Friday, 20 October 2017

[Resensi] Kemuliaan Berbakti kepada Orangtua

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 14 Oktober 2017 

Judul               : Mutiara Hikmah Islam
Penulis             : Syamsul Rijal Hamid
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : xii + 324 halaman
ISBN               : 978-602-394-661-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Berbakti kepada orangtua merupakan amal yang utama. Dalam surat Al-Isra’ ayat 23 dijelaskan, “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya, ‘ah’, jangan kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia.”  Hal ini sangat jelas bahwa kita sebagai anak diwajibkan untuk berbakti kepada orangtua.

Buku ini mencoba mengulas lebih dalam tentang kemulian bagi siapa saja yang berbakti kepada orangtua.  Allah pernah memberi wahyu kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, berbuatlah baik kepada orangtuamu karena sesungguhnya orang yang berbuat baik kepada ibu dan bapaknya akan dipanjangkan umurnya dan akan dianugerahi anak yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya barangsiapa durhaka kepada orangtuanya maka akan dikurangi umurnya dan akan diberi anak yang durhaka kepadanya.” (hal 4).

Kewajiban berbakti kepada kedua orangtua ini berlaku bagi siapa saja—termasuk berlaku bagi setiap muslim yang kedua orangtuanya menganut agama lain. Alasannya adalah, meskipun ibu dan bapak kita tidak seiman, harus diakui bahwa merekalah yang telah memelihara dan membesarkan kita. Jadi, kita tetap wajib menghormati dan menyayangi mereka (hal 5).

Perlu diketahui alasan lain kenapa Allah memerintahkan kita berbakti kepada orangtua adalah karena surga berada di telapak kaki ibu. Dan perlu disadari juga bahwa dengan mendapat rida Allah, sama halnya kita mendapat rida dari Allah—tentu saja dalam hal ini menyangkut hal-hal kebaikan.

Ada sebuah kisah tentang betapa berbakti kepada orangtua itu akan membawa kemulian bagi anak. Misalnya kisah Uwais bin Amir. Dikisahkan dia merupakan seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Oleh karena itu Allah memberi kemuliaan, berupa doa yang makbul—doanya dikabulkan oleh Allah. sehingga banyak orang berbondong-bondong datang untuk meminta didoakan. Itu merupakan cara Allah mengangkat derjat hambanya.

Ada pila kisah seorang ahli ibadah bernama Juraij. Pada suatu kali Juraij tengah khusuk salat. Lalu ibunya memanggil namanya berkali-kali. Merasa salat lebih penting, Juraij pun mengabaikan panggilan ibunya. Namun ternyata perbuatan Juraij itu mengundang amarah ibunya. Bahkan ibunya  mendoakan Juraij agar mendapat musibah. Benar saja beberapa kemudian, dia terjebak masalah dengan seorang pelacur yang mengaku telah melahirkan anak Juraij.

Kejadian itu membuatnya teringat dengan kemarahan ibunya. Sehingga dengan cepat Juraij meminta ampunan. Setelah itu akhirnya atas kuasa Allah, bayi itu itu bisa berbicara dan menyelamatkannya dari fitnah yang keji.  Selain itu ada pula kisah Abdullah bin Salam yang sehari-harinya ahli ibadah dan selalu bersedekah, namun karena dia telah menyakiti ibunya, dia kesulitan saat sakaratul maut (hal 24).

Maka sudah jelas, betapa berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban bagi setiap anak dan tidak boleh disepelekan. Di mana Allah pun telah menjanjikan bahwa barangsiapa yang berbakti kepada orangtua, kita akan dimuliakan, mendapat berkah berlimpat ganda. Dan Allah juga telah memperingatkan jika kita durhakan kepada orangtua, pintu neraka dan azab Allah siap menimpa kita.

Sebuah buku yang sangat memotivasi dan menginspirasi. Mengajarkan kita untuk berbakti kepada orangtua. Selain itu dalam buku ini kita juga dikenalkan dengan berbagai hikmah islami yang bisa dijadikan jalan muhasabah. Di sini kita juga ingatkan bahwa apa yang kita petik adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dipaparkan dengan bahasa yang renyah dan memikat membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.

Srobyong, 28 Juni 2017 

[Resensi] Tukang Sepatu Mengkritik Pebisnis karena Selalu Curang

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 10 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
 Penulis            : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen  karya para penulis peraih Nobel Sastra—sebuah  penghargan sastra paling prestesius di dunia yang diberikan kepada penulis.  Dan baru-baru ini telah diumumkan  bahwa pemenang Nobel Sastra 2017 adalah penulis Inggris berdarah Jepang—Kazuo Ishiguro.

Penghargaan ini menunjukkan kemampuan seorang penulis juga seberapa berpengaruhnya tulisaan yang dibuat di mata dunia. Mengingat sastra memang dibuat dengan tujuan esetika.  Namun selain  hadir sebagai hiburan, sastra  juga menjadi jembatan untuk mendiskripsikan berbagai peristiwa, masalah psikologis, hingga  dinamika penyelesaian masalah.

Dari cerita sastra kita bisa mengambil inspirasi atau merenungkan tentang suatu kejadian yang mungkin sering terjadi dalam kehidupan  sosial masyarakat pada waktu tertentu. Dan sastra kadang-kadang juga menjadi pisau tajam dalam mengkritisi masalah politik.  Dalam buku ini terdapat 25 cerita yang menarik dan memikat dengan berbagai tema—ada cinta kasih keluarga hingga kritik sosial budaya.  

Misalnya saja cerpen berjudul “Tukang Sepatu” karya  John Galsworthy. Dia mengkritisi para pebisnis, tentang persaiangan bisnis yang lebih sering memakai kecurangan untuk melariskan produk  yang dimiliki.  Dalam cerpen ini diceritakan, para tukang sepatu tidak memikirkan kenyamana pemakai sepatu, hanya memikirkan keuntungan yang nantinya akan diperoleh. Berbeda dengan Gessler bersaudara yang tetap memegang ideologi, untuk menjadi tukang sepatu yang bertanggung jawab. Gessler selalu berusaha membuat sepatu dengan kualiatas baik.   “Mereka mencari pelanggan  dengan iklan, bukan dengan karya.” (hal 67).

Adapula cerpen berjudul “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” karya Gabriel Garcia Marquez. Dalam cerita ini, penulis menyindir seorang senator  yang mudah disuap ketika disuguhi wanita cantik.  Diceritakan Senator Onesimo Sanchez telah divonis akan segera meninggal. Namun karena malu mengakui kenyataan itu dia berusaha mati-matian merahasiakan batas hidupnya.  Dia tetap melakukan kampanye pemilu dan melayani masyarakat yang meminta bantuan kepada dirinya.

Hanya satu orang yang selalu dia tolak, ketika meminta bantuan. Namanya Nelson Farina. Dia meminta tolong pada Senator Onesimo untuk membuat KTP palsu agar tidak bisa lolos dari jangkaun hukum (hal 138). Namun dengan tegas Senator Onesimo menolak permintaan Nelson. Hingga di suati hari, Nelson mengenalkan putrinya—Laura Farina yang sangat rupawan, hingga membuat Senator Onesimo bertekuk lutut, dan tidak bisa lagi menolak keinginan Nelson.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Gelang Emas” karya  Naguib Mahfouz. Dalam cerita ini, penulis menunjukkan krisis moral yang kerap terjadi di dalam sosial masyarakat.  halal dan haram sudah tidak dipedulikan, bahkan kejujuran pun digadaikan. Diceritakan  Hussein akhirnya diterima menjadi juru tulis di sekolah menengah di Tanta. Kabar itu tentu saja sangat membuat Hussein sangat senang dan antusias. Dengan memperoleh pekerjaan dia bisa membantu keuangan keluarganya.

Tapi di sisi lain, Hussein menyadari untuk pergi ke Tanta dia memerlukan banyak biaya. Sedangkan dia saat itu tidak memiliki uang. Oleh karena itu, dia mencari saudaranya Hassan untuk meminta bantuan. Dan betapa terkejutnya Hussein ketika melihat keadaan Hassan, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan dirinya.   Namun yang lebih mengejutkan adalah ketika Hassan tiba-tiba memberikan sebuah gelang emas milik orang lain kepada Hussein untuk dijual (hal 154). Di sinilah dilema Hussein. Dia bingung antara harus menerima gelang emas itu atau menolaknya.   Tapi Hussein akhirnya menerima gelang itu demi bertahan hidup.

Selain cerpen-cerpen tersebut, masih banyak lagi kisah lain yang tidak kalah menarik dan menggelitik. Seperti Idiot karya Camilo Jose Cela, Perempuan Tak Setia karya Albert Camus, Ketika Dara Jatuh Cinta karya Ernest Hemingway,  Namu Hitam karya Orhan Pamuk dan banyak lagi. Semua diceritakan dengan alur menarik dan memikat, membuat kita tidak bosan dalam membaca. Selain itu dalam buku ini juga dilengkapi sejarah perihal Hadiah Nobel Sastra, juga daftar para penulis yang pernah menerima penghargaan sejak tahun 1901- 2016. 

Srobyong, 6 Oktober 2017 

Thursday, 19 October 2017

[Resensi] Pandangan Masyarakat Terhadap Seni dan Penulis

Dimuat di  Kabar Madura, Senin 9 Oktober 2017 


Judul               : Alang
Penulis             : Desi Puspitasari
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Tebal               : iv + 235 hlm
ISBN               : 978-602-9474-09-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Sudah menjadi berita umum, bahwa profesi sebagai penulis masih dianggap sebelah mata oleh sebagian banyak masyarat. Mereka kerap dianggap sebagai pengangguran dan tidak memiliki masa depan cerah. “Menjadi penulis tidak akan pernah membuatmu kaya. Kau akan hidup terlunta-lunta.” (hal 147).

Selain menulis salah satu profesi lain yang kadang masih disepelekan adalah para pecinta seni. “Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tidak bisa kau dapat dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi yang ada malah membuatmu mati lebih dini.” (hal 26).

Kedua hal ini kerap dibanding-bandingkan dengan profesi lain yang lebih menjanjikan. Di mana sebagian banyak masyarakat lebih mempercayai bahwa profesi dokter atau pengacara lebih memiliki masa depan yang cerah. Oleh karena itu banyak orangtua yang melarang keras anak-anak mereka  jika didapati memiliki cita-cita menjadi penulis atau  musisi.   Padahal anggapan itu tidak seratus persen benar.  karena setiap profesi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Novel ini mengambil isu menarik dalam masyarakat dengan dipadukan tema tentang perjuangan dalam meraih mimpi. Membaca  novel ini kita disadarkan,  bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari sebelah mata—atau dari hal jeleknya saja tapi harus menyeluruh. Selain itu di sini kita juga diingatkan,  untuk menjadi dewasa ada hal-hal yang harus diputuskan dan menanggung resiko yang telah dipilih.

April percaya bahwa bakat itu ada. Tapi tidak semua keberhasilan terwujud karena bakat. April lebih percaya kalau pandai dan sukses itu diraih karena tekun dan bekerja keras, ketimbang melulu menggantungkan diri pada bakat (hal 40). Inilah paham yang dipegang erat oleh April. Karena itu dia berusaha keras dalam mewujudkan mimpinya sebagai seorang penyair. Meski itu harus melawan keinginan orangtua yang selalu menyepelekan mimpinya.

Begitu juga dengan Alang.  Sejak duduk dibangku sekolah dasar, dia sudah sangat menyukai musik.  Diam-diam dia belajar bermain gitar dari guru seninya—Pak Gunawan. Dan agar dia bisa memiliki gitar, Alang bekerja keras sambil bekerja. Hanya saja ayah Alang sama sekali tidak menyukai cita-cita anaknya. Karena di desa mereka pun sudah ada teladan kalau seni itu hanya omong kosong. Tidak ada masa depan bagi penggiat seni.

Kesamaan nasib, membuat April dan Alang menjadi dekat. Hubungan yang semula hanya sebatas sahabat, lambat laun berubah menjadi sesuatu yang spesial.  Setelah meenyelesaikan SMA, Alang mengambil peruntungan untuk melanjutkan sekolah musik di Jakarta. Apalagi dia berkesempatan mendapatkan beasiswa.  Sedangkan April melanjutkan  kuliah di kedokteran. Sebuah perjuangan panjang dan tidak mudah akhirnya mereka mulai. Tentang jatuh bangun dalam berjuang meraih mimpi, juga tentang kenyataan pahit yang setiap saat harus mereka hadapi

“Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan  pecundang. Pemenang itu artinya dia yang tidak mogol atau berhenti di tengah jalan—pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit dan pulih.” (hal 195).  

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, membuat novel ini asyik untuk dinikmati.  Apalagi teman yang dianggkat itu cukup dekat dengan dunia literasi serta isu-isu yang kerap menyelimuti. Bahwa seni bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Meski pada beberapa bagian ada yang terasa lompat-lompat. Namun lepas dari kekurangannya novel ini cukup menghibur. Banyak pesan tersirat yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti sikap tidak mudah menyerah, kekuatan sabar, mau berusaha serta tidak takut dalam mengambil pilihan.

“Kesuksesan itu bukan jalan singkat. Kecuali kamu adalah anak seorang yang sangat kaya, selebihnya kamu harus jatuh bangun berdarah-darah menempuh jalan seni yang terjal.” (hal 217).


Srobyong, 31 Juli  2017 

Wednesday, 18 October 2017

[Cerpen] Hikayat Batu Menangis

Dimuat di Koran Dinamikanews, Edisi 395/ 15-31 Oktober 2017 


Kazuhana El Ratna Mida

            Kalian pasti tidak akan percaya bahkan menganggap aku gila, jika bilang,  bahwa aku mendengar batu menangis.  Tapi itulah kenyataannya. Sejak dua minggu lalu, tiba-tiba aku mendengar  batu menangis. Batu itu berukuran seperti  anak kecil berusia satu tahun. Dan batu itu tiba-tiba ada di halaman rumah kontrakanku. Aku sungguh bingung, tapi aku belum sempat meminta tolong pada siapa pun untuk memindahkannya. Jadi aku  memilih membiarkan batu itu di sana untuk sementara.

 Anehnya hanya batu itu yang menangis. Ketika aku ke luar rumah dan melihat batu-batu di tempat lain—batu di halaman rumah Pak Sanusi,  Bu Retno, batu di sekitar pasar, batu di  taman kota dan banyak tempat lainnya yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu,  aku sama sekali tidak mendengar tangisan dari batu-batu itu.

Lebih aneh lagi, tangis  batu yang tiba-tiab ada di rumah itu sungguh memilukan. Dan entah kenapa hatiku jadi tersentuh,  bahkan aku seolah ingin ikut menangis seperti batu itu.

~*~

“Kau jangan mengada-ada, Mar,” ucap Susi dengan tawa mengejek, “mana mungkin batu menangis? Batu itu benda mati.” Tawa Susi kini sudah meledak.  Dia sama sekali tidak percaya ketika aku bercerita.

“Kau mungkin sedang kelelahan hingga berhalusinasi,” Susi berucap lagi.

“Aku tidak bercanda, Sus. Itu kenyataan. Dan aku yakin sekali mendengar batu itu menangis dengan sangat memilukan.” Aku bersikeras.

“Mana coba ... mana coba. Lihat aku tidak mendengarnya.” Susi mengangambil batu secara acak yang tidak jauh dari posisi duduknya.

“Bukan batu yang ini, Sus. Tapi batu yang ada di rumahku. Ayolah coba kau dengarkan juga.”  Aku membujuk Susi agar mau sekadar mengecek ceritaku.  “Ayo ke rumahku.”

 “Sudah, ah. Kau istirahat sana. Pulang dan tidur. Kau membuatku ikut gila dengan cerita anehmu.”  Susi menggelengkan kepala.

“Aku tidak bisa ke rumahmu hari ini. Mungkin lain kali.” Susi mengangkat bahu. “Dan aku akan memastikan bahwa batu itu tidak menangis seperti yang kau katakan. Dan aku akan membawamu ke tempat psikiater.” Omel Susi.

Aku mendesah kecewa. Tapi pada akhirnya aku meraih tasku dan beranjak pergi. Percuma juga aku meyakinkan Susi. Teman satu profesi denganku itu memang tidak terlalu percaya dengan hal-hal yang tak bisa diterima logika.  Dan mungkin aku akan bersifat sebagaimana Susi,  jika tidak mengalaminya sendiri. karena apa yang aku alami ini memang benar-benar hal yang tidak wajar dan aneh.

Kenapa batu menangis? Kenapa hanya aku yang mendengarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema di lubang otakku. Sayang sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya.

~*~

Pulang dari tempat Susi pikiranku masih sedikit kacau. Aku baru masuk rumah, setelah terlalu lama duduk melamun di halaman, sambil mendengarkan tangis batu itu  Dan aku juga menangis di sana. Lucu bukan? Tangisan batu itu seolah ikut menghipnotisku. Membuat hatiku terenyuh dan simpati.

Segera aku membasuh wajah dan berganti baju. Setelah itu aku memilh membaringkan tubuh. Sejujurnya sudah tiga hari ini aku tidak bisa tidur karena memikirkan masalah batu menangis. Mereka sungguh menyita sebagian otak bawah sadarku. Aku terus berpikir dan berpikir mencari kemungkinan alasan kenapa batu-batu itu menangis.

Awalnya aku berpikir mungkin batu itu adalah jelmaan Malin Kundang yang dulu mendapat azab dari ibunya, karena durhaka—Malin Kudang tidak mau mengakui ibunya, setelah dia sukses dan menjadi kaya raya.  Yah, Seingatku dulu, Malin Kundang dikutuk ibunya menjadi batu. Mungkin Malin Kundang merasa bersalah. Dia menangis dan memohon ampunan dari ibunya.  Tapi kemudian aku sadar, batu Maling Kundang itu ada di Padang, Sumatera Barat, di laut Pantai Air Manis.  Jadi tidak mungkin batu itu sampai di tempatku.

Lalu aku teringat kisah lain yang tidak kalah mirip. Bahwa  bisa jadi batu itu adalah jelmaan dari seorang perempuan cantik yang durhaka pada ibunya.  Aku pernah mendengar sebuah kisah tentang seorang wanita tua miskin yang memiliki putri cantik jelita. Sayangnya putrinya itu sangat manja dan pemalas. Setiap hari kerjanya hanya berdandan.

 Suatu hari ibunya mengajak putrinya pergi ke pasar. Di jalan itu-lah banyak orang yang mengagumi kecantikan putri dari wanita tua itu. Mereka pun bertanya-tanya mungkinkan mereka itu anak dan ibu atau anak dan pembantu? Dan betapa mengejutkannya jawaban di anak perempuan itu.  Dia mengatakan bahwa ibunya adalah pembantunya. Dan itu terus berlanjut setiap kali ada orang bertanya. Anak perempuan itu mengatakan kalau ibunya adalah budaknya. Keadaan itu tentu saja membuat sang ibu sakit hati, dan kemudian mengutuk putrinya menjadi batu.   

Sadar telah berbuat salah, anak perempuan itu meminta maaf pada ibunya. Dia menangis memohon pengampunan. Namun sayangnya, permohonannya sudah terlambat. Dia tetap menjadi batu dengan air mata yang terlihat masih menderas. Tapi aku batu ingat kemudian, batu menangis ini ada di Kalimanta Barat. Bagaimana dia bisa terdampar di sini?

Tapi di lain hari aku berpikir, mungkin batu itu adalah jelmaan Roro Jonggrang. Kalian pasti tahu bukan dengan kisah Roro Jonggrang? Dia adalah putri cantik yang dilamar Bandung Bondowosa—pria yang sudah membunuh ayah dari Roro Jonggrang sendiri dan menjajah negerinya.

Oleh karena itu Roro Jonggrang membuat tipu muslihat agar persyaratan yang diajukan kepada Bandung Bandowoso gagal. Dan Roro Jonggrang memang berhasil memperdayai pria itu. Tapi sayangnya dia berakhir menjadi batu karena dikutuk   Bandung Bondowoso yang menyadari kalau dirinya telah diperdaya.  Dan kemudian aku menyadari batu acra Roro Jonggrang tidak mungkin menangisi Bandung Bondowos. Malah sebalinya Roro Jonggrang pasti malah tengah gembira bisa terlepas dari cengkraman pria jahat itu.

Dan malam ini, berakhir aku kembali tidak bisa tidur. Kelebat pikiran tentang batu dan kemungkinan-kemungkinan yang pernah aku pikirkan, kembali menjajah otakku.

~*~
Keesokan harinya, aku memutuskan memindahkan batu itu, setelah berdiskusi dengan Susi.  Pagi-pagi sekali tiba-tiba Susi sudah berada di rumahku. Dia menatap batu yang pernah aku ceritakan. Hanya saja dia tidak mendengar apa pun.

“Buang saja batu ini, Mar. Siapa tahu setelah batu ini pergi, kau bisa tenang.” Susi menjelaskan.

“Barangkali ada orang yang tidak menyukaimu, sehingga mengirim batu.” Lanjut Susi lagi.

Entah kenapa aku tidak berpikir sampai sana. Barangkali memang itulah penyebabnya. Yah, itu yang paling masuk akal saat ini. Aku memanng sadar, ada beberapa teman kerja yang tidak menyukaiku. Katanya aku ini  sombong dan banyak sebutan lainnya. Aku tidak mau tahu.

Maka aku pun mengikuti sarannya. Dengan bantuan Susi, aku berhasil memindahkan batu itu. Susi menyarankan membawa batu itu di salah satu pantai terdekat di kota ini.  Hanya saja keanehan kembali terjadi, saat aku sudah sangat yakin membawa batu itu ke pantai, sesampainya di rumah, batu itu tetap berada di tempat yang sama, sejak pertama kali muncul. Dan aku semakin mendengar suara tangisnya yang menyayat hati.  Susi pasti tidak akan percaya jika melihatnya. Sayangnya setelah dari pantai, Susi harus pergi.

Aku terduduk lemah sambil menatap batu itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan batu itu?  Aku bertanya-tanya sendiri.

Dan bertepatan dengan kejadian itu, suara di tempurung otakku membuatku tercekat. Aku seperti tersengat listrik dan mengingat berbagai kejadian yang tengah melilitku. Dan seketika aku menyadari batu itu  akan menjadi jelmaanku sendiri jika tak segera bertaubat dan memohon ampun pada seseorang yang selama ini telah kusakiti. Entah sudah purnama ke berapa aku tak pernah pulang, demi sebuah ego kesombongan.

Maka gegas aku bangkit dan berjalan tergesa menuju stasiun terdekat. Aku harus pulang. Aku harus minta maaf pada ibu, karena telah menyakitinya. Memarahi ibu karena tak bisa memberiku harta melimpah, malu karena ibu adalah orang susah. Aku ingat dua minggu lalu, adikku mengabari kalau ibu tengah sakit keras.

“Ibu ... maafkan Marni, Bu. Aku pulang.” Isakku dalam kesedihan dan penyesalan.

Srobyong, 29 Juli 2017

[Cerpen] Cerma - Dunia Dini


Dimuat di Harian Analisa Medan, Minggu 2 Juli 2017 

Kazuhana El Ratna Mida
 Apa yang kita tanam, maka itulah yang nantinya akan kita raih. Yah, itulah nasihat pernah aku katakan pada Dini.  Kami duduk berdua kala itu berhadapan. Hanya saja dunia kami tidak sana. Aku di sini dan Dini entah berada di mana.
~*~
            Dini adalah sahabatku. Dia baik dan menyenangkan.  Hanya saja satu kebiasannya sungguh membuatku tidak terlalu suka. Dia itu penggila gadget sejati. Jangan tanya seberapa gila dia dengan barang itu. Sehari-hari dia selalu asyik  hingga tak mengenal waktu. Baik di rumah, di sekolah, bahkan mungkin di kamar mandi, gadget itu akan selalu menemaninya.  Katanya jika tidak bermain gadget itu tidak seru.
             “Din. Kamu dengerin aku ngomong nggak, sih?” protesku. Sedari dari tadi,  aku  seolah berbicara dengan tembok. Dianggap seperti obat nyamuk. Sedang dia terlihat tertawa sendiri sambil menatap layar handphone-nya.
            “Maaf, Sa. Aku dengerin, kok,” kilah Dini masih dengan gadget di tangannya. Jemarinya terlihat lincah tengah mengetik sesuatu. Pasti dia sedang update status di facebook. Aku sangat yakin. Lalu upload foto terbaru di instagram. Dan tidak lama kemudian pasti akan twiiter-an.
            “Trus aku tadi cerita apa?” tatapku penuh selidik.
            Dini hanya tersenyum tanpa rasa bersalah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itulah kebiasannya kalau tertangkap basah tidak konsentrasi kalau aku bertanya pada dia.
            Kebiasaan Dini ini acap kali membuatku sebal. Ketika aku sudah berbicara panjang lebar, Dini sama sekali tidak mendengarkan dan lebih fokus dengan gadget-nya.  Bahkan ketika kelas dimulai, dia diam-diam masih bermain gadget. Sepertinya dia tidak takut kalau ketahuan dan dihukum guru BK.  Padahal di sekolah ada larangan tidak boleh membawa handphone.
“Memang kamu nggak bosen apa main gadget terus?”
“Ya enggaklah, Sa. Malah seru. Kita bisa whasapp-an, facebook-an, twitter-an juga instagram-an.” Promosi Dini dengan semangat.
Yah, aku paham. Aku juga memiliki semua akun yang disebutkan Dini. Aku membukanya sesekali kalau sedang liburan atau penat, di mana aku butuh sedikit hiburan.
“Tapi bukan berarti kita  harus selalu update status setiap hari,  kan Din?”  Aku berkomentar.  Apalagi jika update statusnya hanya sekadar curhat tidak jelas atau marah-marah. Padahal kalau mau curhat lebih aman sama buku atau langsung pada Allah. Terjaga kerahasiaaannya. Yang ini aku mengucapkannya dalam hati.
            “Ich ..., kamu itu, Sa.  Jejaring sosial kan bisa menambah jaringan persahabatan. Bisa nambah informasi juga. Masak mau hidup sama buku doang.” Kali ini Dini mencoba menyindirku yang memang lebih suka berdekatan dengan buku.
            “Iya, Din.  Aku tahu, kok. Tapi nggak harus setiap hari kita mantengin jejaring sosial, berjibaku dengan gadget dan lupa kewajiban kita, kan?” aku balas  menyindirnya.
            Dini memang sudah kemakan zaman hingga masuk ke dalam lubang yang paling dalam. Seharusnya dia tetap bisa memilih mana yang harus didahulukan. Dia sudah kelas tiga, saatnya belajar. Pikirku sendiri. 
          “Boleh saja main-main, Din. Tapi kan ada batasnya.” Ucapku lagi.  “Kamu  bener nggak pengen berubah, Din? Kita udah kelas tiga saatnya tobat. Belajar, letakkan gadget sementara,” aku  mencoba menasihati lagi.
            “Duh, Sa ... kamu itu lama-lama mirip dengan ibu aku. Suka ceramah.” Dia terkikik sendiri.
            “Tapi, kan benar, Din. Semua juga demi kebaikanmu sendiri. Karena kamu sahabatku, aku harus mengingatkanmu, bukan?”
            “Iya ... iya, Sa. Aku tahu kamu memang selalu perhatian sama aku. Makasih banget. Makanya nanti kalau aku kesulitan ujian kamu harus siap membantuku memberi jawaban.”  Dini tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.
            “Serius, kali, Din. Kamu nggak bisa bergantung sama aku terus.”
            “Sudah, ah. Yuk, kekantin! Aku lapar. Nanti jam istirahat keburu kelar, lho.” Dini malah pergi begitu saja meninggalkanku.  Aku baru ingat kami mengobrol di kelas terlalu lama. 
Dini memang selalu saja seperti ini setiap kali aku menasihatinya. Padahal, aku berniat baik padanya.  Aku tidak habis pikir.  Apa iya, dia tidak  memikirkan persiapan ujian dan nanti akan untuk kuliah di mana? Apa mungkin dia dan hanya hidup dengan gadget itu. Benda kecil itu sungguh membuat repot? Aku menggerutu sendiri dalam hati, sambil berjalan mengikut langkah kaki Dini.
            “Kapan, sih  anak itu sadar kalau dia harus tetap memiliki batas tak tergantung pada benda kecil itu?” lagi-lagi aku menggerutu.
            Sesampainya di Kantin, aku hanya bisa  menelan ludah, menatap ke sekeliling, ternyata semua temanku  nampak asyik dengan gadget di tangan masing-masing. Mereka hidup seolah hanya berdambingan dengan benda itu.
            Aku  sungguh tidak habis pikir. Dampak kemajuan zaman ternyata juga membunuh anak bangsa yang tengah berkembang ini.
            Dan lamunanku terhenti ketika mendengar namaku dipanggil. Aku tahu siapa yang memanggil. Gegas aku mendekati Dini yang ketika aku melirik, dia  sedang update status di twitter-nya. Lagi dan lagi. Dini sudah kecanduan.
~*~
            Waktu pun berlalu. Dan Dini tetap dengan pendiriannya. Berkali-kali aku membujukknya, Dini tetap bersikukuh. Meski kami masih tetap selalu pergi bersama-sama. Hanya saja, dunia kami berbeda.
            Ketika kami ke perpustakaan misalnya. Aku berlatih mengerjakan soal-soal ujian untuk persiapan. Dan Dini akan tetap memegang handphone, tertawa sendiri membaca setiap notifikasi yang masuk. Tentu saja dia menahan tawanya agar tidak lepas kendali, hingga mengundang perhatian petugas perpustakan, dan kemudian dia akan disuruh pergi. Atau ketika kami berjanji belajar dan mengerjakan tugas bersama, pada kenyataanya hanya aku yang belajar dan mengerjakan semua tugas. Dini tetap terpaku pada dunianya sendiri.
            Sampai pada suatu siang, aku menemukan Dini dalam keadaan kacau. Dia menangis dan memeluknya. Aku melirik, mencari gadget yang selalu dia bawa ke mana-mana, ternyata tidak terlihat.
            “Kenapa Din?” sebagai sahabat, aku tidak bisa membiarkan Dini susah sendirian. Apalagi Dini sampai datang ke rumahku langsung.
Mungkinkah dia menyesal? Ingin mengajakku belajar bersama? Aku bertanya-tanya dalam hati. Lalu Dini mengulurkan sesuatu, aku menerima sebuah kertas yang kemudian memahami kenapa dia begitu sedih dan terpukul.
            “Bukankah aku sudah bilang Din. Apa yang kamu tanam itu yang kamu petik.” Aku menatap nilai Dini yang sungguh tidak bisa aku bayangkan dalam ujian dua hari lalu.
            “Yah, dan gara-gara nilai ini, gadget aku disita sama ayah dan ibu. Aku harus gimana tanpa gadget?” isak tangis Dini masih terdengar.
            Dan aku hanya bisa membekap mulut. Ternyata Dini masih belum jera.
Srobyong, 26 Februari 2017