Tuesday, 12 December 2017

[Resensi] Membongkar Ketimpangan Realita Hidup Lewat Cerita

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 November 2017 


Judul               : Cemong
Penulis             : Ida Fitri
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-61246-2-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Meski kita kerap kali membaca berbagai cerpen dengan tema-tema yang hampir serupa, namun pada kenyataannya kita tidak pernah bosan dengan sajian cerpen yang hadir setiap pekan di berbagai media. Kita tetap haus dengan kisah-kisah menarik yang disajikan dari berbagai latar dan pendidikan penulis. Karena setiap penulis memiliki sisi unik tersendiri dalam mengemas sebuah cerita. Hal itulah yang membuat perbukuan kumpulan cerpen tetap  tumbuh dan berkembang.

Berbagai penerbit masih menerbitkan kumpulan cerpen yang kebanyakannya pun sudah pernah tersiar di berbagai media. Dan realitas di pasar buku-buku tersebut tetap diterima para pembaca dengan baik. Misalnya saja “Cemong” karya Ida Fitri, penulis asal Aceh, yang diterbitkan di Basabasi.  Terdiri dari 22 cerpen, buku ini mencoba membongkar  ketimpangan yang kerap kali terjadi dalam realitas masyarakat kita.

Misalnya saja cerpen berjudul “Lelakiku  Tertawaan Gunung”. Di mana cerpen ini mengisahkan tentang Cut Meulu yang tidak pernah berhenti menunggu dan setia kepada sang suami—Yid Ahmad yang mengabdi sebagai guru di kaki gunung. Detik demi detik waktu dia gunakan untuk menyiapkan makanan kesukaan sang suami. Dia memasak sayur Plik U—sayuran yang terbuat dari kelapa busuk yang diambil minyaaknya dan dikeringkan, di mana proses pembuatannya hampir memakan waktu seminggu (hal 21).

Selain itu Cut Meulu juga harus menyiapkan ikan asin, salah satu menu favorit lain suaminya. Mungkin saja sewaktu-waktu suaminya akan pulang dan ingin makan. Namun malangnya setiap kali selesai memasak, dia menyadari suaminya tidak  kunjung kembali. Hingga akhirnya masakan itu berakhir untuk dibagi-bagikan kepada tetangga.

Kejadian itu terus terjadi hingga akhirnya membuat Cut Meulu pasrah. Dia meyakini cinta pasti akan menemukan jalannya. Namun di suatu siang yang panas, dia mendapati sebuah kabar yang sungguh menyayat hatinya. Dikhianati dan diduakan? Itukah balasan dari kesetiannya?

Cerpen ini ditutup dengan ending yang tidak terduga, tanpa meninggalkan kesan kesedihan yang menyakitkan bagi tokoh juga pembaca sendiri..   Kisah ini seolah menjawab realitas yang memang kerap terjadi dalam masyarakat. Di mana seorang pria  tidak bisa lepas dari perempuan dan kesepian. Hal itulah yang pada akhirnya memicu terjadinya perselingkuhan, ketika jarak menjadi pemisah sepasang suami-istri.

Selain itu ada pula cerpen berjudul “Kota Tanpa Kenangan”. Bercerita tentang sebuah daerah yang tiba-tiba jadi asing bagi semua orang. Sam memutuskan mengunjungi tanah kelahirannya—Jentaka.  Dia sudah tidak sabar bercumbu dengan masa lalu. Menikmati keindahan desa, bertemu teman dan sauadara. Nanun ketika dia akhirnya sampai di tempat itu, Sam hanya melihat kesedihan yang membingungkan (hal 27).

Sam mendapati kabar yang menyatakan kalau warga mulai hilang ingat. Itulah yang melatar belakangi berbagai pemandangan yang membuaat Sam bingung. Seperti saat melihat seorang ibu yang meninggalkan anaknya.  Dan anehnya perlahan-lahan memori yang dia miliki pun mulai menghilang. Dia lupa alasan pergi ke Jentaka.

Dalam cerpen ini, kita diperlihatkan tentang realitas hidup, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan uang banyak, selalu menghalalkan segala cara untuk melindungi diri dari perbuatan jahat yang dia miliki.  Baik itu dengan menyuap atau memakai perantara orang pintar.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Kematian Seekor Tikus”. Cerpen ini adalah contoh nyata bagaimana pola hukum di Indonesia berjalan. Bagaimana hukum yang berusaha menutupi kejahatan karena bantuan orang dalam yang memiliki pangkat kuat. Namun uniknya cerpen ini, penulis memberikan kejutan menarik di akhir cerita.

Selain beberapa cerpen itu, masih ada pula cerpen lain yang juga sangat menarik. Seperti Seraut Wajah Berbingkai Pohon, Mamawa Ya Tambora, Bukan Sulaiman, Buntalan Mikail, Kanibal Linge dan banyak lagi. Dipaparakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan tidak berat, membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.  Keunggulan lainnya adalah  bagaimana penulis memilih judul-judul yang menarik dan pembukaan alenia yang membuat kita penasaran untuk menuntaskan kisah sampai akhir.

Hanya saja dalam buku ini ada ketidakkonsistenan dalam memberikan catatan kaki di akhir setiap cerpen.  Begitupula dalam pemberian catatan kaki tentang bahasa daerah yang menurut saya kurang jelas dalam penulisannya. Namun lepas dari kekurangannya, rasa lokalitas dalam buku ini menjadi nilai tambah yang menarik.

Srobyong, 28 Oktober 2017 

Saturday, 9 December 2017

[Resensi] Cita-Cita, Cinta dan Restu Orangtua

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 19 November 2017 

Judul               : Alang
Penulis             : Desi Puspita Sari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Tebal               : iv + 235 hlm
ISBN               : 978-602-9474-09-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Kau hanya perlu bersungguh-sungguh. Bukan untuk membuktikan  pada orangtua atau pada siapa pun. Tapi buktikan pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa.” (hal 205).

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan dalam meraih mimpi. Apa yang terjadi ketika mimpi itu ditentang—tak diresutui orangtua dan disepelekan. Pilihan apa yang akan dilakukan ketika harus memilih maju demi cita-cita atau mengalah demi bakti kepada orangtua.  Membaca  novel ini kita disadarkan, bahwa untuk menjadi dewasa ada hal-hal yang harus diputuskan dan menanggung resiko yang telah dipilih.

April percaya bahwa bakat itu ada. Tapi tidak semua keberhasilan terwujud karena bakat. April lebih percaya kalau pandai dan sukses itu diraih karena tekun dan bekerja keras, ketimbang melulu menggantungkan diri pada bakat (hal 40). Inilah paham yang dipegang erat oleh April. Karena itu dia berusaha keras dalam mewujudkan mimpinya sebagai seorang penyair. Meski itu harus melawan keinginan orangtua yang selalu menyepelekan mimpinya.

“Menjadi penulis tidak akan pernah membuatmu kaya. Kau akan hidup terlunta-lunta.” (hal 147).
Begitu juga dengan Alang.  Sejak duduk dibangku sekolah dasar, dia sudah sangat menyukai musik.  Diam-diam dia belajar bermain gitar dari guru seninya—Pak Gunawan. Dan agar dia bisa memiliki gitar, Alang bekerja keras sambil bekerja. Hanya saja ayah Alang sama sekali tidak menyukai cita-cita anaknya. Karena di desa mereka pun sudah ada teladan kalau seni itu hanya omong kosong. Tidak ada masa depan bagi penggiat seni.

“Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tidak bisa kau dapat dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi yang ada malah membuatmu mati lebih dini.” (hal 26).

Kesamaan nasib, membuat April dan Alang menjadi dekat. Hubungan yang semula hanya sebatas sahabat, lambat laun berubah menjadi sesuatu yang spesial.  Setelah meenyelesaikan SMA, Alang mengambil peruntungan untuk melanjutkan sekolah musik di Jakarta. Apalagi dia berkesempatan mendapatkan beasiswa.  

Sedangkan April melanjutkan  kuliah di kedokteran. Hanya saja rasa cintanya pada seni, membuat April tidak terlalu serius belajar. Di sinilah masalah timbul. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong bersama teman-teman seniman. April juga mengajak serta Alang, yang demi rasa sayang akhirnya ikut terbawa pada arus itu. Alang ikut meninggalkan bangku kuliah demi bisa bersama dengan April.  Mereka saling berjanji untuk merengkuh impian bersama-sama.

Hanya saja  itu kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Kenakalan April diketahui orangtuanya sehingga April dijemput orangtua untuk kembali ke Madiun. Pada kenyataanya April merasa tidak bisa apa-apa tanpa dukungan materi dari orangtuanya. Di sinilah titik paling rendah bagi Alang. Dia merasa pengorbanannya pada April sia-sia. Dia sudah melepas kuliah demi gadis itu.  Tapi pada kenyataannya ... janji-janji yang mereka buat tidak satu pun menjadi kenyataan.

Di sinilah dia memahami, “Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan  pecundang. Pemenang itu artinya dia yang tidak mogol atau berhenti di tengah jalan—pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit dan pulih.” (hal 195).  
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, membuat novel ini asyik untuk dinikmati.  Apalagi teman yang dianggkat itu cukup dekat dengan dunia literasi serta isu-isu yang kerap menyelimuti. Bahwa seni bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Meski pada beberapa bagian ada yang terasa lompat-lompat. Namun lepas dari kekurangannya novel ini cukup menghibur. Banyak pesan tersirat yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti sikap tidak mudah menyerah, kekuatan sabar, mau berusaha serta tidak takut dalam mengambil pilihan.

“Kesuksesan itu bukan jalan singkat. Kecuali kamu adalah anak seorang yang sangat kaya, selebihnya kamu harus jatuh bangun berdarah-darah menempuh jalan seni yang terjal.” (hal 217).

Srobyong, 19 Maret 2017 

Thursday, 7 December 2017

[Review Buku] Kisah Anna & Bara, Rahasia Sepulang Sekolah




Judul               : Anna & Bara
Penulis             : Ghyna Amanda
Penyunting      : Jason Abdul
Penerbit           : Falcon Publishing
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 248 halaman
ISBN               : 978-602-6714-02-2

Blurb

Anna said : “Kikuk, rambut berantakan, kacamata tebal, berotak udang pula. Itulah Bara. Masalahnya, aku malah terperangkap buat bantuan dia menghadapi ujian nasional. Rasanya jadi buang-buang waktu! Pokoknya jangan sampai teman-temanku tahu soal ini!”

Bara said : “Cewek populer dan pintar, tapi bermuka dua. Itulah Anna. Mau enggak mau aku harus belajar bersamanya. Tapi gimana bisa belajar kalau mood-nya gampang berubah dan dia suka melempar-lempar benda apa pun setiap aku salah jawab soal?”

Yang satu populer. Yang satu nerdus. Keduanya tepaksa harus bekerja sama untuk meraih satu tujuan. Tapi jangan sampai siapa pun tahu apa yang bisa terjadi setelah jam sekolah, ya ....

~*~

Apa yang akan terjadi jika di cewek populer dan cowok nerd dipertemukan? Itulah kira-kira pertanyaan yang menjadi kunci memikat dalam novel ini. Ketika kebanyakan penulis sering memilih tokoh utama cowok yang pintar, cool, dan sederet kelebihan lainnya, maka berdanding terbalik dengan  Ghyna. Dia malah memilih cowok nerd sebagai tokoh utama.  Dan di sinilah malah keunikannya. Dia berani tampil beda. Belum lagi tema yang diangkat meski sederhana namun juga unik dan saya rasa jarang diangkat dalam beberapa segi.

Novel ini sendiri berkisah tentang Anna cewek populer di sekolah, karena segudang prestasi yang dimilikinya. Meski di balik semua itu ... ternyata dia menyimpan sesuatu yang tidak pernah diduga oleh orang lain.  Ada pula Bara, cowok nerd yang tidak pernah dipedulikan keberadaannya  penampilannya yang tidak menarik juga memiliki kelemahan dalam pelajaran.

Dan siapa sangka keduanya kemudian dipertemukan dalam peer tutor yang sebenarnya sangat tidak disukai Anna. Bagi Anna kegiatan itu sangat menganggun dan membuang waktu.  Tapi sayangnya dia tidak bisa menolak permintaan Pak Yunus ketika memintanya melakukan hal itu. Dia harus selalu menunjukkan sikap patuh dan tidak protes. Namun setidaknya ada uang lelah yang bisa dia dapat dari kegiatan tersebut (hal 13).

Berbeda dengan Bara, ketika dia dipertemukan dengan Anna, tentu saja dia sangat senang. Apalagi jika mengingat pertemuan pertama mereka di masa-masa awal dalam orientasi siswa baru. Namun siapa sangka apa yang kemudian terjadi malah di luar bayangan Bara. Dari pertemuan itu dia malah menemukan sisi lain dari Anna yang tidak pernah dia lihat di sekolah. Meski begitu, Bara tetap menikmati pertemuan mereka setiap pulang sekolah. Apalagi berkat Anna, nilai Bara pun mulai mengalami peningkatan.   Dan kisah semakin seru, ketika tiba-tiba Anna merubah penampilan Bara menjadi sosok berbeda. Apa yang sedang dipikirkan Anna? Kenapa dia melakukan hal itu? Apa yang sebenarnya terjadi setelah pulang sekolah di antara mereka?

Bersamaan dengan perubahan yang terjadi pada Bara, tiba-tiba sosok di masa lalu Anna muncul. Ramon, mantan pacar Anna mengajak balikan. Apa yang akan dilakukan Anna? Apakah dia akan menerima kembali Ramon?  Lalu ada pula Natalia teman Anna, yang mengatakan pada Bara, bahwa bisa jadi selama ini dia hanya dimanfaatkan Anna.

“Kamu enggak dimanfaatin sama dia, kan? Si Annika itu, katanya dari katanya dari keluarga miskin. Dia populer gara-gara deketin anak-anak kaya. Jadi bisa nebeng-nebeng gitu, deh. Hati-hati aja. Kalau dia udah ngebaik-baikin kamu, berarti dia udah mulai manfaatin.” (hal 63-64).  Pertanyaannya apakah Bara akan percaya begitu saja?

Selain membahas tentang kisah rahasia sepulang sekolah yang dilalui Anna dan Bara, di sini kita juga diajak menyelami latar belakang kenapa Anna bisa memiliki sikap yang bertolak belakang—di mana di sekolah dia selalu menunjukkan kepatuhan dan teladan yang baik, sedang bersama Bara, Anna menjadi sosok yang apa adanya—marah dengan bebas atau berbicara sesuka hati. Serta kenapa Bara yang nampak begitu pendiam dan menutup diri dari pergaulan.

Tidak ketinggalan ada pula masalah keluarga juga perihal usaha mencapai mimpi yang ingin diraih. Meski keduanya harus menghadapi kenyataan mimpi mereka tidak terlalu dihargai orantua masing-masing. Bara yang lahir dari keluarga dokter, dipaksa mengikuti jejak orangtua, padahal dia ingin menjadi pramugara. Sedangkan Anna yang ingin menjadi dokter, karena alasan finansial malah dilarang melanjutkan sekolah.

 “Anna merasa mimpinya tidak terlalu tinggi. Mimpinya belum sempat mengudara, tapi sudah dijatuhkan duluan.”(hal 123).

Membaca novel ini kita seperti diajak menyelami masa SMA lagi yang menyenangkan dan penuh kejutan. Ceritanya lucu, menghibur dan sukses bikin tertawa dari senyum biasanya sampai terbahak.
Suka dengan tema yang diangkat penulis. Meski ada bumbu kisah cinta yang dimasukkan dalam novel ini, namun porsi cinta tidak sampai menguasai  pokok cerita. Karena di sini lebih pada perjuangan para siswa yang mencoba menjari jati diri.  Juga tentang persahabatan, kepercayaan dan masalah mimpi serta keluarga.

Hanya saja penulis tidak mengeksplore lebih lanjut tentang orangtua Bara, yang sempat disinggung. Padahal jika dibahas lebih lanjut, kisah akan terasa lebih menarik dan hidup. Lalu kisah ini bisa dibilang memiliki alur cepat. Jadi jangan terkejut jika awalnya kita berada di A sebentar, maka tidak lama kita akan langsung sampai pada point B.

Namun lepas dari semua itu, novel ini tetap menghibur dan patut dibaca. Suka dengan gaya bahasa penulis yang lepas dan renyah. Bikin nggak bosen. Trus salut dengan penulis, di mana dia benar-benar bisa menghidupkan  para tokoh.

Dari novel ini saya belajar, bahwa orangtua tidak seharusnya membatasi keinginan anak. Orangtua semestinya memberi dukungan bukan mematahkan. Selain itu kita diingatkan untuk jadi diri sendiri,  dan jangan suka memfitnah.

Srobyong, 7 Desember 2017

Thursday, 30 November 2017

[Resensi] Menyikapi Masalah dan Musibah

Dimuat  di Harian Singgalang, Minggu 19 November 2017 


Judul               : Peony’s World
Penulis             : Kezia Evi Wiadji
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 236 halaman
ISBN               : 978-602-394-906-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Masalah dan musibah  diciptakan bukan untuk membuat kita bersedih kepanjangan atau bahkan merasa putus asa. Keduanya diciptakan memiliki tujuan untuk membuat kita mau berusaha dan menumbuhkan sikap sabar, ikhlas dan tawakal.  Novel yang mengambil genre fantasi ini mencoba mengingatkan kepada kita tentang bagaimana cara menyikapi sebuah masalah dan musibah. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan eksekusi yang memikat, membuat novel ini rekomendasi untuk dibaca.

Novel ini sendiri berkisah tentang Peony yang ternyata lahir dengan sebuah kemampuan unik. Dia bisa menginjak di dua dunia—dunia nyata dan dunia ciptaannya. Sebuah kemampuan yang sempat membuat Peony tidak suka bahkan terbebani. Karena gara-gara kemampuannya itu berbagai kejadian tidak mengenakkan kerap kali menimpanya. Namun berjalannya waktu dan usia, Peony kemudihan mulai menerima kemampuan itu dan menyadari bahwa bakat itu telah memberinya warna hidup yang menyenangkan.

Bersama sahabatnya—Lola dan Justin serta  pacaranya, Jovan, mereka sering menghabiskan waktu di dunia ciptaan Poeny jika kebosanan melanda.  Namun siapa sangka, kehidupan Peony yang sebelumnya penuh warna dan begitu sempurna—dia memiliki orangtua lengkap yang selalu menyayanginya, sahabat-sahabat yang baik, hingga seorang kekasih yang setia, tiba-tiba kebahaagian itu direngut paksa oleh Tuhan (hal 40).

Sebuah kecelakaan menimpa Jovan, hingga tak bisa diselamatkan. Kenyataan itu tentu saja membuat Peony sangat kaget dan kacau. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan itu.  Dia selalu mengurung diri dan tidak mau makan.  Sampai suatu ketika, tiba-tiba Jovan muncul di dunia ciptaan baru, membuat Peony kaget dan tidak percaya.  Ada satu sisi di hatinya yang merasa senang, namun di sisi lain dia merasa sedih karena Jovan terjebak di dunia ciptaannya.

Selain itu sebuah masalah baru juga tiba-tiba juga muncul dan membuat Peony bimbang. Dari Jovan dia tahu bahwa ada seseorang yang ingin menyelakai dirinya.   Di mana masalah itu ternyata berbuntut panjang. Karena dari masalah itu, Peony harus berurusan dengan buku tua, kisah keramat dan sosok mengerikan yang ingin mencelakakannya. Lalu bagaimana akhirnya Peony menghadapi masalah dan musibah itu secara bersamaan?

Hadir dengan sentuhan baru, Kezia menampilkan sebuah kisah fantasi yang menarik dan patut dibaca. Sebagai gebrakan pertama, saya rasa novel genre fantasi ini cukup menghibur dan sukses membuat kita ikut memasuki dunia ciptaan Peony. Dan karya terbaru penulis ini juga menunjukkan kepiawaian penulis dalam  dunia literasi.  Novel ini tidak kalah menarik dengan novel realis karya Kezia yang selalu menghibur dan banyak memberi pelajaran hidup.

Di sini kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana cara kita menghadapi sebuah masalah dan musibah. Apakah kita memilih menyerah dan terpuruk? Atau memilih bangkit dan menerima semuanya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal. Karena di balik setiap masalah dan musibah, selalu ada hikmah yang bisa dipetik hikmahnya.  Masalah adalah batu loncatan yang akan membuat kita tumbuh menjadi orang yang kuat dan tegar. Dan musibah adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk selalu berserah diri kepada-Nya. Mau bersabar, syukur dan tawakal.

Selain itu dari novel ini kita juga bisa mempelajari sifat manusia. “Aku nggak percaya ada orang yang dilahirkan menjadi sisi baik atau si jahat. Menjadi baik atau jahat adalah pilihan orang itu sendiri.”  (hal 189).  Dan sebuah larangan untuk memelihara sifat iri, yang seyogyanya malah akan merugikan diri sendiri.   “Perbuatan adalah cermin isi hati. Perasaan iri dan mementingkan diri sendiri, memyebabkan kekacauan dan  segala macam perbuatan jahat.” (hal 5).

Srobyong, 29 Oktober 2017

Wednesday, 29 November 2017

[Resensi] Kiat Menjadi Muslimah Berkarakter

Dimuat di Majalah Auleea, edisi November 2017 


Judul               : Muslimah Antibaper; Days with Love, Lifestyle, hope & Fight!
Penulis             : @GentaMuslimah
Penerbit           : Genta Hidayah
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : x + 414 halaman
ISBN               : 978-602-6359-42-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Siapa yang tidak ingin menjadi muslimah yang baik—memiliki karakter kuat serta memiliki pribadi yang berkualitas? Pastinya hampir semua muslimah menginginkannya. Memang benar, menjadi muslimah yang baik tentu saja bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus kita lalui agar bisa mencapainya.  Namun begitu kita tidak boleh putus asa apalagi menyerah. Jika kita mau berusaha pasti akan selalu jalan untuk menjadi seorang muslimah yang baik—berkarakter dan berkualitas. 

Buku ini hadir untuk menjawab kebingungan kita yang tengah berusaha menjadi seorang muslimah yang baik.  Sebagaimana tagline yang termaktub dalam cover, buku ini fokus membahas tentang empat hal yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu : love, lifestyle, hope dan  fight.

Membahas cinta, siapa yang tidak pernah mendengar satu kata tersebut? Satu kata namun memiliki sejuta makna. Cinta memang selalu asyik untuk dibahas dan dikulik. Namun  yang tidak boleh kita lupakan adalah bagaimana cara memaknai cinta itu sendiri.  Saat ini banyak muslimah yang telah salah dalam memaknai cinta.  Kerap kali kita mengikuti budaya Barat dalam memaknai cinta dengan melakukan pacaran.   Padahal sebagaimana seorang muslimah yang baik, kita harus bisa memanage hati, agar dalam memaknai cinta kita tidak sampai jalan.  “Cinta yang baik itu bukan aku dan kamu pacaran saat ini. Karena cinta sejatinya hanya termaktub dalam ikatan suci.” (hal 9).

Jika kita sudah terjangkit cinta, maka jalan terbaik yang harus kita tempuh adalah menikah jika sudah mampu. Namun jika belum mampu, kita harus menjaga pandangan dan nafsu agar tidak tergoda dengan ajakan setan. “Semua bencana itu bersumber dari padangan. Seperti api besar itu bersumber dari percikan api. Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang. seperti panah yang terlepas dari busurnya.” (hal 42).

Selanjutnya masalah liyestyle.  Di sini sedikit banyak penulis membahas tentang bagaimana penampilan terbaik yang harus dikenakan seorang muslimah. Membicarakan masalah penampilan, maka sudah pasti tidak jauh-jauh dari gaya berpakaian dan kebiasaan berhias. Di mana sudah semestinya kita selalu memakai baju syar’i yang menutup seluruh aurat kita.  Karena pakaian yang kita kenakan itu menunjukkan jati diri kita. “Bersihkan dirimu, bersihkan hatimu, niscaya akan terpancar pesona cantikmu.” (hal 110). 

Untuk menjadi seorang muslimah yang berkualitas, kita memang harus paham benar tentang batas-batasan dalam memilih model baju. Begitu juga dalam masalah berhias. Karena disadari atau tidak, berhias merupakan fitrah seorang wanita. Setiap wanita sudah pasti ingin terlihat cantik.  Dalam masalah berhias, dalam buku ini kita diingatkan untuk tidak berlebihan. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah surat Al-A’raf ayat 31-31.

“Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah, berhiaslah pada tiap-tiap  kali kamu ke tempat ibadah (atau mengerjakan sembahyang) dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.” Selain itu, dalam bagian ini nant,  kita juga diingatkan tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik  dengan keluarga, saudara, teman atau masyarakat.

Selanjutnya akan dibahas tentang cita-cita dan harapan. Bahwa  kita sebagai seorang muslimah itu berhak memiliki mimpi dan harapan. Karena passion adalah  motor penggerak yang mempompa semangat dan antusiasme untuk menjapai tujuan (hal 204).  Akan tetapi dalam kita juga harus ingat passion juga perlu diikuti dengan istiqomah berlatih.  Dan yang tidak kalah penting kita juga harus mendapat restu orangtua. Jangan sampai demi mengejar passion, kita malah durhaka kepada orangtua. Tentu saja hal itu dilarang.

Terakhir adalah pembahas tentang fight atau perjuangan. Di mana dipaparkan bahwa sebagai seorang muslimah kita tidak boleh lemah. Kita harus kuat. Karena tantangan sebagai seorang muslimah akan benar-benar kita rasakan ketika sudah menjadi seorang ibu. Kita harus berjuang saat akan melahirkan—siap berkorban nyawa,  juga ketika merawat anak-anak.  

Sebuah buku yang patut dibaca baik  para muslim juga muslimah.  Dipaparkan dengan gaya bahasa yang sederhana namun memikat, membuat buku ini asyik untuk dibaca.  Keunggulan lain dari buku ini adalah penulis melengkapinya dengan kisah-kisah inspiratif yang pastinya bisa membuat kita mengambil banyak pembelajaran, juga quote-quote menarik yang bisa dijadikan renungan. Beberapa kekurangan yang ada, tidak mengurangi esensi dari isi buku ini. 

Srobyong, 16 September 2017