Saturday, 17 February 2018

[Resensi] Memahami Milenial Pengubah Indonesia

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 11 Februari 2018 


Judul               : Generasi Phi  Pengubah Indonesia
Penulis             : Dr. Muhammad Faisal
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : xvi + 244 halaman
ISBN               : 978-602-0822-8-91
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Buku ini membahas tentang generasi phi atau  Milenial Indonesia. Generasi Phi adalah generasi pengubah Indonesia. Mereka adalah penentu gerak langkah seluruh generasi muda Indoenesia sampai 50 tahun ke depan (hal 3). Generasi ini ditandai lahir  antara tahun 1989 hingga 2000.

Generasi ini kerap disebut sebagai golden ratio yang menyimbolkan harmoni dan kesempurnaan. Di usia yang sangat belia mereka sudah banyak sekali menorehkan prestasi yang belum pernah dicapai oleh generasi sebelumnya.  Misalnya saja tentang revolusi digital starup lewat toko online atau transportasi berbasis aplikasi. Uniknya banyak di antara mereka meraih keberhasilan tersebut hanya dengan belajar sendiri atau autodidak.  Dan ini jarang ditemukan pada generasi sebelumnya (hal 5).

Gerenasi phi ini disebut juga sebagai curator—yaitu generasi yang lebih banyak melakukan kurasi-kurasi. Contohnya saja, di kota Bandung maupun di Jakarta, kita bisa dapati populasi anak muda yang cukup besar, dan mereka sudah berhasil menciptakan satu ekositem yang baik bagi anak muda untuk berkreativitas. Ekosistem yang baik meliputi ruang publik bagi anak muda untuk berkreativitas, wirausaha berbasis industri kreatif, dan media informasi youth culture yang accessible bagi audience anak muda secara luas (hal 29).

Melihat keunikan tersebut tentu saja membuat para peneliti milenial  tertantang untuk mengetahui kenapa generasi phi sangat unik dan berbeda.  Dr. Muhammad Faisal sendiri  adalah salah satunya. Dia  telah melakukan penelitian selama 10 tahun untuk  memahami kenapa generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Seperti generasi alpha—dengan tokoh Sukarno, Tan Malaka, Sultan Syahrir, Hamka. Generasi beta—dengan tokoh Adam Malik, Suharto, Bj Habibie, Bung Tomo. Dan generasi omega—dengan tokoh Iwan Fals, Rono Karno, Roy Marten.

Dipaparkan ada lima aspek penting mengenai identitas dan self image dari generasi phi. Memiliki sifat komunal, cenderung menyukai kesederhanaan, memiliki naive personality,   sangat into values—di mana sifat virtue, kearifan dan religius masih sangat kuat bagi mereka. dan sangat family matter—mereka sangat menyayangi keluarga (hal 51-54).

Dalam masalah sosial, generasi phi ini memiliki kontrol sosial yang menarik. Di mana ada satu aturan sosial yang tertanam dan menjadi archetype mereka, yaitu individualisme dianggap sebagai ancaman keharmonisan kelompok, peergroup, juga dalam interaksi sosial. Ketika ada yang bersifat individual, mereka akan dicap sebagai seorang yang sombong. Selain itu mereka memiliki empati yang tingggi terhadap teman.

Ketika berhubungan dengan politik, generasi phi memiliki aspirasi untuk mendukung salah satu kandidat politik, dengan menciptakan gerakan kampanye kreatif. Misalnya kesenian, flasmob atau menciptakan buzz media dengan hasil yang kreatif. Hal ini bisa dilihat ketika pilkada 2012 berlangsung.

Sir Dandy—seorang senima berkata, “Nasionalisme bagi anak muda saat ini lebih banyak ditunjukkan dalam bentuk achievement dan kreativitas, daripada slogan-slogan yang kita lihat, sehari-hari di berbagai banner dan spanduk politik.”  (hal 105).

Sedang dalam ranah pekerjaan, generasi phi cenderung memilih pekerjaan lebih dinamis, sesuai dengan passion mereka. Karena saat ini sudah mulai banyak  anak muda yang sukses  dalam karier atau bisnis sesuai passion-nya. Misalnya saja Yukka Harlanda, lulusan teknik sipil dari  Institut Teknologi Bandung yang sukses dengan brand ‘Brodo’—bisnis sepatu kulit yang menyasar anak muda. Ada pula Windi dan Vannes dari kota Medan pemilik usaha kreatif di bidang kuliner—‘Teri Bajak Medan’ (hal 124-125).

Melihat perkembangannya saat ini, disinyalir generasi phi akan mempercepat perubahan Indonesia menuju karakter generasi pertama, yaitu generasi para founding father. Kita akan melihat karakter seperti Sukarno, Tan Malaka dalam wajah-wajah baru. Semangat kebangsaan dan ideologi yang sama, namun diaplikasikan dengan cara-cara yang lebih modern.

Buku patut diapresiasi. Menyadarkan bahwa saat ini tidak ada lagi pandangan tentang generasi muda sudah tidak sejalan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Namun yang ada adalah pemuda-pemudi Indonesia yang akan bangkit dan secara positif berani menghadapi tantangan zaman dari dan oleh siapa pun.

Srobyong, 6 Januari 2018 

Friday, 16 February 2018

[Resensi] Waspada Terhadap Halal dan Haram Makanan

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 11 Februari 2018


Judul                : Waspada Jejak Haram yang Mengintai
Penulis              : Riawani Elyta & Raisa Mutia
Penerbit            : Qibla
Cetakan           : Pertama,  Juli 2017
Tebal                : 128 halaman
ISBN               : 978-602-394-748-5
Peresensi          : Ratnani Latifah, alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan  kepadamu, dan bertawakalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (hal 88) (hal 10).

Setiap hari sudah pasti kita bersinggungan dengan makanan.  Namun yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkan makanan yang kita makan itu halal atau malah makanan itu mengandung unsur haram? Menilik dari pertanyaan seputar halal dan haram, maka penting bagi kita mewaspadai jejak haram yang mungkin berada dekat di sekitar kita, yang mungkin sepele, namun ternyata mengandung unsur madarat yang besar.

Buku ini dengan pembahasan yang lengkap dan dipaparkan dengan gaya bahasa yang menarik dan tidak menggurui, mencoba mengajak kita untuk memahami konsep makanan halal  dan haram dengan baik.

Di mana dipaparkan dalam menilai  kehalalan sebuah makanan, kita tidak hanya melihat dari sisi bahan makanan yang ada, namun juga dilihat dari mana kita memperoleh makanan itu sendiri.  Pekerjaan yang buruk ternyata bisa membuat makanan yang kita hasilkan menjadi tidak halal.  Dalam sebuah hadis  yang diriwayatkan  Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi diterangkan, “Mencari rezeki halal adalah wajib sesusah menunaikan  yang fardhu seperti shalat, puasa dan lain-lain.” (hal 14).

Yang perlu kita waspadai pula adalah, kenyataan saat ini banyak sekali jebakan haram yang tersembunyi di sekitar kita. Misalnya saja tentang babi yang sudah menjadi berita umum, bahwa binatang ini memang haram di makan bagi orang muslim.  Dalam sebuah penelitian yang dilakukan seorang periset asal Belanda—Christien Meindertsma, yang mana terdapat 185 jenis produk yang dihasilkan dari babi (hal 36).

Contohnya saja lemak babi yang menghasilkan   fatty acid (asam lemak) yang digunakan untuk sabun mandi, sampo, kondisioner, krim anti keriput, pasta gigi, ditergen bubuk dan banyak lagi. Amplas menggunakan perekat babi dan rambut babi digunakan sebagai kuas seperti kuas roti, kuas cat tembok dan kuas lukis.

Ini belum seberapa. Dalam produk makanan  seperti mentega, tepung terigu, margarin, kecap, cuka, gula pasri, cokelat ternyata menyimpan jebakan yang menuju pada keharaman, jika kita tidak menggunakannya secara bijak.  Oleh karena itu dalam memilih sebuah produk makanan kita harus jeli dalam menilai. Salah satunya dengan mengecek sertifikat halal MUI.

Selain membahas tentang apa saja yang perlu kita waspadai, buku ini juga dilengkapi penjelasan tentang manfaat makan makanan halal dan kerugian ketika memakan makanan haram. Buku ini juga dilengkapi dengan  data valid yang menunjukkan keabsahan yang dipaparkan penulis.  Sebuah buku yang menarik dan patut dibaca. Di sini kita akan diajak lebih waspada jajak haram dalam makanan. 


Srobyong, 1 Desember 2017 

Thursday, 15 February 2018

[Resensi] Ciptakan Keharmonisan Ibu dan Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 11 Februari 2018 

Judul               : Kartu Cinta Ibu
Penulis             : Christine Lerin
Ilustrator         : Cinisowen
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-9799-21-5379-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara

Buku ini mengambil tema tentang hubungan seorang anak dan ibu yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kisah ini terasa sangat nyata dan merasuk. Apalagi penulis menceritakannya dengan apik dan mudah dicerna. Buku ini saya rasa selain baik dibaca anak-anak, buku ini layak dibaca seorang ibu. Karena nilai-nilai moral yang termaktub di sini patut dijadikan teladan.

Sebagaimana kita ketahui, menjadi seorang ibu tentu bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus ditaklukkan dan dihadapi. Apalagi jika selain berperan sebagai ibu, dia juga memiliki karir. Oleh karena itu seorang ibu harus pandai-pandai mengatur waktu agar dua kehidupannya—peran seorang ibu dan wanita karir—tetap berjalan seimbang dan tidak berat sebelah.

Karena perlu kita sadari, ketika seorang ibu memiliki anak  yang masih kecil, dia harus ingat bahwa anak tetap memerlukan pantauan dan didikan dari ibu yang merupakan madrasah pertama.  Jangan sampai karena kepadatan pekerjaan, sampai melalaikan tugasnya sebagai ibu.  Sebagai madrasah pertama, ibu memiliki tugas mendidik dan mengenalkan anak pada nilai-nilai kebaikan dan pendidikan akhlak.

Mengingat pendidikan akhlak akan menjadi bekal anak hingga dewasa kelak. Dengan bekal pendidikan yang baik, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mmiliki empati, menghormati orangtua dan tidak ceroboh.   Di sisi lain perlu kita sadari keberadaan ibu atau kasih sayang ibu juga memiliki peran penting dalam membangun psikologi anak. Anak yang mendapat kasih sayang utuh seorang ibu tentu akan berbeda dengan anak yang tidak mendapat kasih sayang ibu.

Di sisi lain, sebagai  anak, kita juga harus memahami posisi seorang ibu. Seorang anak tidak boleh egois dan berpikir sempit atau berpikir negatif terhadap ibu.  Anak harus menghormati ibu. Karena ibu-lah yang telah mengandung selama sembilan bulan dengan penuh perjuangan, bahkan siap berkorban nyawa.  Anak tidak boleh membenci ibunya apalagi sampai durhaka. Oleh karena itu, agar hubungan anak dan ibu bisa berjalan baik dan harmonis, diperlukan keterbukaan dan saling pengertian.  Kisah dalam buku sangat rekomendasi untuk dibaca dan dijadikan renungan untuk kita semua—baik anak atau ibu.

Kisah ini sendiri bercerita tentang hubungan antara Talia dengan ibunya. Sejujurnya Talia sangat menyayangi  ibunya. Namun di sisi lain dia juga sebal dengan ibunya. Setiap hari Talia melihat ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya (hal 3). Ibunya hanya bertanya ini-itu tentang kegiatannya tanpa pernah berada di sisinya. Sang ibu lebih sering bertanya lewat telepon. “Belajar apa? Ada Tugas atau tidak? Sudah makan atau belum?” Itulah yang membuat Talia sedikit kecewa (hal 6).

Di rumah dia lebih sering bersama Mbak Sri—pembatu rumah tangga di rumah.  Padahal Talia sangat ingin ibunya ada di sisinya. Dia ingin dimasakkan opor kesukannya. Saling bercerita dan bercanda seperti ibu dari teman-temannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, apalagi beberapa hari lalu, Talia diberi kabar kalau ibunya mau keluar kota. Hal itu pun semakin membuat Talia yakin, kalau ibunya lebih mencinta pekerjaan dari pada dirinya (hal 8).

Tapi suatu hari saat dia menceritakan kekesalannya pada Mbak Sri, soal sikap ibunya, Talia mendapati kenyataan yang mengejutkan. Dari Mbak Sri, dia akhirnya tahu kalau ibunya sangat perharian dan peduli padanya. Semua itu dia temukan pada kartu ucapan yang sering ditulis ibunya, namun tidak pernah Talia baca, karena memelihara sikap benci.  Kira-kira apa isi kartu tersebut, ya?
Membaca kisah ini benar-benar akan membuat kita sadar tentang pentingnya kasih sayang dan perhatian ibu pada seorang anak. Selain itu kita diingatkan untuk tidak membiasakan berburuk sangka. Kita juga harus meminta maaf jika melakukan kesalahan. Saya rasa buku ini cukup ringan dibaca anak, sebagai langkah awal menularkan virus baca sejak dini.

Srobyong, 20 Januari 2018

Wednesday, 14 February 2018

[Resensi] Cerpen dan Kritik Sosial yang Ingin Disampaikan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 9 Februari 2018 


Judul               : Kiai Amplop
Penulis             : Sam Edy Yuswanto
Penerbit           : LovRinz Publishing
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 123 halaman
ISBN               : 978-602-6652-96-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Terdiri dari 15 cerita, kumpulan cerpen ini selain memberi hiburan yang menyenangkan juga memberi tambahan wawasan  bagi kita semua. Dengan tutur bahasa lugas juga satire, penulis mencoba mengkritisi kehidupan sosial yang kerap terjadi di dalam masyarakat negeri ini.  Tentang berbagai ketimpangan sosial, tentang adat dan  budaya jawa yang sudah mengakar hingga masalah politik juga agama.

Misalnya saja cerpen berjudul “Kiai Amplop” di mana cerpen ini menceritakan tentang seorang kiai bernama Bahaudin yang sedang naik daun.  Selain memiliki wajah yang enak dipandang dan memang kharismatik, Kiai Baha ini juga memiliki cara penyampaian pengajian yang mudah diterima masyarakat. Hal inilah yang membuat Kiai Baha langsung disukai masyarakat (hal 5).

Dan sejak itu pula, pamor Kiai Baha semakin melesat. Dia tidak lagi hanya menjadi kiai kampung, tapi juga mulai mendapat job untuk memberikan ceramah di televisi. Hal inilah yang kemudian membuat Kiai Baha pindah ke kota.  Pada titik itulah masalah timbul. Dulu sebelum nama Kiai Baha meroket, dia selalu menyangupi permintaan warga untuk memberi ceramah di mana saja. Namun di masa sekarang, Kiai Baha sangat sulit dihubungi. Dengan alasan kepadatan jadwal syuting di televisi  atau jam bentrok dengan ceramah di tempat lain.

Namun sesungguhnya bukan itu alasan Kiai Baha. Ketika kenyamanan sudah menjadi raja, maka uang pun menggilas keikhlasan seseorang. Itulah yang terjadi pada Kiai Baha, berjalannya waktu dia lebih sering membandingkan isi amplop yang dia terima.  Dia tidak pernah menyadari bahwa di balik perbuatannya itu sebuah peringatan tengah mengetuknya, membuat dia langsung terbakar. Yang mana dalam cerpen ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebagai seorang yang memahami agama, kita tidak boleh menjual agama demi memperoleh uang.  

Ada pula cerpen berjudul “Korupsi”  bisa dibilang cerpen ini benar-benar sesuai realita yang ada. Menyentak dan benar-bener membuat kita yang membaca akan tersindir. Di mana dari kisah ini kita telah ditunjukkan tentang maraknya sikap korupsi yang sudah tidak mewabah di masyarat. Terlihat sepela namun sesungguhnya cukup rumit bagi sebagian orang. Mengingat tidak semua orang setuju dengan perbuatan tersebut.

Kita pasti pernah mengalami kejadian ini. Ketika membeli sesuatu dan saat kita mendapat pengembalian, bukan uang yang kita dapat namun sebuah permen.  Bagi sebagian orang mungkin bisa menerima hal itu dengan lapang. Tapi ada pula yang merasa tidak terima.  Di mana jika kita berpikir ulang, permen yang diberikan pada pembeli, pada kenyataan tidak bisa dipakai untuk membeli jika kita kekurangan uang bukan?  Di sini kita diingatkan untuk membiasakan berbuat korupsi meski hanya seujung kuku.

Kemudian tidak kalah menarik ada sebuah cerpen berjudul “Kiai Jarkoni” dalam cerita ini kita akan dihadapkan pada sebuah episode keimanan. Di mana tiba-tiba tersiar kabar tentang sikap Kiai Jarkoni yang dianggap tercela karena berani membawa gadis muda di sebuah rumah di pinggir jalan. Kiai Jarkoni dianggap sebagai sosok yang sudah tersesat dan tidak patut dihormati lagi, karena dianggap telah berbuat zina (hal 35). Warga kemudian lebih sering menggunjungi dan menjelek-jelekkan Kia Jarkoni.

Dalam cerpen ini kita diingatkan untuk tidak mudah menuduh seseorang sebelum ada buktinya. Karena ketika ucapan tanpa bukti, itu bisa menjadi ghibah. Dan ghibah adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, karena sama saja dengan memakan daging teman sendiri.

Selain tiga cerpen itu tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang penuh dengan wawasan dan kritik sosial yang benar-benar akan membuat kita tertohok. Misalnya cerpen “Pelayat Amplop”, yang melakukan sesuatu tidak ikhlas karena Allah.  “Pilkades” yang mengkritisi tindak kecurangan selama adanya pemilu.  Lalu “Demi Baju Lebaran” dalam cerpen ini kita diajak untuk menjadi sosok jujur yang tidak mudah terbujuk rayu setan dan banyak lagi.

Keunggulan dari buku ini adalah tema-tema yang benar-benar memasyarakat dan sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Belum lagi dengan bahasa yang mudah dicerna, penulis membuat kisah ini hidup. Hanya saja untuk ending masih terasa biasa dan  tidak terlalu mengejutkan. Namun hal itu tidak mengurangi esensi dari isi buku ini.

Srobyong, 24 Desember 2017 

Tuesday, 13 February 2018

[Resensi] Sosok Berintergitas dalam Memberantas Korupsi

Dimuat di Koran Jakarta, Senin 5 Februari 2018 


Judul               : Novel Baswedan : Biarlah Malaikat yang Menjaga Saya
Penulis             : Zaenuddin HM
Penerbit           : Mizan
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 272 halaman
ISBN               : 978-602-441-046-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Siapa yang tidak mengenal Novel Baswedan? Dia merupakan salah satu tokoh yang  tengah disoroti, karena usahanya dalam memberantas korupsi di Indonesia. Dia adalah penyidik KPK yang paling berani dalam pemberantaskan korupsi. Banyak kasus korupsi besar yang berhasil dia bongkar. Meski hal itu harus dia bayar mahal. Dia dikriminalisasi—motornya ditabrak, tubuhnya terluka, bahkan pada insiden terakhir Novel hampir buta karena disiram air keras (hal 19).

Namun yang mengesankan, meski nyawa menjadi taruhannya, dia tidak pernah gentar. Dia malah semakin berani dalam membongkar praktik korup di republik ini.  Sikapnya itu semakin menunjukkan betapa dia memiliki integritas tinggi dalam memerangi korupsi di negara ini. Selain itu dalam membabat habis para pelaku korupsi, Novel ini tidak pernah pandang bulu. Jika memang bersalah maka harus ditindak, bahkan jika itu atasannya. Hal inilah yang membuat Novel dianggap sebagai simbol tokoh penegak hukum dan antikorupsi di Indonesia.

Dalam sudut pandangnya, korupsi itu bukan masalah sepele. Korupsi jauh lebih parah daripada perampokan. Oleh karena itu korupsi harus diperangi, karena itu merupakan kewajibannya sebagai salah satu warga yang mencintai bangsa dan negara. Dia tidak mau bangsa dan negara Indonesia dirusak, bahkan diruntuhkan perilaku korupsi. Mengingat akibat korupsi yang terjadi ini mengganggu kepentingan bangsa dan negara, merampas hak-hak seluruh warga negara, merampas hak negara untuk bisa berkembang dan maju. (hal 90).

Beberapa kasus yang pernah Novel ungkap adalah  kasus korupsi atau suap cek pelawat pada pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004—di mana kasus ini menjerat  mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Adang Daradjatun, Nunun Nurbaeti dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom.  Selain itu Novel juga membongkar pratik korupsi ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Dia juga membongkar kasus suap atau korupsi Seskemenpora yang melibatkan Muhammad Nazaruddin, Bendahara Partai Demokrat. Tidak ketinggalan adalah kasus korupsi dalam masalah E-KTP dan masih banyak lagi (hal 91-93).

Komitmen  Novel dalam memberantas korupsi, sudah  tidak diragukan lagi. Sebagai penyidik KPK, dia sangat loyal pada tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Dia tidak mudah dipengaruhi, baik itu koleganya, bahkan orangtuanya pun tidak bisa mempengaruhinya. Dalam salah satu sumber di KPK memaparkan, “Novel tidak dapat diintervensi oleh siapa pun dengan berbagai ancaman yang ada. Dia sosok penegak hukum sejati.” (hal 112).

Hal ini-lah yang kemudian membuat banyak para pelaku korupsi yang takut bahkan membenci Novel. Di mana demi melemahkan mentalnya, mereka melakukan banyak teror—beberapa kali ditabrak hingga disiram air raksa—terhadap Novel.  Akan tetapi, teror itu sama sekali tidak pernah menyurutnya semangat Novel dalam upayanya memerangi korupsi di negeri ini.  Sebaliknya dia malah semakin tertantang dan semangat untuk berjuang mengalahkan korupsi.

Dia pernah berkata, “Selama kita berbuat benar, tidak ada alasan untuk takut.” Karena dalam prinsipnya hanya Allah yang patut ditakuti. Mengingat segala sesuatu di atas dunia ini adalah atas kehendak Allah.  Masih menurut apa yang di katakan Novel yang dimuat di Tempo, dia berkata, “Benar itu tidak mengurangi  umur, takut juga tidak menambah umur. Jadi,  kita tidak boleh menyerah. Jangan memilih takut karena Anda akan menjadi orang tidak berguna.” (hal 170).

Buku ini  dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan aktual, yang membuat kita tidak kesulitan mencerna kisahnya. Sebuah buku yang sangat patut kita apresiasi. Sepak terjang Novel dalam memberantas korupsi tentu sangat patut kita teladani. Kita harus mendukung upaya yang dilakukan dalam menegakkan hukum yang adil di negeri ini.  Selain itu, dari buku ini sudah sepatutnya kita meneladani sikap Novel yang tidak pernah menyerah dalam berbagai situasi yang sulit.  Selalu ada Allah tempat bersandar dan malaikat yang selalu melindungi kita. Sebuah buku yang mencerahkan dan memotivasi.

Srobyong, 2 Februari 2018