Wednesday, 16 August 2017

[Resensi] Belajar Bersyukur, Sabar dan Ikhlas

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 14 Agustus 2017


Judul               : Syukurilah Hidup Rayakanlah Cinta
Penulis             : Fatih Zam
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-6334-20-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Permata tak akan bisa diasah tanpa gesekan, begitu pula manusia, tak ada yang sempurna tanpa cobaan.” (hal 124).

Hidup tanpa cobaan itu memang tidak mungkin. Ada kalanya kita mendapat kemudahan, ada kalanya kita mendapat kesusahan. Saat mendapat kemudahan, sudah semestinya kita mensyukurinya. Dan ketika  menghadapi kesusahan, kita juga harus tetap bersyukur, ditambah mau bersabar dan ikhlas. Karena dengan menerapkan tiga prinsip itu, kita akan lebih menghargai hidup. Bahwa seyogyanya cara bangkit yang paling mudah adalah dengan berdamai dengan diri sendiri.   Jika kita memilih putus asa, yang ada kita hanya akan rugi dan menyesal.

Buku ini dengan pengemasan gaya bahasa yang lugas, renyah dan memikat memparkan tentang kisah-kisah menarik yang bisa kita ambil hikmahnya, untuk perenungan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis mengenalkan tentang kisah-kisah yang mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur, sabar dan ikhlas.

Sebut saja cerita berjudul “Awan yang Menanggung Amanah Langit” di mana kisah ini bercerita tentang dua awan yang sama-sama mendapat amanah dari Allah. Kedua awan itu mendapat tugas untuk menampung air dari bumi yang sudah menguap untuk beberap waktu saja. Nanti kalau saatnya sudah tiba, bibit air itu bisa ditumpahkah kembali ke bumi sebagai hujan (hal 79).

Awan kedua melakukan amanah tersebut dengan senang hati. Namun awan yang pertama melakukannya dengan setengah hati. Dia sebal, karena gara-gara amanah itu, keindahan dirinya tidak lagi tampak.  Sehingga para pengagumnya pun melupakan dirinya.  Dia pun protes pada langit yang menjadi perantara sebagai pembawa berita dari Allah. Dia tidak mau melakukan perintah itu lagi. 
Agar terhindar dari tugas itu, akhirnya awan pertama memindahkan beban itu kepada awan kedua.  Dia senang sekali akhirnya tubuhnya kembali indah dan banyak pujian yang diberikan padanya lagi.  Sedangkan awan kedua keadaannya semakin buruk. Tapi dia tetap bersabar dan ikhlas melakukan amanah itu. hingga akhirnya langit memberi kabar kalau dia bisa melepas bibit air ke bumi.  Bersamaan dengan itu, tubuh awan kedua kembali indah. Namun di sisi lain keadaan awan pertama sungguh mengejutkan.

Selain kisah itu tentu saja masih banyak kisah-kisah lain yang tidak kalah inspiratif. Sebuah buku yang patut dibaca dan direnungkan.  Buku ini juga dilengkapi kata-kata motivasi yang pastinya akan membuat kita semakin menyadari tentang pentingnya belajar syukur, sabar dan ikhlas dalam berbagai keadaan. “Kekuatan tidak berasal dari  dari kapasitas fisik. Itu berasal dari kemauan yang gigih.” (hal 147).

Srobyong, 1 Agustus 2017

[Resensi] Pengaruh Kesalahan Orangtua dalam Mendidikan Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 13 Agustus


Judul               : Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan
Penulis             : Ajeng Maharani
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 161 halaman
ISBN               : 978-602-391-352-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Kumpulan cerpen ini sedikit banyak memuat tentang pengaruh kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Sehingga anak tumbuh menjadi sosok yang memiliki cara pandang yang salah. Kadang yang lebih parah adakalanya anak itu  menjalani hidup secara menyimpang.  Buku ini terdiri dari 17 cerita yang mengemas tentang luka, kesedihan, rasa putus asa dan tragedi-tragedi yang kerap terjadi dalam diri dan kehidupan manusia. Di sini dengan lihai penulis mengeksekusi cerita, sehingga kisah-kisah yang ditawarkan terasa menarik dan memikat.

Misalnya saja dalam kisah berjudul “Dongeng tentang Ibu dan Seekor Laba-laba di Kamar Mandi”  Mengisahkan tentang seorang anak yang setiap hari melihat pertengkaran kedua orangtuanya.  Ibunya bilang kalau ayahnya sudah tidak mengingat lagi arti keluarga. Ayahnya sudah tidak menyayangi mereka. Si anak tentu saja percaya. Apalagi ayahnya juga kerap memarahinya jika dia berani bertanya ini-itu. 

Suatu hari ibunya bersembunyi dalam kamar. Namun sejak hari ibunya tidak pernah muncul lagi. Apa yang muncul kemudian hanyalah seekor laba-laba. Hal inilah yang kemudian membuat si anak berasumsi kalau ibunya telah berubah menjadi laba-laba, karena perbuatan ayahnya.

Kisah lainnya, “Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan”  cerpen ini dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan  yang akan membuat pembaca mengernyitkan dahi juga menumbuhkan rasa tertarik. “Apa benar Ibu ada di bulan, Ayah?”  “Kapan  Tuhan  akan mengirimkan kereta  uapnya  untukku?” (hal 17-19).   Di sini penulis mengisahkan tentang seorang anak yang  ingin menemui ibunya yang telah meninggal. Namun karena suatu alasan, sang ayah tidak jujur dan tidak pernah mengungkapkan kenyataan tentang kepergian si ibu. Hal ini-lah yang kemudian membuat anak memiliki dogma yang salah.  Dan dia tumbuh menjadi perempuan yang terus terjebak pada kesalahan di masa lalu.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Maysa Rindu Menyusu Pada Batu” mengisahkan tentang Maysa, gadis kecil yang memiliki keyakinan kalau ibu kandungnya adalah batu. Karena itulah yang mamanya katakan, setiap kali mamanya marah.  “Jangan cengeng. Mama ini sibuk, jangan ganggu Mama dengan suara tangisan seperti itu. Bising. Dasar anak batu, tidak pernah bisa diajak bicara.” (hal 122).

Setelah kejadian itu,  keesokan harinya, Maysa mengambil keputusan untuk tidak  pulang ke rumah. Dia memutuskan untuk mencari ibunya—ibu batu tepatnya. Jika dia bisa menemukan ibunya, Maysa sangat ini tidur dipangkuan ibunya sambil mendengarkan dongeng. Dia juga ingin menanam bunga-bunga di kebun, ingin melukis gunung dan matahari, memasak dan mandi bersama. Selain itu, yang paling Maysa inginkan adalah dia ingin dipeluk dan menyusu pada ibunya. 

Selain beberapa cerpen yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak cerpen yang menarik dan memikat. Di antaranya, Sesudah Mbah Darto Bunuh Diri, Hikayat Perempuan yang Sekarat, Kesedihan Kita, Imron Ingin Membunuh Bapak dan banyak lagi.  Hampir sebagian besar, pada buku ini kita akan dihadapkan bagaimana  anak-anak menghadapi kesedihan dan luka yang pernah diterohken keluarganya—baik ibu atau ayah.  Selain menggambar kesedihan anak. Di sini penulis juga mengeksplore tentang perempuan dan perihal sex yang menyimpang.

Kisah-kisah dalam buku kumpulan cerpen ini diceritakan dengan sangat memikat. Karena penulis dengan ide-ide yang gila dan tidak terduga, mengantarkan pada sebuah labirin—menyibak isi kepala perempuan dan anak-anak yang jarang diangkat oleh penulis lain. Apalagi diksi yang dipakai penulis juga menarik.

Keunggulan lainnya adalah alenia pembuka yang menarik dan  judul tulisannya—yang meski terkesan cukup panjang, namun di sanalah daya tarik cerpen yang ditulisnya. Hanya saja untuk beberapa bagian, ending cerita cukup mudah ditebak. Namun begitu hal itu tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini. 

Membaca ini, banyak renungan inspiratif yang bisa kita petik untuk pembelajaran. Di mana dalam mendidik anak kita harus total. Dalam artian selalu jujur bagaimana pun keadaannya. Kita harus membangun komunikasi yang baik dengan anak agar tidak terjadi salah paham. Dan dalam mendidik, tidak semestinya memakai kekerasan, tapi dengan kasih sayang dan ketegasan.

Srobyong, 28 Juli 2017 

[Resensi] Cerita Menarik Tentang Kesedihan Anak-anak dan Perempuan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 11 Agustus 2017

Judul               : Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan
Penulis             : Ajeng Maharani
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 161 halaman
ISBN               : 978-602-391-352-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Mengambil fokus pada perempuan, anak-anak dan perilaku seks menyimpang, kumpulan cerpen yang  terdiri dari 17 cerita yang mengemas tentang luka, kesedihan, rasa putus asa dan tragedi-tragedi yang kerap terjadi dalam diri dan kehidupan manusia. Di sini dengan lihai penulis—yang merupakan runner up UNSA Ambasador 2016 ini mengeksekusi cerita, sehingga kisah-kisah yang ditawarkan terasa menarik dan memikat.

Misalnya saja dalam kisah berjudul “Dongeng tentang Ibu dan Seekor Laba-laba di Kamar Mandi”  kisah ini sudah dibangun menarik dan memikat melalui judul cerita. Kemudian penulis menambahi dengan pembuka alenia yang tidak kalah menggelitik. Di mana dikisahkan Damar merasa bahwa laba-laba adalah jelamaan ibunya.  Dia merasa laba-laba itu selalu memandanginya dengan lekat, seolah ingin memberikan sebuah pesan tersirat, atau juga ingin mengungkapkan tentang sebuah kerinduan.  

Apalagi di hari sebelum ibunya menghilang, Damar sering melihat ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar ketika bapaknya belum pulang kerja (hal 9). Bagaimana mungkin Damar bisa berprasangka kalau ibunya adalah seekor laba-laba? Di sinilah uniknya. Penulis dengan gaya bahasa yang renyah dengan alur maju mundur, menceritakannya setiap jalinan kisah  menarik.

Kisah lainnya, “Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan”  cerpen ini dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan  yang akan membuat pembaca mengernyitkan dahi juga menumbuhkan rasa tertarik. “Apa benar Ibu ada di bulan, Ayah?”  “Kapan  Tuhan  akan mengirimkan kereta  uapnya  untukku?” (hal 17-19).   Di sini penulis mengisahkan tentang seorang gadis yang  ingin menemui ibunya. Dia sangat rindu. Namun entah kenapa setiap kali, dia ingin menemui ibunya, sang ayah selalu berkata, bahwa dirinya belum  mendapat panggilan untuk datang. Dia harus sabar menunggu datangnya kereta uap yang akan menjemputnya agar kelak bisa bertemu sang ibu.

Penantian itu pun terus dia kenang sampai, dia menjadi perempuan dewasa. Dia tak pernah bosan. Meski berkali-kali Rom, kekasihnya menasihatinya agar melupakan dongeng itu, dia tidak  mau. Karena baginya dongeng itu benar. Apalagi ketika akhirnya dia melihat kereta uap yang selama ini tengah dinantikannya. Namun tentu saja kisah tidak hanya berhenti di sana, karena sebuah kebenaran akhirnya terkuak membuat pembaca terpana.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Dongeng Seekor Kunang-kunang” yang mana cerpen ini membahas tentang kesedihan, cinta dan juga pengkhianatan. Tapi di sisi lain ada juga sebuah dongeng yang menyatakan bahwa kunang-kunang bisa membawa  pergi seseorang. Di sinilah, dengan sentuhan yang unik, penulis mengeksekusi ceritanya dengan manis.  Dan di dalam pesan ini pun ada sebuah pesan tersirat yang manis. “Sebagai seorang lelaki, jangan pernah kau menyakiti wanita. Wanita adalah ibumu, Nak. Mereka saudarimu, juga anak gadismu. Ingatlah tentang itu.” (hal 100-101).

Dan patut diperhatikan juga, “Maysa Rindu Menyusu Pada Batu” yang memaparkan tentang kesedihan anak kecil, ketika ibunya tidak pernah menganggap keberadaannya. Maysa kerap dimarahi,  bahkan dikatakan sebagai anak batu (hal 121).

Selain beberapa cerpen yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak cerpen yang menarik dan memikat. Di antaranya, Sesudah Mbah Darto Bunuh Diri, Hikayat Perempuan yang Sekarat, dan banyak lagi.  Hampir sebagian besar, pada buku ini kita akan dihadapkan bagaimana seorang perempuan dan anak-anak menghadapi kesedihan dan luka yang pernah diterohken keluarganya—baik ibu atau ayah. 

Kisah-kisah dalam buku kumpulan cerpen ini diceritakan dengan sangat memikat. Karena penulis dengan ide-ide yang gila dan tidak terduga, mengantarkan pada sebuah labirin—menyibak isi kepala perempuan dan anak-anak yang jarang diangkat oleh penulis lain. Apalagi diksi yang dipakai penulis juga menarik.

Keunggulan lainnya adalah dalam pemiliki judul, yang meski terkesan cukup panjang, namun di sanalah daya tarik cerpen yang ditulisnya. Dari pemilihan judul, penulis menambah keunggulannya dengan menampilkan paragraf pembuka yang memikat.   Hanya saja untuk beberapa bagian, ending cerita cukup mudah ditebak. Namun begitu hal itu tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini.  Belum lagi dari kisah-kisah ini banyak renungan inspiratif yang bisa dipetik untuk pembelajaran.

Srobyong, 9 Juli 2017 

Thursday, 10 August 2017

[Resensi] Terorisme dan Kisah Pencarian Jati Diri

Dimuat di Analisa Medan, Rabu 9 Agustus 2017


Judul               : Boys Beyond The Light
Penulis             : Astrid Tito dan T. Akbar Maulana.
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Tebal               : 212 hal
ISBN               : 978-602-03-3216-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Mengapa terorisme seakaan identik dengan Islam? Sedangkan kekerasan bisa dijumpai di seluruh benua dan juga dilakukan oleh umat lain.”  (hal 204).


Novel ini terinspirasi dari sebuah film dokumenter, yang merupakan kisah nyata tentang perekrutan pemuda Indonesia untuk bergabung dengan RIIS—Republic of Islam Iraq Syiria, lewat jaringan sosial media. Dalam novel ini kita diajak mengenal 4 pemuda dengan cita-cita berbeda namun bertemu pada medan sama yang tidak terduga.

Ada Galih, seorang anak konglomerat Jakarta. Apa pun yang dia inginkan, akan sangat mudah dia dapatkan. Kecuali satu, perhatian kedua orangtuanya. Di mana mereka terlalu sibuk dengan berbagai bisnis hingga tak memiliki sedikit waktu untuk dirinya. Hal ini-lah yang kadang membuat Galih tidak suka. Satu hal yang dia syukuri, bahwa dia memiliki seorang kakak yang baik hati, yang selalu setia menemaninya.

Ada pula Abay  yang berasal dari Susoh, Aceh Barat Daya. Dia adalah siswa beprestasi baik dalam ilmu akademik juga olahraga. Selain itu dia juga menghafal Al-Quran.  Hal itulah yang kemudian mengantar Abay belajar di Turki. Selanjutnya ada Bagas—kakaknya Galih.  Sebagaimana Abay, Bagas juga seorang pemuda yang pintar. Hanya saja permasalahan keluarga telah membuatnya menjadi sosok berbeda. Dia ingin bebas. Dia tidak mau dikekang dengan segala harapan ayah dan ibunya.

Terakhir ada Teguh, kakak kelas Abay. Masa lalu yang kelam, membuat Teguh memilih jalan tidak terduga. Jalan yang dia yakini sebagai jalan paling benar dan memang harus dia lakukan. Dendam merasuk kuat dalam sanubarinya.

Bermula dari alasan yang bertolak belakang, mereka pada akhirnya bertemu dalam organisasi RIIS. Tapi di sisi-lah kisah mulai semakin menarik. Galih yang memang memilih jalan itu karena mengikuti jejak sang kakak, lama-lama mulai tidak menyukai pilihannya ini. Apalagi puncaknya ketika dia diminta sebagai anggota yang melakukan bom bunih diri (hal 147).

Hal itu pun terjadi kepada Abay, dia yang awalnya ikut bergabung karena, ingin terlihat gagah di hadapan wanita yang pernah dicintainya, merasa tidak siap dan tidak setuju dengan adanya bom bunuh ini. Bagaimana pun bunuh diri adalah tindakan yang dilarang agama. Belum lagi apa yang akan terjadi dengan ibu dan adiknya jika dia nekat melakukan hal gila ini?

Abay dan Galih pun menyusun rencana untuk melarikan diri. Sayangnya, Teguh mencium gelagat itu. Dia tidak terima anak buahnya melakukan pengkhianatan.  Pertempuran sengit pun tidak bisa dihindari.  Mereka saling baku hantam untuk mempertahankan kepercayaan masing-masing. Teguh yang meyakini, jihad seperti inilah yang terbaik dan pastinya akan diridai Allah yang akan mengantar ke surga.

Dan keyakinan itu berbanding terbalik dengan Galih dan Abay.  Selama mereka ikut berjuang, pertempuran hanyalah menyisakan duka, membuat banyak pihak  kehilangan keluarga dan saudara. 
Dulu memang Abay sempat memiliki pemikiran yang sama dengan Teguh. Namun setalah diam-diam bisa menghubungi ibunya, banyak pencerahan yang akhirnya Abay dapat. Dia merenung dan merenung.  Di mana dia meyakini, jihad tidak harus melalui peperangan. Tapi bisa dengan ilmu pengetahuan bahkan berbakti kepada orangtua. Jihad yang saat ini dia lakukan, hanyalah imbas  dari geopolitik dunia.  

Kehidupan Abay dan Galih pun dipertaruhkan dalam pelarian ini. Akankan mereka selamat atau kembali untuk mendapat hukuman berat.  Tapi sebuah suara letusan pada akhirnya menjawab semua pertanyaan itu.

Sebuah novel yang menarik dan menginspirasi.  Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, dan pemilihan pov yang menarik—diceritakan bergantian dari sudut pandang Galih dan Abay.   Dan beberapa kekurangannya tidak menutup kenikmtan dalam membaca.

Novel ini  menunjukkan bagaimana empat pemuda yang mencoba mencari jati diri dalam balutan terorisme. Mereka tanpa adanya bimbingan dari orang dewasa, mudah terseret dan terpengaruh. Banyak pembelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini. Tentang Islam, politik, pengaruh ideologi dan banyak lagi.  Juga ada  beberapa sindiran yang sangat telak. Di antaranya,  “Dari mana kamu tahu akan masuk surga? Kamu telah mengambil alif fungsi Allah sebagai Tuhan.” (hal 103).

Srobyong, 10 April 2017 

[Resensi] Kiat Mudah Menjadi Cewek Kuat dan Tegar

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 Agustus 2017 


Judul               : Jangan Jadi Cewek Cengang
Penulis             : Linda Satibi, dkk
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-6334-18-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih baik dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperoleh kebaikan. Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan manfaat kepadamu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (hal 15).

Buku yang ditulis 12 penulis ini mencoba memaparkan tentang kiat mudah  menjadi cewek kuat dan tegar.  Meski jatuh berkali-kali, mereka selalu bangkit lagi dan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan tangis yang mereka keluarkan bukanlah tanda kalau wanita adalah makhluk cengeng,  tangisan adalah cara mereka mengeluarkan energi negatif dalam diri dan kemudian bangkit lagi.   Buku ini sangat patut dibaca bagi para wanita yang belajar arti ketegaran.

Dalam salah satu ulasan, dipaparkan bahwa wanita itu harus selalu menerapkan sikap KIPOP. Yaitu kuat, ikhlas, pantang menyerah, optimis dan positif.    Kuat berarti, meski wanita menangis, mereka melakukannya bukan karena lemah, tapi untuk mengeluarkan sampah yang ada, meluapkan sejenak kesedihan yang dirasakan. 

Ikhlas. Kita harus sadar bahwa segala hal yang kita alami adalah ujian dari Allah.  Ikhlas memang tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Dan cara paling ampuh adalah dengan senantiasa mengingat bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah kepunyaan-Nya (hal 16).

Pantang menyerah—yaitu sifat selalu tabah dan tidak mudah menyerah hanya karena tumpukan masalah hadir dalam kehidupan kita.  Pernah mendengar kisah Sumayyah binti Khayyat? Dia adalah salah satu sahabiya yang sangat kuat. Segala macam siksa lahir dan batin sudah beliau rasakan. Seperti dijemur di tengah sengatan terik matahari sambil dipakaikan baju besi. Dia  juga dihina dengan dengan kata-kata kotor dan perlakuan-perlakuan yang keji. Namun Sumayyah tidak menyerah dalam membelas iman dan Islam, sampai titik darah penghabisan, hingga dia meninggal dalam keadaan syahidah (hal 17-18)

Optimis. Sebagai seorang wanita kita harus selalu memiliki pemikiran ke depan. Percaya bahwa selalu ada jalan dalam setiapa hambatan. Kita selalu percaya ada Allah di sisi kita.  Coba kita renungkan sejenak tentang kisah Siti Hajar. Dia adalah sosok wanita yang luar biasa sabar dan optimis. Ketika dia dan Ismail ditinggal dalam tanah kering, dan kebetulan bekal mereka habis, Siti Hajar tidak mengeluh. Dia tahu putranya sedang kehausan, oleh karena itu dia segera mencari pertolongan untuk mendapat air. Meski berkali-kali gagal, dia tidak menyerah. Dalam dirinya sudah tertanam optimisme bahwa Allah tidaak akan melupakan hambanya. Hingga akhirnya pertolongan Allah benar-benar tiba, melalui Nabi Ismail.

Terakhir positif. Yaitu kita mau positive thingking, positive feeling dan positive motivationselalu ber-positif thinking—yaitu ketika kita mendapatkan masalah apa pun, kita harus langsung berpikir bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari Allah. “Berbaik sangka terhadap Allah termasuk ibdaha yang baik.” (hal 24).  positive feeling—yaitu kita selalu memiliki perasaan baik. Mampu mengendalikan marah atau pun energi negatif lainnya dalam menghadapi masalah.   Agar selalu positive feeling kita harus menenangkan diri terlebih dahulu.

Terakhir adalah memiliki positive motivation—kita harus selalu menjaga niat kita agar tetap berada di koridor yang baik. Bahkan ketika kita sedang menghadapi masalah yang berat, kita harus niatkan semuanya demi beribadah kepada Allah. Karena apa pun yang kita lakukan akan mendapat balasan sesuai dengan niat yang kita tanam (hal  25).

Sebuah buku yang patut dibaca bagi siapa sajaa, khusunya bagi wanita. Dipaparkan dengan gaya bahasaa santi dan renyah, membuat buku ini sangat bersahabat.

Srobyong, 28 Juli 2017