Wednesday, 25 April 2018

[Resensi] Perjuangan Kartini Menyetarakan Kedudukan Wanita

Dimuat di Koran Jakarta, Sabtu-Minggu, 21-22 April 2018 


Judul                : Kartini
Penulis              : Abidah El Khalieqy
Penerbit            : Noura Books
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal                : 376 halaman
ISBN               : 978-602-385-280-2
Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Nama R.A Kartini pastinya sudah tidak asing di telinga kita. Dia merupakan salah satu pahlawan wanita yang memiliki sumbangsih pada Indonesia—khususnya dalam mematahkan tradisi lama—tentang pingitan dan berbagai tradisi yang diwajibkan kepada wanita Jawa. Di mana fokus Kartini adalah untuk menyamaratakan hak kaum wanita dan laki-laki dalam memperoleh pendidikan.  Oleh karena itu untuk menghargai jasanya, tanggal 21 April yang merupaka hari lahir Kartini diperingati sebagai “Hari Kartini”.

Sejak Kecil Kartini sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Dia memiliki ingatan yang kuat juga hafalan yang hebat. Hal itulah yang membuat ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat—Bupati Jepara sangat menyayangi Kartini. Jika kebanyakan anak sesuainya selalu sendika dawuh—atau manut, tidak dengan Kartini. Dengn kecerdasannya dia bisa menilai apa yang patut dia lakukan dan tidak.

Kartini  merasa tidak adil dan tidak setuju dengan adat tradisi di keluarga bangsawan. Di mana dia harus memanggil ibunya sendiri—Ngasirah dengan sebutan Yu, karena sang ibu bukan keturunan bangsawan. Dia hanya boleh memanggil ibu, pada istri kedua ayahnya yang berdarah bangsawan.

Dia  pun  tidak suka dengan gelar Raden Ayu yang membuatnya berbeda dari perempuan pribumi. “Bukankah kami sama-sama perempuan. Sama-sama manusia juga.  Mengapa ada perbedaaan? Siapa yang membuat perbedaan itu?” (hal 57). Kartini juga tidak terlalu suka dengan tradisi yang mengharuskan wanita untuk masuk pingitan. Dia beranggapan bahwa masa pingitan sama dengan telah dijajah dalam berbagai aturan. Yang paling membuat Kartini murka adalah aturan bahwa perempuan tidak boleh mendapat pendidikan. Bagaimana kebodohan bisa hilang jika rakyat tidak mendapat ilmu pengetahuan. Apakah salah jika seorang perempuan itu pintar?

Di sinilah Kartini mulai berontak. Meski dia tetap berada dalam pingitan, Kartini tetap melakukan berbagai upaya agar pendapatnnya di dengar. Dengan bantuan Kartono—kakak Kartini satu ibu yang memang paling dekat dan satu pikiran dengannya, bersedia membantu dengan meminjamkan banyak buku untuk dijadikan bacaan Kartini ketika dalam masa pingitan.  “Kemerdekaan memang harus dimulai dengan pikiran.” (hal 89).

Buku-buku itu kemudian menjadi inspirasi Kartini. Dia harus berjuang dan menyuarakan isi hatinya melalui tulisan. “Tubuh kita boleh saja dikurung tatatan, tapi kita harus berdaulat atas imajinasi kita.” (hal 103).  Berkat bantuan   Nyonya Ovink-Soer dan Rosa Abendanon—salah satu teman korespondesinya dari Belanda,  jalan yang diinginkan Kartini mulai terbuka lebar. Bersama Kardinah dan Rukmini yang memiliki pemikiran yang sama, mereka bertiga berusaha menaklukkan tradisi lama.

Namun ternyata perjuangan mereka tidaklah mudah. Belum lagi, Slamet dan Busono—kakak kandung Kartini ini sangat menentang usaha Kartini. Berbagai upaya dilakukan mereka untuk memojokkan Kartini. Ada pula ibu angkat—Raden Ajeng Moerjam, juga paman-pamannya dari pihak ayahnya yang tidak kalah berang kepadanya. Kartini dan ayahnya dianggap telah menyalahi adat dan mempermalukan keluarga bangsawan.

Di sini Kartini akhirnya harus menyerah pada takdirnya sebagai seorang perempuan. dia menerima lamaran dari Bupati Rembang—Raden Mas Singgih Joyo Adiningrat. Tapi ternyata pernikahan tidak membuat Kartini menyerah. Dia tetap berusaha untuk menyamakan hak perempuan dan laki-kali. Dengan bantuan suaminya, Kartini malah berhasil menuntaskan mimpinya. Dia berhasil membangun sebuah sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Kartni semakin mantap dengan perjuangannya dalam menyamaratakan hak perempuan dalam memperoleh pendidikan ketika dia bertemu Kiai Sholeh Darat, yang  menerangkan bahwa masalah pendidikan memang diwajibkan bagi setiap umat, baik laki-laki dan perempuan. hal itu sesuai dengan terjamah dari surat Al-Mujadalah. (hal 260).  Selain memperjuangkan kesamaan hak, Kartini juga berjasa dalam mengenalkan batik dan ukiran Jawa.

Dipaparkan dengan menarik dan memikat, novel garapan Abidah El Khalieqy ini patut sekali dinikmati. Di sini kita diajak mengenal sejarah Kartini dengan napas berbeda. Apalagi novel ini digarap berdasarkan skenarion garapan Hanung Bramantyo.  Beberapa kekurangan seperti bagian Rukmini yang tiba-tiba menghilang dan kurangnya pemaran tentang tokoh Kartono, tidak mengurangi keseruan cerita. Kisah Kartini ini mengingatkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita, juga tentang kebepudian pada sesama dan nasionalisme.

Srobyong, 21 Oktober 2017 

Wednesday, 18 April 2018

[Resensi] Menjadi Muslimah Tangguh dan Berdedikasi

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 13 April 2018 



Judul               : Bismillah be  Muslimah
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Gentah Hidayah
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : xiv + 362 halaman
ISBN               : 978-602-6359-97-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Siapa pun kita, kita berhak untuk berkontribusi, kita berhak berperan dalam memajukan diri dan bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baik insan adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainnya.” (hal 343).

Kemajuan zaman sadar tidak sadar telah menggeser pola pikir kita. Bahkan saat ini selain pola pikir berbagai dampak perkembangan zaman lambat laun juga mulai menggerus budaya timur yang selama ini kita pegang teguh. Oleh sebab itu, kita sebagai muslimah harus tetap teguh dalam jalan yang sudah ditentukan syariat. Boleh saja kita mengikuti perkembangan zaman, namun tentu saja dengan adanya batasan yang tidak sampai membuat kita lupa diri. 

Keprihatian akan pengaruh perkembangan zaman itulah yang akhirnya membuat penulis menyuarakan isi hatinya lewat buku ini. Di mana besar harapan penulis, para muslimah tetap teguh dan tangguh dalam memperjuangkan jati diri sebagai muslimah. Selain itu tidak lupa sebagai muslimah kita harus terus belajar untuk mengembangkan diri, agar bisa menjadi sosok yang berguna baik untuk diri sendiri juga masyarakat umum.

Buku di dengan gaya bahasa yang rapi, renyah dan lugas, membuat kita tidak cepat bosa dalam membaca. Apalagi penulis kerap kali menyisipkan kisah-kisah inspirasi yang menarik dan sangat membuka wawasan  dan bisa dijadikan teladan juga renungan untuk muhasabah diri. Sebuah buku yang menurut saya sangat patut dibaca bagi setiap muslimah, agar bisa menjadi muslimah yang tangguh juga berdedikasi tinggi. Untuk  mewujudkannya, maka kita harus mengamalkan tiga kunci yang dikenalkan penulis—yaitu keep trying, pray more dan keep smile.

Keep trying di sini berarti kita harus berani mencoba mewujudkan cita-cita yang kita miliki. Jangan pernah takut gagal.  Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kita harua bangkit dan terus berusaha.  Jadilah pelopor sehingga bisa dijadikan teladan dan inspirasi, bahkan pahala pun ikut mengalir. “Seseorang yang menjadi pelopor atau perintis dari sebuah kebaikan, lalu banyak orang mengikuti, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala dari setiap kebaikan yang diamalkan orang yang mengikuti kebaikannya.” (hal 3).  Sebut saja Siti Khadijah—istri pertama Rasulullah—yang hingga sampai sekarang kita ketahui dan kita teladani. Atau ada juga Abu Bakar—seorang yang masuk Islam pertama kali. Ada pula Ir. Soekarno—presiden pertama kita—yang mengobarkan semangat nasionalisme.

Perlu kita ketahui, “Kesuksesan akan diraih oleh pribadi yang aktif, kreatif, dan inovatif. Mereka mampu melihat peluang, meraihnya, lalu menjadikannya sayap untuk terbang lebih tinggi.” (hal 15).  Dalam usaha meraih impian yang perlu kita tanamkan adalah sikap positif. Karena saat kita berpikir positif dan bersikap baik, maka sungguh hari-hari kita akan terasa lebih indah dan menyenangkan (hal 146).

Selanjutnya Pray More di sini kita diingatkan bahwa selain melakukan usaha, kita tidak boleh lupa berdoa. Karena berdoa tanpa usaha itu akan sia-sia dan usaha tanpa doa adalah sombong.  “Ikhtiar, doa, dan tawakalh jangan dipisahkan dalam upaya mencapai kesuksesan. Meninggalkan ikhtiar adalah alasan seorang pemalas, meninggalkan doa adalah perilaku orang sombong, dan meninggalkan tawakal adalah perilaku sok tahu.” (hal 149).

Sedangkan keep smile berarti apa pun yang terjadi dalam usaha kita ketika ingin meraih mimpi, jangan sampai kita lupa bahagia.  Yang artinya apa pun hasil yang nantinya kita raih, maka kita harus menerimanya dengan ikhlas.  Karena tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selanjutknya Allah-lah yang berkah memberi keputusan (hal 263).

Buku ini sangat membantu bagi kita—khususnya para muslimah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena selain tiga hal yang sudah disebutkan di atas, masih banyak pembahasan lain yang sangat memotivasi bagi para muslimah. Baik untuk pengembangan diri sendiri atau juga dalam rangka membahagiakan keluarga juga agar lebih dekat dengan Allah.

Terlebih banyak quote-quote inspratif yang sangat menggugah yang bisa dijadikan renungan. Di antaranya “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan tidaklah menghancurkan sebab ianya memberikan banyak pelajaran berharga. Kegagalan yang sebenarnya adalah matinya keinginan untuk mencoba.” (hal 273).

Srobyong, 7 April 2018 

[Resensi] Penegak Hukum Harus Adil dan Berintegritas

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 13 April 2018 


Judul               : Sogok Aku Kau Kutanggkap
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : ix + 434 halaman
ISBN               : 978-602-7926-36-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini membahas tentang biografi Artidjo Alkostar.  Seorang penegak hukum yang sangat memegang keadilan dan berintegritas tinggi. Dia tidak mudah disuap dan dipengaruhi. Mahfud MD—guru besar Fakultas Hukum UII, berkata, “Jangan pernah berpikir, siapa pun bisa mempengaruhi Artidjo untuk melenceng dari  penegakkan hukum dan keadilan. Artidjo tak takut pada ancaman fisik, tak risau dengan gertakan satet, tak mempan dengan uang dan tidak peduli dengan persahabat, jika integritasnya sebagai penegak hukum ternodai.”

Hal ini bisa dilihat dari sepak terjang Artidjo yang sejak menempuh pendidikan hukum di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dengan sikap tegas dan menjunjung tinggi keadilan, dia selalu berusaha meluruskan hal-hal yang dia rasa menyimpang dan tidak sesuai dengan hukum. Pernah ketika dia sudah menjabat sebagai hakim, seorang teman lamanya yang merupakan seorang pengacara datang bermaksud menyuap Artidjo, agar  memudahkannya dalam sebuah kasus. Tentu saja permintaan itu langsung ditolak mentah-mentah olehnya (hal 11). 

Saat masih menjadi mahasiswa, Artidjo juga tidak segan-segan memberi kritik pedas pada pihak kampus tempatnya menuntut ilmu, karena merasa apa yang diajarkan para dosen, sangat jauh berbeda dengan praktik di lapangan.  Artidjo berkata, “Jelas-jelas kita melihat bahwa hukum masih banyak diselewengkan di negeri kita ini? Tidakkah kita memiliki untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana cita-cita luhur bangsa kita ini?” (hal 194).

Ketika sudah menyelesaikan pendidikan hukumnya, selain menjadi dosen di UII, Artidjo juga menjadi pengacara di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) cabang Yogyakarta yang dibangun oleh  Adnan Buyung Nasution. Dengan sikapnya yang tegas dan selalu menjunjung tinggi keadilan, dia berperan aktif membantu rakyat miskin memperjuangkan hak-haknya (hal 293).

Artidjo juga berperan aktif berusaha menyelesaikan masalah “Tebu Rakyat” yang dialami petani miskin di daerah Sumenep. Di mana program yang dirancang pemerintah ini, justru merugikan para petani.  Selain itu Artidjo juga menangani berbagai macam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dia mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa dan negara, dengan cara berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun meski tidak selalu berhasil memenangkan perkara yang ditanganinya, Artidjo tetap berkomitmen menjadi penegak hukum yang bersih.

Dia sangat menyayangkan, ketika hukum belum bisa bekerja secara maksimal untuk menciptakan keamaan, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hukum akan menjadi tajam, jika yang melakukan pelanggaran adalah orang-orang kecil. Tapi hukum akan menjadi sangat tumpul jika yang melakukan pelanggaran itu adalah orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Bahkan hukum sama sekali tidak akan berguna ketika aparat penegak hukum ikut terlibat dalam satu perkara. Artinya hukum hanya ditegakkan pada orang-orang yang lemah, kaum miskin dan rakyat kecil. Sementara kaum elite hukum bisa dibeli dengan uang, karena mereka bisa memanipulasi hukum (hal 197).

Dalam usahanya menjadi penegak hukum yang bersih tentu tidak mudah. Karena dari berbagai sisi banyak orang-orang yang tidak menyukai tindakan Artidjo dan berusaha menjatuhkan dirinya. Namun begitu Artidjo tetap berdikir tegak menjunjung keadilan yang dia yakin. 

Beruntung dia memiliki seorang istri, ayah dan ibu  yang selalu mendukungnya. Memberi kekuatan jika dia merasa lemah dan lelah. Karena sebagai manusia biasanya, ada kalanya dia merasa ragu dan takut. Merekalah tempat Artidjo berbagi pemikiran dan kadangkala dia juga berdiskusi dengan para kiai untuk memperoleh ketenangan hati, agar semakin yakin dalam perjuangan yang dilakukan.

Buku ini memaparkan keteguhan Artidjo dalam mempertahankan prinsip keadilan dalam masalah hukum. Sebuah buku yang patut diapresiasi dan diteladani. Kita diingatkan tentang pentingnya berjuang menegakkan keadilan dengan sepenuh hati.

Srobyong, 18 Januari 2018 

Tuesday, 17 April 2018

[Resensi] Guru Harus Bertanggung Jawab

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 3 April 


Judul               : Fighting, Son Seng Nim!
Penulis             : Nuraisah H
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : 392 halaman
ISBN               : 978-602-1614-50-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Tugas guru bukan hanya mengajar target lesson plan, tapi juga mendidik. Kalau tugas guru hanya mengajar, seharusnya kita merasa malu saat menerima gaji.” (hal 166).

Novel ini berkisah tentang Fatimah, seorang guru bahasa Inggris di  Taman Pendidikan—TK Korea—Little Lolita.  Dalam menjalani profesinya ini, Fatimah  selain ditantang untuk menjadi seorang guru yang bertanggung jawab, dia juga harus  hidup dalam lingkungan baru, serta harus berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda agama, rasa dan budaya.

Setelah lima tahun mengajar di Little Lolita di  sekolah pusat—Jakarta,  tiba-tiba Fatimah ditempatkan di sekolah cabang yang terletak di Tangerang. Berita itu tentu saja langsung membuat Fatimah kecewa dan marah. Kenapa dia harus dipindah tugaskan? Kenapa bukan guru bahasa Inggris lainnya?  Namun pada akhirnya Fatimah mengikuti kebijakan pemindahan tersebut. Meski itu berarti, dia harus bespisah dari sahabatanya—Esti, juga jauh dari pacaranya, Angga.

Dan di sinilah tantangan sebenarnya yang harus Fatimah hadapi ketika menjadi guru. Di cabang Little Lolita di Tangerang, Fatimah memiliki satu murid bernama Lee Soh Rim,  yang selalu merasa rendah diri. Gadis kecil berusia enam tahun itu tidak seperti Jun Do  Won, Moon Hee Jin atau Lee Seung Hun yang selalu aktif dan tidak pemalu.  Belum lagi Jun Do Won entah kenapa selalu suka menganggu dan mengejek Lee Soh Rim yang sudah tidak memiliki ibu.

Memang sejak orangtuanya berpisah Soh Rim kurang mendapat kasih sayang. Ibunya lebih fokus mengejar karir, sedangkan ayahnya juga sibuk berbisnis. Sang nenek yang dititipi pun tidak kalah sibuk. Jadi sehari-hari Soh Rim lebih banyak mengahabiskana waktu dengan pengasuhnya. Padahal bagi anak korban perceraian, perhatian orangtua itu sangat diperlukan. Berbekal sebuah nomor yang tidak sengaja dia temukan di buku Soh Rim, Fatimah mencoba menghubungi  Lee Jun Ho, ayah Soh Rim agar mengetahui keadaan putrinya. Berhasilkan usaha Fatimah?

Namun di sisi lain sikap Fatimah yang terlihat lebih memerhatikan Soh Rim ini malah menjadi masalah.  “Ketika kebanyakan orang tua berpikir untuk memanjakan, guru tetap harus berpikir mendidik, menjadikan murid-murid lebih baik dalam pengetahuan dan karakter.” (hal 162).  Salah satu orangtua wali murid—ibu Jud Do Won, meminta penjelasan kenapa Fatimah melakukan itu.

“Saya memang memperlakukan  tiap anak berbeda, Mam. Maksud saya, setiap anak kan memiliki karakter yang berbeda-beda. Jadi saya memberikan perhatian dan cinta seperti yang mereka ingin dapatkan. Karena memang tidak mungkin memperlakukan anak-anak dengan cara yang sama. Karena mereka bukan robot. Mereka memiliki karakter yang harus dijag. Dan tugas guru adalah membimbing karakter itu agar tetap baik.” (hal 162-163).

Lepas dari masalah Soh Rim, Fatimah juga harus menghadapi kenyataan tentang kekasihnya, Angga yang tidak kunjung sepakat dalam hubungan mereka. Di mana Angga yang katanya siap berpindah agama agar bisa menikahinya, ternyata tidak pernah mau mencoba mengenal Islam lebih dekat. Keraguan pun mulai menghinggapi benak Fatimah.  Beruntung Fatimah memiliki teman-teman yang baik hati. Meski Anna berbeda agama dengan dirinya, Anna selalu menghargai dan peduli padanya. Begitu pula Lee Mi Yeon. Mereka adalah sahabat dan keluarga yang saling menguatkan.

Berbagai cobaan hidup kemudian membuat Fatimah lebih dekat kepada Allah. Dia kemudian memilih mundur dan melepas Angga. Selain itu Fatimah  memutuskan  memakai jilbab. Ini adalah keputusan besar, karena itu berarti Fatimah harus siap dengan segala konsekuensinya. Salah satunya adalah keluar dari Little Lolita.  Mengingat kebanyakan orangtua murid tidak setuju jika ada guru yang membawa identitas agama di sekolah (hal 315). 

Sebuah buku yang menarik. Di sini kita diingatkan tentang tugas pendidik yang sebenarnya. Bahwa guru bukan hanya bertugas mengajar saja, tapi juga harus mendalami karakter anak dengan baik. Selain itu kita juga diingatkan untuk saling menghormati dan menghargai antara sesama, meski berbeda agama, rasa dan budaya.

Hanya saja dalam buku ini masih saya temukan beberapa kesalahan tulis dan sedikit logika yang kurang pas. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini sangat menginspirasi.

Srobyong, 7 Oktober 2017 

[Resensi] Dedikasi Haji Agus Salim Terhadap Indonesia

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 27 Maret 2018 


Judul               : Agus Salim
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : KPG
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xiv + 203 halaman
ISBN               : 978-602-424-391-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Aluma Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Tercapainya kemerdekaan Indonesia, tidak luput  dari usaha para tokoh pergerakan nasional. Mereka adalah pahlawan yang memiliki keberanian dan sikap nasionalisme yang tinggi. Tanpa mengenal rasa takut, mereka terus berjuang. Untuk menghormati perjuangan mereka, maka tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Salah satu tokoh pergerakan nasional yang memiliki banyak peranan dalam meraih kemerdekaan adalah Haji Agus Salim.

Pemilik nama  asli Masyhudul Haq yang berarti ‘Pembela Kebenaran’, mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Pria kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, 8 Oktober 1844 ini, dengan semangat tinggi dan keberanian yang besar, dia terus melangkah tanpa rasa takut. Tidak peduli pemikirannya selalu dikritik dan dibuang,  Haji Agus Salim terus berjuang tanpa henti.   Buku ini dengan menarik memaparkan tentang peranan yang dilakukan Haji Agus Salim untuk Kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir misalnya. Hal ini tidak lepas dari tangan dingin Haji Agus Salim. Pengakuan de jure pertama dunia internasional terhadap proklamasi 17 Agustus 1945. Dan setelah Mesir, sejumlah negara Arab berturut-turut mendukung. Misalnya Libanon, Suriah, Irak, Arab Saudi dan Yaman.  Keberhasilannya ini membuatnya diberi julukan sebagai “The Grand Old Man” karena kepiawaiannya dalam berpolitik (hal 13).

Keberhasilannya ini membuat Belanda gagal untuk menguasai kembali Indonesia. Karena pada saat perjanjian Linggarjati, salah satu isinya berbunyi, Belanda dan Indonesia sepakat membuat Republika Indonesia Serikat—di mana Indonesia harus bergabung dalam persemakmuran Indonesia-Belanda dengan Belanda sebagai kepala. Namun dengan adanya pengakuan de facto dan de jure, posisi Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat semakin kokoh.

Sedang sebelum  proklamasi, Haji Agus Salim ikut berperan aktif dalam persiapan kemerdekaan. Dia merupakan salah satu anggota BPUPKI. Dia juga termasuk bagian dari panitia sembilan. Tim yang melahirkan Piagam Jakarta, yang kelak menjadi rancangan preambul atau pembukaan Undang-Undangn Dasar (hal 19).  Dialah tokoh yang menjadi penghubung ketika terjadi perbedatan antara golongan Islam dan nasionalis.  Tidak hanya duduk di pantia perancang hukum dasar dan panitia sembilan, Haji Agus Salim juga duduk sebagai anggota panitia penghalus bahasa dalam rancangan undang-undang, bersama Soepomo dan Prof Dr P.A.H. Djajadiningrat.

Pria yang dijuluki sebagai poliglot—karena dia menguasai banyak bahasa asing, dia antaranya; Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Jerman, Jepang dan Turki, merupakan anggota delegasi dalam perjanjian Renville. Dengan sikap tenang dia menghadapi tekanan dari Belanda. Bahkan Haji Agus Salim berani mengungkapkan argumen tentang kelicikan Belanda dalam perjanjian Linggarjati.

Sikap keras yang dimiliki Haji Agus Salim kemudian, membuatnya sering dimusuhi pemerintah Belanda. Bersama Sukarno, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjojo, mereka dibuang dan diasingkan di  Wisma Ranggam, yang berdiri tidak jauh dari Pelabuna Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung (hal 32).  Selain di sana Haji Agus Salim juga sempat dibuang ke Berastagi dan Parapat, Sumatra Utara.

Namun begitu, jiwa nasionalisme tidak mati. Ketika akhirnya bebas, Haji Agus Salim kembali berjuang mengusir penjajah. Dan selama masa pergerakan Haji Agus Salim  ikut andil membesarkan Sarekat Islam—yang kemudian berganti  menjadi Partai Sarekat Islam. Bersama HOS. Tjokroaminoto, mereka bahu membahu melawan penindasan dan penjajahan yang dilakukan Hindia-Belanda.  Tidak hanya itu Haji Agus Salim juga kerap kali mengecam tindakan pemerintah Belanda melalui tulisan-tulisannya yang tajam.  Hal inilah yang membuat Haji Agus Salim kerap ditegur dan dianjurkan untuk melunakkan kritikannya kepada pemerintah Belanda.

Sayangnya sikap keras Haji Agus Salim tidak bisa dipatahkan. Dia berkata, “Keyakinan saya  tentang peri kehidupan; dan pendapat saya tentang pemerintah Hindia-Belanda serta kebijakannya, saya tidak bisa tawar menawar.” (hal 104).  Inilah alasan yang membuatnya memilih mundur dari jabatan Pemimpin Redaksi Hindia Baroe yang membesarkan namanya. Begitu pula ketika sempat menjadi redaksi Koran Nerajta. Karena tidak lagi satu misi dan tidak mau dimanfaatkan pemerintah Belanda, Haji Agus Salim memilih mundur.

Sepak terjang Haji Agus Salim ini patut kita teladani. Dengan sikap gigih dan kepandaiannya dalam  berdiplomasi telah merintis jalan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah sosok sederhana yang demi bangsa, tidak takut miskin dan hidup susah. Yang terpenting adalah berjuang meraih kemerdekaan Indonesia. Buku yang patut dibaca semua kalangan.

Srobyong, 4 November 2017