertama kerja semua berjalan lancar. Dini sangat bersuyukur. Meski baru pertama kali terjun dalam dunia kepenyiaran, hasilnya tidak terlalu buruk untuk pemula. Ratting untuk acarnya pun lumayan tinggi. Ini, mah namanya prestasi.

Namun sejak dia menjadi penyiar nightmare, hidupnya berubah menjadi gelap. Selalu dibayangi kematian dan mimpi buruk hingga membuat dia ambruk. 

Teror silih berganti menghantui. Membuat Dini menjadi berbeda. Dia yang dulu ceria menjadi sosok pendiam dan suka menghilang. Suka berteriak sendirian lalu tertawa kembali. Kataya ada makhluk jahat yang selalu membuntuti.

“Jangan ngacoh deh, Din. Di sini tidak ada hantu,” ucap Mona meyakinkan.

“Percayalah Mon, dia ada dan ingin membunuhku,” terangnya ingin meminta pertolongan pada Mona.
Karena kasihan Mona  pun mengizinkan dia menginap di rumah. Dan  Mona sungguh kaget, ketika melihat Dini dalam sosok lainya. Dua jiwa dalam raga yang sama. 

Sahabatnya telah dimasuki makhluk lain yang mengaku bernama Mutia—penunggu kantor tempat kami bekerja. Mitos tentang hantu di lorong menuju kamar mandi  ternyata benar adanya. Hantu itu mati karena dia di bunuh di sana oleh pacarnya yang berselingkuh dengan kawanya, hingga dia bergentayangan ingin balas dendam. Jadilah mereka—Mutia dan Dini saling membunuh untuk mempertahankan raga secara utuh. Saling tarik menarik ingin menguasai.

Entah kenapa Dini yang dia pilih ternyata setelah Mona selidiki, Dini memiliki wajah yang mirip dengan selingkuhan pacarnya. Karena itu Mutia ingin membunuhnya, atau menguasai jiwa Dini  sekalian.
Mona menatap Dini yang duduk menunduk di kamar tempat dia di rawat sekarang. Wajahnya pias, terlihat sedih. 

“Pergi! Pergi!” ucap Dini selalu tatkala berkaca melihat satu lagi jiwa yang bersemanyam di sana, yang suka bergentayangan ketika malam tiba. Berubah menjadi sosok Dini yang bersiaran tengah malam.
Mona bergidik ngeri. Ternyata ada makhluk lain yang tak kasat mata. Mungkin adia  harus mengundurkan diri dari radio itu setelah kejadian ini.

Tapi mendadak tubuhku limbung, entah Dini atau Mutia yang telah ada di depannya. Menyeringai menghujamkan pisau ke perut Mona.

Srobyong, 16 April 2015.

Atau bisa simak langsung di