Saturday, 31 January 2015

[Cerpen Horor] Hikiko



Judul : Hikiko

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida

Nika memasuki kamar dengan segera. Dia ingin merebahkan diri sebentar karena rasa lelah yang menjalar diseluruh tubuhnya. Seharian ini terlalu banyak aktivitas yang dia jalani. Biarlah untuk hari ini dia tidak ikut makan malam dengan keluarga. Nika langsung tertidur setelah membersihkan diri, terlelap dalam mimpi.

Nika tidak tahu, entah karena terlalu lelah atau terlalu banyak mengkhayal dia merasa kasurnya ini bergerak-gerak seperti digoyang-goyang. Didorong seperti sedang ditimang-timang. Nika membuka mata mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ini nyata, dia tidak bermimpi. Nika menelan ludah, dengan masih duduk di atas kasur mencoba menetralisir alam pikirannya. Tapi gerak itu masih dia rasakan dan malah bertambah cepat. Nika menengok ke sekeliling kamar.

Mendadak dia merasa takut, bulukudunya merinding. Dia ingin keluar untuk ke kamar kakaknya, tapi kaki itu seolah tidak bisa bergerak. Nika kemudian mencoba merebahkan diri lagi, berharap dia tidak merasakan kasur ini ditimang-timang. Dia memejamkan mata, menutupnya dengan bantal mencoba mengusir rasa takut. Tapi tetap saja dia merasakan kasur itu bergoyang-goyang.

Semakin lama semakin cepat. Ada penasaran yang menyelimuti jiwanya. Dengan sedikit mengintip Nika mencoba mengedarkan pandangan. Lalu pandanyannya bertaut dengan sosok pucat tidak jauh dari kasurnya, yang sedang mendorong dengan tawanya yang membuat bergidik.

Nika terkesiap, detak jantungnya tak beraturan. Kini tatapannya nanar.

“Hikiko!” pekik Nika panik.

Dia menjauh tapi hantu kecil yang hampir menyerupai kuntilanak itu malah mendekat, membuat Nika ketakutan.

“Pergi!” teriak Nika.

Bukannya pergi Hikiko seolah ingin meraih Niki dengan segera. Kini Hikiko makin keras mengoyang-goyangkan kasur membuat Niki berteriak keras.

Menjambak rambut Nika dengan kasar, menarik tangan dan hampir mencekiknya.

~*~

Nika menghela napas. Mungkin semua hanya imaji atau mimpi. Ah, sudahlah itu tidak penting. Pagi sudah menyapa, kini Nika memulai aktivitas seperti biasa. Dia menyiapkan segala kebutuhan sekolahnya dengan suka cita.

Entah beberapa minggu ini dia merasa selalu memimpikan hal yang sama. Bertemu Hikiko dan dihantuinya.

~*~

“Itte Mairimasu—aku berangkat!” Nika bergegas, meninggalkan rumah besar yang baru saja dibeli keluarganya beberapa minggu lalu.

“Ohaiyou, Nika-chan—selamat pagi, Nika-chan,” sapa Mari—teman Nika yang kebetulan berada di kompleks perumahan barunya.

“Ohaiyou.” Nika tersenyum. Mereka pun kini berangkat bersama ke sekolah.

Namun, baru beberapa langkah menuju sekolah ....

Glek!

Niki menelan ludah, menatap sosok Mika yang tengah berubah menjadi Hikiko. Teror baru dimulai, menghantui Nika dan rumah baru yang ditempati tanpa akhir.

Tawa menyeringai di bibir Hikiko. Meraih Nika, menarik tangan dan rambut ingin mencincang. Dia ingin membalas kejahatan orang-orang yang dilakukan padanya sewaktu tinggal di rumah yang dihuni Nika.

Srobyong, 22 Desember 2015.

Nb : tidak seram.

[Cerpen] Cowok di Bus Santika



Judul : Cowok di Bus Santika

OLeh : Kazuhana El Ratna Mida

Aku sudah memasuki Bus Santika dan duduk santai di kursi bagianku. Tiba-tiba seorang cowok muncul dan dengan santai duduk menjajariku. Kutatap dia yang nantinya akan menjadi teman perjalanan menuju desa kelahiranku. Cowok berperakwakan tinggi dan cukup tampan menurut kacamataku. Sedari tadi dia hanya diam tak menyapaku dan asyik mendengarkan musik yang menempel di telinganya.

Aku pun memilih yang sama. Bodoh amat, dia saja cuek. Kenapa aku tidak. Kemudian sambil menunggu semua penumpang masuk dan siap mengantar aku pulang. Kuisi waktu dengan membaca manga terbaru yang baru aku beli beberapa hari lalu. ‘Manga Naruto’ yang menjadi favoritku.

“Wah kamu suka Naruto?” tiba-tiba dia sudah ikut nimbrung membaca bersamaku. Tubuhnya condong ke arahku hingga bisa kucium bau parfum melati yang melekat dalam tubuh cowok itu. horor juga nih cowok kok memakai parfum seperti ini. Bodoh amat mungkin emang ini parfum kesukaannya.

“Eh, iya, kamu juga suka?” tanyaku balik. Dia menganguk, dan kemudian meluncurlah cerita tentang hobinya dengan dunia anime yang sangat digemarinya itu.

Senang juga sih aku mendapat teman duduk yang bisa nyambung diajak ngobrol. Biasanya aku hanya bisa diam hingga sampai tujuan. Kupikir tadi, aku akan kembali merasakan itu. karena melihat gelagat dia yang begitu cuek dengan sekelilingnya. Namun aku salah dia asyik juga.

“Kamu anak Mlonggo juga?” Matanya berbinar. Aku mengangguk mengiyakan. 

“Tidak kusangka kita satu daerah ya,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Akhirnya kami pun mengobrol sana-sini, dan aku tidak menyangka dia juga satu kampus denganku meski beda fakultas dan semester. Jadilah kami saling bertukar alamat dan juga nomor handphone yang bisa dihubungi. Mungkin suatu saat kami bisa bertemu lagi.

Pertemuan dan obrolan manis yang terjadi karena manga Naruto. Andai kau tak mengeluarkan manga itu belum tentu kami bisa mengorbol bebas seperti ini.

“Bagimana kalau nanti kita balik ke Jogja bareng. Ketemuan di halte bus ini ya,” ucapnya ketika kami sudah sampai.

Aku mengiyakan saja. Pasti seru bisa berengan dengan dia lagi. Dan lagi aku merasa sangat nyaman dengan dia. Jangan-jangan, aku suka dia pada pertemuan pertama? Who Knows?

“Sampai jumpa dua minggu yang akan datang,” ucapnya melambaikan tangan. Aku sendiri sudah harus melaju ke rumah melepas lelah dengan sepeda kakak yang sedari tadi setia menunggu kepulanganku.

Kusapa surga kecil yang menjadi saksi bisu aku tumbuh, aku senang sekali dua bulan aku tidak pulang. Rasanya rindu pada bapak dan ibu sudah membuncah. Kupeluk mereka dengan bahagia. Setelah itu aku rebahan di kamar tercinta.

Tiba-tiba ringtone lagu’ blue bird’ milik Ikimono Gakari mengagetkan aku. Kubuka pesan masuk di handphoneku. Ternyata dari Sabil, cowok di bus santika yang menjadi teman dudukku.

“Rai, dah sampai di rumah dengan selamatkan?” 

“Alhamdulillah, iya aku dah sampai dan istihat di rumah.”

Aku senyum-senyum sendiri membaca pesan-pesan yang dia kirim untukku. Obrolan yang tertunda di bus kami lanjutkan di sini. Dua minggu di rumah dia yang mewarnai dan memenuhi inbok hp-ku. Meski kami berkomunikasi lewat dunia maya. Rasanya itu cukup membuat kami seolah sudah kenal lama.

Dan hari ini, sudah saatnya aku kembali untuk mengejar cita. Aku begitu semangat karena hari ini aku bisa bertemu lagi dengan dia. Aku sudah membayangkan pertemuan manis ke dua yang pasti lebih asyik dari awal kami jumpa.

Kutunggu dia hingga, bus sudah mau siap berangkat ke kota. Tapi dia tidak muncul juga. Aku jadi was-was, padahal tadi dia sempat memberi kabar kalau dia sudah siap untuk berangkat. Kuhubungi nomor handphonenya, tapi tak jua ada jawaban dan selalu sibuk. 

“Halo, benarkah ini nomor Raisa?” suara seseorng dari seberang sana.

“Iya, saya sendiri, ngomong-ngomong Sabilnya mana? Bus sudah mau berangkat lho Mbak,” aku mencoba menjelaskan. Cukup lama penelepon itu diam dan menghela napas. 

Bagai disambar petir, ketika aku mendengar kepergian Sabil yang begitu mendadak dan tak masuk akal. Mungkinkah dia mengerjaiku? Wajahku yang semula ceria menjadi sendu. Kuputaskan membatalkan tiket ke Jogja dan segera pergi ke rumah Sabil.

Kutatap dia yang sudah terbujur kaku. Tak bisa kubendung tangis yang kucoba tahan sedari tadi. Dia yang bari datang mewarnai kini telah pulang pada Ilahi tanpa permisi.

“Ini dek Rai, ada titipan dari Sabil buat kamu,” Alia kakak Sabil yang tadi meneleponku menyerahkan kotak kecil untukku.

Kubuka kotak itu di rumah setelah selesai acara pemakamannya. Sebuah surat dan mug cantik bertulis namaku. 

Untuk Raisa

Maaf jika pertemuan ini membuatku terluka. Sungguh aku tidak bermaksud untuk memporak-porandakkan hidup yang sudah kau punya. Perasaan yang sudah aku belenggu agar tak tertarik dengan dunia merah jambu malah datang ketika melihatmu. Padahal sedari awal aku coba besikap dingin tak memerhatikanmu. Tapi entah kenapa aku malah tidak bisa mengendalikan perasaan yang aku punya.

Mungkin kau tidak ingat aku, aku Muhammad Sabil Al Fatih. Kakak kelasmu yang dulu yang selalu memerhatikanmu. Lama aku menyimpan rasa ini, karena kamu selalu bilang tak mau berpacaran sebelum gelar sarjana kau raih. Karena itu aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Sebenarnya aku tahu semua tentangmu. Cuma aku berpura-pura seolang tak mengenalmu.

Hari itu di Bus Santika. Aku sungguh senang bisa mengobrol denganmu. Kemudian kita saling mengirim pesan layaknya sudah saling mengenal sejak dulu. Sungguh, andai aku bisa mengulur waktu aku ingin ada lebih lama untuk menemani di sisimu. Tapi, tumor otak yang menggerogotiku tak bisa diajak kompromi. Aku memang sengaja pulang, ketika aku sudah merasakan maut yang mengintai. Kau mungkin bingung bagaimana aku tahu akan ajal yang mau menjemputku. 

Aku seorang indigo yang memiliki kemampuan bisa menlihat masa depan orang-orang, termasuk masa depanku sendiri. Kerena itu kutulis ini untukmu ketika ajal semakin mendekatiku.

Aku harus pergi Raisa. Maaf dan terima kasih telah mewarnai di detik-detik kehidupanku. Meski tak banyak kenangan indah yang aku berikan padamu. Sungguh sejak dulu aku sangat mencintamu. Jaga diri baik-baik ya. Seseorang yang baik akan dikirimkan untukmu.

Aku menangis sesenggukan dengan menggenggam erat surat itu. pedih rasanya kehilangan seseorang yang begitu tulus padaku dalam sekejap mata. Aku menyesal karena telah melupakan dia yang ternyata telah lama memerhatikanku. Pantas saja kau merasa familiar dengan dia. 

Cowok di Bus Santika—Sabil aku takkan melupakanmu lagi. Sebuah kenangan terindah meski hanya dua minggu. Semerbak wangi melati menusuk hidungku, aroma parfum yang sama ketika kita saling sapa saat bertemu. Apakah kau masih melihatku di sini? Jiwamu yang masih rindu.

Ya, pada akhirnya aku harus menerima, cintaku harus tertunda karena sebelum kita berikrar untuk saling tautkan hati kau telah pergi. 

Meninggalkanku selamanya tak tahu kapan akan bertemu lagi. Mungkin dikehidupan selanjutnya? Who knows?. Pikirku dalam hati.

Aku harus kembali menata ulang hati memulai hidup kembali. 

Srobyong, Edit terakhir 20/1/15

[Cerpen Horor] Hitam Legam


Judul : Hitam Legam

Genre : Horor

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida
Aku pernah mendengarnya dari para warga. Rumah itu penuh misteri dan ada penunggunya. Maklumlah rumah itu dibagun dekat pohon bambu yang katanya, sebagai rumah hantu. Lagi pula rumah itu memang kosong karena pemilik rumah ke luar kota. Jadi potensi untuk angker semakin sempurna. Belum lagi dua kuburan keluarga yang berpepetan di kebun belakang.
~*~

Bulukuduku merinding setiap kali melewati rumah itu. Ada ketakutan yang menyergap hingga peluh bercucuran membasahi tubuh. Seperti saat ini ketika aku harus pulang malam dan melewati rumah itu sendiri.
Dinda--teman yang biasanya bareng denganku sakit hingga tak ikut rapat IPPNU--Ikatan Putri Putri Nahdatul Ulama tadi.

Entah kenapa rapat yang biasanya dilakukan pagi hari diganti malam ini.

Parahnya yang aku dengar, sakit yang diderita Dinda itu karena kesambet hantu penunggu rumah itu. Aku jadi takut.

Segera aku mempercepat langkah. Tak maulah aku bertemu para demit yang bentuknya bermacam-macam."Ich, ngeri."

Kulirik jam yang melingkar di tangan kiri. Sudah jam sepuluh lebih sepuluh menit aku harus cepat.
Malam hari yang bertepatan dengan malam jumat adalah waktunya para setan ke luar. Beberapa fakta pernah terjadi di daerahku.


Seorang warga pernah melihat sosok hitam legam yang ikut berpatroli--ronda di malam hari.

Pug!

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Seketika wajahku pias karena ketakutan. Aku tak berani menoleh dan terus mengucap doa.

"Ya Allah jauhkan aku dari pada setan." Aku merapalkan dua tangan.

"Hoi, Na! Ini aku Bella."

"Kya, Bella, kenapa tak bilang dari tadi! Aku ketakutan tahu!" Marahku.

Bella hanya nyengir kuda. Dia adalah temanku sekolah tapi tak begitu aktif organisasi.

Beruntung aku bertemu dia. Paling tidak dia bisa mejadi teman seperjalanan yang bisa mengurangi ketakutanku. Ya, walau aku tak tahu alasan dia pulang hingga malam, dan masih dengan memakai seragam sekolah.

~*~

"Tumben sendirian, biasanya berdua dengan Dinda," ucap Bella heran.

"Dia sakit, Bel. Sejak malam kemarin. Katanya dirasuki jin gitu," aku bercerita.

"Aku kok tidak tahu ya? Padahal kita satu kompleks." Kulihat Bella menggaruk kepalanya.

"Kan memang tak diumumkan Bell. Hanya kerabat dan tetangga terdekat yang tahu," aku menjelaskan.

"Pantesan tadi kamu ketakutan. Tenang, ada aku pasti tidak ketemu hantu, hehehe." Bella tertawa tak berdosa.

Setelah belokan ke kiri kami sampai di depan rumah itu. Rumah dengan model jawa klasik yang kini terlihat suram dan angker.

Kuajak Bella berjalan cepat, tapi dia msih saja santai.

"Ayo, Bel! Cepat!" Kutarik tangannya dengan segera.

Sekelebat bayang hitam tiba-tiba tertangkap dalam netra.

Glek!

Aku menelan ludah. Apa itu? Jangan-jangan penampakan genderuwo yang sering orang-orang bilang.
Para tetangga yang kebetulan dekat rumah itu sering melihat penampakan hantu penunggu rumah.

Lalu bau tak sedap seperi bau kambing menusuk hidungku. Prengus sekali.
"Na, kenapa tiba-tiba wajahmu memucat?" tanya Bella.

"Tadi ada makhluk hitam pekat yang lewat," aku menjelaskan.

"Ah, Kau salah lihat mungkin," timpal Bella santai.

Aku pun mengiyakan. Mungkin memang salah lihat karena ketakutan yang luar biasa.

Kuajak Bella untuk lebih cepat lagi karena malam semakin larut. Takutnya nanti terjadi hal-hal aneh yang menyapa.

Sambil berjalan kulirik pohon bambu yang terlihat jelas dari jalanan. Tak apa-apa tapi kenapa bulu romaku berdiri semua? Kata orang-orang jika itu terjadi maka biasanya sedang diikuti setan.

Aku semakin paranoid. Semilir angin makin membuat bergidik ngeri. Pohon bambu itu seperti berjalan mengikuti.

Ah, salahku kenapa tak kusuruh menjemput ayah atau abangku. Kupikir rapat bisa selesai lebih cepat. Sungguh aku menyesal sekarang.

Ya Allah semoga aku selamat dari hal-hal yang tak aku inginkan. Doaku dalam hati.

"Aaaaa ...!"aku berteriak dan langsung berlari dengan kencang.

Sosok hitam legam yang biasa kusebut genderuwo ada di depan mata.


Tubuhnya tinggi dengan rambut hitam panjang menjuntai.

Aku melupakan bahwa tadi berjalan beriringan dengan Bella.

"Wah bagaimana dengan Bella?" Aku bicara sendiri.

Napasku masih tersengal-sengal ketika akhirnya tiba di rumahku sendiri.

"Na, kenapa kamu pucat pasi?"

Kutatap Bella yang sudah ada di depanku.

"Bel, sejak kapan kamu berada di sini?" tanyaku bingung.

"Untunglah kamu selamat," ucapku penuh syukur. Dia hanya tersenyum.


"Mampir dulu yuk! Atau menginap saja di rumaku," aku menawari.

Maklum rumah Bella masih melewati beberapa rumah di sini. Dia menggeleng dan berlalu pergi.

"Lho, sudah pulang. Baru mau aku jemput," Bang Ihsan muncul dari balik pintu.

"Telat Bang. Aku pulang dengan penuh perjuangan," ceritaku.

"Maaf, tapi sepertinya kamu ada teman pulang tadi. Aku mendengar percakapan dua orang mesti tak begitu jelas. Sama siapa tadi?"

"Sama Bella, Bang. Untung aku ketemu dia di jalan," ucapku dengan senyum mengembang.

"Eh, bukannya Bella kecelakaan bakda magrib saat kamu rapat?"

"Lalu siapa yang bersamaku, Bang?" tanyaku dengan gemetar.

"Itu hantu wanita penjaga rumah itu, Mbak."

Adikku yang memang seorang indigo muncul dan menunjukkan sosok itu padaku.

Aku terkesiap melihat wanita berbaju merah menatapku dengan tersenyum dan melambai.
Tubuhku langsung lemas seketika.



---The End---

Srobyong, Januari 2015

[Cerpen] Dendang Salawat Nabi




Judul : Dendang Salawat Nabi

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Andai beliau masih ada pasti ceritanya berbeda. Akan ada gemerlap cahaya menyemarakkan musala. Membuat jiwa luluh menyenandungkan lagu pada sang kekasih, bergumal rindu rasa ingin bertemu.

~*~

Al-Falah menghela napas. Sejak satu tahun lalu—tepatnya sejak kakek meninggal. Musala ini menjadi sunyi—senyap. Tak ada lagi celotehan anak-anak yang melafalkan huruf hijaiyah, apalagi menyenandungkan salawat Nabi ketika bulan maulid datang.

Sungguh nuansanya sangat berbeda. Al-Falah rindu masa itu. Melihat anak-anak bermain dan bersendau gurau dengan teman-teman, lalu berlatih bersama membaca Al-Barjanji.

Kini masa itu telah tertelan waktu. Ketika pemuka agama—kakek yang selalu menggerakkan dakwah telah berpulang, hilang juga semangat para penerus yang tak punya tekad berjuang. 

Al-Falah miris ingin menangis. Apakah hanya sampai batas ini saja, tak ada lagi perombakan untuk kebaikan?

Ya Allah andai aku bisa ingin rasanya menggerakkan maju seperti dulu, meneruskan jejak perjuangan yang telah didirikan. Batin Al-Falah. Tapi siapalah aku? Aku tak memiliki daya untuk mewujudkan semua tanpa ada penggerak lainnya yang memiliki cita-cita yang sama. Batinnya lagi.

“Aku harus ditopang baru bisa berjalan,” lirih Al-Falah berucap dalam kesendirian.
Ya kesendirian ketika tinggal gelap yang tersisa di sini. Andai bisa Al-Falah ingin berteriak agar para warga mendengar kepiluan hatinya yang telah menggerogoti.

Apalah gunanya musala yang selau direhab setiap saat, namun, warganya kosong tak mau meramaikan. Hanya segelintir orang yang datang silih berganti untuk menunaikan jamaah. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Padahal luas musala ini mampu ditempati semua warga di sini.

Al-Falah sungguh sedih dan kadang-kadang menangis dalam sepi. Dia selalu berharap ada seseorang yang memiliki kesadaran melanjutkan perjuangan.

~*~

Hingga dia datang menjadi cahaya terang—seorang yang memiliki semangat juang mulai menghidupkan musala. 

Al-Falah sungguh bangga, ingin berucap syukur—berterima kasih pada dia yang mau mengabdi untuk warga, melanjutkan perjuangan sang kakek yang dulu telah berpulang.

Doa yang diam-diam dipanjatkan kini dijabahi Sang Penguasa Alam. Hadirnya seseorang yang bernama Nur Laila. Namanya secantik akhlaknya menjadi penerang di gelapnya malam yang membunuh warga.

~*~

“Shalluu ‘Alannabi Muhammad.”

Al-Falah mendengarkan suara merdu yang terdengar dari speker. Hatinya terasa damai sejuk penuh haru.
Titik balik setelah satu tahun musala ini sepi tak ada yang mengisi. 

“Alhamdulillah, para warga telah sadar kembali menyalakan pijar dakwah,” Al-Falah berucap syukur.
Sungguh ini adalah hadiah—kado terindah ketika para warga telah mulai sadar, menyemarakkan bulan maulid yang kini datang. Menyongsong tahun baru dengan perubahan. Al-Falah berharap ini akan langgeng dan terus berjalan.

Al-Falah mendengarkan salawat Nabi kini sudah didendangkan. Dia tersenyum senang. Melihat anak-anak kecil dan warga yang ikut meramaikan musala mengobati kehampaan yang dulu menerpa jiwanya.

“Semoga ini bukan untuk awal dan akhir kalinya, tapi akan dimulai lagi untuk dirintis dengan kajian Al-Quran dan Al-Barjanji secara bergantian,” doa Al-Falah dengan senyum mengembang.

Srobyong, 30 Desember 2014.

 Spesial untuk ultah Mbak Lulu Wal Marjaan

[Cerpen] Istana Yang Kurindu

Judul : Istana Yang Kurindu

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida

Aku tak butuh apa-apa selain bisa memasuki ruang itu. Ruang yang teramat istimewa yang membuatku jatuh cinta. Aku ingin di sana selamanya. Merajut mimpi dan kasih yang menggelora.

~*~

“Kamu masih ingin ke sana, Ra?” tanya Fifi yang tahu akan ambisiku sejak masih di sekolah dasar.

“Ya, tentu saja.” Aku mengangguk pasti.

“Hahaha, kamu lucu Ra,” ucap Fifi tiba-tiba.

“Kenapa?” tanyaku tak paham.

“Dasar! Kamu tak pernah berpikir bahwa semua itu sia-sia? Mungkin dia sudah memiliki orang lain. Dia melupakanmu, Ra,” tandas Fifi sambil menatapku.

“Tidak mungkin, dia tak seperti itu. Dia akan terus menungguku sampai aku siap,” ucapku yakin.

Aku sangat mengenalnya, sejak dulu selalu bersama. Dia tak akan berkhianat.

Dia pernah bilang padaku. “Datanglah ketika kamu siap, Ra. Ketika kamu mantap untuk selalu dekat denganku selamanya,” ucapnya dengan senyum mengembang.

Sungguh, aku sangat menyukainya, ingin selalu bersama dalam ruang yang sama.

Andai kecelakaan setahun lalu tak terjadi padaku, mungkin aku sudah berada di sisinya. Mengisi hari-hari penuh canda tawa. Ya, tapi apa boleh buat takdir berkata lain. Aku harus jatuh dan kini dalam proses penyembuhan. Tapi aku tak membuang cita untuk bisa selalu dekat dengannya.

Aku percaya janjinya itu pasti. Dia tak pernah sekali pun berbohong padaku. Apa yang dikatakannya selalu dia tepati.

~*~

Senyumku mengembang, akhirnya waktu pun datang berpihak padaku. Aku sudah dinyatakan sembuh dan bisa memulai aktivitas lagi. Meski masih ada wanti-wanti yang harus aku patuhi. 'Jangan terlalu banyak berpikir.

Kalau masalah itu aku pasti bisa. Aku kan orang yang sangat santai, kecuali untuk satu tujuan yang masih aku tanam dalam diri. Berada satu ruangan dengannya dalam istana tak berdinding, namun penuh makna.

“Tunggu aku di sana,” lirih aku berkata.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, akhirnya kumantapkan niat untuk menemuinya, setelah lama berpisah. Ya, aku sudah cukup sehat untuk memulai rencana yang pernah aku susun dengannya. Aku pasti bisa. Demi berada di sisinya aku akan berusaha.

“Semangat, Ra!” teriakku sendiri.

Dengan modal nekat aku kembali mendekatinya. Memulai semua dari awal. Ya, walau ada sedikit takut yang sejatinya menggelayuti raga. Lama tak bersua, buatku grogi juga.

Ingatan tentang obrolanku dengan Fifi beberapa minggu lalu mencuat, membuatku makin resah.

Tidak mungkin dia menolak, dan melupakanku. Dia pasti masih mau menerimaku, ucapku dalam hati mencoba menyemangati diri.

Akhirnya aku sampai di sana. Kutatap istana yang nantinya akan aku tinggali bersamanya. Ini yang aku tunggu. Aku sudah mantap akan pilihanku.

“Selamat datang,” sapa seorang wanita berjilbab yang kutahu dia adalah salah satu anggota keluarganya—namanya Mbak Indah.

“Sudah sembuh, Ra?” tanya Mbak Indah sambil menatapku.

“Alhamdulillah, Mbak,” jawabku dengan tersenyum.

“Selamat datang kembali, kamu sangat dirindukan untuk kembali,” ceritanya padaku.

Ces!

Betapa aku senang mendengar kabar ini, berati dia tetap menungguku meski aku pergi beberapa lama demi kesembuhanku.

Aku pun masuk dengan semangat. Tak sabar rasanya ingin memeluk dia yang nantinya benar-benar akan menjadi keluargaku. Yang menemani dalam desahan napasku.

“Ra, kamu kembali!” teriak beberapa keluarga lain begitu melihat kedatanganku.

Ada Mbak Meli, juga Mbak Lili. Mereka sangat baik padaku, membantuku selalu untuk dekat dengannya. Merekalah orang yang berjasa telah mengenalkan aku pada dia yang saat ini aku temui, mereka yang mendukung ketika kadang harapanku pasang turun.

Aku memasuki ruang yang menjadi tujuanku. Satu langkah lagi aku akan bertemu.

“Aku kembali, aku sangat merindukanmu.” Pelukku padanya seketika.

Dia hanya tersenyum padaku, membelai jilbab biru yang ada di kepalaku.

“Alhamdulillah, Ra. sudah lama aku menunggumu untuk kembali.” Dia menatapku.

“Peluk, dan belailah aku sepuasmu. Aku sangat rindu ketika kita sering berkencan berdua, baik pagi siang atau malam.” Dia mengerling padaku. Aku tersipu malu.

“Kita mulai lagi ya,” pintanya padaku. Benar kan? Dia tak lupa padaku dia masih menunggu.

“Hem, aku siap. Kita saling mengisi.” Aku mengangguk mantap.

Lalu kumemeluk dia lagi dan mengecupnya, karena sungguh aku sangat rindu. Inilah bukti sayangku.

“Al-Quranku, aku siap untuk menghafalkanmu.”

Ya, inilah istanaku Al-Quran yang nantinya akan membantuku menuju surga Rabb-ku. Pun dengan pondok pesantren tempat menuntut ilmu, juga niat suci untuk menghafalkan Al-Quran, mimpiku sejak dulu.

Di sini tak ada dinding perbedaan akan kasta, aku dan para santri lainnya hanya fokus untuk dekat dengannya, menghafal lalu mengamalkan isinya.
Inilah istana yang selalu kurindu, Al-Quran dan Pondok Pesantren yang selalu ada di dalam kalbu.



Srobyong, 23 Januari 2015.

Wednesday, 21 January 2015

Amanat Menjadi PJ (Penangngung Jawab)


Kumpulan Sertifikat Event Tak dibukukan

Lomba Puisi Bersama dalam sebuah Grup







 Lomba di Mafaza




Lomba di FAM




Lomba di Republik Menulis


Antologi ke 27 "Indigo"

Pena House, 2014

Sertifikat


Antologi ke 26 "Switch"

2A Dream Publishing

Sertifikat


Antologi ke 25 "Cerminan Negeriku"

 Cerminan Negeriku
Goresan Pena Publishing

Sertifkikat

Antologi ke 24 "99 Cahaya"

Penerbit Asrifah, 2014

Antologi ke 23 " Langit Bertabur Makna"


Antologi ke 22 " Katanya Ini Cinta"


Sertifikat 
 

Antologi ke 21 " Warna-Warna Indah"

Rasibook, 2014

Antologi ke 20 "Sosok Terhebat"


Inspemedia, 2014 


 

Antologi ke 19 " Bunga Rampai Puisi 'Menebar Asa di Enam Musim'"

Menebar Asa di Enam Musim
 Pena House, September 2014


Antologi ke 18 " Setiap Tempat Punya Kenangan"

Okasana, 2014

Sertifikat

Antologi ke 17 "Cinta Itu Anugrah"


Penerbit Rasibook, 2014

Sunday, 18 January 2015

[Cerpen Horor] Ganjaran





Judul :Ganjaran

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida

Terjebak, tertunduk di ruang gelap. Kamu lemah tak mampu berbuat apa. Ngilu rasa yang menggelayuti asa. Adakah ini balasan akan segala dosa yang kamu toreh?


Bug!

Kembali kamu rasakan sakit yang menggerogoti. Kamu dipukul berulang-ulang hingga otak berceceran. Namun kenapa kamu tak jua mati? Malah kejadian itu terus terulang kembali. Dipukul bercecer isi kepala, lalu kembali kebentuk semula.

"Ampun! Ampun!" Kamu terus berteriak.

Tapi orang di depanmu tak peduli. Membiarkanmu terjebak dalam sakit yang berkepanjangan itu.

Selesai dari kepalamu yang sudah dipukul berkali-kali, Kini tanganmu yang dicincang, dikuliti.

Kamu terlihat pasrah tak mampu berontak dan hanya meringis menahan sakit.

Sekelebat bayang masa lalu yang kamu punya seubahnya tontonan yang mampu dilihat siapa saja, bahkan orang yang menyiksamu. Pencurian, Pembunuhan yang pernah kamu lakukan.

"Ini balasan dari kejahatan yang kamu buat di masa lalu," ucap orang itu.

Tangan kananmu dipotong. Darah mengalir deras merah legam.

"Potong saja. Tangan ini telah banyak mengukir kejahatan." Kamu terkesiap mendengar tanganmu yang berbicara.


"Ini balasan dari mulutmu yang tak kamu jaga."

Orang itu menggunting bibirmu berulang kali.

Kamu berteriak, namun tak dipedulikan. Kamu sesenggukan tetap tak dianggap. Inilah rumah yang kamu bilang surga dulu. Rumah yang kamu bangun dengan emas berlimpah berubah jadi tempat mengerikan yang menghukummu secara tiba-tiba.

Ya, kamu lupa, bagaimana orang itu bisa masuk rumahmu dan memenjarakan pemilik aslinya yaitu kamu.


Jrep!

Kini matamu yang ditusuk. Darah segar pun mengalir.


"Ampun! Aku minta maaf. Ambillah hartaku, tapi lepaskan aku," kamu memohon dengan sangat.

Namun orang itu malah tertawa terbahak.

"Hartamu tak bisa menolongmu."

"Tak ingatkah daftar kelam yang telah kamu buat selama ini?" Orang itu menatapmu tajam. Kamu hanya menunduk.

Lalu kepalamu berujar, mengatakaan segala muslihat buruk yang kamu rencanakan. Pun dengan tangan, tak ketinggalan membeberkan kejahatanmu akan berjuta pembunuhan yang kamu perbuat dulu.

Mulutmu mengungkapkan tajam lisan yang kamu lempar ketika menyakiti para tetangga. Dan matamu berujar bahwa kamu menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang tak senonoh.

Kamu terus disiksa tanpa ampunan. Selamanya terjebak dalam kubangaan siksa tak akan surut dalam hitungan tahun.

Kamu kini sungguh menyesal. Kamu sangat ingin berubah, namun semua telah terlambat karena kamu sudah terjebak dengan kejahatanmu--daftar kelam yang pernah kamu lakukan.

Api telah melumatmu. Ganjaran dari perbuatanmu. Menjadikanmu teman setelah dua hari laku kamu meninggal karena dibunuh relasi kerjamu sendiri.


Srobyong, 15 Januari 2015

Saturday, 10 January 2015

[Horkom] Baru Sadar

Judul : Baru Sadar

Oleh :  Kazuhana El Ratna Mida

Kunci alias Kunti cilik sedang asyik menikmati makan malam yang baru saja disajikan. Dia makan dengan lahap sambil nonton konser penghargaan Mama Award yang lagi ditayangkan di Indosiar.

Matanya tak berkedip melihat artis-artsi Korea super kece yang membuat mulutnya mengaga. Cih, mereka kok pada cakep-cakep ya? Apalagi oppa Kyuhyun. Wah maulah dia jadi ceweknya.

Dia harus les kecantikan sama Yoona dulu kali ya? Kunci tertawa ngakak.

“Kun? Kamu ikut nggak?” suara panggilan dari Kuntilanak—sang ibu(Nyak-nya) mengangetkan.

“Ah, ogah Nyak. Kun mau nonton ajang Mama Award aja.”

Kunci cuek banget. Dia melanjutkan tontonannya.

“Lho katanya mau ikut? Kemarin sampe ngerek-rengek guling-guling dan salto.”

“Nggak jadi, Nyak!” teriak Kunci masih asyik menatap artis-artis idolanya. Pokoknya mumpung besok libur jadi bisa nonton sepuasnya.

“Yo weslah. Karepmu Kunci. Hati-hati di rumah.”

“Siap, Nyak!” Kunci kembali berteriak.

Sedang Nyak Poci—Pocong kecil dan Pocong sudah bersiap naik di mobil xenia dan segera berangkat. Mumpung libur sekolah mereka mau ke puncak menikmati suasana pegunungan. Biar fresh tak banyak pikiran. Melepaskan beban sebentar dari rutinitas menakuti orang-orang.

Kunci menguap. Saatnya untuk tidur. Ya, acara sudah selesai juga, dan dia puas mantengin coowok-cowok kece. Sebelum tidur dia ke dapur mau mencuci piring yang habis digunakan untuk makan. Maklum kalau tidak dicuci bisa kena semprot nyaknya.

Tapi dia bingung rumahnya kok sepi amat. Orang-orang pada ke mana?

“Nyak! Be! Poci!” teriak Kunci.

“Tadi katanya pergi sebentar kok lama amat,” Kunci menggerutu.

Dia memeriksa kamar nyak, dan babenya. Siapa tahu sudah tertidur pulas. Tapi hasilnya nihil. Ditengoknya kamar untuk menampung dia dan Poci. Sama Poci tak ada. Kya, pada ke mana orang-orang? Kunci bertanya dalam hati.

Eh, tiba-tiba Kuci memukul keningnya.

“Ya, Gue lupa. Pan malam ini rencana liburan ke puncak. Kok gue ditinggal?”

Kunci langsung telepon nyaknya.

“La, kan salahmu Kun. Tadi dan Nyak ajak, kamu bilang mau nonton Tv aja.”

Kunci menelan ludah. Ah iya, tadi saking seriusnya nonton Mama Award dia lupa. Dan hanya mengiyakan ucapannya nyaknya.

Kunci memasang wajah melas, ngenes amat.

Ah, sekarang dia di rumah sendirian tak bisa menikmati liburan. Kya? Kenapa baru sadar sekarang?

Hiks, Kunci menangis gulung-gulung di kamar.


Srobyong, 10/1/15

[Cerpen Horor] Ratu Tirta Samudra

Judul :Ratu Tirta Samudra

Oleh  : Kazuhana El Ratna Mida

Rian hari ini akan menikmati liburan bersama genknya, sambiL mengabadikan tiap inci lautan biru dalam kamera. Maklum dia anak photographer. Apalagi dia memang tertarik dengan pantai ini—pantai Bandengan dengan segala keindahan dan mitos yang menyelimuti.

~*~ Rian menatap ombak yang sedang pasang. Dia fokus dengan kamera yang menggelantung di leher. Dia betah berlama-lama demi kepuasan batin menangkap segala panorama dalam jepretan yang dia abadikan.

“Rian, kapan pulang?” tanya Fatia temannya. Dia dari tadi melirik arloji yang terpasang apik di tangan.

“Bentar lagi Fat. Nanggung nih, sekalian siang aja kita maksi—makan siang—dulu baru pulang.”

Fatia mengangguk meski sebel. Tahu begini dia tidak ikut, ya sedari tadi dia diceukin Rian. Anak itu kalau sudah dengan kamera lupa dengan segalanya. Sia-sia dia dandan cantik.

“Eh, Mila mana?” Dia celingak celinguk mencari sosok Mila yang tak nampak batang hidungnya.

“Biar aku aja yang nyari.”

Fatia mengacungkan ibu jari dan bergegas pergi, dia pun hilang ditelan kerumunan orang-orang. Dia pasti memilih bersama kawan lainnya.

Rian tersenyum melihat Mila yang tak jauh dari sana, jadi dia tak perlu berputar-putar untuk mencari.

Tapi kenapa Mila ada di tengah lautan? Bukankah dia takut masuk ke laut karena tak bisa berenang.

“Mila, hoi!” teriak Rian.

Mila melambaikan tangan, membuat Rian mengalah dan mendatanginya. Dia berjalan pelan, menerjang laut untuk sampai menggapai Mila yang ada di tengah-tengah.

“Ngapai di sana?!” teriak Rian lagi.

Mila hanya tersenyum dan terus melambai, membuat Rian bingung. Namun Rian tetap menyusul sampai sebuah panggilan membuat dia kaget.

“Rian, mau ke mana?” suara Mila sontak mebuat Rian menengok kebelakang. Di sana dia melihat Mila yang melambai padanya. Rian bingung dia menatap Mila yang satu yang ada di tengah lautan.

Glek!

Rian menelan ludah, tak ada siapa pun di sana. Lalu tadi apa? Apakah dia salah lihat? Rian agak ngeri. Mungkinkah tadi penungu pantai yang sering dibicarakan orang-orang? Rian sungguh bingung, namun dia cepat sadar dan segara ambil jalan kembali.

Namun, nahas sebuah pusaran air yang ada malah menyeret dia hingga tenggelam masuk membawa dia entah ke mana.

~*~

Sebuah istana terlihat megah membuat Rian ternganga, di sana ada Mila yang tersenyum menatapnya, namun berubah seketika menjadi wajah yang lebih cantik luar biasa, seperti Nyi Roro Kidul.


Itukah wujud asli Ratu Tirta Samudra yang memang masih ada kekerabatan dengan Nyi Roro Kidul? Hingga mereka begitu mirip? Rian langsung pias seketika. Apalagi ketika Ratu Tirta Samudra mendekat mencekik lehernya.

~*~
Semua bingung dengan hilangnya Rian, sekitar tiga hari dia dicari oleh tim SAR. Namun tak ada kabar, hingga pagi ini ditemukan sebuah jasad di pinggiran pantai, wajahnya sudah membiru, namun ajaib napasya masih berdetak meski telah hilang tenggelam beberapa waktu.

Katanya dia bisa selamat karena menolak makanan yang disajikan Ratu Tirta Samudra, andai dia menerima dia pasti sudah mati dan jadi budak ratu cantik berhati iblis.

Srobyong, 8 Desember 2015.

[Fiksi Mini] Sumur Tua


Fiksi mini

Sumur Tua

Ratna Hana

Aku hanya bisa menganga melihat sosok yang kini berada tepat dihadapanku. Dia menatap dengan mata menyala, membuatku mati rasa.

Salahku juga kenapa, tak mendengarkan Bian yang sudah mengingatkan agar tak ke sumur tua di belakang rumah.

“Bian, tolong aku!” aku berteriak, tapi aneh tak ada suara yang keluar dari kerongkongan.

Glek!

Aku menelan ludah, kakiku benar-benar tak mau diajak kerjasama.

Keringat dingin pun mulai membasahi kaos yang kukenakan.

Ya Allah tolong aku. Doaku dalam hati, berharap apa yang aku lihat ini hanya imajinasi.

Namun, yang terjadi sosok itu makin mendekat. Sadako menyeringai buatku tak bisa bernapas.

Sby,7.1.15

[Horkom] Galau Tingkat Dewa

Galau Tingkat Dewa

Kazuhana El Ratna Mida

            Aku merapalkan jaket yang sedari tadi melekat. Dingin sungguh menusuk tulang. Desember sudah menjelang buat hujan semakin menghujam. Datang, basahi bumi yang dulu kering kerontang. Apalagi di malam seperti ini, malam jumat yang terkesan horor dan mencekap. Aku jadi was-was.

            Aku berjalan melewati jembatan yang mengantarkanku sampai keperistirahatan.  Aku harus bisa segera sampai di rumah dan bisa terlelap.

            Tapi baru beberapa langkah berjalan, aku dikejutkan dengan kedatangan penghuni jembatan yang tiba-tiba menghadangku. Dia terlihat lesu dan tak bersemangat. Tapi, tetap saja aku bergidik ngeri. Kami, kan bukan dari dunia yang sama.

            “Nya, curhat dong,” ucapnya langsung.

            Aku tatap sosok tinggi dengan gaun putih di depanku. Tidak salah?

            “Duh, gue mau istirahat, Kun. Capek,” tolakku. Aku mempercepat langkah.

            “Ayolah, gue lagi galau tingkat dewa,” dia masih membujuk.

            “Kalau elo dengerin curhat gue, janji deh, kalau lewat sini nggak bakal gue ganggu, kayak malam-malam kemarin.”

            Aku mengalah. Kudengarkan cerita dia yang menggebu. Meski setengah takut juga. Mendengarkan curhatan Kunti si penunggu jembatan. Hadeh. Dia ini sungguh tidak sopan. Malam sudah semakin larut tapi, tetap saja ngotot ingin curhat. Aku kan butuh istirahat. Besok harus kerja juga. Ini, malam juga makin mencekam. Tak solidaritas banget, pake acara barter keamanan pula.

            Mentang-mentang dia hebat. Tepi, perjanjian yang dia ajukan cukup menarik. Daripada aku diteror terus tiap pulang sendirian.

            “Jahat, kan si Poc, itu. gue diselingkuhin, kemarin gue ngak sengaja lihat,” si Kun bercerita dengan tangis yang berderai-derai. Aku samapi merinding dibuatnya.

            Tak tahu ya, suaranya bisa merusak  gendang telinga.

            “Sabar, ya. Kun. La terus rencana, loe apa?” tanyaku penasaran.

            “Gue mau ngelabrak si Poc. Elo ikut ya.”

            “Apa? Gue ikut? Malam-malam gini?”

            “Gue takut kalau ngelabrak sendirian,” ucapnya nyegir kuda.
“hihihihii.”

            Suara itu lho bikin orang merinding gila. Dan pasti banyak orang ketakutan karena ulahnya. Yai yalah itu suara kuntilanak dengan suara khasnya.

            “Dah, deh jangan ketawa, biki gue merinding aja,” marahku padanya.

            Kuantar dia sampi di tempat si Poc—Pocong maksudku. Pacar Kunti yang selingkuh dengan Sundel.

            Mereka bertengkar hebat, sampai mau saling adu jotos. Aku hanya memerhatikan dari jauh. Nggak mau, ah. Ikut-ikutan, la tidak ada hubungannya denganku juga. Rasanya aku sudah sangat mengantuk.

            Aku duduk menunggu di bawah pohon, memerhatikan dua pasangan hantu saling bertengkar hebat.

            “Jadi, gitu, ya. Elo selingkuh di belakang gue sama Sundel, hah!” marah Kunti.

            “Ngaco, loe, Kun. Gue masih sayang elo, kok,” si Pocong ngeles.

            “Alah, gue lihat, kalian kemarin kencan,” tuding si Kun.

            Akhirnya si pocong ngaku. Dan itu cukup membuat si Kun sakit hati.

            “Elo, tuh jahat banget sih, tega, tega, hiks,” si Kun mulai menangis.

            “Sorry, Kun. Bukan maksud gue nyakitin elo. Tapi …,” ucap si Poc ngambang.

            Aku mendengarkan dua setan ini saling meminta maaf jadi geli.

            Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya si sundel. Si Pocong tergagap. Melihat Sundel yang datang mendadak.

            “Kebetulan, kalian ada di sini, gue mau ngenalin gebetan baru gue,” ucap si Sundel  santai.

            Sosok berperawakan tinggi, namun hitam pekat muncul. Dia mengaku pacar si Sundel sekarang.

            Ya, dia si Genderuwo. Mereka tersenyum bahagia. Beda dengan si Pocong yang terlihat nelangsa.

            “Elo, tega, Sun. padahal kemarin elo bilang suka sama gue, kita, kan baru jadian,” giliran si Pococng sedih banget.  Sakitnya tuh di sini. si Pocong memegang dadanya.

            “Sorry, ya, Poc.” Si Sundel melenggang bebas bareng si Genderuwo.

            “hihihihi” rasain. Si Kunti tertwa senang.

            Biar dia tahu, rasanya sakit hati.

            “Kata penyanyi  Cita Citata ‘sakitanya tuh di sini’,” Si kunti menunjuk dadanya.

            Aku tertawa geli. Hantu ini kece badai. Gaul amat. Aku aja nggak tahu lagu itu.

            “Kalau gitu, kita baikan, aja Kun. Gue janji kali ini bakal setia, nggak bakal deh melirik punya tetangga,” janji si Pocong.

            “Seperti lagu, siapa, ya?” si Pocong nampak berpikir.

            “Maksud loe, Republik ‘selimut tetangga’?” si Kun membetulkan.

            Si Pocong tertawa terbahak. Tapi kemudian mereka benar- benar baikan. Mereka melenggang dengan pasangan masing-masing.
            Dan aku sendirian di sini.

            “Duh, sakitnya tuh di sini, mereka para hantu aja berpasangan. La, gue, merana sendirian. Nasib, nasib,”

            “Eh, makasih ya, Nya. Yuk gue antar pulang,” ucapnya si Kunti dengan santai, tanpa rasa dosa.

            Tahu nggak sih, sekarang aku yang jadi galau tingkat dewa. Pengen punya pacar segera tak mau kalah sama hantu jembatan dekat rumah.


---The End---

Srobyong, 3 Desember 2014.

coretan lama , dari pada numpuk di lepi aja :)

[Cerpen] THE WAY I LOVE U


THE WAY I LOVE U



Kazuhana El Ratna Mida

            Tidak pernah terbesit dalam benak Fitra, ketika pada awal memasuki perkuliahan. Saat itu yang dia pikirkan hanyalah bagaiman, bisa menimba ilmu dan meraih impian. Namun detik pertama itu juga dia harus melihat seseorang, yang pada akhirnya menjadi sebuah cerita yang hanya mampu dia simpan dalam dada.

            Fitra melangkah, memasuki ruang di mana dia harus mengikuti ujian tertulis sebagai syarat memasuki sebuah Universitas di daerahnya, setelah itu dia berpindah ruangan untuk mengikuti ujian lisan yang juga dilaksanakan saat itu juga. Fitra sedikit takut dan merasa was-was jika tidak bisa dalam ujian itu. Tapi terus terus menyemangati diri sendiri, agar tidak menyerah di pertengahan jalan yang telah  dilalui.

            Semangat Fitra. Teriaknya dalam hati.

            Di tempat inilah sebuah cerita itu di mulai, dia yang memliki wawasan yang luas yang tidak  dimiliki Fitra. Dia orang pertama yang Fitra temui dalam ujian itu. Karena jujur saja Fitra bukan orang yang mudah bergaul, dia lebih memilih diam dan mengawasi.

Sosok itu bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan yang diberikan penguji, tidak seperti dirinya, yang terpatah-patah karena ada rasa was-was yang menguasai asa. Fitra diam-diam sudah mulai simpati. Namun Fitra mencoba menepisnya, berpikir bahwa ini hanya sebuah rasa kagum karena ilmu yang dimilikinya.

Pertemuan  itu pun berlanjut karena mereka sama-sama diterima di kampus, dan lagi berada dalam satu kelas. Tapi Fitra hanya bisa diam.

            Dalam diam itu Fitra hanya bisa menatap jauh, ketika melihat cowok itu adaa dalam ruang yang sama. Ya, Fitra hanya bisa memerhatikan saja. Menatap dia yang asyik bersenda gurau dengan teman-teman lainnya. Melihat senyumnya  yang hanya sepintas pun membuat Fitra lega. Ya, Fitra tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa menatap jauh dan menyematkan doa untuk dia.

            Fitra hanya bisa mengagumi dalam diam, menikmati senyumnya dari jauh tanpa dia tahu. Dia bahkan tidak tahu bahwa mendengar suaranya saja cukup membuat Fitra senang. Hanya ini yang bisa Fitra lakukan. Dia tidak berani berharap lebih kecuali karena kuasaNya.

            Seperti ketika Fitra selalu berkesempatan satu kelompok dengan dia, itu membuatnya bisa lebih banyak waktu untuk saling diskusi. Tapi, Fitra tetap tak bisa apa-apa dan masih dengan diamnya.

            Ya, Fitra menikmati cara yang  dipilihnya, meski sakit dan kadang menyusahkan hati. Bagaimanapun juga, rasa itu tetap menghampiri. Dan Fitra hanya bisa menatap jauh dia yang tak pernah tahu rasa yang bersarang di hati.

            Fitra berjuang sendiri menata hati ini. merajut rasa ini agar tidak terkungkung dari rasa yang menggebu. Meski dia bilang mampu dan akan berusaha menyukai dalam diam, kadang dia juga tidak bisa mengelola rasa. Ada kalanya Fitra lelah dan ingin membuka tabir yang ada. Tapi, dia sadar diri, siapalah dirinnya? Fitra merasa tidak pantas bersamanya, mungkin inilah cara terbaik yang bisa dilakukannya dalam mengagumi.

            “Salahkah aku jika rasa ini menyapaku? Menjadikanku pengagum rahasiamu.” Fitra berucap lirih. Mencoba mencari jawaban dari keresahan yang mendera.

            Hanya cara inilah yang bisa dia lakukan. Takutnya  jika Fitra  jujur akan rasa ini, dia malah akan pergi.  Fitra memilih menyukai dengan caranya. Dengan diam dan membiarkan rasa itu berada di dalam hati yang tidak diketahui orang lain.

Fitra memilih mencintai dalam diam, karena dalam diam Fitra berdoa jika dia baik untukku semoga Allah menemukan satu titik itu dalam ikatan suci yang diridloi ,namun jika dia tidak baik untuknya, dia berharap bisa ikhlas dan mendoakannya untuk mendapatkan pengganti yang lebih baik. Karena Allah adalah sutradara terbaik di dunia, dan Fitra percaya akan pilihanNya.

            “Inilah caraku mencintaimu, ya, mencintaimu dalam diam.”

            “Diam bukan berarti tidak peduli, karena dengan diam aku menjaga hatiku dan hatimu agar tidak menduakan cinta Allah, mencoba menjaga hati untuk seseorang yang nantinya benar-benar halal, yang patut di cintai sebagai imam diri ini,” ucap  Fitra.

            “Diam adalah caraku mencintaimu agar aku tidak terlalu berharap padamu, karena sebuah harapan hanya aku gantungkan pada Sang Kuasa. Diam adalah caraku mencintaimu agar rasa ini tidak menjadi candu yang membawa pada kubangan nafsu yang menjatuhkan. Diam adalah caraku mencintaimu, agar aku dan kamu tidak terjerat akan godaan syaitan.”

            Fitra menengadah curhat akan rasa yang dimiliki pada Sang Penguasa. Menitipkan segala rasa yang menggelayutinya. Ya, biarlah Allah yang nantinya memutuskan segala rasa ini.

Fitra menutup diary-nya, menyimpan dalam tumpukan coretan yang dia buat,  tak tahu kapan orang itu akan rasa yang disimpan slalu.

“Untukmu yang selalau ada dihatiku,” lirih Fitra.


Srobyong, 1 Januari 2015.


Posting sebelum tidur, ^_^

Mencoba nulis cerita  Narasi yang dominan tapi gagal, hehhh

Monday, 5 January 2015

Pengumuman Event Aksara Orchid

Yuhuu...Yuhuu... waktunya pengumuman pemenang ‪#‎EventPinkOrchid‬ #1 niiih... eng... ing... eng.... simak baik-baik yeaahh.....




1. Lina Amalia - Titip Rindu Buat Ayah
2. Isnaeni Nur Hidayah/ Ummu Najma - Diary Depresiku
3. Ulya Fathiya - Haruskah Aku Cemburu
4. Dinda Cinta - Air Mata Ibu
5. Annisa Febriyati Sari - Love Hypothesis 2
6. Dyah Rina Syafitri - Cukup Sudah
7. Zulfara Fay Wirawan - Benang Merah
8. Lavoisier Windha Flogiston - Asa Di Pinggiran Teluk
9. Arieska Arief - Kesaksian
10. Kazuhana El Ratnani MIda - The Way I'm
11. Imas Siti Liawati - Rinai Rindu Raisa
12. Zumrotus Sholihah - Ingatan Tentang Kalian
13. Mia Yunita - Reina dan Bintang
14. Elok Pradika P. Putry - Perbedaan dan Keistimewaan
15. Nira Kunea - Will Never Belong
16. Mieta El Diara - Sepatu 365 Hari
17. Ayu Kristiana - Twin Moons
18. Isrianthy Muslimin - Kecrekan, I'm In Love
19. Gusvina Rahayu-Mengikuti Angin
20. Arqia Kwint - Bukan Salah Scania
21. Siska Aryani - Bulan
22. Najmia Adis - Paison
23. Rio Shi Fiverz sJti - Call Me Please
24. Sepri Abadi - Hujan, Januari, dan Kamu

Jrreeng..... SELAMAT UNTUK PARA PEMENANG!!!
ENJOY NEW YEAR!!!

Saturday, 3 January 2015

[Cerpen] Kenangan Lara, Harapan Baru


Judul :Kenangan Lara, Harapan Baru

Oleh : Ratna Hana Matsura

Sakit itu yang aku rasa ketika tanpa sengaja berpapasan dengan dia yang dulu sempat mengisi relung jiwa. Dia yang dulu menjadi tambatan hati yang aku yakini akan menjadi imam yang begitu sempurna. Namun, semua tinggal kenangan pahit yang harus aku terima. Kini dia sudah memiliki pasangan hati yang sungguh mempersona. Bahkan mereka juga sudah memiliki buah hati yang memiliki paras yang sama.

Kusapa mereka dengan mencoba menutup luka, tabah dengan bersikap biasa.

Kaget mungkin juga dirasa olehnya—mas Farhan. Namun, dia pun mencoba menguasai diri. Selayaknya teman lama kami mengobrol sana-sini. Mbak Mutia pun juga menyambutku dengan ramah. Sejak dulu dia tidak berubah. Sosok yang selalu aku kagumi dan kata-katanya selalu menyejukkan hati. Sahabat sekaligus kakak yang aku miliki di pondok pesantren yang dulu aku mengaji di sana. Juga kakak senior di kampus. Dia meski seorang putri kiai tapi sangat berbudi.

“Kapan menyusul Diah?” tanya Mbak Mutia disela obrolan yang ngalor-ngidul mengenang persahabatan yang dulu kami bina.

Insya Allah secepatnya, doanya saja ya Mbak,” ucapku dengan tersenyum. Padahal jujur saat ini aku belum punya pandangan tentang pernikahan. Aku masih sendiri, mecoba menunggu kunci hati. Mencoba tetap tegar ketika tambatan hati tak kunjung datang meminang.

“Nanti jangan lupa kabari kami ya,” ucapnya lagi sekaligus mengakhiri pertemuan singkat yang tidak disengaja ini.

Insya Allah, Mbak,” ucapku melepas kepergian mereka.

“Semoga Allah memberi calon imam yang terbaik untukmu Diah, karena kamu pantas menerimanya,” Mas Farhan menimpali.
“Aamiin, terima kasih doanya, Mas,” ucapku tulus.

Aku mencoba tersenyum dan melepas kepergian mereka. Duh, Gusti kenapa rasa ini masih sangat mengganggu jiwa yang telah bersemayam lama di hati. Aku harus ikhlas mas Farhan memang bukan jodohku. Dia sudah milik orang lain, Mbak Mutia—sahabatku yang sangat aku sayang.

****

Satu tahun lalu sebuah luka terekam dalam benakku. Aku mendengar kabar itu—kabar pernikahan Mas Farhan dan Mbak Mutia. Betapa hatiku ini hancur berserakan tak lagi bersatu dengan raga. Aku kecewa. Bagaimana mungkin itu terjadi, padahal Mas Farhan bilang akan menunggu aku hingga kelulusan yang tinggal menghitung hari.
Aku dan mas Farhan dulu memang saling menyukai meski saling diam tanpa mengumbar rasa yang ada. Aku malu, pun dengan dia yang juga sangat menjaga pandangannya. Sampai suatu ketika dia datang yang mengungkapkan perilah keinginan untuk mengkhitbahku. Aku senang bukan kepalang. Namun, aku ajukan syarat untuk menunggu hingga gelar sarjana bisa dalam genggaman.

Mas Farhan menyetujui syaratku. Dan aku semakin menggebu menyelesaikan skripsi yang aku susun itu. Memimpikan keindahan hidup yang akan segera menghampiri.

Namun, bagai disambar petir ketika Mbak Mutia datang menyerahkan undangan pernikah yang ingin aku mendatanginya. Hatiku hancur. Aku tidak bisa menyalahkanMbak Mutia yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Dia hanya mengikuti perintah abah dan juga ummi. Ya! Perjodohan sepihak yang mengorbankan aku sebagai pihak ketiga.

“Maaf Diah, semoga kamu mendapat calon imam yang lebih baik.” Hanya itu yang Mas Farhan ucapkan padaku kala itu.

Mau bagaimana lagi ketika suratan takdir tidak mempertemukan kami dalam ikatan suci. Aku tidak banyak bertanya alasan kenapa dengan sepihak mereka memutuskan khitbah. Karena pak kiai Cholil—abahnya Mas Farhan telah menjelaskan dengan gamblang perihal kawin gantung yang sempat dilakukan abanya Mas Farhan dan Mbak Mutia dulu. Itu demi melangsungkan kekerabatan mereka yang lahir dari para priyayi.

Inilah yang tidak aku milik, aku bukan siapa-siapa yang memiliki darah biru. Aku tidak secantik dan sepintar Mbak Mutia yang sedari dulu tumbuh dalam lingkungan santri memiliki banyak ilmu.

Mungkin aku adalah bagian kecil dari kesalahan yang ada, karena Mas Farhan pernah menaruh hati padaku. Dan juga kesombongan diri yang berani memberi syarat dalam khtibah yang ditawarkan padaku. Mau bagaimana lagi nasi telah menjadi bubur.

Setelah pernikahan mereka kucoba menata lagi hati ini. Menjalani hari-hari meski terasa kosong karena ternyata tambatan hati yang aku miliki telah terbang tinggi.

Aku gadis berusia 25 tahun yang saat ini masih melajang sendiri, sedang semua teman-temanku telah berpasangan memiliki buah hati. Aku merasa rendah diri. Apalagi dalam tradisi desaku usia seperti itu harunya telah berkeluarga.

Gunjingan tidak sedap tentangku pun menyerebak. Dikatakan pemilihlah, sok jual mahal tidak mau menerima pinangan dari anak pak lurah. Bagaimana aku mau menerima jika kau tahu, dia tidak memilki pegangan agama yang kuat. Aku ini makmum, jadi sebisa mungkin aku ingin memiliki imam yang bisa membimbing dan mengatur aku dari tindak maksiat yang ada.

Salahkah jika aku memiliki kriteria seperti itu? Sungguh aku hanya berharap yang terbaik.

“Kenapa Diah? Sejak dari kantor telihat melamun begitu?” Ibu menepuk pundakku. Membuyarkan aku dari lamunan panjang. Aku menggeleng mencoba menyembunyikan kerisauan yang aku punya.

“Ayo ceritakan saja, jangan dipendam sendiri,” bujuk Ibu.

Dengan tebata-bata akhirnya aku tumpahkan segala uneg-uneg yang menggunung di hati. Mengucapkan maaf yang terdalam pada ibu yang juga mendapat dampak dari punya putri yang tak kunjung laku.

“Diah, jangan berprasangaka buruk pada Allah, biarlah orang berkata apa, jangan dipedulikan,” ucap Ibu lembut.

“Tapi Bu, Diah kadang merasa risih dengan mereka.”

“Serahkan semua pada Allah. Jika saat ini belum datang jodohmu, maka berbaikilah diri dulu semoga jodoh akan segera menghampirimu,” Ibu menasehatiku.

“Allah memberi cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya, jadi jangan mudah menyerah.”

Aku mengiyakan ucapan ibu. Mungkin aku belum kuat untuk diberi amanah menjalankan sunnah Nabi. Aku harus memperbaiki diri. Menunggu kuci hati yang mungkin sedang menuju jalan kemari. Biarlah kenangan lara ini akau jadikan cambuk untuk lebih tegar dalam mengarungi hidup ini. Menunggu pangeran kuda putih menjemput bidadari.

Jepara,261014.

NB : Pernah dipostkan di KMB